
.
.
.
"aku benar-benar lupa memberitaumu Ken..? kamu harus tau kalau aku dan Mamaku jarang bersama, kan aku sudah cerita padamu." Kinanti berbicara sambil membalas pelukan Kenan.
Kenan mengangguk, "asalkan kamu baik-baik saja."
Kinan mengangguk-ngangguk, "besok jam berapa kita berangkatnya?" tanya Kinan.
"Siang hari kita Ke Mansion, Keluargaku berkumpul disana." jawab Kenan.
Kinanti mendongakkan pandangannya, "Ken? bagaimana dengan Ratu Ana? apa dia juga ada? aku gugup bersitatap dengannya, selama ini aku hanya dengar lewat berita."
Kenan tersenyum miring, "Mom memang seorang Ratu tapi sebenarnya dia sangat sederhana."
Kinanti tersenyum manis, "kenapa Keluargamu bisa sehebat itu Ken? aku tidak menyangka bisa bertemu dengan Keluargamu."
"kelak mereka juga akan jadi Keluargamu." Kenan mengusap kepala Kinan yang tersenyum manis.
setelah berbincang cukup lama Kenan dan Kinanti memasuki kamar masing-masing untuk istirahat.
.
ke esokan harinya,
"haloo?? kakak ipar." sapa Kanze ke Kinan yang menguap lebar terkejut melihat Kanze.
"Ahahaa!" tawa Kanze tiba-tiba sebuah sendal melayang di kepalanya.
"aduuhh...!"
Elsi dan Kevin pun syok melihat hal itu, Kanze menatap kesal Kenan yang melempar sendal di kepalanya.
"aku akan hilangkan tawamu dari muka bumi ini." kata Kenan dibelakang Kinanti.
Kinanti menetralkan rasa terkejutnya saat melihat Kanze dilempar sendal, Kevin tidak heran lagi Kenan lebih bar-bar daripada Kinanti.
"benar-benar pasangan serasi." gumam Kevin geleng-geleng kepala.
"apa Kakak ipar juga seperti itu?" tanya Kanze ke Kevin sambil mengusap kepalanya yang terkena sendal.
"iya." jawab Kevin mengangguk-ngangguk lalu Kanze mengakui kalau Kenan jauh lebih sadis dari saat ini, kalau ada pisau ditangan Kenan mungkin saja pisau yang melayang di kepala Kanze.
"benar? kok sekejam itu?" tanya Kevin terkejut.
"dia memang kejam, justru aku heran kenapa Kakak ipar bisa menyukai Pria kejam itu." bisik Kanze dan Kevin terkikik.
"sedang apa disini?" tanya Kenan dengan datar sambil memutar kepala Kinanti ke arah Kamar seolah seperti Robot Kinanti pun berjalan cepat ke arah Kamarnya untuk segera membersihkan diri.
"bukannya abang yang suruh kesini?" tanya Kanze balik.
Kenan mencoba mengingat lalu Kanze menertawai Kenan yang jadi pelupa karna mau jadi Pengantin Baru esok hari.
"ckk..! cepat berikan?" titah Kenan ke Kanze sambil menarik kerah leher Kanze.
__ADS_1
Kanze mendengus mengambil kunci Mobil Kenan dan Kenan memberikan Kunci Mobilnya yang lain, "ada maunya aja suruh aku datang, aku punya Abang satu tapi kejam."
Elsi diam saja sambil tersenyum melihat abang-adik yang bertengkar itu, jujur saja Elsi tidak heran melihat mereka bertengkar sebab Kevin dan Kinanti juga seperti itu.
"sana pergi..?" usir Kenan.
"lihatlah? abang iparmu kejam kan? kenapa memberikan Kakak tersayangmu padanya?" tanya Kanze ke Kevin.
Kenan memukul kepala Kanze yang menggerutu kesal namun gerakan Kenan terhenti ketika Elsi meminta Kanze untuk sarapan bersama.
"Ahaha..! Oh.. ya Ampun..! Mama baik banget deh." Kanze berlari ke arah Elsi dan bersembunyi dibelakang Elsi.
Kenan mendelik dengan tingkah Kanze yang ingin berlama-lama di Rumah kecil Kinanti.
di meja makan,
Elsi dihadapkan dengan perdebatan Kenan dan Kanze juga cekcok mulut Kevin dan Kinanti, Elsi merasa ramai setelah sekian tahun merasa sunyi di Rumah itu.
tiba-tiba perdebatan Kenan, Kanze, Kevin dan Kinanti terhenti menoleh ke arah Elsi yang menangis terisak-isak.
"Mama kenapa?" tanya Kevin dan Kinanti serentak.
Kenan memukul kepala Kanze yang mengaduh kesakitan.
"Abang. !? jangan jatuhkan harga diriku didepan keluarga baru kita, mereka akan berpikir aku ini lemah." protes Kanze dengan kesal.
Elsi mengatakan kalau Rumah Kecilnya terasa ramai sehingga semua yang ada diMeja Makan itu terdiam bahkan tidak lagi punya nafsu makan.
tidak ada yang bisa melerai perdebatan Kenan dengan Kanze tapi jujur saja Kevin suka dengan perdebatan abang-adik itu sebab menurutnya pertengkaran yang terlihat itu malah terlihat manis dibanding manis didepan tapi busuk didalam seperti Friya pada adik laki-lakinya (suami Elsi).
"sudah-sudah..! suruh saja Kak Kinan menari untuk menghibur kita semua." senyum tampan Kanze tanpa merasa bersalah.
Kinanti gelagapan dan Kenan berdecak menarik rambut Kanze yang ditarik balik oleh Kanze.
"abang lepasin rambutku..!" amuk Kanze.
"siapa suruh kau mengacau hah?" tanya Kenan dengan datar.
"abang?? aku kaduin sama Mamaku." ancam Kanze.
pertengkaran Kenan dan Kanze seperti anak gadis yang baru saja tumbuh dewasa, Elsi dan Kevin pun tertawa lepas malah Kinan yang menganga lebar merasa aneh dengan jenis perkelahian itu yang biasanya dilakukan oleh perempuan.
"lepasin bang..? Kakak ipar? tolong aku Kak?" adu Kanze ke Kenan.
"Ken? lepasin Kanze, kenapa kamu jahat banget sih?" Kinan akhirnya turun tangan membela Kanze.
"ayo kita pergi..?" Kenan menarik lengan Kinan yang terhuyung mengikuti Kenan.
"hati-hati kakak ipar, jaga bibir dan lehermu." teriak Kanze melambaikan tangan tanpa beban.
Kevin melototkan matanya dan Elsi terlonjak kaget sebab Ia sangat paham hal itu walau sudah lama menjanda.
Kinanti menggerutu ditarik oleh Kenan sampai Ia ternganga melihat Mobil yang akan dinaiki olehnya.
"in--ini mobil siapa?" tanya Kinan ke Kenan dengan serius.
"Mobilku." jawab Kenan membuka pintu Mobilnya dan mendorong Kinanti memasuki Mobilnya.
__ADS_1
baru kali ini Kinan naik Mobil super mewah tapi Ia menyukai Kenan bukan karna harta tapi memang sebelum mengenal identitas Kenan sungguh Kinanti sudah suka dengan Kenan.
Kenan membuka atap Mobilnya ditengah keramaian di tatap banyak penghuni Mobil lain terutama ketika berhenti dilampu merah.
"Ken?" panggil Kinan.
"hmm?" sahut Kenan menoleh ke Kinan.
"kita mau kemana?" tanya Kinan.
"lain kali jangan membela Orang lain didepanku." pinta Kenan memegang tangan Kinan sambil menatapnya serius.
Kinan mendengus, "kamu juga jangan menganiaya adikmu didepanku, apa salahnya kamu diam seperti biasa kenapa harus meladeni adik yang jelas lebih muda darimu."
"dia sudah dewasa bukan anak-anak lagi." kata Kenan serius.
"apapun alasannya." jawab Kinan.
"baiklah, aku belum pernah mencobanya." balas Kenan yang mengalah.
Kinanti tersenyum, "kamu bisa Ken..? kamu Pria yang hebat, idaman semua wanita."
"termasuk kamu?" tanya Kenan.
Kinanti mengangguk, "yahhh." sahutnya malu-malu.
Kenan mengulum senyum, "kita ke Mansion langsung."
Kinan melebarkan matanya, "aku belum bersiap-siap, masa iya pakai baju ini." protes Kinan.
"cantik." jawab Kenan membuat Kinan memicing curiga.
"yakin?" tanya Kinan seolah tidak percaya.
"ya!! bukankah kamu yang bilang Berlian termahal itu didalam diri wanita?" Kenan.
"iya." jawab Kinan lalu wajah Kinan kembali memerah saat Kenan memuji kecantikan alaminya.
"cukup ken..? mulutmu berbahaya." gerutu Kinan.
Kenan tersenyum ke arah Kinan, Kinan menautkan kedua alisnya mendengar seseorang memanggilnya.
"kenapa?" tanya Kenan.
"seperti ada yang memanggilku." jawab Kinan sambil celingukan ke segala arah betapa terkejutnya Kinan banyak pasang mata memperhatikannya dilampu merah.
Kinan berbalik menatap Kenan, "Ken? mereka menatap kita."
"biarkan saja." balas Kenan santai dan Kinan tak lagi protes malah melupakan suara yang memanggilnya tadi.
Kenan seperti aktor yang sangat tampan walau tidak tau identitas Kenan tapi Mobil yang Kenan bawa menandakan kalau Kenan bukan Orang biasa.
.
.
.
__ADS_1