Gadis Bar-Bar Tuan Muda Pendiam

Gadis Bar-Bar Tuan Muda Pendiam
pendengar


__ADS_3

.


.


.


Kinanti tersenyum lebar melihat ke arah Kenan yang tertidur lelap, Kinan membayangkan Kenan akan menjadi suaminya tiba-tiba senyumnya memudar berubah menjadi rona kemerahan.


"apa yang aku pikirkan?!" batin Kinanti yang sungguh malu.


Kinanti berdehem pelan lalu fokus dengan kendarannya, wajahnya kian memerah entah apa yang ada dalam benaknya itu.


di parkiran Gedung Taekwondo Haritek.


Kinanti menoleh ke Kenan yang terlelap lalu membuka seatbeltnya, tak lupa Kinanti mengecilkan AC Mobil Kenan lalu keluar dari Mobil Kenan dengan senyuman kecilnya.


Kinanti berjalan cepat memasuki Lift tempatnya bekerja langsung naik ke lantai tujuan menemui Molen.


"Kinan? kenapa?" tanya Molen dengan raut wajah serius sambil melangkah ke arah Kinanti.


"Pak? saya tidak bisa berlatih seperti biasa." lapor Kinan.


"kenapa Kinan? apa kamu terluka?" tanya Molen melihat kaki Kinan dengan intens sebab Kinanti tidak pernah memakai rok tapi sekarang malah memakai dres pendek memperlihatkan sedikit paha mulusnya.


Kinanti merasa ada yang berbeda pun segera melangkah mundur, "maaf Pak..? kaki saya sakit." jawab Kinanti sambil tersenyum dan dengan cepat keluar dari Ruangan Molen.


selama ini Molen memang menganggap Kinanti seperti anak sendiri tapi semua Orang tau kalau Molen terlalu memanjakan Kinanti, apapun yang Kinanti lakukan dan katakan pasti dituruti oleh Molen alasannya karna Kinanti membuat harum tempat pelatihannya (bodyguard BlackMalv).


"kenapa dia bisa terlihat seksi?" gumam Molen menggeleng-geleng kepalanya.


Molen sudah lama tidak merasakan gairah itu, ketika bersama Istrinya tidak ada gairah seperti itu walau Istrinya memakai bikini sekalipun, ternyata apa yang dikatakan Orang-orang benar kalau barang tersegel itu lebih menarik daripada barang terbuka.


"coba aku bicara dengan Kinanti." gumam Molen mengangguk-ngangguk meyakinkan diri.


Molen sanggup memberikan apapun pada Kinanti jika Kinanti mau bersamanya, selama ini Molen tidak pernah melihat Kinanti berpakaian terbuka selalu saja memakai celana olahraga panjang dan baju kaus besar tanpa memperlihatkan lekuk tubuh.


.


Kinanti berjalan cepat sambil mengelus dadanya, "kenapa tatapan Pak Molen seperti itu? tatapannya seperti hewan lapar tengah mengintai mangsanya." gumam Kinanti yang ternyata sangat peka dengan cara tatapan Molen yang tak pernah seperti itu.


Kinanti ditatap takjub oleh murid-muridnya yang bersebrangan melihatnya, bahkan memuji Kinanti sungguh seksi sehingga Kinanti langsung sadar mengapa Molen menatapnya seperti itu.


di Ruangan ganti,

__ADS_1


"dia pantas jadi Ayahku, bukankah selama ini dia mengatakan aku seperti anaknya? mengerikan." gumam Kinanti merinding geli teringat tatapan Molen.


Kinanti buru-buru mengganti pakaian sambil menggerutu pakaian yang Kinanti kenakan sekarang karna ulah Kenan, Kinanti tidak punya niat apapun saat memakai dres tapi memang selama ini tubuh Kinanti bagus karna Ia seorang Atlet beladiri tanpa melakukan perawatan apapun kulitnya memang sudah mulus.


"ehh?? tapi aku tidak bisa menyalahkan Kenan, dia tadi memberiku jaketnya tapi memang aku yang melepasnya karna panas." gumam Kinanti menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Kinanti hendak keluar tapi pintu Ruangan ganti tidak bisa dibuka, "kenapa tidak bisa dibuka?" gumam Kinanti celingukan.


Kinanti membuka lagi dan tetap saja tidak bisa, "ooh..! ada yang mengunciku." gumam Kinanti mengeluarkan ponselnya menghubungi Maya.


Maya mendengar keluhan Kinanti segera berlari menuju Ruangan ganti, ternyata ada Viora tengah tersenyum meremehkan di depan Pintu Ruangan ganti, Maya mengeluarkan ponselnya dan merekam vidio ke arah Viora.


"lihat Viora?? aku merekammu..? aku akan tunjukkan ke media betapa jeleknya kelakuan dewi Action mereka ini." kata Maya dengan senyuman sambil menyorot-nyorot wajah Viora.


Viora menyembunyikan wajahnya sembari berlari meninggalkan Maya.


"lihat teman-teman? Viora sangat jahat, dia mengunci perempuan tidak bersalah diRuangan Ganti. karirnya hanya dipupuk dengan penuh kebohongan, sikapnya didepan kamera itu akting saja." ujar Maya dengan nada cukup kuat.


Maya menyimpan ponselnya sembari menjulurkan lidahnya ke Viora yang jahat, Maya mengambil kunci Ruangan yang tidak sempat Viora ambil karna Maya telah merekamnya maka Viora harus lebih berhati-hati pada Maya yang bisa menyebarkan berita tentangnya.


"Kinan?" panggil Maya mengetuk-ngetuk Ruangan ganti.


"iya?" sahut Kinanti.


"loh?? tapi murid-murid mengatakan kamu memakai dres ya? kok tumben?" tanya Maya dengan raut wajah penasaran melihat pakaian Kinan sudah berubah.


Kinanti keluar dari Ruangan ganti diikuti oleh Maya, "siapa yang mengunciku?"


"sudah jelas kamu mendengarnya." gerutu Maya dan Kinanti mengangguk saja.


Kinanti tidak memikirkan Viora tapi malah memikirkan Molen yang selalu baik padanya tapi kenapa jadi begitu? Kinanti tidak takut musuh yang datang padanya tapi Ia sungguh takut pada Orang yang dulu begitu baik padanya berubah jadi musuh padanya.


"Kinan? kamu kenapa sih?" tanya Maya mengguncang bahu Kinanti.


Kinanti spontan saja menoleh ke Maya, "ha? kamu bicara apa Maya?" tanya Kinanti dengan linglung.


Maya berdecak, "apa yang kamu pikirkan Kinan?" tanya Maya dengan malas.


Kinanti menyisir anak rambutnya sehingga Maya melihat jepit rambutnya Kinanti.


"wahhh??" Maya yang begitu norak bersorak melihat jepit rambut Kinanti.


"kenapa sih?" tanya Kinanti dengan kesal.

__ADS_1


"kenapa jepit rambutmu sangat cantik Kinan? aku pikir tidak ada yang punya model seperti itu, dimana kamu belinya? boleh aku pinjam 1 hari?" tanya Maya senyam-senyum.


Kinanti menggeleng kepalanya, "ini pemberian seseorang, dia membuatnya khusus hanya untukku." jawab Kinanti dengan nada sedikit bangga lalu berjalan cepat meninggalkan Maya setelah mengucapkan Terimakasih.


Maya menekuk kedua alisnya tapi memang Ia tau kalau Model Jepit rambut Kinanti itu belum pernah ada apalagi ukiran namanya terlihat seperti dari berlian, entah siapa yang membuatkan jepit rambut terlihat mewah itu untuk Kinan.


"Orang itu romantis banget, rambut Kinan aja diperhatikan olehnya apalagi yang lain." gumam Maya dengan nada cemburu ingin punya pasangan yang seperti itu.


.


meja makan kantin,


Kinanti belum melihat Kenan dimana-mana, "apa dia masih tidur?" gumam Kinanti.


"apa kalian tidak tau kalau markas mafia penjual barang Ilegal sudah dihancurkan oleh penerus Master dari segala Master yang sebenarnya?" ujar salah satu rekan kerja nya pada Kawannya.


Kinanti tertegun ditempat mendengarnya, "aku habis memberantas markas nyamuk?" batin Kinanti mengingat kata-kata Kenan.


Kinanti duduk dengan tenang tapi memanjangkan telinganya demi mendengar cerita rekannya.


"oh ya? darimana kamu tau?"


"abangku Polisi, selama ini dia selalu terkena tekanan dari atasannya karna berusaha melawan Mafia penjualan barang Ilegal itu tapi sekarang aku senang Abangku naik pangkat."


Kinanti mendengarkan cerita rekannya dengan serius.


"kan aku sudah lama bilang padamu kalau abangku itu tidak percaya Mafia Ilegal itu adalah Penerus Master dari segala Master."


"waah..! siapa ya yang menghabisi markas mereka? hebatnya !? aku sangat mengaguminya bahkan aku rela memberikan tubuhku padanya karna menyelamatkan hidup abangku."


Kinanti berdecak sebal mendengarnya, "dia calon suamiku." batin Kinanti menjawab sungguh kesal sekali Kinan ada perempuan yang rela menawarkan tubuhnya pada Kenan.


"memangnya kenapa abangmu? katamu dia cuma di pindahkan ya?"


"iya..! tapi siapa yang melawan penerus master dari segala master itu tidak pantas diberi jabatan padahal penjahat Ilegal itu jelas-jelas palsu selalu berbuat jahat sementara Master dari segala Master itu selalu berbuat baik menyelamatkan Orang banyak."


Kinanti menjadi pendengar saja.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2