
.
.
.
"apa yang kau tertawai??" sambar Kenan tiba-tiba menatap tajam Kinanti.
"Oh.. tidak..! cuma mulutku gatal ingin tertawa." jawab Kinanti memegang rahangnya sedang menahan tawa sekuat tenaga bahkan wajahnya sampai memerah.
Kenan memicingkan matanya lalu Kinanti yang tidak kuat menahan tawanya pun akhirnya lepas juga, Kenan sampai terkejut melihat Kinanti tertawa selepas itu.
"maaf--maaf..? tapi aku tidak kuat, Ahahaha..?!!" ucap Kinanti lalu kembali tertawa terpikal-pikal sambil memukul-mukul meja didepannya.
Kinanti menggeleng kepalanya masih tertawa dan Kenan hanya bersidakap dada memandang datar Kinanti yang akhirnya terdiam juga.
"sudah?" tanya Kenan.
Kinanti melihat Kenan menatapnya seperti Orang tidak waras itu pun menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"maaf Kenan..! aku tidak bisa menahan tawaku saat kamu bicara dengan mamamu, aku tidak menyangka kamu ternyata anak Mama." kata Kinanti menjelaskan.
Kenan terdiam beberapa saat lalu berkata dengan tenang, "bukankah semua anak memang anak Mama? apa yang salah dengan pembicaraan kami? kau menertawai hal yang tidak lucu sama sekali."
Kinanti mengangguk-ngangguk, "memang tidak lucu tapi dilihat dari badanmu itu sama sekali tidak wajar, padahal aku sempat mengira kalau kamu itu Pria yang mandiri juga tulang punggung Keluarga."
Kenan menaikkan sebelah alisnya, "apa itu tulang Punggung Keluarga?" tanya Kenan.
Kinanti ternganga, "tulang punggung tidak tau?" tanya Kinanti tidak percaya ada Orang biasa yang tidak tau apa arti tulang punggung.
Kenan membuang muka seolah terlalu malas membahasnya sebab Ia memang benar-benar tidak tau arti perkataan Kinanti itu.
"tulang punggung Keluarga itu kamu yang menjadi pencari nafkah dan membiayai seluruh keperluan Keluargamu." jelas Kinanti.
Kenan berdecak, "bukankah itu Tugas Suami? kenapa aku harus membiayai Keluargaku? aku belum berkeluarga."
Kinanti mengangguk-ngangguk, "berarti Keluargamu masih lengkap ya? aku tidak punya Papa."
Kenan terdiam menatap Kinanti, "mana ada anak yang tidak punya Papa."
Kinanti terkekeh, "memang benar, kalau Papaku sudah meninggal dan Aku sudah tidak punya Papa yang menafkahi kami semua."
Kenan hanya diam, Ia tidak tau kalau maksud kata-kata Kinanti dulu aku masih punya Mama dan adik yang sekolah kedokteran, itu artinya Kinanti hanya punya mereka dan tidak punya Papa lagi.
__ADS_1
"berapa saudara kandungmu?" tanya Kinanti penasaran.
"3." jawab Kenan.
"berapa perempuan? laki-laki?" tanya Kinanti.
"kenapa kau bertanya hal pribadiku?" tanya balik Kenan.
"Ken? kita berteman kan? apa salah bertanya dengan Keluarga? kalau kamu bertanya aku jawab kan?" oceh Kinanti.
"kalau begitu kenapa Papamu meninggal? kau tidak sanggup menjelaskan bukan? jangan tanya Keluargaku." kata Kenan malas privasinya di usik.
Kinanti tersenyum, "papaku meninggal tertimpa reruntuhan bangunan saat ingin membangun hotel Keluarga Maldev di Bogor."
Kenan tertegun mendengarnya lalu menatap Kinanti seolah menunggu lanjutan cerita Kinanti.
"lalu?" tanya Kenan.
Kinanti mengangguk pelan lalu melanjutkan, "Papa sempat dibawa ke Rumah Sakit oleh Penjaga Kesehatan utusan Maldev tapi Papa tidak bisa bertahan dan meninggal disana, Keluarga Maldev memang bertanggung jawab memberi asuransi dan biaya hidup kami 2 Milyar tapi Kakak perempuan kandung Papaku mengambil uangnya dan menyisakan 100 Juta untuk kami katanya sangat cukup untuk kami."
"kenapa dia mengambilnya?" tanya Kenan.
"karna adiknya meninggal demi membiayai kami." jawab Kinanti.
"kau membenci Keluarga Maldev?" tanya Kenan.
Kinanti tersenyum lalu mengipasi matanya yang basah.
"maaf." ucap Kenan.
Kinanti menatap Kenan sambil tersenyum lebar, "kita berteman kan? sekarang katakan padaku berapa adik perempuan dan laki-lakimu? apa kamu punya adik perempuan semua? atau laki-laki semua? kamu ada keberapa?"
"2 perempuan dan 1 laki-laki, aku anak pertama." jawab Kenan.
entah kenapa Kenan merasa bersalah dengan Kematian Papa nya Kinanti padahal Ia tidak melakukan apa-apa, kecelakaan dalam bekerja itu biasa tapi Kinanti menjadi Korban dan hidupnya menderita setelah itu menjadi tulang punggung Keluarga.
Kinanti tersenyum, "pasti adik-adikmu sangat cantik." kata Kinanti.
Kenan menggeleng kepalanya, "tidak sama sekali."
"kenapa? aku lihat kamu sangat tampan pasti adik-adikmu juga sangat cantik dan kamu itu bisa jadi Model, karir Orang Tampan itu sangat bagus apalagi kamu bisa beladiri pasti bisa jadi Aktor beradegan Action." celoteh Kinanti.
Kenan tersenyum miring, "aku tidak suka."
__ADS_1
Kinanti mengangguk, "ya sudah..! aku mau pulang, udah larut malam." izin Kinanti melihat jam dinding Kenan sambil berdiri.
Kenan diam saja lalu Kinanti pun keluar dari Rumah Kenan menuju Rumahnya.
Kenan mengambil Ponselnya dan menghubungi An untuk menanyakan semua tentang Papanya Kinanti ternyata memang benar kalau ada pekerja lelaki di Bogor berumur 30-an meninggal saat hendak membangun Hotel.
"papa beri Asuransi berapa?" tanya Kenan.
"2 Milyar, dia punya Istri dan anak-anak yang masih kecil jadi Papa beri uang segitu sampai mereka besar dan bisa mencari kebahagiaan sendiri." kata An.
An juga bertanya kenapa Kenan bertanya seperti itu.
"uang itu diambil oleh Kakak kandung Pria itu." jawab Kenan.
An terkejut bagaimana Kenan bisa tau kalau Uang itu diambil oleh Keluarga Laki-laki.
"yang jelas hidup Keluarga Pria itu tidak semakmur yang Papa harapkan." jelas Kenan.
An berdecak sebal mendengarnya, "manusia memang serakah..! sekarang kamu telah menemukan Orangnya kan? kamu harus membantu dan melindunginya."
Kenan terdiam beberapa saat lalu mengikuti perintah An sebab Ia memang penurut pada An namun jika keinginannya di singgung jelas Ia tidak terima.
Kenan dan An pun menutup panggilan masing-masing lalu Kenan bersiap tidur namun Ia merasa ada yang ganjal, Ia melihat ke arah pintu balkon mengintip lewat tirai Kenan mengerutkan keningnya ketika melihat ada pantulan senter dari bawah.
"apa itu?" gumam Kenan memperhatikan lebih teliti lagi.
Kenan tersenyum miring, "mencoba mengusikku?" seringai Kenan.
Kenan memilih pura-pura tidak melihat pelaku itu lalu kembali ke kasurnya.
Pagi-pagi buta,
Kinanti mengetuk pintu Kamar Kenan dan ingin meminta maaf karna kesiangan sehingga tidak sempat membuat sarapan.
"Ken??" Kinanti mengetuk-ngetuk cukup kuat Rumah Kenan tapi tidak ada sahutan atau tanda-tanda ada penghuninya.
"apa dia keluar?" gumam Kinanti.
Kinanti tiba-tiba melebarkan matanya, "apa dia sudah berangkat?"
Kinanti berlari ke luar gedung tanpa mengenakan sendal menuju Parkiran Mobil, Kinanti bukan pelit mengeluarkan uang tapi memang Ia sengaja irit demi sekolah adik laki-lakinya yang kedepannya nanti masih butuh uang semester sementara gaji Kinanti menjadi pelatih Taekwondo tidak sebesar ketika Ia jadi Pengawal BlackMalv.
.
__ADS_1
.
.