
.
.
.
Kinanti bangkit dari duduknya membayangkan Kenan belum makan siang, Kinanti membeli makanan di kantin membawa sepiring nasi ayam geprek melangkah pergi menuju Mobil Kenan.
beruntung Viora sedang mencari Maya untuk membahas rekaman yang disimpan Maya, Kinanti aman sampai tiba di Mobil Kenan.
"dia benar-benar tidur?" gumam Kinanti celingukan lalu membuka pintu Mobil Kenan yang memang tidak dikunci.
Kinanti duduk disamping Kenan dan menoleh kearah Kenan yang sedang terlelap, "bahkan tidurnya sama seperti tadi." batin Kinanti.
"Ken?" panggil Kinanti.
Kenan perlahan membuka matanya, anehnya Kinanti tidak takut pada Kenan yang jelas-jelas Ia tau kalau Kenan adalah pembun*h markas besar Mafia Ilegal dalam 1 malam, entah bagaimana cara Kenan melakukannya yang jelas Kinanti hanya tidak suka saat ada perempuan yang ingin menyerahkan tubuhnya pada Kenan artinya Kenan luar biasa.
Kenan dipuji-puji sebagai pahlawan sehingga banyak wanita yang rela memberikan diri mereka sepenuhnya pada Kenan karena merasa berhutang budi.
"hmm?" sahut Kenan dengan suara serak.
"sampai kapan kamu tidur terus? sekarang sudah jam 2 siang." tanya Kinanti.
Kenan menguap pun malah terlihat semakin tampan dengan cara coolnya Kenan bisa menutupi bibirnya saat menguap.
"aku bawa geprek." kata Kinan sambil meletakkan nampan makanan yang telah dibawanya untuk Kenan.
Kenan mengusap kepala dan wajahnya, "jam berapa sekarang?" tanya Kenan dengan suara serak.
"jam 2 Ken." jawab Kinanti sambil tersenyum.
Kenan mengusap kepala Kinanti, "calon istri yang baik."
Kinanti merona mendengarnya sedangkan Kenan mulai makan dengan air cuci tangan yang sudah dibawa oleh Kinanti, Kinanti juga mengambil sebotol air mineral untuk Kenan karna Ia sudah terbiasa melayani Kenan sebagai ART yang baik demi dapat tumpangan gratis.
.
"Ken?" panggil Kinanti setelah melihat Kenan sudah siap makan.
"ada yang kamu pikirkan?" tanya Kenan.
"Ken? apa maksudmu memberantas markas nyamuk?" tanya Kinanti dengan hati-hati.
Kenan tersenyum tipis, "kamu tau kan?"
Kinanti gelagapan di tatap seperti itu oleh Kenan dan juga pertanyaannya malah dilempar balik.
"aku benci ketidak-adilan..! jika nyamuk harus dibunuh demi kesehatan banyak manusia menurutmu bagaimana?" tanya Kenan.
Kinanti mengangguk pelan dengan kaku, "ta--tapi mereka manusia, kenapa kiasanmu harus nyamuk?"
"mereka bukan manusia, jika mereka manusia tidak akan mampu memukul dan menendang anak kecil yang bermain disekitar kita." jawaban Kenan membuat Kinanti setuju.
__ADS_1
"apa pekerjaanmu seorang pembun*h?" tanya Kinanti penasaran.
"bukan." jawab Kenan.
Kinanti tersenyum gugup, "lalu bagaimana jika banyak wanita yang antri akan menyerahkan tubuhnya padamu? mereka kebanyakan masih peraw*n!" tanya Kinanti tidak berani melihat mata Kenan terus saja menatap kesana-kemari karna malu.
Kenan tersenyum tipis, "aku tidak akan terima." jawab Kenan.
"bersihkan pikiran kotormu Kinan..! aku jijik dengan perempuan bekas tapi aku juga tidak mau merusak tubuh murni perempuan, hukum karma itu tidak ada tapi berlaku..! aku tidak bisa membayangkan adik perempuanku dirusak oleh Pria lain." jelas Kenan.
Kinanti terdiam memandang Kenan tidak menyangka, Kenan bukan Pria brengs*k.
"tapi aku akan dengarkan permintaanmu atau mencoba mempertimbangkannya." kata Kenan seolah sengaja memancing Kinanti.
Kinanti membelalak, "mencoba apa?" tanya Kinanti dengan nada cukup tinggi.
Kenan mengusap kepala Kinanti, "mencoba untuk bersembunyi."
Kinanti memerah seketika karena telah berpikir yang tidak-tidak, Kenan mencubit pipi Kinan serta mengatakan Kinanti pencemburu akut.
"aku tidak akan macam-macam." kata Kenan sambil tersenyum kecil.
tukk...!
Kenan mengetuk kening Kinanti, "hilangkan pikiran kotormu dan menilai buruk pria sempurna sepertiku."
Kinanti menundukkan kepalanya karna malu, Kenan mengelus pipi Kinanti.
Kinanti mengangguk-ngangguk, "Terimakasih Ken." ucap Kinanti.
Kenan menatap Kinanti yang tengah menahan malu, "baguslah kakimu sudah bisa digunakan."
Kinanti tidak tersinggung kata-kata Kenan sebab memang begitulah cara Kenan bicara, jujur dan berterus terang walau terkadang ada yang membuatnya kesal.
"sebenarnya itu racun apa Ken?" tanya Kinanti penasaran.
"kalajengking yang sudah dicampur setetes obat khusus, racunnya menjalar dengan cepat." jawab Kenan.
Kinanti semakin menyukai Kenan yang sudah banyak bicara serta mau menanggapi semua pertanyaannya, sebelum itu Kinanti seperti bicara dengan patung indah yang tak banyak bicara juga cuek.
Kinanti melihat pakaian Kinanti, "nanti kita ganti dresnya yang lebih panjang."
Kinanti ingin mengatakan masalah Molen tapi teringat Kenan memberantas Nyamuk dalam 1 malam membuatnya berpikir.
"katakan...!" pinta Kenan menahan lengan Kinanti yang hendak keluar dari Mobil.
Kinanti menautkan kedua alisnya memegang wajahnya sendiri, "apanya?"
"ekspresimu sedang ingin melaporkan sesuatu, katakan saja Kinan..!" Kenan.
Kinanti terdiam lalu memejamkan matanya, "hmm?? pa--pak Molen menatapku dengan aneh saat aku memakai dres itu."
Kenan menaikkan sebelah alisnya, "kamu tidak memakai jaket yang aku kasih?"
__ADS_1
"bu--bukan begitu Ken..! aku kepanasan ja--jadi.." Kinanti tidak meneruskan kata-katanya namun Kenan sudah tau jawabannya.
"dia memang sudah berbeda sejak awal aku melihatnya menatapmu." kata Kenan.
Kinanti bingung, "sejak awal menatapku bagaimana Ken?" tanya Kinanti.
"awal aku bekerja disini dia sudah memandangmu berbeda." jelas Kenan.
"ta--tapi dia bilang aku seperti anaknya." ujar Kinan tergagap.
Kenan tersenyum miring, "anak? kalau dia menganggapmu anak, dia tidak akan menatapmu seperti yang kamu bilang kan? itu hanya cara manis Pria untuk memikat perempuan, bukankah perempuan suka Pria baik?."
Kinanti merinding seketika, "jangan bahas lagi Ken..!" pinta Kinanti.
Kenan mengangguk, "ayo kita kembali..!" ajak Kenan.
Kinanti mengangguk pelan lalu keluar bersama Kenan, Kinan melihat langkah kakinya sejajar dengan Kenan sungguh hati memang tidak bisa dibohongi.
Kenan malah melihat kaki Kinanti yang berjalan sedikit tidak normal, mungkin karna bekas racun itu.
setibanya di dalam Lift.
Kinanti terkejut saat melihat Kenan berjongkok didepannya tengah menaikkan celana Taekwondo nya dan Kenan memegang bekas luka Kinanti.
"sakit?" tanya Kenan.
Kinanti mengangguk pelan, "sedikit."
"sepertinya harus dipijat lagi." kata Kenan.
"kenapa kamu bisa memijat orang, Ken?" tanya Kinanti penasaran.
"aku belajar terapi 1 bulan." jawab Kenan berdiri dengan gaya khasnya, Kinanti membuang muka sebab apapun yang ada dimatanya Kenan terlihat sungguh keren.
tring...!
pintu Lift terbuka.
Kinanti dan Kenan keluar dari Lift malah melihat pemandangan Maya bertengkar dengan Viora, Viora menarik-narik baju Maya begitu mudahnya Maya menjatuhkan Viora.
"biarkan saja." kata Kenan.
"kamu duluan saja Ken.! aku mau beri pelajaran sama wanita itu, dia mengurungku tadi di Ruang ganti." pinta Kinanti.
Kenan pun mengangguk setuju mengusap kepala Kinanti dan melangkah pergi ke arah lain, wajah tenang Kenan berubah dingin dan tatapan tajam ke arah depan seolah sedang memikirkan sesuatu. Kenan bukan tidak peduli masalah Viora tapi Ia percaya Kinanti bisa menyelesaikan masalahnya sendiri kecuali masalah lain yang sekiranya tidak bisa Kinan hadapi.
Kenan mencari Molen tapi ternyata Pria itu sedang sibuk dengan murid-muridnya, Kenan mengintai dibalik dinding terdengar olehnya Molen menanyakan tentang Kinanti yang tak terlihat.
.
.
.
__ADS_1