
.
.
.
"iya? kenapa dengan aku menyebut kami?" tanya Kinan dengan sorot mata tajam.
Fiki tertawa, "apa kalian tinggal satu Rumah? dia pacarmu? atau suamimu?" ejek Fiki.
Kinan mendekati Fiki dan menampar rahang Fiki dengan kuat hingga Fiki melebarkan matanya dengan keberanian Kinan.
"kau berani menamparku hah?" teriak Fiki membentak Kinanti.
"dia tetanggaku dan aku tidak sepertimu." kata Kinan dengan tatapan benci.
Fiki hendak memukul Kinanti tapi dihentikan oleh Molen yang tidak suka pertengkaran mereka.
"dia yang memulainya Pak." kata Fiki membela diri.
"tidak usah membalik kata-kata ya? anak ini sudah menceritakan kejadiannya, kenapa kau membuang makanan Orang?" Molen berkata dengan wajah tak senang.
"tapi Pak..?" bantah Fiki.
"ikut aku ke Ruangan...! kalian juga..!" titah Molen ke Fiki dan kedua rekan Fiki yang membela Fiki.
Fiki beralih menatap Kinan dengan tatapan penuh dendam, "kau akan dapat balasan dariku, hanya karna kau tertarik pada Pria itu kau menantang rekanmu sendiri."
"dia Pria yang baik dan hebat tapi kalian yang iri pada dia, apa salahnya aku suka berteman dengannya?" Balas Kinanti dengan serius.
"cepat ikut..!" Molen menarik Fiki untuk menjauhi Kinanti.
"anda terlalu memanjakan gadis itu Pak, itu tidak adil..! apa karna dia pernah bekerja di BlackMalv? apa bagusnya itu? dia jadi tidak waras karna anak baru sombong itu." Fiki berusaha menepis tangan Molen.
Kinanti menghela nafas panjang melihat Fiki ditarik paksa oleh Molen untuk mengikuti Molen ke Ruangan khusus untuk bicara hal serius.
Kinanti menoleh ke sekeliling, "sekarang lanjutkan saja kegiatan kalian ya? lupakan semuanya, perilaku dia tidak pantas kalian tiru." kata Kinanti serius pada anak-anak didik taekwondo itu.
Kinanti memegang perutnya yang terasa lapar pun segera pergi menuju Ibu kantin dan memesan makanan, Ia terlalu kesal melihat Kenan tidak makan karna Fiki. jiwa manusiawinya meronta-ronta akhirnya turun tangan menolong Kenan.
"kenapa kakak begitu membela Kak Kenan?" tanya salah satu murid perempuan penasaran ke Kinanti yang berdiri tak jauh dari anak itu.
Kinanti tersenyum, "bukan hanya membela tapi kalian harus melihat kebenaran ya? kakak tidak mau kamu punya sifat iri seperti Kak Fiki."
"memangnya apa saja yang dilakukan kak Fiki, Kak? kenapa dia iri?"
__ADS_1
Kinanti tersenyum sambil duduk disamping murid itu menunggu pesanannya selesai.
"Kak Kenan itu memang terlihat sombong dan sedikit malas berbicara hal tak penting dengan Siapapun itu tapi bukan berarti dia jahat, dan Kak Fiki tidak suka Kak Kenan yang tidak menghormatinya sebagai Senior." jelas Kinanti.
"berarti Kak Fiki harus dihormati ya kak?" sahut murid yang lain.
"sudah ya? kalian makan saja..! jangan terlalu dipikirkan masalah Orang dewasa." pinta Kinanti dengan serius.
Kinanti pun dipanggil karna pesanannya telah tiba, Ia makan didekat Murid-muridnya dan kebetulan Kenan telah datang untuk menanyakan bagaimana makan Kinanti tapi Ia malah melihat Kinanti makan di Kantin padahal bawa bekal.
Kenan diam saja lalu berbalik pergi tanpa ingin mengganggu Kinanti yang bisa dikatakan cukup baik sampai mau berkorban makanan seperti itu, padahal Kenan tau kalau Kinanti suka irit uang.
.
sore harinya.
Kenan melihat Kinanti yang sudah menunggu di dalam Mobilnya sambil tersenyum.
"duduk disamping..! aku yang nyetir.!" kata Kenan serius membuka pintu Kemudi membuat Kinanti mematung lalu Kenan menatap datar Kinanti yang tak beranjak dari bangku kemudi.
"Ehh?? hehe..! kalau boleh aku tau kenapa ya Kenan?" tanya Kinanti mendongak karna Kenan sedang berdiri.
"apa perlu aku jelaskan?" pertanyaan Kenan membuat Kinanti pasrah lalu menuruti perintah si Tuan pemilik Mobil.
Kenan pun masuk ke Mobilnya memasang Seatbeltnya lalu Kinanti yang sadar pun segera mengambil seatbeltnya tapi entah kenapa bisa macet.
"kenapa bisa macet?" gumam Kinanti menarik-narik tali pengamannya supaya lebih panjang dan bisa dikunci.
Kenan melirik Kinanti pun menghela nafas panjang lalu melepas Seatbeltnya dan membantu Kinanti yang kesulitan.
"apa kau memang sabuk hitam?" tanya Kenan seperti meragukan kemampuan Kinanti.
"man...? Ehh?" Kinanti ingin membantah malah terbelalak hidungnya terbentur dengan pipi Kenan.
DEG...!!?
jantung Kinanti berdebar melihat Kenan dari jarak dekat, Kenan hanya memasang wajah datar dan menarik tali Seatbeltnya lalu berhasil dikunci.
"gini saja tidak bisa." kata Kenan dengan senyum miring yang penuh ledekan tapi Kinanti bukannya tersinggung malah terpana dengan ekspresi langka Kenan itu.
Kenan kembali duduk dengan benar lalu memasang sabuk pengamannya dan melajukan kendaraannya dengan wajah datarnya itu.
Kinanti menarik nafas banyak-banyak lalu melihat tangan serta posisi Kenan saat duduk begitu Cool dan sangat menyenangkan dipandang mata indahnya itu, Kinanti segera membuang muka menatap kearah kaca Mobilnya.
Kenan tidak tau kalau Kinanti telah jatuh hati padanya sebab menurut Kenan itu Kinanti hanya gadis baik yang mau berteman dengan Pria tak banyak bicara sepertinya jadi Kenan pun ingin berbuat baik pada Gadis itu.
__ADS_1
"kenapa kau ikut campur?" tanya Kenan tiba-tiba.
Kinanti pun menoleh ke Kenan lagi, "apanya?" tanya Kinanti.
"aku rasa hidupmu tidak akan tenang mulai sekarang." kata Kenan menjelaskan penilaiannya kalau Kinanti berani membelanya didepan Fiki.
Kenan mendengar dari pembicaraan Murid dibalik tembok kalau Fiki di beri surat peringatan bersama 2 kawannya, Fiki nyaris dipecat karna kekacauannya itu serta mendengar kata-kata mereka kalau Kinanti begitu membela Kenan yang dipercayai tidak bersalah.
Kinanti tersenyum tipis, "hidupku sudah tidak tenang sejak menjadi Pengawal BlackMalv, Kenan..! memiliki musuh yang awalnya tidak aku kenal di Negeri Orang padahal mereka tau itu memang pekerjaanku membela tuanku."
Kenan diam saja lalu tiba-tiba Kinanti terkejut ketika sadar Kenan menghentikan Mobilnya di tempat parkiran khusus Restaurant mewah, Kinanti tentu tau kalau tempat itu mahal.
"ngapain Kenan?" tanya Kinanti serius.
"aku ingin membeli sesuatu." kata Kenan melepas seatbeltnya dan keluar dari Mobil Kinanti ternyata Kinanti pun memilih ikut supaya tau isi tempat itu.
Kenan melangkah dengan tenang sementara Kinanti dibelakang Kenan tengah celingukan melihat pemandangan Restaurant itu, Kinanti bisa dikatakan suka dengan pemandangan apapun berbaur alam.
dugh..!
"aduh..!"
Kinanti mengaduh kesakitan saat keningnya membentur punggung Kenan yang tiba-tiba berhenti, Kenan melirik Kinan yang nyengir kuda mengelus keningnya.
"maaf." ucap Kinanti.
Kenan pun menatap lurus kedepan sambil menahan senyum tipisnya.
Kenan memilih mengabaikan Kinanti yang terus mengekori Kenan, entah apa yang salah dengannya hingga suka sekali mengekori Kenan.
Kenan memesan makanan membuat Kinan terkejut lalu memegang ujung baju Kenan, Kinanti berbisik.
"kenapa pesan makanan disini? apa tidak lama?" tanya Kinanti.
Kenan memegang puncak kepala Kinanti dengan satu genggaman tangannya lalu memutarnya kesamping, "berisik..!" kata Kenan.
Kinanti mematung seketika melihat arah lain bukan Kenan.
.
.
Terimakasih, 😊
.
__ADS_1