
.
.
.
"kau benar-benar kejam Kinanti..!" maki Fika.
"iya..? aku kejam, sangat kejam..! sejak kalian mengambil hak mamaku itu sudah berakhirnya hubungan diantara kita, kalau kau butuh uang minta pada Papamu atau aku saja yang meminta padanya? kau meminta pada Papaku yang sudah meninggal itu?" sambar Kinanti dengan mata melebar penuh amarah.
"Papaku tidak punya uang..!" bela Fika.
"Papaku sudah mati..!?" jawab Kinanti juga.
Fika terdiam dengan menahan perasaan benci dengan Kinanti, "kau banyak uang Kinan, aku pinjam untuk membuka usaha."
"kerja sendiri dan hasilkan uang sendiri." jawab Kinanti berbalik pergi dan terkejut melihat Kenan.
Kenan hanya menatap datar saja situasi mereka, Kinanti memilih pergi dengan kaki yang sedikit pincang mengabaikan teriakan Fika.
Kenan menahan lengan Kinanti yang hendak melewatinya saja sehingga Kinanti menolehkan kepalanya ke arah Kenan dengan wajah malunya itu karna sekali lagi Kenan melihat masalahnya, Kinanti tidak peduli penilaian Orang lain terhadapnya tapi sungguh malu jika Kenan tau masalahnya.
"kakimu berdarah." kata Kenan langsung saja Kinanti melihat ke kakinya dan ternyata memang ada darah.
tangan Kenan perlahan tiba dipinggang Kinanti dan langsung menggendongnya membuat seisi gedung tempat kerja Kenan dan Kinanti heboh berlarian mengejar Kenan, Fika yang hendak menyusul pun terjatuh akibat dorong-dorongan para rekan kerja dan murid di Gedung Taekwondo Haritek itu.
Kinanti menyembunyikan wajahnya di leher Kenan sambil menahan tangis, Kenan bisa mendengar Kinanti tengah sedih.
ketika didepan Lift tiba-tiba Kenan berbalik dan menatap tajam semua Orang yang melihatnya menggendong Kinanti.
"pergi dan lakukan saja pekerjaan kalian." kata Kenan dengan dingin.
Fika tidak bisa masuk Lift karna hanya Orang khusus saja yang bisa masuk kesana dengan Kartu.
mereka yang dilarang oleh Kenan hanya bisa pasrah tapi tidak berani memotret Kenan, sudah aturan dari Kenan yang minta dijaga Privasinya jika dilanggar maka Kenan akan mengundurkan diri, tentu saja mereka tidak mau Kenan mengundurkan diri karna melihat wajah Kenan saja seperti surga bagi mereka semua terutama kalangan perempuan.
Kenan membawa Kinanti ke Rooftop, "menangislah..!" kata Kenan.
tangis Kinanti pecah seketika sedangkan Kenan mengambil kotak P3K yang sudah ada di tempat itu, Kinanti menangis seperti Orang kehilangan dan Kenan menulikan telinganya mendengar tangisan Kinanti sampai hati Gadis itu tenang maka akan diam sendiri.
"dasar tidak tau diri...!" isak tangis Kinanti.
"muka tembok." maki Kinanti sesegukan.
Kenan mengobati kaki Kinanti yang tiba-tiba menjerit kesakitan tapi ajaibnya Kaki Kinanti jadi sembuh.
"Ken??" Kinanti memandang Kenan tidak percaya ternyata Kenan bisa mengobatinya.
__ADS_1
"baikan?" tanya Kenan.
Kinanti mengangguk-ngangguk sambil memandang tangan Kenan yang ajaib.
"apa kamu seorang dokter Ken? bahkan kemampuanmu melebihi Kevin." tanya Kinanti sambil garuk-garuk kepala.
Kenan tidak mungkin menjawab kalau Ia adalah keturunan Xabara yang bisa menyembuhkan Orang sakit bahkan juga bisa menghabisi nyaw* Orang.
"Ken??" panggil Kinanti.
"hmm?" sahut Kenan.
"lagi-lagi kamu melihat kelemahanku Ken, aku benar-benar malu." kata Kinanti menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Kenan diam saja sambil membalut luka kaki Kinanti yang terkena ujung heels Fika.
"tidak apa." jawab Kenan.
"kenapa kamu sangat baik padaku Ken? aku takut suatu saat nanti kamu akan memusuhiku." kata Kinanti tiba-tiba.
Kenan menatap mata bening Kinanti yang terlihat sedih.
"jika kau bertemu dengan Pria keturunan Maldev apa kau akan membencinya?" tanya Kenan malah melenceng.
Kinanti mengerjab, "kenapa aku harus membencinya?" tanya Kinanti dengan heran.
Kinanti tersenyum menghapus air matanya, "tidak Ken..! aku tidak pernah membenci Keluarga Maldev, mereka sangat baik pada kami."
Kinanti menceritakan kebaikan An saat datang dari Kota ke Bogor hanya untuk meminta maaf padanya belum lagi Rovert, Xabara dan Carrina juga turun tangan.
"saat itu aku masih kecil tidak tau maksud permintaan maaf Tuan An, dia memang mengatakan kalau aku akan mengerti permintaan maafnya saat aku sudah dewasa." kata Kinanti.
"waktu aku masih kecil Nyonya Carrina memberiku sebuah kalung emas tanpa sepengetahuan siapapun sesuai dengan perkataan Nyonya aku harus menyembunyikannya dari siapapun, waktu kami pindahan aku memberi kalung itu ke Mama. aku rasa Mama menjual kalung itu untuk tambahan biaya selama di Kota." Lanjut Kinanti.
Kenan mendengar perkataan Kinanti dengan wajah serius, "lalu intinya?"
"Keluarga Maldev tidak bersalah dan tidak pantas dibenci, kecelakaan dalam pekerjaan itu sudah biasa lagian mereka tidak bisa disalahkan semuanya. Papa bekerja saat itu karna ingin uang dan kecelakaan itu tidak pernah diinginkan siapapun."
Kenan menyunggingkan senyum tipisnya.
"kenapa kamu tersenyum Ken?" tanya Kinanti dengan mata memicing curiga.
"perbaiki matamu yang merah itu." titah Kenan.
Kinanti mengerucutkan bibirnya memegang matanya yang memang merah.
"sudah aku bilang kamu harus beritau aku apapun tentangmu Ken, kamu tau kelemahanku tapi aku belum pernah mendengar keluhan hidupmu." kata Kinanti dengan kesal.
__ADS_1
Kenan diam saja lalu menyentil kening Kinanti yang mengaduh seketika.
"Ken?? kenapa kamu suka sekali menyentil keningku?" tanya Kinanti dengan galak.
"Pria ditakdirkan harus bisa berdiri sendiri." kata Kenan dengan serius.
"lalu perempuan?" tanya Kinanti.
"ditakdirkan bergantung tidak bisa berdiri sendiri." jawab Kenan.
Kinanti tampak berpikir selama ini Ia tidak pernah bergantung pada siapapun tapi malah begitu terbuka pada Kenan, "Ken??" panggil Kinanti.
Kenan menatap mata Kinanti dengan wajah datarnya itu.
"kalau aku harus menikah bagaimana jika aku menikah denganmu?" tanya Kinanti membuat mata Kenan melebar karna terkejut.
Kinanti memegang lengan Kenan, "aku tidak percaya Pria manapun Ken tapi aku percaya padamu."
"kenapa aku?" tanya Kenan.
"aku bilang aku hanya percaya padamu." jawab Kinanti.
Kinanti menunduk dengan raut wajah sedih, "aku merasa Steven akan datang ke Indonesia dan aku sangat kenal wataknya yang pemaksa."
Kenan mendengarkan saja.
"aku tidak punya siapapun untuk menolaknya sementara aku juga masih sendiri, dia kenal sama Kevin. ! huh..? aku tidak mungkin bilang kalau suamiku seorang dokter." gerutu Kinanti.
"jadi kau butuh suami palsu?" tanya Kenan.
Kinanti mengangguk, "tapi jadi Istri beneran kamu juga tidak apa."
Kenan menatap Kinanti tidak menyangka, "maksudmu?"
"menurutku kamu Pria yang baik Ken, tidak apa-apa kamu bukan Pria kaya seperti Steven. aku bisa membiayaimu, kamu tau Kevin kuliah kedokteran kan? aku bisa membiayainya apalagi kamu Ken?"
Kenan seketika mengulum senyum membuat Kinanti terpana melihat wajah Kenan yang begitu tampan saat tersenyum selebar itu.
"jadi kau mau membiayaiku?" tanya Kenan yang tidak sadar dengan apa yang terjadi dengan Kinanti tengah berdebar-debar karna senyumnya.
"i--iya." jawab Kinanti membuang muka dengan wajah yang merona.
"haiish..! wajahnya kenapa bisa setampan itu?" batin Kinanti.
.
.
__ADS_1
.