
.
.
.
Kenan diam saja mendengar celotehan Kevin dengan Kinanti lalu Ia melihat Layar Ponselnya dan diam-diam menyunggingkan senyum tipisnya tanpa ada yang melihatnya bahkan CCTV pun tidak bisa menangkap senyum tipis Kenan walau di perbesar sekalipun.
Kinanti memesan apa saja yang Ia inginkan sampai-sampai Kevin merasa heran sebab tak biasanya Kinanti mau memesan banyak makanan kalau yang traktir Kevin, walau menguras dompet tapi jika Kinanti makan sepuas hati maka akan sangat menyenangkan bagi Kevin.
"abang? Kakak kenapa?" tanya Kevin berbisik di telinga Kenan.
Kenan melirik Kinanti, "kenapa dia?" tanya Kenan balik seolah tidak ada yang salah dengan Kinanti.
Kevin menjatuhkan rahangnya lalu menggeleng kepalanya untuk tetap sadar, tak lupa Kevin berterimakasih pada Kenan dengan apa yang Kenan lakukan hari ini.
Kenan mendengar saja curahan hati Kevin,
"sebenarnya Kak Kinanti memang kelihatan galak dan bar-bar tapi sebenarnya hatinya lembut bang, dia memang kelihatan tegar padahal sebenarnya dia menahan semuanya."
"Kak Kinanti pernah down selama beberapa bulan karna menahan rasa kesalnya saat Keluarga kami di hina Orang sampai dia melihat Orang-orang hebat bertarung, dia jadi terobsesi menjadi kuat. aku tidak suka dia yang bar-bar tapi aku lebih benci melihatnya sakit bang."
"dia tidak bisa memendam amarahnya kalau dia menahannya jelas dia akan sakit." jelas Kevin lagi serius.
Kenan diam saja sampai Kinanti yang tadi permisi ke Toilet telah kembali dan menatap heran kedua Pria tampan berbeda nilainya itu.
"bagaimana Kak?" tanya Kevin.
"sudah baikan, tapi kenapa Kaki Kakak sakit? apa kamu tidak salah obat dek?" tanya Kinanti memicing curiga.
"kenapa kakak curigaan terus sih?" tanya Kevin dengan kesal.
"karna Kakak tidak bayar, bisa saja kamu memberi obat yang paling murah biar tidak rugi." celutuk Kinanti.
Kevin mendengus lalu beralih ke Kenan, "abang ipar yang bayar kok." jawaban Kevin membuat Kinanti melebarkan matanya.
"benar Ken?" tanya Kinanti dan Kenan melirik Kevin yang tersenyum lebar menatapnya.
Kenan berdecak langsung membuang muka dan hal itu membuat Kinanti berpikir kalau memang Kenan yang membayarnya.
"ooh..! Terimakasih Ken..! lebih baik kita pulang, ngapain kita lama-lama disini." ajak Kinanti sembari mengangkat tasnya di atas meja.
.
didepan Restaurant,
"kenapa kamu melihat motor Ken seperti itu? jangan bilang kamu tertarik ya?" tanya Kinanti penasaran.
__ADS_1
"wajarlah aku tertarik Kak..? motor ini limited, di Indonesia tidak ada yang jual kalau belum di pesan terlebih dahulu dari Luar Negeri." jawab Kevin.
"kalau begitu biar Kakak belikan." jawab Kinanti tapi Kevin menolak hingga Kenan yang bersuara hanya keheningan diantara mereka berdua.
"kenapa kalian berisik hanya karna motor? besok pesananmu akan datang..! jangan berdebat dengan kakakmu." sambar Kenan menatap tajam Kevin dan Kinanti bergantian.
"aku yang bayar." kata Kinanti.
"batalkan saja bang." sahut Kevin.
sekali lagi mereka berdebat mulut, "ckk..! biar aku yang selesaikan..? sekarang kalian pulang naik taksi."
Kenan melajukan Motornya meninggalkan Kinanti bersama Kevin, Kinanti berusaha menggapai Kenan tapi Kenan sudah terlanjur pergi alhasil Kinanti mengomeli Kevin.
sepanjang jalan mereka berdua berdebat sesekali Kevin harus menerima pukulan di punggungnya dari Kinanti yang sedang sakit dibagian kakinya.
.
ke esokan harinya,
Kenan di atas tempat tidur mendengus mendengar suara Ponselnya terpaksa Ia menggapainya dan mengangkat panggilan itu tanpa melihat nama nya.
"kamu yang menghabisi mereka?" tanya An dengan serius langsung to the Point.
"hmmm..! mereka yang duluan menyerangku Pa." jawab Kenan dengan suara serak.
"ckk..!" Kenan langsung tau pelakunya berjalan keluar kamar menuju Pintu Rumah dan membukanya.
"Haii??" sapa Kinanti dengan senyuman.
Kenan hanya memasang wajah bantalnya lalu berbalik lagi kembali ke Kamarnya, "tidak usah masak..! aku mau tidur."
"lalu pekerjaan kita bagaimana?" tanya Kinanti berjalan sedikit pincang memasuki Rumah Kenan bahkan berdiri didepan pintu Kamar Kenan tanpa berani masuk lebih dalam lagi.
"aku cuti..! badanku sakit semua." jawab Kenan beralasan saja.
Kinanti yang tidak percaya pun memberanikan diri memasuki Kamar Kenan dan memeriksa kening Kenan yang memang terasa hangat.
"Ken?? kenapa bisa panas?" tanya Kinanti dengan cemas.
"tenang saja..? aku sudah pesan Obat dari seseorang, nanti Obatnya akan datang." jawab Kenan dengan malas membuka mata.
Kinanti memaksa Kenan melepaskan bajunya tapi Kenan tidak mau hingga Kinanti menarik lengan Kenan dan memukul punggung Kenan yang meringis seketika.
"sudah aku tebak..! luka bakarmu pasti infeksi Ken." jawab Kinanti dengan cemas.
"aku minta kau pesankan bubur lewat Online." pinta Kenan.
__ADS_1
Kinanti pun bangkit dan akan membuatkan Kenan bubur abalon daging suir ayam kecap buatannya, Kinanti sangat ahli dibidang segala makanan apapun berbaur bubur.
.
tok.. tok.. tok..!
Kinanti berlari ke arah Pintu Kamar Kenan dan membukanya betapa terkejutnya sosok yang mengantar barang itu melihat Kinanti ada di Kamar itu.
"apa aku salah kamar?" gumam Pria itu celingukan melihat sekitar dan melihat ada Pintu Rumah Lain tapi Kinanti segera merebut plastik yang dibawa Pria itu.
"terimakasih tampan..! abangmu ada didalam sedang sakit, kamu mau lihat?" pertanyaan Kinanti membuat Kanze kaget mengapa Kinanti bisa kenal dirinya.
"kamu tau aku adiknya bang Kenan?" tanya Kanze yang memang tidak tau kalau Kenan punya hubungan dengan Perempuan bernama Kinanti.
"ayo masuk..! tolong obati luka punggungnya dengan obat ini...! Kakak lanjut buat bubur untuk abangmu ya? kamu juga boleh makan disini, kebetulan Kakak buat banyak." kata Kinanti memberi jalan pada Kanze.
alasan Kinanti mengenali Kanze itu lewat sorot mata tajam Kanze yang 50% mirip dengan Kenan, walau Kanze mengenakan masker tapi Kinanti bisa melihatnya hanya dalam sekali pandang saja.
Kanze memasuki Kamar Kenan lalu Kinanti menutup pintu Kamar dan terdengar Kinanti berlari ke arah dapur.
"abang? siapa Gadis cantik tadi?" tanya Kanze sembari menarik baju Kenan ke atas dan melihat punggung Kenan membiru.
"diamlah..! kerjakan saja tugasmu." titah Kenan.
Kanze mengoleskan salep khusus buatan tangan Xabara langsung untuk menyembuhkan luka bakar Kenan, tidak mungkin Kenan minta buatkan obat pada Ana yang sedang berada di Luar Negeri.
Kanze mengoleskannya selembut yang dia bisa tapi menurut Kenan itu sudah kasar dan mengatakan Kanze tidak punya hati yang lembut kelak pada perempuan.
"enak aja abang bilang begitu, siapa yang patut dikatakan seperti itu? seharusnya aku yang mengatakan hal itu pada abang bukan kebalikannya." celutuk Kanze tidak terima.
Kenan diam saja hingga mereka berdua mendengar suara teriakan Kinanti meminta makan bersama, Kanze menahan lengan Kenan yang hendak keluar tanpa mengenakan baju.
"kenapa tidak pakai baju?" tanya Kanze.
"Ckk..!" Kenan tidak menjawab malah langsung pergi dikejar oleh Kanze yang kebingungan mengapa Kenan tidak mengenakan baju jelas-jelas yang memanggil mereka adalah perempuan.
Kanze dan Keluarganya tau Kenan adalah Pria yang Pemalu yang tidak suka dipandang intens oleh siapapun apalagi perempuan.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.