Gadis Bar-Bar Tuan Muda Pendiam

Gadis Bar-Bar Tuan Muda Pendiam
temu


__ADS_3

.


.


.


Kenan berdecak, "aku bahkan merasa terhina disini." gumam Kenan sungguh pelan.


"terhina apa? siapa yang menghinamu?" tanya Kinanti dengan heran sambil memegang lengan Kenan dan menatap Kenan serius.


Kenan hanya membalas dengan tatapan datarnya itu, "apa masuk akal gaji hanya 10 Juta?"


"tentu saja gajimu itu tidak masuk akal, kamu beruntung dapat gaji yang besar memangnya kamu mau gajimu berapa? jangan bilang kamu ingin digaji ratusan juta ya?" Kinanti menunjuk curiga wajah Kenan.


Kinanti tertawa melihat Kenan yang tidak menjawab, "hei..! kalau mau gaji ratusan juta sekalian aja kamu jadi Presdir Ken..! hanya goyang-goyang kaki sama tanda tangan saja kamu bisa dapat milyaran sampai triliunan rupiah."


Kenan diam saja lalu menyentil kening Kinanti yang terpaku seketika, "berisik..! tawamu jelek." sindir Kenan dengan tampang datarnya itu.


Kinanti mengerucutkan bibirnya, "siapa bilang aku jelek?? aku sangat cantik."


Kenan bangkit dari tempatnya dan pergi dari sana di susul Kinanti yang tidak menyerah bertanya siapa yang mengatakannya jelek lalu berpose cantik dan seksi ala Kinanti didepan Kenan sedangkan Kinanti terus berjalan mundur.


"apa yang kau lakukan?" tanya Kenan dengan datar dan berhenti ditempat.


"aku tidak terima dibilang jelek." bantah Kinanti dengan masam.


Kenan menyunggingkan senyum tipisnya, "kau jelek.!"


"tidak..? aku cantik." ralat Kinanti.


"jelek." balas Kenan.


"cantik..!" bela Kinanti berkacak pinggang dengan mata melebar penuh ancaman.


"cerewet." sambung Kenan lagi.


"iya..!" jawab Kinanti dengan bangga.


"jelek." kata Kenan lagi dan Kinanti mengangguk hal itu membuat Kinanti berubah ekspresi menjadi linglung.


Kenan menahan tawanya melihat ekspresi aneh Kinanti itu, "kau saja mengakui."


Kinanti menatap tajam Kenan yang pergi meninggalkannya, "aku cantik..?" teriak Kinanti tidak terima.


"jelek." jawab Kenan entah kenapa Ia senang sekali melawan Kinanti, apalagi melihat wajah kesal Kinanti dan wajah linglungnya itu seperti anak kecil yang baru bangun tidur tidak menemukan Ibu kandungnya.


"Ken??" teriak Kinanti melepaskan sendalnya lalu melemparnya ke arah Kenan yang dengan cepat menangkap sendal Kinanti dan berhenti.


Kinanti terpana melihat Kenan bisa menangkap sendal lemparannya tanpa melihat kebelakang, berarti insting Kenan sangat tajam sehingga bisa merasakan arah benda yang melayang kearahnya.

__ADS_1


Kenan memutar kepalanya kebelakang, "jelek." kata Kenan dengan gerakan bibirnya.


"Kenn??" geram Kinanti berlari menyusul Kenan.


"jangan buang sendalku..!" pinta Kinanti setengah berteriak.


Kenan melempar sendal Kinanti ke paretan air didekat parkiran Motornya, Kinanti berteriak lalu melompat-lompat mengejar Kenan langsung memanjat punggung Kenan.


"apa yang kau lakukan? mau jadi monyet?" tanya Kenan melihat kebelakang.


"kamu melempar sendalku Ken..? kakiku sangat sensitif..?! kalau kakiku terluka aku tidak akan bisa tidur nyenyak lalu tidak akan bisa memasak untukmu lagi." ancam Kinanti.


"ckk..!! kau bicara seperti aku yang sangat membutuhkanmu." kata Kenan dengan malas.


"cepat jalan..!" Kinanti memukul bahu Kenan seperti teman akrab saja.


"monyet jelek..!" ejek Kenan.


"biarin." Kinanti melingkarkan erat lengannya di leher Kenan yang sempat terbatuk.


"lepas jelek." titah Kenan.


Kinanti melonggarkan pegangannya, "jangan katakan aku jelek lagi, mentang-mentang kamu tampan memang bisa merendahkan gadis secantik aku heh? aku tidak akan terima."


Kenan mendengus saja tapi terpaksa membiarkan seekor monyet menempel di punggungnya.


.


"Ken? aku boleh pinjam motormu tidak?" tanya Kinanti yang sedang melayani Kenan seperti seorang Pelayan.


Kenan melirik Kinanti sekilas yang tersenyum seperti Adik laki-laki nya jika menginginkan sesuatu pasti merayunya sambil tersenyum.


"Mobilku sudah siap dibengkel..? kau ambilkan Mobilku." kata Kenan serius.


Kinanti sumringah mendengarnya, "baiklah..! bengkel mana?"


"Duta Asia." jawab Kenan.


Kinanti yang sedang makan tersedak seketika sedangkan Kenan hanya menatap datar saja Kinanti yang seperti itu tanpa berniat mau membantu.


"Duta Asia itu biaya perbaikannya sangat mahal Ken, kamu kenapa membawanya ke bengkel itu sih?" celoteh Kinan.


Kenan diam saja karna tidak mungkin Kenan mengatakan kalau Duta Asia itu langganan Orang Kaya juga langganan bengkel pembalap Indonesia yang sudah Go Internasional.


"aku sudah bayar..? kau tinggal bawa." jawab Kenan.


Kinanti pun tersenyum lebar tidak menanyakan apa-apa lagi setelah mendengar perkataan Kenan kalau biaya bengkelnya sudah di bayar lunas.


.

__ADS_1


Kinanti naik taksi menuju Bengkel Duta Asia dan disambut baik oleh pekerja lelaki disana dengan tatapan kagum.


"aku ingin mengambil Mobil." kata Kinanti.


Pekerja Bengkel menanyakan plat Mobil yang Kinanti jemput, setelah mencocokkan plat yang sama ternyata mereka semua tampak syok menatap Kinanti.


"kenapa kalian memandangku begitu?" tanya Kinanti berubah galak.


"Ehh?? ti--tidak." jawab mereka semua segera melayani Kinanti lebih ramah lagi.


Kinanti sampai heran kenapa mereka semua berubah menjadi begitu manis setelah Ia menemukan Mobil Kenan untuk dibawa, Kinanti tidak tau kalau Kenan yang menyamar adalah satu-satunya pelanggan yang membayar biaya montir diatas rata-rata padahal banyak keluhan pelanggan di bengkel itu karna bayaran perbaikan Mobil ditempat itu sangat mahal.


.


.


Kinanti menemui Kevin July di Asrama Kedokterannya.


"Kak? ngapain kesini sih? kan aku udah bilang temui Mama aja." tanya Kevin mendatangi Kinanti yang membawa banyak makanan sehat untuk adik semata wayangnya yang sangat menjaga kesehatan karna seorang calon Dokter.


"anak kecil sepertimu fokus belajar saja." kata Kinanti mengusap kepala Kevin sambil berjinjit.


"Kak?? aku sudah besar." Kevin mengelak dengan tatapan sengit ke Kinanti yang terkikik.


"ini biaya hidupmu selama 1 bulan, ingat kasih Mama ya?" Kinanti mengeluarkan amplop berisi uang tunai gaji nya sebagai Pelatih.


Kevin berusaha menolak tapi Kinanti benar-benar memiliki sifat yang sangat penyayang walau Ia disebut gadis bar-bar, Kevin sebenarnya sangat sayang pada Kakaknya itu yang selalu berjuang untuknya tanpa mengeluh.


"Kinan, sayang?" panggil seorang Wanita paruh baya tiba-tiba muncul dibelakang Kinanti.


DEG..!


"Mama?" senyum lebar Kevin mendekati Elsi dan menuntun Elsi lebih dekat ke Kinanti.


Kinanti bukannya benci pada Elsi tapi Ia hanya kesal setiap kali bertemu dengan Mamanya itu selalu saja meminta maaf padahal Kinanti tidak pernah mengeluh apa-apa, Kinanti selalu berusaha untuk terlihat kuat tapi Elsi selalu meminta maaf sehingga kekuatannya itu goyah dan Kinanti tidak mau terlihat menyedihkan.


Kinanti memandang Elsi yang telah membesarkannya dengan penuh Cinta dan Perjuangan drama Keluarga, Ekonomi serta penderitaan.


"ha--halo Ma?" sapa Kinanti dengan kikuk.


Kinanti melototi Kevin yang tersenyum tak berdosa ke kakaknya itu.


Elsi mendekati Kinanti dan menangkup kedua pipi Kinanti dengan senyuman lembutnya, "mama senang kamu terlihat sehat nak."


Kinanti tersenyum, "Mama kelihatan kurus."


"tentu saja..! Mama terlalu merindukan Putri Mama yang tidak pernah datang menemui Mama, mana mungkin Mama punya selera makan." Elsi.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2