Gadis Bar-Bar Tuan Muda Pendiam

Gadis Bar-Bar Tuan Muda Pendiam
bersihkan


__ADS_3

.


.


.


Kenan membawa Kinanti ke Apartemen tepat di Kamarnya.


"naikkan celanamu.!" pinta Kenan sambil menaikkan lengan bajunya.


Awalnya Kinanti mengenakan dres saat ingin bertemu Keluarganya tapi karna Kenan tidak suka terlalu pendek jadi menggantinya di Toko dalam perjalanan menuju Restaurant sehingga kaki Kinanti tertutupi memakai celana.


Kinanti mengerjabkan matanya melihat sekitar, "kenapa kesini Ken? apa tidak butuh dokter?" tanya Kinanti dengan cemas.


"aku bisa mengobatimu..! cepatlah Kinan..! kakimu sudah membiru." pinta Kenan dengan serius.


Kinanti terpaksa menaikkan celananya tapi malah macet.


"tunggu...!" titah Kenan sehingga Kinanti membeku ditempat sambil mengangkat tangan seperti seorang tahanan yang ditangkap polisi.


"ikatannya jangan dilepas Kinan, kamu harus bisa membuka celanamu tanpa merusak ikatannya." ujar Kenan serius.


Kinanti melebarkan matanya sambil menyilang Nonanya (maksud Nona itu bagian inti wanita), "ja-jangan Ken..! aku malu lah."


Kenan mengerutkan keningnya, "kalau begitu aku gunting saja."


Kinanti gelagapan berusaha menolak.


"sudah aku bilang akan menyelamatkan kakimu kan? kalau kita ke Rumah sakit, para dokter itu akan mengamputasi kakimu." jelas Kenan.


Kinanti terdiam lalu melihat kakinya yang sudah membiru.


"apa yang kamu takutkan? 3 hari lagi kita akan menikah, mencium bibirmu saja aku menikahimu apalagi pahamu..! aku tidak akan melakukan apapun." kata Kenan mengusap kepala Kinan supaya lebih tenang dan tidak tegang dengan pengobatannya.


Kinanti mengangguk pelan, Kenan mengambil semua perlengkapan dokternya hingga Kinanti terkejut.


"apa kamu seorang dokter Ken?" tanya Kinanti.


"aku selalu keluar-masuk kandang musuh, luka itu sudah biasa maka nya aku bisa menggunakan benda-benda ini." jawab Kenan.


Kinanti hanya terdiam dengan binar kagumnya, Kenan adalah Putra Penguasa tapi bisa mengobati dirinya sendiri jika Pria kaya diluar sana pasti menyuruh dokter pribadi datang mengobatinya.


Kenan mencari sesuatu dan menghela nafas, "aku tidak punya obat bius, apa kamu bisa menahan rasa sakitnya?"

__ADS_1


"kita tidak punya waktu untuk beli obat." lanjut Kenan lagi dengan raut wajah serius.


Kinanti mengangguk pelan dengan cepat Kenan menggunting celana Kinanti, Kinanti hanya mampu membuang muka ketika Kenan menggunting celananya memperlihatkan paha mulusnya tapi bagian yang kaki yang terikat tidak terkena gunting sebelum diobati.


Kenan mengambil bekas guntingan celana Kinanti, "tutupi bagian mana saja yang ingin kamu lindungi." pinta Kenan.


Kinanti yang memerah malu menutupi bagian yang terdekat dengan celana dal*mnya warna hitam, Kenan mengambil pisau bedah saat Kenan hendak meletakkan ujung pisaunya di kaki Kinan langsung berhenti melihat ke arah Kinanti.


"ini sangat sakit..? aku harus membedah kecil lukamu." kata Kenan serius.


Kinanti mengangguk lalu Kenan mengambil bantal kecilnya, "a--apa ini Ken?" tanya Kinanti.


"gigit saja, benda itu akan meringankan rasa sakitnya." jawab Kenan lalu memijit kaki Kinanti dengan wajah serius.


"ba--baiklah." jawab Kinan memeluk bantal kecil pemberian Kenan yang pijatannya mulai terasa sakit.


benar yang Kenan katakan, pembedahan yang dilakukan Kenan sangat menyakitkan bahkan racun berwarna biru menyembur keluar dari kaki Kinanti yang dibedah Kenan.


Kenan dengan serius memijit kaki Kinanti, sebelum membuka ikatan pertama Kenan mengunci di bagian Paha Kinanti supaya sisa racun kecilnya tidak menyebar ke atas.


"hhmmmfffnn!! hikh.. hikhh..!" Kinanti sampai mengeluarkan air matanya sambil menggigit bantal pemberian Kenan, bahkan nyaris hancur di gigit kuat oleh Kinan.


Kenan melepas ikatan pertama yang masih ada bagian birunya, pijatan yang Kenan lakukan seperti sebuah batu besar menimpa kaki Kinanti, Kinanti merasa kakinya mau pecah dipijat begitu kuat oleh Kenan sampai Ia tak sadarkan diri saking sakitnya.


Kenan tetap melakukan pengobatannya sampai kaki Kinan bersih total dari racun mematikan, jika pengobatan ditunda 10 menit saja sekedar mencari obat bius maka semua akan terlambat, Kenan tau betapa sakitnya pengobatannya tapi hanya itu satu-satunya cara untuk membersihkan kaki Kinanti dari racun yang sudah memenuhi kaki Kinanti, bahkan jika Kinanti ke Dokter maka kaki Kinanti akan di amputasi.


Kenan melihat sebelah kaki Kinanti menggeleng kepalanya lalu segera Ia menyelimuti kaki Kinanti padahal ranjangnya kotor karna cipratan racun dari dalam kaki Kinan.


Kenan keluar dari Kamarnya membiarkan Kinanti istirahat, Kenan keluar dari Apartemennya setelah membersihkan diri.


.


ke esokan paginya,


Kinanti terbangun dan sontak saja meraba sekujur tubuhnya ternyata baik-baik saja, Kinanti terkejut melihat selimut Kenan begitu kotor belum lagi bantal kecil yang Kenan berikan telah rusak di gigit oleh Kinanti.


"haishh..!" Kinanti pun bangkit membersihkan sprei, selimut, sarung bantal dan ranjang Kenan serta bersusah payah menjemurnya di tepi balkon.


"wahh..? cantiknya." gumam Kinanti terengah-engah melihat pemandangan balkon.


menarik kasur bagian atas yang basah dicuci Kinan karna bau busuk bercampur amis, kaki Kinanti ternyata sudah baikan walau masih ada rasa nyeri dibagian yang Kenan jahit tapi kakinya masih terasa normal karna masih mampu digerakkan.


"racun apa itu? kenapa raut wajah Kenan kelihatan serius melihat kakiku?" gumam Kinanti kebingungan.

__ADS_1


Kenan bukanlah Pria yang bisa ditebak tapi kata-kata Kenan selalu benar dan tidak ada kebohongan, maka nya Kinanti percaya ucapan Kenan walau takut dan tidak tenang masih berpikir yang tidak-tidak.


"dimana Kenan?" gumam Kinanti mencari keberadaan Kenan ternyata tengah tertidur pulas di meja dapur.


"imutnya..! Ken seperti anak SD ketiduran waktu jam belajar sejarah." gumam Kinanti tersenyum kecil melihat wajah tampan Kenan saat tertidur seperti itu.


Kinan tersentak dan melihat sekitar, "kenapa dia bisa ketiduran disini? apa dia tadi malam tidak tidur?" gumam Kinanti semakin keheranan.


Kinanti melihat menu sarapan yang Kenan buat masih mengeluarkan asap, artinya Kenan baru saja memasak sudah ketiduran.


Kinanti mendekati wajah Kenan tiba-tiba Kinanti menjerit ketika Kenan membuka matanya.


"Ken?? kamu mengagetkanku." kesal Kinan mengusap dadanya.


"sarapanlah..!" kata Kenan menahan rasa kantuk sambil berdiri dan melangkah menuju westafel.


Kinanti memperhatikan Kenan yang mencuci wajahnya, Kinan menggeleng kepalanya yang selalu saja tergoda dengan ketampanan Kenan.


"apa dia begadang tadi malam? kenapa matanya terlihat begitu merah?" batin Kinanti.


Kinanti bekerja seperti biasa namun kali ini Kinanlah yang membawa Mobil sementara Kenan tidur disamping Kinanti bukan dibangku belakang lagi.


"Ken?" panggil Kinanti berbisik.


"hmm?" sahut Kenan dengan mata terpejam juga tangan bersidakap dada.


"kenapa kamu begitu mengantuk? apa kamu memang tidak tidur semalaman?" tanya Kinanti dengan raut wajah penasaran.


Kenan menarik nafas panjang, "aku memberantas markas nyamuk semalaman."


Kinanti mengangguk-ngangguk tidak tau makna nyamuk yang dimaksud Kenan.


"markas nyamuk!" gumam Kinanti yang percaya sedangkan Kenan masih betah memejamkan matanya.


"Kinan?" panggil Kenan.


"iya Ken?" sahut Kinanti.


"aku benar-benar mengantuk..! aku pinta jangan bangunkan aku sampai aku bangun sendiri." pinta Kenan dengan suara berat.


"iya." jawab Kinanti dengan senyuman.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2