
Hari pertama Rania bekerja pun tiba, kini ia di jemput oleh Reby ke apartementnya karena Rania belum tahu dimana kantor Maheswara Group itu. Dan juga Reby khawatir terjadi sesuatu pada bebeknya ini. Karena sejak di bawa oleh Reby, Rania otomatis menjadi tanggung jawab Reby, memang sangat aneh bukan bahkan kini Reby merasa menjadi seorang pengasuh saja.
Rania sudah siap dengan setelan pakaian kerjanya, ia terlihat sangat cantik namun tetap terlihat imut dan pakaian yang di belikan oleh Reby sangat cocok di tubuh mungilnya. Rambutnya ia biarkan tergerai panjang namun ia curly agar terlihat menarik dan lebih cantik.
Reby menunggu Rania di bawah, karena ia malas jika harus ke atas. Dan Rania sama sekali tidak keberatan, secara Reby adalah Bos nya masa iya Reby harus menjemputnya naik ke atas demi pegawainya.
"A Reby, !" panggil Rania.
"Masuklah, cepat "
"Rania pun langsung masuk ke dalam mobil Reby dan duduk di sampingnya karena Reby tidak mau jika Rania duduk di belakang karena ia akan terlihat seperti supir.
"Rania kau harus mengubah panggilanmu padaku," ucap Reby pada Rania yang baru saja masuk ke dalam mobil dan duduk di sampingnya.
"Jadi Rania teh harus manggil apa atuh,?" Tanyanya sambil melihat Reby yang sedang menyetir dan terlihat sangat tampan.
" Terserah, " Jawabnya ketus seperti biasa.
"Bapak, ?"
"Aku bukan Ayahmu," ketus Reby, sepertinya anak bebek ini mulai memancing emosi titisan kanebo kering.
"Bos, "
"Terdengar seperti Mafia, " Reby tidak suka panggilan itu.
"Apa atuh,"
"Terserah, carilah panggilan yang bagus"
"Aiiiihh, apa atuh ya,?" Rania terlihat berpikir dan kemudian Ia pun melihat ke arah Reby.
"Tuan ajalah, Rania pusing mikirnya." Reby baru saja akan mengatakan sesuatu pada Rania namun Rania sudah memotong duluan ucapan Reby.
"Di larang protes, kalau protes Tuan Rania cium" dan sontak saja Reby langsung bungkam karena takut bebek cerewet ini main nyosor padanya. Oh tidak bisa Reby tidak mau itu terjadi.
"Sebenarnya Bos nya di sini aku atau dia" gumam Reby mendelik kesal pada Rania.
__ADS_1
"Kalau kita terus berdampingan kaya gini, Rania teh takut terkena serangan jantung," ucap Rania.
"Kenapa, apa jantungmu bermasalah ?" Tanya Reby khawatir karena takut jika salah satu pegawainya memiliki riwayat penyakit jantung. Apalagi Rania adalah pegawainya yang menyebalkan, sudah pasti ke depannya ia akan sering di marahi oleh Reby. Reby tidak mau jika nanti tiba-tiba Rania terkena serangan jantung saat bekerja dengannya.
"Iya, jantung Rania bermasalah" Jawabnya tanpa melihat ke arah Reby.
'Astaga, berarti aku harus bisa mengontrol emosiku jika sedang bersamanya. Aku harus bisa menahan diri agar aku tidak marah. Ya, aku harus bisa menahan dan mengontrol diri pada bebek ini, ' batin Reby.
"Kenapa kau tidak mengatakan dari awal kalau jantungmu bermasalah,?" Tanya Reby.
"Rania malu, " ucapnya sambil tertawa.
"Bahkan di saat sakit pun ia masih bisa tertawa, astaga selama ini aku sudah jahat padanya ' gumam Reby dalam hati, Reby terus membatin mendengar keadaan Rania yang sebenarnya. Bisa-bisanya ia memarahi gadis kecil berjantung lemah ini. Baru kali ini Reby merasa menjadi orang jahat.
"Kenapa kau malu, kau harus mengatakan pada orang lain bagaimana kondisimu. Agar orang lain bisa berhati-hati saat bicara denganmu dan bisa menjaga kondisimu" omel Reby.
"Ya malu atuh, masa Rania teh mesti ungkapin kondisi hati Rania yang sebenarnya sama A Reby eh Tuan. Lagian Tuan kan hobinya mengomel sama Rania." jawabnya.
"Maaf, " ucap Reby tulus.
"Tunggu, " Reby merasa ganjil dengan penyakit jantung yang di idap oleh Rania. Jangan-jangan Rania ini mengidap penyakit jantung jadi-jadian pikir Reby.
"Rania, " panggil Reby
"Ya, "
"Apa kau punya penyakit jantung,?" Tanya Reby penasaran.
"Enggak atuh, jangan sampe. Emang kenapa gitu ,?" Tanyanya polos. Hingga membuat kepulan asap mulai mengepul dari kepala Reby.
"Lalu kenapa kau tadi mengatakan jika jantungmu bermasalah,?" Tanya Reby menahan gemas, ingin sekali Reby menjewer telinga Rania ini.
"Karena Rania tuh kalau di deket A ehh Tuan itu, jantung Rania berdetak gak karuan, degupannya kenceng banget pokoknya. Malah Rania takut posisinya ke tuker sama ginjal kan ngeri," ucapnya sambil terbahak tanpa merasa malu. Sedangkan Reby merasa jika pikirannya sedari tadi terasa sia-sia. Ia merasa menjadi orang bodoh karena sudah mengkhawatirkan orang seperti Rania. Reby saja yang tidak menyadari bagaimana sifat Rania yang selalu aneh, astaga.
'Aku benar-benar ingin menelan gadis nakal ini' batin Reby.
*
__ADS_1
*
*
Sejak mendengar penyakit jantung jadi-jadian dari Rania, Reby memilih bungkam. Karena bungkam akan lebih baik dan bagus untuk kesehatan jantungnya. Karena jika ia bicara dengan Rania sudah dipastikan jika ia akan kesal lagi. Bukankah tidak baik jika harus marah setiap waktu.
Di kantor Radit sudah menyiapkan meja kerja khusus untuk Rania, dan di sampingnya ada meja Radit. Reby juga sudah menjelaskan apa tugas Rania disana. Dan tentu saja Radit sangat senang karena akan ada orang yang menggantikan pekerjaannya untuk menghalau gadis-gadis yang akan menemui Reby, karena sebenarnya menghalau para gadis adalah pekerjaan yang sangat sulit untuknya. Karena ia tidak mungkin bersikap kasar kepada seorang wanita.
Dan ini tugas itu kini diserahkan kepada Rania dan itu membuat Radit sangat senang, karena akhirnya ia bisa bekerja dengan tenang tanpa harus terganggu karena menghalau para gadis yang akan dan selalu memaksa untuk menemui Reby.
"Pagi, Aa ganteng," Sapa Rania.
"Ubah panggilanmu padanya, Beeeebb " ucap Reby dengan gemas. Radit menahan tawanya karena ia tahu apa kepanjangan dari kata Beb itu. Yaitu Bebek...
"Siap Tuan, " jawab Rania.
"Kau bisa memberikan pekerjaan yang mudah padanya," ucap Reby pada Radit kemudian ia pun masuk ke dalam ruangannya.
"Jadi Rania teh ngerjain apa dulu A eh Tuan, ? Tanya Rania.
"Jangan panggil Tuan, kita sama-sama bekerja disini" ucap Radit.
"Terus manggilnya apa atuh ,?" Tanya Rania kemudian ia pun duduk di kursi yang sudah di sediakan oleh Radit tadi.
"Panggil Mas Radit saja, aku merasa sudah tua jika ada yang memanggiku Bapak" ucapnya sambil memilih beberapa berkas yang akan Radit ajarkan pada Rania.
"Emangnya gak apa-apa, kalau di panggil Mas ?"
"Tidak masalah, memangnya kenapa ?" Tanya Radit.
"Panggilannya kaya tukang baso, " jawab Rania tanpa dosa karena sudah membuat jantung Radit hampir berhenti berdetak karena dirinya yang tampan sudah di sebut mirip tukang baso.
' Ya Tuhan, kuatkan mentalku untuk menghadapi gadis ini' batin Radit.
****
Jangan lupa tinggalkan like, komen dan juga gift serta vote untuk mendukung novel ini 😘😘😘
__ADS_1