GADIS DESA KESAYANGAN TUAN MUDA

GADIS DESA KESAYANGAN TUAN MUDA
Bab 89


__ADS_3

Seorang pria tampan kini tengah meringkuk kedinginan, tubuhnya menggigil karena tidak bisa menahan rasa dingin di tempat itu. Bahkan AC saja kalah kesejukannya dibandingkan dengan udara di desa. Ya, Nathan kini tengah meringkuk kedinginan di kamar Rully. Jika yang lainnya sudah biasa berbeda dengan Nathan yang belum terbiasa dengan suasana disana.


Di rumah Rully, fasilitasnya berbeda dengan di rumah orang tua Bira yang semua fasilitasnya sudah lengkap. Jadi jika mereka datang berkunjung, mereka semua merasa sangat nyaman dan juga hangat.


Berbanding terbalik dengan Nathan yang harus tidur di kasur Rully yang kecil dan juga selimut yang tidak terlalu tebal, hingga kini ia merasa sangat kedinginan.


"Kenapa bocah itu tidak bilang jika di rumahnya ini sangat dingin, astaga. Tahu begini aku akan membawa selimut yang tebal dari rumah. Semoga saja besok pagi aku tidak membeku," gumam Nathan.


Nathan terus membolak-balikkan tubuhnya yang kedinginan, entah kenapa ada perasaan tidak nyaman menyelimuti hatinya. Dan rasa yang tiba-tiba ia merasa sedih dan ia ingin menangis. Tetapi Nathan tidak tahu apa sebabnya, ia hanya merasa sedih. Namun, tiba-tiba ia mengingat sang papa, Hermawan.


Kenapa ia mengingat papa nya, dan kenapa ada rasa sedih di hatinya. Apa dia baik-baik saja, sungguh meskipun Nathan memang kecewa pada papa nya, tetapi ia tidak pernah membencinya. Sering ia bertemu saat menjalankan bisnisnya, tetapi mereka jarang bercengkrama karena merasa canggung. Namun, komunikasi masih tetap terjaga. Mungkinkah ia akan kembali mendekati papanya dan mencoba memperbaiki hubungan mereka. Ya, seharusnya memang seperti itu. Tetapi karena Nathan sangat menghormati Nisya, maka ia menjaga jarak dengan papanya dan hanya fokus pada Nisya saja.Tidak ingin terus berlarut, Nathan pun mencoba untuk menutup matanya.


*


*


*


Hermawan langsung dilarikan ke rumah sakit oleh Nila dengan bantuan para pelayan. Karena Julia hanya mampu terdiam membeku saat melihat Hermawan tidak sadarkan diri, lagi pula Nila pun enggan meminta tolong pada mamahnya yang sangat jahat itu. Ia bahkan mengatakan jika Nila adalah anak pembawa sial. Julia dengan sangat tega mengatakan hal itu kepada putri kandungnya sendiri, sungguh seorang ibu yang lucknut yang mampu mengatakan hal keji seperti itu kepada putri kandungnya sendiri.


"Pah, Papa bangun Pah. Papa liat Nila Pah, Nila sayang sama Papa," ucap Nila, kini ia baru sampai di rumah sakit dan Hermawan sedang dilarikan ke ruang lGD.


Nila hanya mampu menangis melihat Hermawan tak sadarkan diri. Ia masih berharap jika yang dikatakan oleh Julia adalah sebuah kebohongan belaka. Ia berharap jika papanya adalah Hermawan bukan orang lain. Kenapa ia mempunyai ibu yang sangat jahat pikir Nila. Selain egois ternyata Julia adalah perempuan yang mempunyai pikiran yang sangat picik.


"Aku membencimu, Mah," gumam Nila dengan air mata yang tak berhenti menetes di pipi mulusnya.

__ADS_1


*


*


*


Pagi pun akhirnya datang juga, aktivitas pagi hari mulai berjalan. Nathan merasa jika belum lama ia menutup mata, tetapi ia sudah terbangun lagi. Ia masih ingin memejamkan matanya karena ia masih merasa sangat mengantuk. Namun, ia harus menjadi calon menantu teladan. Ia tidak boleh menjadi menantu pemalas yang kelak akan mendapatkan rating bintang satu. Ia harus mendapatkan rating bintang lima dengan ulasan yang baik di mata mertuanya.


Dengan langkah gontai ia pun keluar dari kamarnya dan melihat Rully sedang membantu orang tuanya membereskan rumah. Dan ibunya, sepertinya calon ibu mertuanya sedang memasak untuk mereka sarapan. Dan calon ayah mertuanya entah ia ada dimana, Nathan belum mendengar suaranya.


Pintu rumah Rully buka, seketika hawa dingin langsung masuk ke rumah itu, udara pagi yang segar sangat terasa. Nathan tidak pernah merasakan udara yang sangat segar seperti ini.


Merasa ada yang memperhatikannya, Rully pun membalikan tubuhnya dan melihat Nathan tengah berdiri dan memandangnya dengan tatapan yang entahlah.


"Kak Nathan baru bangun, ke kamar mandi dulu atuh. Ully bikinin kopi ya, " ucapnya sambil tersenyum. Astaga pemandangan yang sangat indah, karena saat membuka matanya orang yang pertama kali Nathan lihat adalah gadis kecil kesayangannya. Cantik dan menggemaskan, dan barusan ia mengatakan jika ia akan membuatkannya kopi, sungguh romantis. Andai saja ia bisa minum kopi sekaligus minum susu, pasti pagi ini akan terasa lebih hangat. Semakin tidak sabar saja Nathan, ia ingin segera naik ke pelaminan dan naik ke atas.... Tidak usah disebutkan kalian pembaca yang pintar pasti mengerti maksud Mimin kan 😌.


Disana Rully sudah mempersiapkan satu gelas kopi panas yang masih mengepul dan juga satu piring pisang goreng hangat yang sudah siap tersaji disana.


"Kak, ayo duduk sini." ajak Rully.


"Iya," Nathan pun kemudian duduk disana dan langsung meminum kopi yang masih panas itu. Terasa sangat nikmat sekali.


"Oh ya kenapa kau tidak bilang jika disini sangat dingin, tahu begini aku pasti akan mempersiapkan semuanya dengan matang. Aku bahkan tidak bisa tidur semalaman," ucap Nathan merajuk. Rully jadi merasa kasihan pada Nathan.


"Maaf, kirain Ully Kak Nathan gak bakal kedinginan,"

__ADS_1


"Aku hampir membeku kau tahu,"


Greb....


Tubuh kecil itu tiba-tiba memeluknya," anget gak?" tanya Rully polos.


"Kurang," jawab Nathan tersenyum, Rully pun lebih mengeratkan lagi pelukannya.


"Sekarang gimana?"


"Lumayan," jawab Nathan.


"Astaghfirullah, Ully... itu anak orang jangan main peluk aja belum halal!" Ibu Rully mengejutkan mereka berdua yang sedang saling memberikan kehangatan. Mereka berdua pun terjingkat karena terkejut mendengar suara ibunya Rully.


"Aduh Aa, maaf ya anak ibu meni agresif," ucapnya sambil meletakkan makanan yang barusan ia buat.


"I-iya Bu tidak apa-apa," jawab Nathan sopan.


'Justru aku suka kalau dia agresif, Bu, aku ingin di apa-apa kan olehnya,' gumam Nathan dalam hati.


****


Dukungannya mana nih 😘😘😘😘


Mampir di karya temen aku yukk 🤗

__ADS_1



__ADS_2