
Melihat kemesraan yang diperlihatkan oleh Rully dan Nathan Nisya semakin bahagia. Ia jadi membayangkan bagaimana jadinya jika nanti mereka berdua, pasti akan sangat menyenangkan melihat mereka berdua setiap hari di rumah dan pastinya ia tidak akan merasa kesepian lagi.
"Ya ampun kalian ini mesra sekali, mamah senang melihatnya," ucap Nisya. Jangankan Nisya bahkan Nathan pun sangat bahagia melihat mamahnya bahagia. Sudah sangat lama sekali Nathan tidak pernah melihat rona kebahagiaan di wajah mamahnya.
' Berarti kebahagiaan mamah memang ada pada bocah ini, baiklah ikan kecil mulai saat ini kau harus tetap berada di sampingku karena kebahagiaan mamahku ada padamu,' gumam Nathan dalam hati.
'Emang kalau pacaran mesti dicium , tapi kok Ully geli sama merinding ya pas bibirnya Om Nathan nempel di pipi Ully,' Rully membatin. Sebenarnya ia masih merasa canggung dengan Nathan. Jika untuk bertengkar dengan Nathan ia tidak akan sungkan mengeluarkan kata-kata pedasnya. Tapi sekarang ikan paus ini sudah menjadi kekasihnya, mungkin ke depannya ikan paus ini akan lebih sering menciumnya. Dan Rully harus siap dengan hal itu.
Oh ya ampun, Rully mendadak merinding membayangkan Nathan akan menciumnya lagi. " Rully," panggil Nisya
Rully yang sedang melamun pun tersentak dan kemudian ia tersenyum ke arah Nisya.
"Iya Mah kenapa ?"
"Kamu makan malam di sini ya, mamah mau siapin semuanya," ucap Nisya.
"Ully bantu ya Mah, " tawar Rully, ia malu jika disana ia hanya diam saja tanpa melakukan apapun sedangkan empunya yang punya rumah malah sibuk memasak untuknya.
"Oh nggak sayang, kamu baru sembuh jadi istirahat saja ya. Nathan sebaiknya kamu bawa Rully ke kamar untuk istirahat lihatlah wajahnya masih pucat. Dia kan baru sembuh," ucap Nisya.
Ya sebenarnya Rully belum benar - benar pulih ia hanya memaksakan dirinya saja karena penasaran bagaimana caranya ia melunasi hutang pada Nathan. Tadinya ia mau terbebani dengan hutang. Tapi ternyata hari ini Nathan malah menjadikan ia pacarnya sebagai gantinya ia terbebas dari hutangnya. Entah ia harus senang atau sedih, namun dalam bayangan Rully jika ia nanti akan sering dicium oleh Nathan.
"Ayo sayang kau harus istirahat, " ajak Nathan pada Rully dan membawanya ke kamar Nathan. Rully pun mengangguk dan menyambut uluran tangan Nathan. Ia juga harus terlihat bahagia bukan, meskipun sebenarnya ia masih merasa canggung hingga gerakannya menjadi kaku.
Mereka berdua pun langsung naik ke atas dan menuju kamar Nathan. Rully yang juga memang merasa pusing tidak menolak karena ia juga ingin istirahat.
"Tidurlah, " ucap Nathan, di suruh tidur Rully menjadi takut. Saat ia bangun saja, Nathan berani mencium pipinya. Bagaimana jika nanti ia tertidur jangan-jangan Nathan akan eheeemm - eheeemm nanti padanya. Rupanya pikiran ikan sapu-sapu ini sedang bertraveling.
Gara-gara sering melihat Reby dan Rania bermesraan pikirannya jadi terkontaminasi oleh kemesuman.
__ADS_1
"Kenapa kau diam saja,?" tanya Nathan , Rully pun melihat ke arah Nathan.
"Om gak bakalan grepek-grepek Ully kan?" tanya Rully dengan wajah yang terlihat takut.
"Apa ! Astaga, kau pikir aku ini apa ? Kenapa aku harus Nuna Ninu padamu, dasar bocah. Ternyata otakmu itu tidak sekecil kelihatannya. Astaga aku tidak menyangka jika kau sangat mesum !" jawaban Nathan malah membuat Rully semakin malu saja. Apa pikirannya yang memang terlalu berlebihan pikir Rully lagi.
"Sebagai gadis yang baik, wajar atuh Ully Nanya !" Ketus Rully kemudian ia pergi ke kamar mandi Nathan untuk mencuci tangan kaki dan juga wajahnya. Setelah itu kemudian ia naik ke atas kasur Nathan dan berbaring di sana. Nathan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Rully yang bersikap seperti di rumahnya saja.
"Dasar bocah, kau bersikap seolah ini rumahmu saja," ucap Nathan kemudian ia pun membuka jas kerjanya dan mengambil laptopnya untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
"Anggap aja latihan," jawabnya sambil masuk kedalam selimut tebal milik Nathan.
"Aihhh,"
*
*
*
"Kalau Rania disini, terus Ully kasian atuh di rumah sendiri, " ucap Rania.
"Dia tidak sendirian kau tenang saja," jawab Reby tanpa melihat ke arah Rania.
"Tetep aja kasian, Ully jauh-jauh datang dari desa dan tinggal disini di kesepian karena kita semua sibuk dengan urusan masing-masing. Rania gak enak A Reby," ucap Rania merasa sedih dan juga merasa bersalah karena ia jarang bisa menemani Rully.
Mendengar suara istrinya yang terdengar sedih, Reby pun menghampiri Rania dan kemudian duduk di sampingnya. Reby singkirkan rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya itu. Matanya sudah merah wajahnya pun terlihat sangat sedih. Reby pun kemudian mencium kening dan bibirnya sekilas lalu kemudian membawa Rania ke dalam pelukannya yang hangat.
"Kau tidak usah khawatir, Rully tidak sendirian tadi ikan paus menyebalkan itu mengirimkan pesan padaku jika ia sedang bersamanya," ucap Reby. Rania pun mengangkat kepalanya dan melihat wajah tampan Reby.
__ADS_1
"Maksudnya Ully sama Mas Nathan,?" tanya Rania.
"Iya, dia sedang berada di rumah Nathan. Sepertinya mereka menjalin hubungan yang tidak kita ketahui seperti apa hubungan mereka." jelas Reby.
"Ully punya pacar kok gak bilang sama Rania," Rania memberenggut karena Rully tidak mau memberi tahu jika ia punya hubungan dengan Nathan.
"Mungkin dia malu, makanya dia belum bercerita." jawab Reby asal
"Malu ? Malu kenapa coba ?"
"Mungkin dia malu jika pacarnya tidak tampan sepertiku," jawab Reby penuh percaya diri.
"Mata A Reby katarak kayanya, orang ganteng gitu di bilang gak ganteng," Rania tidak menyadari jika ucapannya yang memuji pria lain memancing kekesalan Reby.
"Enak saja, hanya aku yang paling tampan!" ketus Reby, tidak ingin ditelan suaminya saat di kantor Rania pun tersenyum dan meminta maaf sambil mengelus-elus dada dada bidang Reby.
"Iya atuh cuma A Reby yang paling ganteng, tadi mah lidah Rania kepleset untung aja gak keseleo." bujuk Rania, kemudian ia mencium pipi dan bibir Reby sekilas. Namun setelah Rania mencium Reby, Rania malah didorong hingga terlentang di sofa dan Reby dengan cepat mengungkungnya.
"Bibir nakal ini harus dihukum," ucap Reby kemudian ia pun mencium bibir mungil itu dengan rakusnya. Hingga suara seseorang menghentikan aktivitas mereka.
"Ehheeeemmmmm....!!!" Radit berdehem dengan keras. Sepertinya mereka lupa jika di ruangan itu ada orang lain selain mereka berdua. Reby pun langsung menghentikan aktivitasnya dan duduk kembali.
"Astaga sepertinya mereka lupa, jika di ruangan ini ada seorang jomblo abadi," gumam Radit, kelakuan Reby dan juga Rania membuat Radit menjadi ingin mencium seseorang. Bagaimana tidak barusan ia melihat adegan saling mematuk secara live di dekatnya.
"Radit, sedang apa kau disini,?" pertanyaan konyol itu tiba-tiba keluar dari mulut Bos nya yang kurang akhlak. Radit pun menghela napas kasar. Bukankah setiap hari ia bekerja di sana, lalu kenapa hari ini tiba-tiba ia menanyakan jikka ia sedang apa di sana.
"Oh ya ampun, saya sedang berenang Tuan," jawab Radit asal.
****
__ADS_1
Tinggalkan like dan komentar sebagai dukungan novel ini 🤗 , menurut kalian novel ini tamatin akhir bulan jangan. Komen ya 🥰