GADIS DESA KESAYANGAN TUAN MUDA

GADIS DESA KESAYANGAN TUAN MUDA
Bab 64


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit akhirnya Nathan dan Rully sampai di rumahnya Nathan, rumah mewah dan megah itu terlihat sangat sepi dari luar. Nathan pun segera keluar dari mobilnya diikuti Rully dan langsung melangkahkan kakinya serta mengajak Rully masuk ke rumahnya. Rully berpikir jika Nathan mengajaknya ke rumah ini untuk bekerja sebagai pelayan, agar Rully bisa segera melunasi hutang-hutangnya pada Nathan.


"Ya ampun ini ikan paus gercep banget nyuruh Ully kerja," gumamnya. Nathan mendengar apa yang diucapkan oleh Rully, namun ia tidak mau menanggapinya. Cukuplah ia tahu nanti apa maksud dari Nathan membawanya untuk datang ke rumahnya. Semoga Rully mengerti karena ia malas menjelaskan.


Hingga setelah tiba di ruangan yang Rully pikir itu adalah ruang tamu, Nathan memintanya untuk menunggu.


"Duduklah dan tunggu disini, usahakan jangan nakal atau menyentuh apapun di sini, kau mengerti," ucap Nathan


"Siap Bos, " jawab Rully.


"Astaga anak ini, sudahlah duduk dan diam disitu oke," Nathan pun segera pergi ke kamar Mamahnya untuk memberi tahu jika pesanannya sudah datang.


Ya Nisya sudah berpesan jika ia sangat ia ingin bertemu dengan Rully. Maka untuk itu ia berpesan pada putranya untuk membawa gadis kecil itu Dan kini pesanannya sudah datang. Nathan harap Mamahnya bisa senang dan tersenyum kembali padanya. Karena jika senyum Mamah menghilang, maka sepi sudah rumah ini apalagi hatinya. Maka dengan segenap cara Nathan akan selalu membahagiakan Mamahnya. Karena ia adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya.


Tok


Tok


Tok


Nisya yang sedang membereskan pakaiannya pun sejenak menghentikan aktivitasnya dan segera membuka pintu kamarnya. Tumben sekali pelayan rumahnya mengetuk kamarnya pikir Nisya.


Namun saat membuka pintu kamarnya, yang nampak bukanlah salah satu pelayan rumahnya melainkan putra satu-satunya. Kini putra tampannya itu tengah berdiri dan tersenyum menatap Mamahnya.


"Nathan, tumben sekali kau sudah pulang ? Apa kau sakit ?" Tanya Nisya. Nathan pun tersenyum, ia bahagia karena Mamahnya mengkhawatirkannya. Itu berarti ia sudah tidak marah lagi, namun ia kini sudah membawa Rully semoga saja Mamahnya akan lebih bahagia saat ini.


"Tidak Mah, aku baik-baik saja." jawab Nathan.

__ADS_1


"Lalu, kenapa kau sudah pulang siang-siang begini ?" Nathan tersenyum pada Mamahnya.


"Aku ada kejutan untuk Mamah," jawab Nathan.


"Kejutan, kejutan apa ?" Tanyanya penasaran.


"Sudahlah, Mamah ikut saja aku mau menunjukan sesuatu pada Mamah," Ajak Nathan dan merangkul Mamahnya, kini mereka sedang berjalan menuju ruang tamu dimana Rully berada.


"Kejutan apa sih, jangan membuat penasaran," ucap Nisya.


"Mamah akan tahu sebentar lagi," ucap Nathan. Setelah sampai di ruang tamu. Terlihatlah gadis kecil yang sangat ingin Nisya temui. Betapa senang hatinya saat ini, ternyata Nathan mendengarkan apa yang ia inginkan.


"Rully ?" Tanya Nisya pada Mamahnya.


"Iya, bukankah Mamah ingin bertemu dengan tuyul itu. Maksudku dengan Rully. " Jawab Nathan langsung meralat ucapannya setelah mendapat tatapan maut dari sang Mamah.


"Iya Nyonya, " jawabnya dan tak lupa ia memberi salam pada Mamahnya Nathan. Inilah yang ia suka, gadis ini selalu bersikap sopan padanya. Dimana banyak orang yang sudah melupakannya, bahkan sudah sangat jarang ada yang sepertinya.


"Jangan panggil saya Nyonya, " jawab Nisya tersenyum.


"Sudah lama menunggu ? Kenapa kau tidak memberitahu Mamah jika Rully akan datang kemari ?" Nisya menatap agak kesal pada putranya itu. Karena jika tahu Rully akan datang mungkin Nisya akan mempersiapkan sesuatu untuk menyambutnya, namun kini ia bahkan tidak mempersiapkan apapun untuk menyambut calon menantunya pikir Nisya.


"Aku kan ingin memberi kejutan, jika aku memberi tahu dulu bukan kejutan lagi," jawab Nathan.


"Jadi, Ully teh di terima kerja disini ?" Tiba-tiba saja pertanyaan konyol itu keluar begitu saja dari mulut kecilnya. Astaga bahkan Nathan lupa untuk mengajarinya bicara hingga petasan banting mulai mengeluarkan asapnya tepatnya ia malas menjelaskan sebenarnya, semoga saja petasan banting ini tidak meledak pikir Nathan. Mendengar kata kerja, membuat Nisya mengernyit heran.


"Kerja ?" Tanya Nisya, sebelum petasan banting meledak buru-buru Nathan pindah posisi ke sebelah Rully dan merangkul tubuh kecil itu dan tersenyum ke Mamahnya.

__ADS_1


"Maksud Rully, dia tadinya ingin mencari kerja Mah. Namun Nathan melarangnya." jawab Nathan tersenyum,


"Kerja, kenapa kamu nyari kerja ?" Tanya Nisya.


"Buat bayar hp," Jawabannya kini lebih cepat dari Nathan, Nathan pun langsung berbisik sangat pelan pada Rully.


"Jangan bicara tentang ponsel dan hutang, cukup tersenyum saja pada Mamahku. Kau mengerti ," bisik Nathan pada Rully hingga Rully merasa bulu kuduknya meremang hingga bergidik.


Karena hembusan napas Nathan mengenai tengkuknya.


Nisya sangat senang melihat kedekatan antara Nathan dengan dengan Rully. Dari cara ia berinteraksi dan juga kedekatannya mereka terlihat dekat pikir Nisya. Akhirnya putranya ini bisa dekat dengan seorang gadis, dan gadis itu juga sangat ia suka.


"Iya, Om " jawab Rully.


"Bagus," jawab Nathan masih berbisik.


"Om, Ully mau tanya ?"


"Tanya apa, jangan macam-macam " Nathan takut jika petasan banting ini bicara yang macam-macam lagi di hadapan Mamah tercintanya.


"Om orang apa hantu, kok bisikannya bikin aku merinding ?" Tanya Rully dengan polos menatap ke arah Nathan.


"Apa ?"


***


Maafkan telat up karena tadi abis ngambil rapot anak dulu ya 🤗

__ADS_1


__ADS_2