
Setelah tidur beberapa jam, akhirnya Rania pun terbangun. Ia terdiam sejenak karena merasa masih pusing dan melihat di kamar yang dia tempati tidak ada siapa-siapa Ia hanya sendirian. Ia pun kemudian terduduk dan menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang.
Setelah pusingnya menghilang Rania pun kemudian bangun dan beranjak dari tempat tidur Kemudian Ia pun pergi keluar kamar.
Saat membuka pintu kamarnya yang pertama yang ia lihat adalah Reby y sedang tertidur di atas sofa begitu juga Radit yang juga tertidur di sana .
Rania berjalan dengan tertatih karena kakinya masih terasa sakit dan juga perih, ia keluar kamar karena ingin mengambil minum. Namun saat melangkah dekat dengan sofa yang Reby tiduri, tangannya di pegang oleh Reby. Rania menengok ke arah Reby, mata calon suaminya itu masih terpejam namun sedikit kemudian Reby membuka matanya.
"Mau kemana, ?" Tanya Reby dengan suara serak khas bangun tidur. Ia terbangun saat mendengar pintu kamar terbuka.
"Mau ngambil minum, Rania haus," jawabnya.
"Duduklah, biar aku yang mengambilnya" ucap Reby kemudian ia pun meminta Rania untuk duduk dan menekan bahunya perlahan agar duduk di sofa itu.
Rania melihat Radit yang masih tertidur lelap kapan lagi Radit akan mendapatkan pekerjaan seperti hari ini di mana ia dibayar dengan sangat mahal namun ia bisa tertidur dengan sangat nyenyak sungguh luar biasa hari ini untuk Radit.
Tak berselang lama Reby pun kembali dengan membawa air dingin untuk Rania. Reby dengan sangat perhatian memeriksa luka Rania yang masih terlihat basah itu.
"Aku sangat menyesalkan sudah membawamu tadi," Reby membelai lembut wajah Rania.
"Gak apa-apa atuh, emang udah takdirnya jatuh mesti gimana lagi," Rania pun kemudian meminum minuman dingin itu hingga tenggorokannya yang terasa kering pun kini terasa sangat segar.
"Aku masih kesal kau di peluk oleh burung unta itu, sangat menyebalkan !"
"Isshh udah atuh jangan di inget-inget, udah tahu A Reby teh pemarah. Malah terus ingat hal yang bikin marah." Rania mengerucutkan bibirnya kesal. Karena Reby terus membahas hal itu. Dan itu menjadi satu poin penting untuk Rania karena ternyata Reby sangat posesif dan kita protektif. Untuk kedepannya ia harus hati-hati.
Cup
__ADS_1
Reby mencium bibir Rania sekilas karena gemas, ia juga takut jika Radit terbangun dan memergokinya sedang mencium Rania dan sudah dipastikan. Jika ia pasti akan mengadu kepada Regan dan juga Bira.
***
Reby dan Rania bermesraan disana, mereka memang tidak melakukan apa-apa, tetapi kini jarak mereka sangat dekat. Karena Reby sedang memeluk Rania dari belakang dan terus mendekap gadis kecil ini.
Radit pun mulai terbangun dan melihat pemandangan yang sangat menyakitkan di depan matanya. Bagaimana ia tidak sakit hati jika ia seorang jomblo abadi kini disajikan dengan pemandangan seorang pasangan yang sedang bermesraan di hadapan matanya, benar-benar bos yang kejam pikir Radit.
Radit pun kemudian bangun dan duduk di hadapan mereka, ia dengan sengaja melakukan itu agar pasangan kekasih itu merasa risih dengan kehadirannya.
"Ehheeeemmmmm...." Radit dengan sengaja berdehem keras. Berharap Reby dan Rania mengerti kode yang ia keluarkan. Semoga mereka menyadari jika di ruangan itu bukan hanya ada mereka tetapi juga ada seorang jomblo yang sedang terluka.
Satu kali kode mereka masih diam saja dan tidak menggubrisnya. " Astaga mereka memang tidak punya hati," gumam Radit.
"Tuan...," panggil Radit. Reby pun melihat ke arah Radit dan memandangnya seolah ingin melahap Radit bulat-bulat.
"Astaga, tatapannya seram sekali, tapi lebih menyeramkan Spongebob yang marah. Karena jika ia marah karyawan crsty crabt dalam bahaya ." gumam Radit
"Ada apa, kenapa kau terus menggangguku dari tadi !!!" Jawab Reby yang merasa sangat kesal pada Radit.
"Anda tidak boleh dekat-dekat dengan Rania Tuan, atau saya akan melaporkannya pada Tuan Regan." ancam Radit.
"Memangnya kau berani ?" Tanya Reby dengan nada mengejek dimana asistentnya ini paling takut melihat Regan apalagi Bagas.
"T-tentu saja, Tuan. Tentu saya berani mengadukan anda," jawabnya meskipun ia sangat terlihat gugup.
"Kalau kau mengadukanku pada Papa, itu sama saja dengan kau memberitahukan dirimu sendiri kalau kau tidak bekerja dengan benar, karena aku masih bisa mendekati Rania walau ada dirimu di antara kami,"
__ADS_1
"Apa....!!!"
"Iya, dan aku yakin jika Papa akan mengambil bonusmu kembali, " ucap Reby menakut-nakuti Radit.
"Benarkah,?"
"Tentu... Kau tahu kan jika Papaku marah seperti apa,?"
"Papa anda orang yang kejam, Tuan. " ucapnya dengan nada sedih, karena membayangkan uang bonusnya akan diambil kembali oleh Regan, posisi ini membuat dia menjadi serba salah di satu sisi ia harus menjadi pekerja yang baik dan mematuhi semua perintah atasannya. Namun di sisi lain ia juga tidak mau kehilangan uang bonusnya.
"Jadi saya harus bagaimana Tuan,?"
"Duduk manis dan diamlah," ketus Reby.
"Bagaimana saya bisa diam, jika ada pemandangan yang menyayat hati di depan mata,"
"Mas Radit, Rania punya temen mau Rania kenalin gak,?" Rania merasa kasihan pada Radit yang memang belum mempunyai kekasih karena ia adalah tipe laki-laki yang tidak mudah dekat dengan seorang wanita.
"Untuk apa,?" Tanya Radit.
"Ya buat Mas Radit pacarin atuh, emangnya buat apalagi,"
"Ahhh aku tidak mau, temanmu pasti masih satu produk denganmu. Dia pasti gadis setengah matang sama sepertimu, kau bahkan sangat kecil seperti ikan laga-laga mainan si kembar botak, kalau kau mempunyai teman mirip ikan gurame baru beritahu aku. Setidaknya jika mirip ikan gurame rasanya pasti akan terasa gurih-gurih..." ucap Radit sambil terbahak-bahak tanpa menyadari tatapan Reby yang sudah siap mengunyahnya karena sudah menyamakan kekasihnya dengan ikan si kembar botak dari negeri tetangga.
"Radit...!!!"
"Oh ya ampun, aku lupa jika salah satu personilnya ada di sini" gumam Radit.
__ADS_1
****
Udah 3 bab nihhh, jangan lupa dukungannya ya 💃💃💃 ingat vote buat besok ya 😚😚😚