
Selepas pulang dari rumah Bira untuk menjenguk Rully, jadi banyak hal yang Nathan pikirkan, perasaannya seolah tidak tenang dan merasa terganggu. Ada yang mengganjal di hatinya. Kenapa setelah melihat Rully dan Radit yang terlihat sangat dekat, membuat hati Nathan gelisah, di sudut hatinya yang terdalam ia merasa tidak rela.
Nathan tidak suka melihat interaksi Rully pada Radit yang terlihat tidak sungkan dan sangat akrab. "Baru saja bisa membelikan es kelapa saja sudah sombong. Aku bahkan bisa membeli es kelapa lengkap dengan kedainya biasa-biasa saja" gerutu Nathan. Ia kini sedang berguling-guling kesana kemari di kamarnya.
"Nathan, apa yang sedang kau lakukan. berguling kesana kemari seperti ikan guling," ucap Nisya. Karena ada sesuatu hal yang ingin Ia bicarakan dengan anaknya makanya Nisya pergi ke kamar Nathan. Namun, yang ia lihat malah ternyata anaknya itu sedang berguling ke sana kemari dan terlihat sedang gelisah, memangnya apa yang sedang dipikirkan oleh Nathan pikir Nisya.
Mendengar suara Mamahnya Nathan pun terkejut dan langsung terduduk di kasurnya.
"A-aku, aku sakit perut Mah. Ya sepertinya aku sedang sakit perut. Rasanya sangat tidak nyaman makanya aku berguling kesana kemari mencari kenyamanan." jawab Nathan.
"Mau mamah ambilkan obat?" tawanya.
"Tidak usah Mah, nanti juga membaik sendiri. Oh ya ada apa Mamah kemari ?"
"Oh iya Mamah jadi lupa. Mamah ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan " ucap Nisya.
"Sesuatu yang penting ? Memangnya ada apa?" tanya Nathan.
"Kamu janji jangan marah ya," ucap Nisya seolah ragu dengan apa yang akan ia ucapkan sekarang. Melihat raut wajah mamahnya, Nathan pun merasa tidak enak dan dia berjanji jika ia tidak akan merasa kesal ataupun marah jika mamanya bertanya sesuatu kepadanya. Meskipun pembicaraan itu tentang ikan sapu-sapu, Ya Nathan berjanji tidak akan marah jika mamanya membicarakan ikan sapu-sapu yang nakal itu.
"Aku janji tidak akan marah ataupun kesal pada Mamah," ucap Nathan. Nisya pun kemudian duduk di samping Nathan, ia tersenyum ke arah Nathan dan memegang tangannya.
"Nathan, mamah punya ide "
" Ide apa Mah ?" tanya Nathan.
"Gimana kalau mamah lamar Rully buat kamu," ucapnya tiba-tiba, hingga Nathan sangat di buat terkejut oleh ucapan Mamahnya.
"Apa !!!"
"Kau sudah janji tidak akan marah pada mamah,"
"Aku tidak marah Mah, hanya terkejut saja " ucap Nathan jujur.
"Jadi bagaimana ?"
"bagaimana apanya ?" tanya Nathan.
"Kamu ini ya, tentu saja melamar Rully memangnya apalagi, kamu ini tidak menyimak ucapan Mamah." kesal Nathan. Nathan terlihat menghela napas.
"Mah, apa ini tidak terlalu terburu-buru ?" bahkan ia dan Rully belum lama saling kenal, Tapi mamahnya dengan sangat mudah menginginkan Nathan menikah dengan Rully bagaimana itu bisa terjadi.
__ADS_1
"Ini bukan terburu-buru, tapi mamah hanya bergerak cepat saja. Apa kamu tidak lihat, Rully terlihat sangat dekat dengan asistentnya Reby. Mereka bahkan sangat akrab dan tidak terlihat canggung seperti mu "
"Seperti ku ?" Nathan menunjuk hidungnya.
"Iya sepertimu, kau terlihat seperti orang asing dengan Rully. Kau terlihat sangat canggung dengannya Nathan. Mamah sangat kecewa padamu," Nisya terlihat sangat sedih saat mengatakan hal itu.
"Lalu aku harus bagaimana Mah " Nathan berucap dengan sangat lesu.
"Dekati dia Nathan, ajak dia sering bertemu dan juga berkomunikasi. Setelah itu ajak dia menikah,"
"Astaga tidak semudah itu Mah, " Nathan terlihat sangat lesu saat menjawabnya. Namun, sikap Nathan yang seperti itu malah membuat Nisya menjadi sangat kesal karena merasa tidak dianggap oleh putranya itu.
"Ya sudah terserah padamu saja, mamah sangat kecewa. Mamah tidak pernah meminta apapun padamu, hanya permintaan sederhana saja kamu tidak mau mengabulkannya mamah sangat sedih," setelah mengatakan itu meskipun pergi dari kamar Nathan dengan wajah sangat kesal. Nathan pun menghembuskan nafas kasar ia merasa bingung apa yang harus dia lakukan sekarang permintaan mamahnya terlalu berat untuknya saat ini.
****
Keadaan Ruli sudah membaik tetapi ia masih belum bisa kuliah karena Rully masih malas untuk menghadapi Nila yang nanti akan mengganggunya. Jadi ia minta izin kepada Bira untuk tidak kuliah sehari lagi dan Bira pun mengizinkannya.
Saat sedang bermalas-malasan di kamarnya ponsel Rully berbunyi, Rully pun kemudian mengambil ponselnya dan saat melihat ponselnya terlihat nama Nathan yang tertera di sana.
"Ya ampun pasti ikan paus mau menagih hutang lagi sama Ully," gumamnya. Rully pun kemudian menggeser icon berwarna hijau yang ada di ponselnya.
[Bocah, ada yang ingin aku bicarakan denganmu ]
"Emang nya mau ngomong apa, tinggal ngomong aja sama aku"
[Tidak disini, apa kita bisa bertemu ]
"Ya udah, kita ketemu dimana"
[Aku akan menjemputmu, jadi bersiaplah]
Setelah mengucapkan hal itu, Nathan pun menutup panggilannya. Dan Rully juga dengan segera bersiap-siap untuk pergi.
Setelah semuanya siap, Nathan pun datang menjemput Rully. Rully sudah menunggunya di depan rumah. Padahal tadinya Nathan akan meminta ijin pada Bira untuk mengajak Rully pergi.
"Dimana Aunty mu, aku akan meminta ijin dulu padanya," ucap Nathan.
"Gak usah, Mommy gak ada di rumah lagi pergi sama temen-temennya," jawab Ruly. Nathan pun mengangguk.
"Masuklah," Rully pun kemudian langsung masuk kedalam mobilnya Nathan.
__ADS_1
Hari ini Rully sudah terlihat lebih segar dan juga terlihat cantik. Rambut Rully terlihat lucu karena ujungnya ia curly. Tanpa Nathan sadari, Nathan tersenyum saat melihatnya.
"Kita mau kemana Om ?"
"Kau sudah makan siang, kalau belum kita pergi makan siang dulu sambil membicarakan hal ini," ucap Nathan.
"Ya udah "
Mereka pun kini menuju ke sebuah restoran untuk makan siang dan sekalian membicarakan hal penting yang akan Nathan katakan pada Rully.
Setelah sampai di restoran mereka pun masuk dan mencari tempat duduk yang nyaman dan juga dengan segera memesan makanan.
"Om mau ngomong apa sih, aku jadi penasaran. Jangan bilang kalau hutang aku jadi berbunga ," ucap Rully. Nathan berdecak sebal mendengarnya. Memangnya Nathan itu apa, kenapa ia harus membungakan hutang yang sebenarnya Nathan tidak pernah menganggap Rully punya hutang padanya. Hutang sebuah ponsel hanya alasan Nathan saja untuk mengerjai gadis nakal ini.
"Aku ini bukan rentenir, kenapa aku harus memberi bunga untuk hutangmu itu. Bahkan cicilannya saja masih banyak dan kau pun jarang menyicilnya. Jika aku menambahkan bunga pada hutangmu sudah dipastikan kau tidak akan pernah sanggup untuk membayarnya," ucap Nathan kesal.
"Terus Om ngajak Ully kesini mau apa ?"
"Begini, kau mau hutang-hutangmu padaku semuanya lunas kan ?" tanya Nathan.
"Iya atuh, Ully capek punya hutang. Hidup Ully gak tenang tidur juga gak nyenyak. Meskipun hp Ully bagus tapi Ully jarang selfie sekarang. Tahu gak kenapa ?" Nathan pun menggelengkan kepalanya mana ia tahu kenapa bocah ini tidak bisa selfie lalu apa hubungannya dengannya, pikir Nathan.
"Mana aku tahu " jawab Nathan
"Ini karena hp nya Ully belum lunas. Jadi Ully malu mau Selfie juga,"
"Astaga, bocah ini "
***
Maafkan terlambat Up ya, Mimin lagi gak enak badan 😌
****
Jangan lupa mampir di karya temen aku ya 🤗
Judul :Talak Aku
Napen : Arion Alfatah
__ADS_1