GADIS DESA KESAYANGAN TUAN MUDA

GADIS DESA KESAYANGAN TUAN MUDA
Bab 20


__ADS_3

Reby pun langsung membawa Rania pulang, karena gadis itu terlihat menggigil kedinginan. Reby pun takut jika Rania jatuh sakit karena air kolam itu memang sangat dingin. Reby pun memberikan jasnya untuk menutupi tubuh Rania yang kedinginan. Jika Rania merasa kedinginan lain hal nya dengan Reby yang tubuhnya terasa panas saat melihat tubuh kecil itu berbalut pakaian basah, hingga memperlihatkan isi yang ada di dalamnya. Makanya tadi Reby langsung menggendong Rania dan membawanya pergi, karena ia tidak ingin gadis yang selalu mengganggu pikirannya akhir - akhir ini di tatap oleh pria lain. Reby sungguh tidak rela.


Di dalam mobil mereka tidak mengatakan apa-apa keduanya fokus pada pikiran mereka masing-masing. Jika Rania berpikir jika ia ingin segera pulang dan sampai di apartement untuk istirahat, maka lain halnya dengan Reby yang terus membayangkan hal yang tidak - tidak kepada Rania. Entahlah pikirannya akhir-akhir ini menjadi sangat kacau gara-gara gadis kecil ini, Reby pun tidak mengerti.


Apa hati Reby mulai terketuk oleh Rania, ataukah itu hanya sebatas pikiran normal laki-laki terhadap perempuan saja. Tetapi anehnya pikiran itu hanya ada kepada Rania saja. Dan tidaklah berlaku untuk perempuan lain.


Tak membutuhkan waktu yang lama, mereka pun sampai di apartemen Reby. Reby langsung menuntun Rania untuk membawanya ke dalam kamar agar ia bisa cepat istirahat dan juga mengganti pakaiannya yang basah. jangan sampai Rania demam pikir Reby.


Reby pun dengan cepat membuka pintu apartemennya dan membawa Rania masuk. "Cepatlah ganti pakaianmu, " ucap Reby dan Rania pun hanya mengangguk.


Reby pun dengan cepat mengganti pakaiannya, karena ia memang menyimpan beberapa pakaian ganti disana. Yang akan ia gunakan disaat mendesak seperti sekarang ini. Tak lama Reby pun selesai dengan kegiatan mengganti pakaiannya. Begitu pun dengan Rania, ia juga sudah selesai mengganti pakaiannya. Tadinya ia ingin segera merebahkan tubuhnya yang memang terasa lelah dan mulai terasa tidak nyaman. Tapi Reby masuk ke kamarnya dan membawakan minuman hangat untuk Rania.


"Minumlah dulu Rania, hangatkan tubuhmu, " ucap Reby sambil menyodorkan teh hangat kepada Rania. Rania pun mengambil minuman yang disodorkan oleh Reby . Dan Rania pun langsung meminumnya, terasa sensasi hangat melewati tenggorokan hingga masuk ke dalam perutnya.


"Bagaimana keadaanmu ?" Tanya Reby.


"Rania gak apa-apa, tapi sekarang Rania ngantuk banget mau tidur," jawabnya.


"Setelah membuatku khawatir kau lalu ingin tidur begitu saja"


"Terus Rania mesti ngapain ?" Tanyanya dengan wajah yang polos dan membuat iman Reby kembali goyah. Reby terdiam dan memandang Rania dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Karena kau sudah membuat masalah kau harus di hukum, " ucap Reby.


"Kok jadi Rania yang salah, disini kan Rania yang jadi korban. Rania di dorong ke sana sampai tenggelam lohh, "Rania merajuk.


"Kalau kau tetap diam bersamaku, kau tidak akan tenggelam dan bertemu dengan Jonathan atau pun dengan Monica, " Rania pun menunduk karena merasa bersalah.


"Maaf, tadi Rania jenuh makanya Rania keluar buat cari angin bukan cari masalah, " ucapnya sambil menunduk dan bicara perlahan. Reby kemudian membelai lembut wajah Rania.


"Aku tidak suka jika ada orang lain yang menatapmu dengan pandangan mendamba Rania. Hanya aku yang boleh menatapmu dengan seperti itu, " ucap Reby

__ADS_1


"Emangnya kenapa,?" Tanya Rania, namun Reby malah mengangkat bahunya dan menggelengkan kepalanya.


"Entahlah, aku juga tidak tahu," jawab Reby cuek dan kemudian ia pun meminum minuman yang mulai dingin itu.


"Rania tahu kenapa A Reby kaya gitu, "


"Kenapa, ?" Tanya Reby.


"Karena A Reby teh naksir sama Rania yang cantik jelita, iya kan ?" ucapnya sambil tertawa.


"Tidak, "jawab Reby.


"Terus kenapa tadi siang A Reby cium Rania, ?"


"Aku sudah bilang itu hadiah, "Reby memalingkan wajahnya yang tiba-tiba terasa panas mungkin karena ia malu atau entahlah.


"Berarti A Reby teh mata keranjang dong kalau gitu," Reby langsung membulatkan matanya dan ingin menjitak gadis dihadapannya ini.


"Buktinya A Reby kasih hadiah karyawannya pakai cium, " goda Rania semakin membuat Reby serba salah dan merasa malu saja.


"Aku begitu hanya padamu, aku tidak pernah mencium wanita lain. Dasar bebek cerewet !"


"Aiihh masa sihh, " godanya lagi. Karena kesal mendengar ucapan Rania akhirnya Reby pun membungkam bibir Rania dengan bibirnya. Hingga mereka terlarut dalam ciuman yang panas dan menghanyutkan. Baik Reby maupun Rania sangat menikmati peraduan dari bibir mereka. Baru kali ini Reby merasa sangat ketagihan mencium seorang perempuan. Reby semakin menarik tengkuk Rania, ia hanya memberi kesempatan Rania untuk meraup oksigen sebentar setelah itu ia kembali menautkan di bibir yang kini sudah membuatnya candu itu.


Lama mereka melakukan ciuman hingga kini posisi mereka berada di atas tempat tidur, Reby menghimpit tubuh kecil itu. Tidak ingin terus berlanjut Reby melepaskan pagutannya, kemudian mengusap bibir yang menjadi bengkak akibat perbuatannya itu kemudian mengecupnya kembali.


"Bibir kecil ini sangat nakal dan harus sering di hukum, " ucap Reby. Rania tersenyum ke arah Reby bahkan kini tangan mungilnya ia lingkarkan di bahu kokoh Reby.


"Kalau dihukumnya kaya gini mah Rania gak bakalan keberatan,"


"Tapi aku yang tersiksa, " ucap Reby dan kini pun mereka berdua tertawa bersama.

__ADS_1


*


*


*


Seperti biasa sebelum Bira tidur ia selalu melihat dulu putranya, barangkali Reby mau bercerita tentang gadis yang ia tolong tadi karena sebelumnya Bira tidak pernah melihat putranya itu dekat dan peduli terhadap wanita manapun.


"Eby...." Bira membuka pintu kamar Reby dan disana ia tidak mendapati siapa pun. Bira kemudian mencoba masuk dan memanggilnya, Ia pun kemudian mencoba mencari ke kamar mandi dan ke ruang ganti baju namun di sana ia tidak menemukan putranya. Jika Reby tidak berada di kamar itu artinya Reby belum pulang, dan itu membuat Bira menjadi khawatir dan kemudian Ia pun menemui suaminya. Bira berlari ke kamarnya. Di sana Regan sudah siap untuk merajut mimpinya di atas ranjang yang hangat.


"Mas suami....!!!" Panggil Bira.


"Ada apa, apa kau berubah pikiran jika malam ini kita akan mantap-mantap ,?" Tanya Regan.


"Isshh, bukan itu "


"Lalu, ?" Tanya Regan dan kembali merebahkan tubuhnya di ranjangnya.


"Reby belum pulang, " jawab Bira.


"Biarkan saja, dia sudah besar mungkin dia berkumpul dulu dengan anak Abon dan Anak unta, " jawab Regan.


"Gini kalau punya suami udah tua, ingatannya lola loading lama. Tadi kan Reby udah pulang duluan bawa anak perempuan, terus mereka kemana ?" Ucap Bira yang khawatir pada putra satu-satunya itu. Regan pun kemudian melihat ke arah Bira dengan wajah yang sama yaitu khawatir.


" Bira takut kalau Reby bawa anak perempuan itu ke hotel terus mereka bercocok tanam, terus perempuannya tekdung duluan, "


"Hei, ubur-ubur jika bicara jangan seperti buang angin selalu saja asal bunyi " ucap Regan yang sebenarnya ia juga mengkhawatirkan Reby. Pikirannya sama dengan apa yang Bira pikirkan. Hanya saja Regan lebih memilih memendam dalam pikirannya sendiri dan tidak mengungkapkannya.


"Bira takut Reby macem-macem Mas, Reby kan mirip banget sama Mas suami kalau mau mesti langsung tancap gas, " ucap Bira.


"Astaga, istriku ini memang orang yang jujur " gumam Regan

__ADS_1


__ADS_2