GADIS DESA KESAYANGAN TUAN MUDA

GADIS DESA KESAYANGAN TUAN MUDA
Bab 79


__ADS_3

Akhirnya Nathan bisa lepas dari cengkraman ikan sapu-sapu yang sejak tadi membawanya ke dalam kubangan pikiran yang menjalar kemana-mana. Ya, bagaimana pikiran Nathan tidak bercabang kemana-mana kalau sejak tadi lengannya di tempeli sesuatu yang sangat hangat dan ya begitulah, kalian pasti mengerti.


Hingga pikiran Nathan yang selalu bersih itu, kini tercemar oleh pikiran tentang anu-anu yang tidak pernah singgah dipikirannya yang selalu bersih itu, dan juga kini ia menjadi sangat penasaran dengan bentuk dan ukurannya. Kenapa bisa terasa sehangat itu, dan kini ular piton miliknya yang selalu tidur tampan pun kini malah memberontak dan tidak mau diam dan membuat Nathan menjadi sesak.


Acara makan malam pun dimulai, kini mereka berlima makan di satu meja. Jika tidak ada yang tahu tentang mereka mungkin mereka akan terlihat seperti keluarga yang sangat bahagia. Namun pada kenyataannya diantara mereka ada dinding tak kasat mata yang membuat mereka terpisah dan berjarak.


Sebenarnya Rully kurang nyaman dengan keadaan seperti ini, namun mau tidak mau kini ia berada dalam lingkaran keluarga yang membuatnya agak sesak di dada. Jadi ia ingin mencoba mencairkan suasana di meja makan itu.


"Mah, masakan ini siapa yang memasaknya ?" tanya Rully mulai mencairkan suasana. Karena menurutnya berkumpul dengan keluarga saat makan itu seharusnya menjadi sesuatu yang menyenangkan. Bukan menjadi acara diam-diaman seperti sekarang ini.


"Tentu saja Mamah yang membuatnya, apa kamu suka ?"tanya Nisya tersenyum, Hermawan merasa bahagia akhirnya ia bisa melihat lagi senyum mantan istri yang sebenarnya masih sangat ia cintai. Hermawan juga menatap ke arah Rully, ia senang dengan gadis yang Nisya katakan itu adalah calon menantunya. Karena gadis kecil itu terlihat sangat baik dan sifatnya yang ceria mampu mencairkan suasana.


"Sudah ku dugong ini, karena masakan ini sangat enak," ucap Rully.


"Sudah kuduga, bukan dugong astaga," ucap Nathan membenarkan ucapan Rully


"Astaghfirullah, maaf Ully lupa," ucapnya.


"Lupa kalau ada anak ratu dugong disini," bisik Rully pada Nathan. Hingga hembusan napas Rully membuat bulu kuduk Nathan meremang. Sepertinya gadis ini senang sekali menguji pisang import milik Nathan.


Namun Nisya yang mendengar bisikan Rully pada Nathan berusaha untuk menahan tawanya, dan Hermawan yang melihat itu sangat bahagia. Akhirnya kini ia bisa melihat mantan istrinya itu tersenyum bahagia.


"Nila yang melihat interaksi antara Nathan Rully dan juga Nisya menginginkan jika ia juga berada diantara mereka yang kini sedang bercanda. Sungguh ia menginginkan sebuah keluarga yang hangat dan juga sebuah keluarga yang mampu merangkulnya di saat ia sedang bersedih dan juga berduka.


Nila juga menginginkan sebuah keluarga yang sempurna jika di saat ia bahagia ia bisa membagi semua tawa bahagianya dan di saat ia sedang terluka maka ia pun bisa mengadu untuk meluapkan rasa sakitnya, namun sayangnya semua itu tidak Nila dapatkan dari ibunya. Karena ibunya Julia lebih sibuk dengan kehidupannya dibandingkan dengan anak dan juga suaminya.


Maka dari itu ia lebih suka melihat Nisa dan Nathan yang terlihat saling menyayangi Ia juga ingin menjadi orang yang disayangi oleh Nisya dan juga Nathan. Maka dari itu ia selalu mengajak papanya untuk menemui mantan istri dari papanya, dan juga menemui Kakak tirinya yaitu Nathan. Dengan harapan jika ia juga akan mendapatkan kasih sayang dari mereka. Namun, sayangnya sampai saat ini mereka tidak pernah menyayangi Nila karena mereka selalu menganggap jika Nila adalah salah satu duri yang merusak keluarga mereka l, dan mereka tidak mungkin menyayangi sesuatu yang menyakiti diri mereka.


***


Setelah acara makan malam itu, Hermawan dan juga Nila kembali pulang ke rumah mereka. Dimana rumah itu hanya memperlihatkan semua kesunyian dan juga kesepian.


Di dalam mobil Nila mencoba bertanya pada papanya, " Pah, menurut Papa suatu saat nanti apa Mamah Nisya akan bisa menerima Nila dan sayang sama Nila,?" pertanyaan Nila ini justru membuat pikiran Hermawan penuh dengan tanya. Kenapa ia lebih tertarik mendekati Nisya dibandingkan Julia ibu kandungnya sendiri.


"Nila, " panggil Hermawan, ia yang sedang menyetir mobil pun sesekali melihat ke arah putrinya yang terlihat sedih itu.


"Iya Pah, boleh Papa bertanya padamu ?"

__ADS_1


"Tentang apa ?" tanya Nila dengan tidak bersemangat.


"Begini sayang, kenapa kau lebih tertarik mendekati mamah Nisya dibandingkan mamah mu Julia ?" tanya Hermawan, sebenarnya pertanyaan ini yang selalu membuatnya penasaran. Ia ingin tahu alasan apa yang membuat Nila sangat ingin dekat dengan Nisya.


"Karena mamah Nisya orang yang sangat baik, mamah Nisya orang yang sangat penyayang dan penuh pengertian dan semua itu gak ada di mamah Julia Pah." jujur Nila, karena memang itu yang ia rasakan. Hermawan tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya mampu diam dan tak mampu berkata apa-apa lagi karena itu memang kenyataannya. Dan kenyataan ini selalu menyakitinya setiap hari, karena mengkhianati Nisya adalah hal terbodoh yang ia lakukan dalam hidupnya.


*


*


*


Karena hari sudah Malam Nathan pun mengantarkan Rully pulang ke kediaman Maheswara. Ia tidak perlu khawatir Reby mengintrogasinya karena Mamahnya sudah meminta ijin langsung pada Bira dan Regan. Ia berjanji jika akan menjaga keponakan mereka dengan sangat baik, apalagi Nisya sangat menyayangi Rully.


"Om..."


"Panggil aku Kakak, aku belum tua dan aku tidak terlihat tua," ketus Nathan.


"Tapi kalau marah keliatan tua loh,"


"A -apa !"


"Astaga, kalau begitu jangan membuatku marah. Kau mengerti !"


"Siap Bos, " ucap Rully. Sebenarnya gara-gara kejadian tadi emosi Nathan menjadi tidak menentu, mungkin itu karena pisang import nya harus menahan menahan mual di bawah sana. Jika saja ia sudah muntah mungkin ia tidak akan segelisah ini.


"Rully, " Panggil Nathan, ia sejenak menghentikan mobilnya di tempat yang sepi. Ia ingin sekali mencium Rully dan berharap rasa sakit di bagian sana sedikit berkurang.


"Kenapa Kak, " jawabnya sambil tertawa, karena merasa geli harus memanggil Nathan dengan sebutan Kakak, sungguh jelek pikir Rully.


"Kenapa kau tertawa ?" tanya Nathan dengan ketus.


"Nggak, Ully lagi inget hal lucu aja kok," bohong Rully. Ia tidak mau jujur karena ia melihat Nathan seperti sedang gelisah ia tidak mau memancing amarahnya karena takut di lempar oleh Nathan keluar dan jadi makanan ikan mujair.


"Kakak, mau tanya apa ?" tanya Rully sambil mengusap bibirnya karena menahan geli.


"Tidak jadi," jawab Nathan dan kembali menjalankan mobilnya.

__ADS_1


Tak lama setelah itu, mereka kini sudah sampai di depan gerbang rumah Maheswara. Saat Rully ingin keluar dari mobil tangan kecil itu di tarik oleh Nathan.


"Kenapa ?"


"Kau lupa jika sekarang kita pacaran ?"


"Enggak, Ully inget kok . Karena hari ini Ully nobatkan sebagai hari resminya status jomblo Ully berakhir, emangnya kenapa ?"


"Cium di sini " tiba-tiba Nathan meminta Rully untuk mencium pipinya.


"Emang kenapa mesti dicium ?"tanya Rully yang memang belum paham.


"Astaga bocah ini, sekarang kita kan pacaran jadi setiap aku mengantarmu kau harus mencium pipi ku," sebenarnya itu hanyalah modus Nathan ikan paus saja yang ingin mencium ikan sapu-sapu nya yang lucu.


"Oh gitu ya, ya udah sini lumayan bisa cium ikan paus ganteng," ucap Rully, hingga Nathan pun tersenyum senang dan kemudian menyodorkan pipinya.


Cup


Satu kecupan pun mendarat di pipi Nathan. Nathan tersenyum senang tapi sepertinya ia tidak puas hingga ia menarik tengkuk Rully dan mencium bibir Rully, dan melum*tnya hingga terasa sangat manis bagi Nathan.


Sejenak Rully terpaku karena terkejut, setelah puas menciumi bibir kecil itu Nathan pun melepaskannya kemudian mengusap bibir yang basah itu karena ulahnya.


"Kau boleh masuk," ucap Nathan Rully pun kemudian keluar dari mobil tanpa mengeluarkan sepatah kata pun sambil terus memegang bibirnya hingga masuk ke dalam rumah. Dan saat di tangga ia berpapasan dengan Rania. Melihat tingkah aneh Rully, Rania pun bertanya padanya.


"Ully bibir kamu kenapa ?"tanya Rania.


"Hahi Uhi di hium ihan aus ," ucapnya tidak jelas karena terus memengang bibirnya.


"Ohh, "jawab Rania, setelah itu Rully pergi ke kamarnya.


"Kenapa bocah itu ?" tanya Reby.


"Oh itu katanya Ully sariawan," jawab Rania, dan dengan bodohnya Reby pun percaya ucapan istri absurdnya.


****


Ya ampun kenapa aku jadi ngakak liat Rully sama Rania ya 🤣🤣🤣

__ADS_1


like dak komentar ya jangan lupa 🤗🤗🤗


__ADS_2