
Setelah berhasil membawa Rully Nathan langsung menemui Mamahnya dan bermaksud memberi kejutan pada Mamahnya dengan membawa ikan sapu-sapu kecil ini.
'Aku heran kenapa Mamah sangat menyukai bocah kecil dan nakal ini, aku saja dari tadi tidak tahan saat melihatnya,' gumam Nathan dalam hati.
Di dalam mobil, Rully tidak berhenti mencoba ponsel baru miliknya yang sangat bagus menurutnya. Ia terus mengambil gambarnya dengan berbagai pose tanpa merasa risih ataupun malu pada Nathan, Nathan hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan gadis kecil yang ia bawa ini.
"Ya ampun Ully cantik banget," pujinya pada dirinya sendiri.
"Lihatlah ikan kecil ini, ia bahkan memuji dirinya sendiri, menggelikan," ucap Nathan.
"Bilang aja iri, iya kan ," ucap Rully.
"Iri padamu,?" Apa yang ada dalam pikiranmu hingga aku harus iri padamu, sudah pendek tidak pintar di tambah bicaranya seperti petasan banting. Astaga bahkan suara bebek saja lebih merdu dibandingkan dengan suaramu," ejek Nathan.
"Om itu belum bisa liat pesona Ully, coba lihat baik-baik sama Om. Kalau Ully ini sangat cantik mempesona tanpa saringan apapun," ucapnya dengan percaya diri.
"Saringan,?" Tanya Nathan tidak mengerti.
"Iya, saringan, " jawabnya sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Jelaskan apa itu saringan aku tidak mengerti," ucap Nathan.
__ADS_1
"Aihh, susah kalau ngomong sama orang tua. Filter aja gak tahu," ucap Rania. Mendengar arti saringan yang di maksud oleh Rully, sontak membuat Nathan terkejut karena yang dimaksud saringan oleh Rully ternyata filter kamera. Astaga gadis ini benar-benar menguji kesabaran Nathan yang tidak pernah ia pakai itu. Ya Nathan adalah pria yang jarang sekali mengontrol emosi ataupun mengeluarkan amarah. Tapi bersama dengan Rully, ia menjadi tahu bagaimana rasanya kesal dan marah akan tetapi ia harus menahannya.
"Astaga dasar tuyul nakal, kenapa hanya filter kamera saja kau harus mengatakannya dengan kata saringan segala. Jelas aku tidak mengerti,!" Kesal Nathan, jika ia adalah makhluk animasi sudah di pastikan jika saat ini kepalanya tengah mengeluarkan asap tebal seperti gunung yang hendak meletus. Namun sumber dari kemarahan itu hanya duduk manis dan tidak peduli saat melihat Nathan yang kesal. Ia malah tambah asik mengambil gambarnya.
"Om aja yang kudet, gitu aja gak ngerti. Jangan-jangan dulu waktu kecil gak pernah ranking ya pas sekolah,?" Tanya Rully dengan tatapan menyelidik. Sudah cukup kali ini Nathan benar-benar ingin menelan ikan sapu-sapu ini tanpa di masak atau tambahan apapun. Ucapannya benar -benar menguji iman.
"Apa kau sedang membicarakan dirimu sendiri,?!" Tanya Nathan dengan hidung kembang kempis dan wajah memerah karena menahan kesal.
"Enggak, Ully nanya Om lah. Astaghfirullah gitu aja gak ngerti," ucapnya sambil geleng-geleng kepala seolah sedang bicara dengan orang bodoh, padahal ia sendiri yang bersikap bodoh sedari tadi. Tingkah Rully terasa seperti fitnah kecil yang menggores harga diri Nathan yang seorang pria tampan dan pintar dan dengan segudang prestasi, tapi ia malah dianggap bodoh oleh orang paling bodoh yang pernah ia temui. Semakin menguji iman saja gadis kecil ini.
Nathan menatap Rully sekilas, kemudian pandangannya beralih ke depan lagi karena ia sedang menyetir saat ini.
"Aaaaargghhh ..." Teriak Nathan dalam mobil itu tiba-tiba, hingga membuat Rully terjingkat kaget.
'Mah, kau harusnya melihat semua ini. Bagaimana aku sangat menyayangimu, hingga aku harus berdampingan dengan makhluk kecil yang sangat aneh ini,' gumam Nathan dalam hati.
*
*
*
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain, Radit tiba-tiba tertawa saat menyetir membuat Reby dan Rania saling pandang merasa heran. Kenapa asistent jomblo ini tiba-tiba tertawa. Apa ada yang salah dengan otaknya pikir mereka berdua.
"Radit apa kau gila,?" Tanya Reby dengan tatapan menyelidik, karena ia tidak mau di bawa kabur asistent gila.
"Kelamaan jomblo kali A, jadi otaknya rusak," bisik Rania.
"Jangan menggodaku, bebek kecil. Bisikanmu membuatku ingin menerkammu sekarang juga," ucap Reby.
"Isshh dasar ubur-ubur mesum," ucap Rania.
"Aku tidak gila Tuan, tapi aku sedang membayangkan bagaimana nasib Nathan yang kini sedang menghadapi Rully yang jauh lebih menyebalkan dibandingkan dengan Rania, kebodohannya saja sudah dibawah rata-rata," ucap Radit masih dengan tawanya.
"Astaga, aku pikir karena apa. Biar saja, hitung-hitung melatih kesabarannya," jawab Reby sambil tertawa membayangkan Nathan menghadapi kebodohan sepupunya.
"Kalian kok jahat banget siih, Ully tuh gak bodoh. Dia cuma kurang pinter aja tahu," ucap Rania membela sahabatnya. Reby pun langsung melihat ke arah istrinya dengan gemas.
"Sebaiknya kau jangan bicara, karena kau dengannya hanya beda tipis," ucap Reby, hingga semakin terbahak saja Radit mendengarnya.
"Aiihhh...."
***
__ADS_1
Kalau likenya nambah nanti aku lanjut 💃💃💃