
Siang ini Nathan dan Nisya berkunjung ke kediaman Sabira untuk menjenguk Rully. Ia sengaja membawa membawa beberapa buah tangan untuk Rully. Kedatangan mereka disambut oleh Bira dengan sangat hangat, Bira pun langsung mengantar mereka berdua ke kamar Rully. Dimana ia sedang berbaring lemah karena demam.
"Tadi sudah diperiksa oleh dokter, mudah-mudahan demamnya cepat turun. Kata dokter daya tahan tubuhnya sedang lemah. Jadi luka kemarin itu bikin Ully demam, mungkin ditambah tugas kuliah juga yang bikin Ully stres makanya sekarang Ully tumbang dan sakit," jelas Bira.
"Ya ampun kasihan sekali," ucap Nisya.
"Itu Ully lagi tiduran di kamar, ayo masuk aja," ucap Bira. Kemudian mereka bertiga pun masuk ke dalam kamar Rully. Terlihat ia sedang tertidur, mungkin efek obat yang ia minum tadi hingga membuatnya menjadi mengantuk. Karena semalaman juga ia tidak bisa tidur merasakan tubuhnya yang sakit dan pegal-pegal akibat perkelahiannya dengan Nila.
Nisya kemudian duduk di samping Rully, ia membelai rambut Rully dan memegang keningnya. Masih terasa demam saat tangan Nisya menyentuh keningnya. Terlihat juga beberapa koyo di keningnya yang membuatnya malah terlihat lucu.
Merasa ada yang menyentuhnya, Rully pun membuka matanya perlahan dan ia terkejut saat melihat Nisya dan Nathan kini yang sedang berada di kamarnya. Ia pun terjingkat bangun dengan rambut yang berantakan dan juga wajahnya yang pucat. Ia merasa sangat malu karena mereka melihatnya dengan keadaannya yang sekarang.
"Mamah," panggil Rully.
"Rully, pelan-pelan bangunnya kenapa terburu-buru seperti ini. Nanti kepala kamu tambah pusing. " ucap Nisya.
"Ully kaget Mah," jawabnya.
"Ya ampun Ully, kamu teh belum lama disini tapi udah punya mamah baru," ucap Bira sambil tertawa.
"Ully diminta manggil Mamah, Mom," jawab Rully, ia juga diminta Bira untuk memanggilnya Mommy saja seperti Reby dan Rania. Agar ia tidak merasa kehilangan sosok Ibu meskipun kini mereka tinggal berjauhan.
"Iya, aku yang memintanya karena aku merasa suka dengan Rully dan sudah menganggapnya seperti anak sendiri," ucap Nisya dengan senang.
"Kenapa gak dijadikan menantu saja Mba," Bira bercanda pada Nisya, namun ternyata candaannya malah dianggap serius.
"Justru itu yang aku pengen, Ully jadi menantu aku dan menikah dengan Nathan." Ucap Nisya dengan sangat riang. Namun ucapannya itu membuat ketiga orang yang berada di kamar menjadi sangat terkejut.
"Haahh..." Bira dan Rully Langsung melongo, namun Nathan langsung menepuk keningnya. Kenapa mamahnya ini sangat agresif pikirnya.
"Mah, " panggil Nathan.
"Kamu setuju kan ?" Nisya malah memberikan pertanyaan yang sulit dijawab oleh Nathan. Karena jika ia menjawab tidak mau, Nathan takut membuat Bira tersinggung. Garis bawahi Nathan hanya takut Bira yang tersinggung karena Rully sudah dipastikan jika gadis kecil itu tidak akan pernah tersinggung dengan ucapannya.
__ADS_1
Dan jika ia mengiyakan, maka Nathan takut jika ini terlalu cepat dalam mengambil keputusan. Lagi pula ia tidak mencintai Rully. Nathan tidak bisa menikah dengan gadis yang tidak ia cintai.
"Aduh Mba ini, kasihan itu anaknya sampe pucat disuruh nikah sama Ully." ucap Bira mencairkan kembali suasana agar tidak terasa tegang.
"Mungkin Nathan terlalu senang," jawab Nisya.
"Mamah," panggil Nathan.
"Oke, oke sayang. Mba aku mau bicara sebentar boleh ?" tanya Nisya.
"Oh boleh atuh, "
"Tapi gak disini, kita ngobrol di luar aja ya," ajak Nisya.
"Ya udah kalau gitu, ayo " ajak Bira.
"Nathan kamu jagain Rully sebentar ya, tapi pintunya dibuka jangan di tutup jadi kalau ada apa-apa Ully bisa kabur," ucap Bira sambil tertawa, tidak mungkin ia meninggalkan keponakannya tanpa memberi keamanan dulu padanya.
"Gak usah khawatir, Nathan udah jinak. "sambung Nisya yang juga ikut tertawa. Ternyata bicara dengan Bira sangat asik dan tidak membuatnya jenuh.
"Panggil aja penghulu biar langsung sah," jawab Nisya.
"Ya ampun yang ngebet pengen punya mantu," Bira tergelak.
Mereka berdua kini keluar dari kamar Rully dan membiarkan Rully dan Nathan berada di kamar berdua, dengan pintu yang di buka dengan sangat lebar oleh Bira. Tidak ingin meninggalkan jauh keponakannya, Bira mengajak Nisya duduk di sofa yang berada dekat kamar, takut jika nanti keponakannya di serang oleh ikan paus.
Di kamar Nathan melihat Rully dengan kasihan, karena perbuatan adik perempuan satu ayahnya itu. Kini Rully sakit tubuhnya terlihat lemas wajahnya pucat, bahkan koyo dan plester kini menempel di tubuhnya.
"Kenapa Om liatin Ully kaya gitu ?" tanya Rully pada Nathan karena ia melihat Nathan seperti sedang menatapnya dengan pandangan kasihan.
"Kau terlihat sangat jelek dan juga berantakan," ucap Nathan. Astaga malah ucapan seperti itu yang keluar dari mulut lucknut nya.
"Biarin aja lagian Ully juga lagi sakit, mana ada orang sakit cantik terus dan dan." Jawab Rully.
__ADS_1
"Bocil aku membawakan pesanan mu !" Ucap Radit yang kini tiba-tiba sudah berada di kamar Rully.
"A Radit, bawa apa ?" tanya Rully.
"Ya ampun, baru sakit demam saja kau udah amnesia," jawab Radit.
"Ini es kelapa muda, biar otaknya seger. Tadi minta dibelikan sekarang malah pura-pura lupa," omel Radit lagi. Rully pun langsung menepuk keningnya.
"Oh iya maaf, Ully lupa sinin es kelapanya " pinta Rully. Dan Radit pun langsung memberikannya pada Rully. Melihat Radit dengan Rully yang terlihat dekat, membuat sisi hati Nathan terasa ada yang tidak nyaman bahkan tidak suka.
'Kenapa ikan kecil ini terlihat sangat akrab dengan asistent jelek itu, menyebalkan 'gumam Nathan dalam hati. Radit pun kemudian duduk dan mengambil buah apel yang ada di meja pemberian Nathan untuk Rully, ia pun langsung memakannya tanpa bertanya dulu. Jika untuk Rully itu bukan hal yang aneh karena ia merasa dekat dengan Radit seperti kakak sendiri sama dengan Rania pada Radit yang bersikap santai dan suka bercanda karena sudah terbiasa dengan keberadaannya.
Lain halnya dengan Nathan yang melihat sikap Radit yang justru terlihat sok akrab pada Rully membuatnya sebal saat melihat Radit.
"Aku membeli buah itu bukan untukmu, kenapa kau malah memakannya!" Ucap Nathan dari nada bicaranya ia terlihat sangat kesal. Radit yang sedang mengunyah buah apel pun langsung dengan segera menelannya.
"Ya ampun, kau itu orang kaya yang sangat pelit " ucap Radit.
"Seharusnya kau bilang dulu sebelum memakannya," balas Nathan tidak mau kalah.
"Cuma apel aja atuh Om, lagian udah di gigit juga masa mesti di balikin," ucap Rully , benar juga pikir Nathan bekas gigitannya tidak boleh tersentuh oleh bibir Rully pikir Nathan, kecuali bekas bibirnya ehh...
"A Radit es kelapanya mau ?"tawar Rania, baru saja Radit akan menolaknya, es kelapa itu malah diambil oleh Nathan.
"Aku mau, " ucap Nathan dan langsung menyambar es kelapa yang sudah di minum oleh Rully.
'Kau tidak boleh bersentuhan dengan asistent itu,' gumam Nathan.
"Ckk, baru kali ini aku melihat ikan paus minum es kelapa," ejek Radit. Hampir saja Nathan menyemburkan minumannya karena terkejut mendengar ucapan Radit, untung ia bisa menahannya.
"Dasar lele jomblo menyebalkan," ucap Radit.
***
__ADS_1
Maafkan terlambat up ya karena real life yang benar-benar bikin Mimin sibuk 😌😁🙏
Like dan komentar nya jangan lupa ya, biar Mimin semangat buat up nya