
"Mas Her!"
"Pah!
Ucap mereka bersamaan.
Semua orang tertegun saat melihat Hermawan tidak bergerak lagi. Mereka terkejut, pikiran buruk kini menerpa. Apakah Hermawan...
Tidak, itu tidak mungkin. Hermawan tidak mungkin meninggalkan mereka.
"Pah, Papa, Papa!!! Dokter, Dokter!!!" teriak Nathan.
Dokter dan suster yang mendengar teriakan dari Nathan langsung berlari menghampiri ruangan dimana mereka berada. Nathan dan yang lainnya mundur dan memberi ruang pada dokter untuk memeriksanya.
Setelah beberapa saat dokter, menghela napas kasar dan melihat ke arah mereka dengan wajah sedih dan merasa bersalah.
"Maafkan kami, kami sudah berusaha. Namun, sepertinya Tuhan berkehendak lain." ucap dokter.
"Apa maksudmu dokter?" Nisya bertanya dengan bibir bergetar.
__ADS_1
"Maafkan kami Nyonya, Tuan Hermawan sudah meninggal dunia," ucap dokter itu.
"Apa? Kau jangan bercanda dokter, Hermawan kau tidak mungkin meninggal. Kenapa dia meninggal, dia bahkan tidak sakit apa-apa. Kenapa dia bisa meninggal?" tanya Nisya tidak percaya.
Nathan hanya mengusap wajahnya kasar, ia merasa tidak percaya jika Papanya saat ini sudah meninggal. Sedangkan Nila ia menangis tersedu-sedu, ia membelai wajah pria yang selama ini ia anggap sebagai Papanya itu. Ia tidak percaya, baru saja ia mengecap kebahagiaan bersama dengannya hari itu.
Betapa ia sangat bahagia, saat bersama dengan papanya. Ia merasa jika dunia adalah miliknya. Saat itu Nila merasa jika kebahagiaan sebentar lagi akan datang dalam kehidupannya. Namun, yang terjadi adalah kebalikan dari semua yang ia bayangkan. Karena di hari yang sama, Hermawan memberikannya kebahagiaannya sekaligus kesedihan yang amat sangat padanya.
Setelah menghabiskan waktu yang sangat berkesan itu. Hermawan pergi meninggalkannya. dia pergi dan tak akan pernah kembali lagi. Hermawan pergi dari dunia ini untuk selama-lamanya meninggalkan Nila sendirian. Hancur sudah dunia Nila saat ini. Ia merasa tidak mempunyai siapa-siapa lagi karena bahkan ibunya pun sampai saat ini belum menemuinya.
*
*
*
Nisya sudah tahu semuanya tentang hubungan Nila dan juga Hermawan. Karena itu semua Hermawan cantumkan dalam surat wasiatnya yang ia percayakan kepada pengacaranya.
Nisya dan Nathan tidak setega itu ia menelantarkan Nila, meskipun mereka tahu jika Nila tidak ada hubungan darah dengannya. Karena Nila sendiri memutuskan untuk tidak ikut tinggal bersama orang tuanya yang sekarang karena Nila sangat mengetahui bagaimana tabiat ibunya ia tidak mungkin menyayangi inilah seperti Hermawan.
__ADS_1
untuk itu Ia memutuskan untuk tinggal sendiri dan juga mandiri apalagi harta pemberian dari Nathan dan juga Nisa mampu mencukupi kehidupannya dan juga pendidikannya, untuk itu ia memutuskan tidak tinggal bersama orang tuanya saat ini.
Sedangkan Julia dan juga Robert pun, mereka tidak terlalu memusingkan apa yang diinginkan oleh Nila. Karena jika itu yang putrinya inginkan maka mereka tidak akan melarangnya. Keputusan bebas ada di tangan Nila.
Setelah semuanya selesai akhirnya Nisya dan Nathan mulai mempersiapkan acara pernikahan. Sungguh sedih sebenarnya karena di acara hari bahagianya Papanya tidak ada bersama dengan mereka. Namun, Rully selalu mampu menghibur Nathan dan membuatnya selalu tersenyum dan juga bahagia. Bukankah selama ini juga, ia tidak tinggal bersama Papanya maka untuk itu ia harus mulai terbiasa meskipun mulai saat ini ia tidak bisa melihatnya lagi di dunia ini.
"Udah jangan sedih lagi kan ada Ully yang cantik manis juga menggemaskan," ucap Rully.
"Memang, tapi kau belum bisa aku apa-apakan," ucap Nathan.
"Emangnya Ully mau diapain gitu?" tanyanya, saat ini mereka sedang berada di taman belakang rumah Nathan sambil menatap langit yang di penuhi taburan bintang, serta cahaya bulan yang menambah kesan keindahan di atas sana.
Nathan langsung melihat ke arah calon istrinya yang memang sangat menggemaskan ini. Nathan tersenyum dan kemudian mencium Rully sampai Rully terjatuh di atas kursi dan Nathan mengungkungnya serta memperdalam ciumannya.
"Nathan, tahanlah sebentar lagi!" teriak Nisya dari rumah yang melihat putranya tengah mengungkung calon istrinya. Mendengar teriakan mamahnya Nathan pun langsung melepaskan Rully. Ia gelagapan merasa malu dengan perbuatannya saat barusan.
"Astaga anak itu, apa tidak bisa menunggu sebentar lagi," terdengar gerutuan dari Nisya. Nathan dan Rully pun saling pandang dan kemudian tertawa bersama.
***
__ADS_1
.
Part selanjutnya mereka menuju halal dan menuju end 😁🤗🤗🤗💃💃💃