GADIS DESA KESAYANGAN TUAN MUDA

GADIS DESA KESAYANGAN TUAN MUDA
Bab 78


__ADS_3

Lama Rully tidur di kamar Nathan, terlihat jika tidurnya memang sangat nyenyak mungkin ia kelelahan pikir Nathan. Jika saat tidur terlihat sangat tenang dan juga sangat manis, namun saat terbangun bicaranya terdengar seperti suara petasan banting, hingga terkadang Nathan harus menutup telinganya karena suara cemprengnya sangatlah mengganggu.


"Nathan," panggil Nisya. Ia baru saja masuk ke kamar Nathan dan melihat anaknya tengah sibuk dengan pekerjaannya. Nisya tersenyum senang melihat Nathan, ia sangat terharu karena selama ini ia selalu menuruti keinginannya. Ia bahkan rela membawa pekerjaannya ke rumah yang terpenting mamahnya bahagia.


"Iya Mah kenapa ?"


"Rully belum bangun,? Nisya melihat ke arah Rully yang masih terlelap.


"Belum, sepertinya ia kelelahan tidurnya juga sangat nyenyak," jawab Nathan.


"Jangan dibangunkan, kasihan" ucap Nisya, Nathan pun mengangguk. Baru saja ia akan mengobrol dengan putranya, salah satu pelayannya memberitahu kan Nisya jika di ruang tamu ada Hermawan beserta putrinya sedang menunggu dan ingin bertemu. Nisya berdecak sebal mendengarnya, kenapa mantan suaminya itu senang sekali membawa putrinya ke rumah ini. Sudah tahu Nisya sangat tidak menyukainya, namun ia malah terus membawanya ke rumah ini.


"Mau apa dia datang kemari ?" tanya Nisya, Nathan malah mengangkat bahunya acuh. Nisya menghela napasnya, kemudian ia pun bangun dan hendak menemui mantan suaminya itu. Karena mantan suaminya itu tidak akan mau pergi sebelum bisa bertemu dengannya. Nathan pun menemani mamahnya, karena tidak mau jika nanti papanya itu menyakiti mamahnya. Nathan akan selalu berada di garda terdepan untuk melindungi mamahnya dari orang-orang yang menyakitinya.


Nathan dan Nisya turun beriringan di tangga, melihat mereka berdua Hermawan dan Nila tersenyum ke arah kedua orang itu. Namun, yang diajak senyum malah terkesan acuh dan tidak peduli. Wajar saja jika anak dan istrinya kini tidak menyukainya bahkan mungkin membencinya. Karena perbuatannya dulu pada mereka mungkin memang tidak pantas untuk di maafkan.


Kini mereka berdua sudah duduk saling berhadapan, Nisya benar-benar jengah melihat mereka berdua. Sudah tahu Nisya sangat membenci Nila, tapi Hermawan selalu saja membawanya ke rumah dan memperkenalkannya sebagai mamahnya juga, yang benar saja. Bagi Nisya melihat Nila seolah mengungkit luka lama, setiap Nisya melihat Nila ia jadi membayangkan bagaimana putri Hermawan itu di proses dan itu membuatnya sangat jijik. Dan dengan bodohnya Hermawan tidak pernah mengerti.


"Nisya bagaimana kabarmu, dan juga kau Nathan. Bagaimana kabarmu ? Kau semakin terlihat sangat tampan saja," ucap Hermawan.


"Mah, bagaimana kabar Mamah dan juga Kak Nathan." ucap Nila dengan sangat riang. Meskipun Nila tidak tahu apa-apa, tetap saja Nisya tidak bisa untuk tidak membencinya.


"Seperti yang kalian lihat kabar kami baik," jawab Nisya acuh.


"Dan jangan pernah memanggil Mamahku dengan sebutan Mamah, aku tidak suka lagi pula dia bukan Mamah mu. Dan aku juga bukan Kakak mu, jadi berhentilah memanggil kami seperti itu," sambung Nathan dan melihat Nila dengan tatapan tajam hingga Nila menunduk sedih. Terlihat Hermawan menghembuskan napas kasar, ia bingung berada di posisi ini. Karena akibat perbuatannya jadi banyak orang yang terluka.

__ADS_1


"Apa kalian tidak bisa menerimanya ?" tanya Hermawan.


"Tidak, bukankah kau sudah tahu jawabannya dari dulu, Papa " ucap Nathan penuh penekanan.


"Mau apa kalian kemari?" tanya Nathan.


"Kami merindukanmu kalian," ucap Hermawan


"Dan sayangnya kami tidak," jawab Nathan, Nisya lebih banyak diam biarlah Nathan karena semuanya sudah si wakili oleh Nathan.


"Mah,!" terdengar suara Rully memanggil, semua orang melihat ke arahnya, rupanya gadis kecil itu sudah bangun. Nila terkejut saat melihat Rully berada di rumah kakaknya. Begitu pun juga Rully yang terkejut saat melihat Nila di sana.


"Sedang apa kau disini ?" tanya Nila ketus saat melihat Rully, ia bahkan tidak bisa menutupi kebenciannya pada Rully di hadapan semua orang.


Sedikit banyak Rully mendengar percakapan mereka, dan otaknya yang kecil itu kini sudah mulai bisa mencerna tentang bagaimana hubungan mereka yang cukup rumit. Tapi yang Rully tidak suka jika Nila selalu terlihat membencinya dan itu membuat Rully tidak nyaman. Namun ia tidak mau kalah oleh Nila, lihat saja jika Nila bersikap tidak baik padanya. Rully ouny bisa melakukannya. Rully pun kemudian menghampiri Nathan dan duduk di sampingnya sambil menggandeng lengan kekar Nathan dan menyandarkan kepalanya di sana. Nathan cukup terkejut dengan sikap Rully saat ini.


Fokus Nathan saat ini adalah melihat bibir mungil berwarna pink yang ada dihadapannya. Jika saja di sana tidak ada orang sudah Nathan pastikan, jika ia akan melahapnya saat itu juga. Astaga kenapa pikiran Nathan menjadi mesum seperti sekarang ini.


"Apa ! Kamu pasti bohong tidak mungkin jika Kak Nathan pacaran dengan orang sepertimu !" Nila masih bicara dengan sangat ketus.


"Dasar ikan Nila jelek," gumam Rully namun Nathan mampu mendengarnya dengan jelas.


"Rully memang bukan pacar Nathan, tapi Rully adalah calon istri Nathan," ucap Nisya. Ucapannya di awal hampir saja membuat jantung Rully hampir terjatuh. Karena Rully pikir jika Nisya tidak akan mengakuinya.


"Jadi dia adalah calon menantuku ?" tanya Hermawan, ia tersenyum ke arah Rully dan Rully pun menyambut senyumannya.

__ADS_1


"Aku gak setuju kalau Kak Nathan menikah dengan gadis kampung ini !" ucap Nila, sikap tidak sopannya memang sangat menurun dari Julia ibu kandungnya.


"Setuju atau tidak bukan urusanmu !" Sentak Nathan, Nila langsung terdiam karena di marahi oleh Nathan dan ia pun menunduk. Rully semakin mengeratkan tangannya di lengan kekar Nathan tanpa ia sadari jika buah mangga mudanya yang ranum itu menempel pada tangan Nathan dan membuat Nathan gelisah.


'Astaga apa bocah ini tidak menyadari jika squishinya menempel di lenganku. Aku kan jadi ingin menyentuhnya, ehh' Nathan membatin dan membayangkan hal yang tidak-tidak.


"Sudahlah lebih baik kalian pulang saja," ucap Nisya.


"Apa kau tidak ingin mengundang kami untuk makan bersama?" tanya Hermawan karena ia bisa melihat dengan jelas jika para pelayan sedang menyiapkan makanan yang sepertinya spesial. Meskipun dari jauh tapi Hermawan tahu jika Nisya pasti sedang menyambut gadis yang sedang bergelayut manja pada putranya.


"Tidak," ucap Nisya namun ia melihat ke arah Rully yang menatapnya dengan heran. Ia tidak mau jika calon menantunya itu menganggapnya sebagai orang jahat.


"Baiklah," Jawabnya terpaksa. Mereka berdua pun tersenyum karena akhirnya Nisya mau menerima mereka. Sedangkan Nathan terus melihat ke arah Rully yang masih menempel padanya.


"Astaga bocah ini membuat pikiran ku yang suci bersih menjadi kotor," gumamnya karena buah mangga Rully masih betah menempel di lengannya.


****


Terus dukung novel Mimin ya 🤗 biar semangat buat up.


Sambil nunggu novel aku up kalian bisa mampir di karya temen aku ya 🤗🥰


Judul : Ternyata dia jodohku


Napen: Sofa marwa

__ADS_1



__ADS_2