
Dikantornya Gavin tengah sibuk menyiapkan laporan dari perusahaan cabangnya bersama dengan Daniel.
"Bagaimana bisa seperti ini,apa ada korban jiwa.?" tanya Gavin pada Daniel.
"Tidak ada tuan,untungnya longsoran tanah itu terjadi pada malam hari tuan.. hanya beberapa property kita saja yang rusak."
"Property bukan masalah besar untuk ku,yang penting tidak ada korban jiwa.. apa ada perkembangan baru dari Jack."
Jack adalah orang kepercayaan Gavin yang memimpin pertambangan di negara B.
"Kata Jack dia kesulitan mengatasi ini karna musim hujan tiada henti disana.. Jack takut jika nekat turun ke lapangan akan ada longsor susulan tuan.."
"Kau benar,kita memang harus turun tangan " Besok keberangkatan aku sore kan.."
"Iyaa tuan.."
"Aku masih punya waktu seharian besok untuk dirumah,aku ingin persiapan keberangkatan sudah selesai semua malam ini."
"Baik tuan,saya mengerti.."
"Bagaimana perusahaan mertua ku."
"Sampai saat ini lancar tuan,, perusahaan Bramantyo kini telah berkembang pesat,dan juga saya sudah meletakkan beberapa orang disana untuk mengawasi."
"Bagus.. setelah masalah ini selesai,sebelum bulan madu ku,aku ingin memberikan hadiah pada mertua kesayangan ku itu.." seringai licik Gavin.
"Tapi bagaimana dengan nona Erina,kalau dia tau tuan menghancurkan keluarganya pasti dia akan marah.." ucap Daniel.
"Yang mau menghancurkan keluarga nya siapa bodoh." ucap Gavin kesal.
"Saya paham tuan,maafkan saya lambat untuk mengerti.." Dia ini kalau urusan memaki tidak pernah berubah.
"Kau ini,gitu aja lama loading nya.. Hari ini sudah cukup,aku ingin ketempat istriku.." Ucap Gavin langsung memakai jas nya .
"Bukannya nona pulangnya sore ya tuan.."
"Aku bilang ketempat istriku,bukan mau pulang.." ucap Gavin yang mulai kesal.
"Jadi kita ke toko Nona..?" tanya Daniel.
Gavin berhenti dan menatap tajam ke Daniel. "Daniel.. perlukah ku cuci otak mu.?"
"Maafkan saya tuan.. mari kita berangkat sekarang." ucap Daniel yang berusaha mencairkan suasana,Ya tuhan.. dia sensitif sekali kalau tentang nona Erina.
Mereka malajukan jalan menuju toko Erina.
"Kenapa kau membawa ku ketempat ini..? aku menyuruhmu ke toko istri ku kn.."
"Maaf tuan,tapi ini memang toko milik nona Erina, itu dia tuan Toko oleh-oleh Indah.. itu toko nona.."
Gavin baru mengingat bahwa Erina pernah membicarakan nama tokonya,sejak pertama kali menikah baru kali ini dia melihat langsung toko milik istrinya.
"Ya sudah ayo turun." ucap Gavin.
Memaki nomor satu,toko istrinya saja tidak tau. gerutu Gavin dalam hati.
Daniel memasuki toko lebih dahulu,sedangkan Gavin mengikuti dari belakang..
"Selamat datang tuan,ada yang bisa saya bantu." ucap Mala ramah.
"Saya ingin bertemu dengan nona Erina,beliau ada.?" tanya Daniel sopan.
Mala melihat dari ujung kaki sampai kepala dua pria dihadapannya,"Maaf anda berdua siapanya mba Erin ya,,"
__ADS_1
"Saya suaminya." ucap Gavin to the point, Mala yang mendengar itu langsung membulatkan matanya.
"S-suami.. b-baik saya antar langsung,m-mari ikuti saya.." ucap Mala yang berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
Tok..tok..
"Mba Erin.. ada tamu,dia mengaku suami mba." ucap Mala pada Erin yang sedang merapihkan rak stok paling atas..
Sebelum Erina menjawab Mala,Gavin langsung saja masuk tanpa aba-aba.. Mata nya membulat saat melihat Istrinya sedang duduk di atas rak paling tinggi..
"Sedang apa kamu diatas..? turun..!!" ucap Gavin dengan nada tinggi.
Erina yang terkejut melihat Gavin yang tiba-tiba masuk ke ruang kerjanya, "S-sayang.. kamu ngapain disini.." ucap Erina spontan.
Daniel menarik tangan Mala, "Maaf nona,biarkan mereka berdua,mari ikut saya turun kebawah.." ucap Daniel.. ia tau bahwa Gavin pasti akan mengomel.
"Baiklah tuan.." ucap Mala yang mengikuti Daniel.
"Sayang duduklah dulu.." ucap Erina yang merapihkan laporan stok.
"turun Erina." ucap Gavin yang menatap tajam ke arah istrinya.
ya Tuhan tatapannya,nantilah ku urus lagi. Erina langsung bergegas turun melalui tangga yang memang sengaja dibuat untuk memudahkan meletakkan barang di rak paling atas.
"S-sayang.. silahkan duduk,aku akan mengambil minuman dulu." ucap Erina langsung bergegas mengambil minuman kemasan dilemari pendingin.
Gavin duduk dan melihat gerak gerik istrinya,matanya masih memancarkan kekesalan.
"Silahkan diminum sayang.." ucap Erina yang gugup karna Gavin hanya menatap tajam ke arahnya.
"Kemari.." Gavin menyuruh Erina duduk pas disampingnya. Erina yang melihat kekesalan Gavin hanya menurut takut membuat Gavin lebih kesal lagi.
Gavin langsung mengambil tisu diatas meja didepannya,ia membersihkan rambut panjang Erina yang terikat dari debu dan mengelap keringat Istrinya.
"Ceroboh..! kalau kamu jatuh nanti gimana? banyak debu lagi,lihat ini rambut mu.." ucap Gavin masih kesal.
"Hah.. suruh saja yang lain,jangan kamu. kamu cukup duduk manis terima laporan,bukan naik kesana.."
"Gapapa kok sayang..kalau tentang stok memang itu urusan aku,Mala hanya melaporkan saja.." bela Erina.
"Erin.. Mulai besok kamu tidak perlu ke toko lagi,biar toko ini ku suruh orang lain urus, kamu diam saja dirumah." ucap Gavin
Bagai disambar petir Erina syok dengan perkataan Gavin.. "T-tapi sayang itu.."
"Stop Erin..! aku tidak mentolerir apapun,aku tidak mau kamu sampai kenapa-kenapa saat aku tidak ada." tegas Gavin.
"Sekarang kemasi barang mu,kita pulang.." ucap Gavin datar.
Erina hanya diam mematung, ia tidak tau harus bilang apa,toko ini separuh hidupnya.
"Ayo.." Gavin beranjak dari duduknya,namun Erina langsung menahannya untuk kembali duduk.
"S-sayang aku mohon jangan seperti ini, bagaimana mungkin toko yang susah payah ku dirikan aku berikan pada orang lain.. aku gak bisa.." Ucap Erina berkaca-kaca.
"Jadi toko ini lebih berharga dibanding aku..?" ucap Gavin meninggi.
"B-bukan seperti itu maksud ku sayang,aku hanya tidak bisa menyerahkan toko ku pada orang lain.. " ucap Erina yang hampir menangis.
"Berarti kau memilih toko mu..? oke kalo gitu." Gavin berdiri lalu berjalan menuju pintu,Erina yang melihat itu langsung memeluk kaki Gavin..
"Jangan pergi. bukan itu maksud ku,aku sangat mencintaimu sungguh.. tapi aku tidak mau toko ini berada ditangan orang lain.. ini semua jerih payah ku.. ku mohon jangan seperti ini.." Tangis Erina akhirnya pecah.. ia bersimpuh memeluk kuat kaki Gavin.
Gavin yang melihat istrinya memohon sampai seperti itu jadi tidak tega,ia tidak ingin terjadi apapun pada istrinya,ditambah ia tidak ada.
__ADS_1
"Jangan seperti ini,ayo berdiri.."
"Tidak mau..! tolong ubah keputusan kamu.. aku mohon.." ucap Erina sambil menangis, dadanya terasa sesak mendengar keputusan suaminya.
"Baiklah.. aku batalkan keputusan ku tadi, sekarang kamu bisa berdiri.." Gavin tidak tega melihat istrinya menangis seperti ini..
Erina tertatih berdiri,matanya merah.. air matanya membasahi semua pipinya..Melihat istrinya Gavin langsung memeluk tubuh Erina..
"Maafkan aku.. aku hanya terlalu takut kamu kenapa-kenapa saat aku tak ada nanti." ucap Gavin pelan. Gavin memeluk dalam Istrinya dan menciumi pucuk kepala Erina.
"Aku janji tidak akan ceroboh,aku akan hati-hati dan mendengarkan semua larangan mu.." ucap Erina terbata. "Asal toko ku tetap milik ku..ini semua perjuangan ku,tidak mungkin.." Erina kembali menangis.
Gavin menjadi merasa bersalah."Tidak Sayang.. tidak ada yang akan mengambil toko kamu.. Maafkan aku.." Peluk Gavin..
Dirasa Erina sudah tenang,Gavin melepas pelukannya.. "Sudah sore.. Mari kita pulang.." ia membelai lembut pipi istrinya,Gavin menatap mata lentik milik Erina lalu mendekatkan bibir nya ke bibir Erina.. ia mengecup bibir lembut milik Erina perlahan,Erina membalas ciuman hangat Gavin..
Gavin melepas ciuman hangat mereka yang berubah menjadi panas,wajah Erina terlihat memerah membuat gelora kejantanan Gavin mulai bangkit.
"Kita lanjutkan nanti," Bisik Gavin ditelinga Erina. "Ayo pulang..".
Erina merinding mendengar ucapan Gavin ditelinga nya.. "iya sayang.." Erina mengemasi barang-barang nya dan keluar dari ruangannya..
Daniel yang melihat Gavin dan Erina sudah turun langsung berdiri, "Saya pamit dulu.. terimakasih minuman dan makanannya Mala." ucap Daniel ramah.
"Sama-sama mas Daniel.. saya minta maaf sekali lagi karna tidak mengenali tuan Gavin," ucap Mala.
"Tidak masalah,kalau gitu saya pamit.." ucap Daniel beranjak menghampiri Gavin.
"Mala mba pulang duluan.. hm.nanti mba ceritakan semuanya ya.." ucap Erina canggung.
"Iya mba Erin tidak apa-apa.. Hati-hati dijalan tuan Gavin,mba.. dan Mas Daniel." ucap Mala lembut.
Gavin dan Erina membalas tersenyum lalu pergi,disusul dengan Daniel yang mengedipkan sebelah mata pada Mala,Mala yang melihat itu hanya tersenyum senang.
Lucu sekali mas Daniel ini..
Didalam perjalanan Erina tertidur dipangkuan Gavin,ia membelai kepala istrinya dengan sayang..
"Tuan.. apa tuan bertengkar dengan nona..?" ucap Daniel memecah keheningan.
"Menurut mu..? tanya balik Gavin.
Lah.. malah nanya balik " saya tidak tau tuan.."
"Ya aku memang memarahinya tadi,dan mengancam memberikan tokonya pada orang lain.." ucap Gavin sambil membelai kepala Erina.
"Apa..? terus bagaimana dengan nona,"
"Ya dia menangis memohon padaku untuk membatalkan keputusan ku,ya dengan berat hati aku batalkan" ucap santai Gavin.
Ya ampun tuan,tentu saja nona Erina seperti itu,toko ini sudah bagaikan separuh kehidupan nya. Mana mau dia melepaskan gitu aja. "Kenapa anda sampai seperti itu tuan ."
"Hah.. melihatnya seperti tadi membuat ku takut,takut dia jatuh dan lain sebagainya,ditambah aku tidak ada nanti.. aku hanya takut kehilangan dia Daniel ."
Daniel memahami ketakutan Gavin,sama seperti Gavin yang sangat takut terjadi apapun pada adik kembarnya. Kecelakaan orang tuanya membuat Gavin memiliki ketakutan yang berlebihan.
"Saya sudah menyuruh anak buah kita berjaga diMansion dan mengikuti kemanapun nona Erina pergi.. saya juga sudah menyuruh Rey dan Salsa untuk rutin menjenguk mereka..," jelas Daniel.
"Baguslah kalau seperti itu.." Ucap Gavin pelan sambil mengelus kepala istrinya.. Ntah kenapa ada yang mengganjal dihatinya,namun ia tetap berpikir ke arah positif.
*
*Bersambung..
__ADS_1
...Jangan lupa LIKE, KOMENTAR,dan VOTE nya yang selalu Author tunggu🙏🏼...
...Terimakasih telah membaca,Love U Tomat ❤️**...