
"Itu mobil nona tuan.."
Gavin segera membuka pintu namun masih terkunci .
"Buka !"
"Tuan anda harus bisa mengontrol emosi anda,ingat nona sedang hamil.."
"Bukaa !!!"
Daniel menghembuskan nafas berat,lalu membuka pintu mobil. Gavin langsung berlari masuk kedalam rumah yang pintunya terbuka lebar.
"Erina !" Suara Gavin memenuhi ruangan.
Namun tidak ada sautan dari Erina.. ia pun masuk menuju ruang tengah,, penuh dengan bingkai foto yang berserakan, dan tercium bau asap.. Gavin mencari sumbernya dan menemukan Erina sedang duduk termenung didepan Api yang menyala.
Gavin berlari menarik Erina menjauh ,ia mengambil air dari kamar mandi dan menyiram api itu dibantu oleh Daniel. Setelah selesai Gavin menarik tangan Erina keluar dari rumah.
"Ada apa ini ? kenapa kamu bisa sampai disini ? kamu mau mati ha ?!" bentak Gavin pada Erina
"Tuan,kita obati luka nona dulu.."
"Diam !! kau pergi bawa mobi Erina, cepat !"
"B.. baik tuan.." Daniel langsung pergi membawa mobil Gavin.
Gavin menarik tangan Erina masuk kedalam mobilnya,
"Ngapain kesini ?" Gavin melunakkan suaranya.
Erina hanya menatap kedepan,ia hanya diam sedari tadi. Pikirannya hanya tertuju pada nasib yang dialami mama kandungnya ..
Gavin menahan kesal melihat Erina mengacuhkannya. Ia langsung mengemudi menuju Mansion,tanpa berbicara dengan Erina.. Setelah sampai ia juga dibuat emosi karna Erina tidak mendengarkan nya sama sekali.
"Jangan membuat ku emosi Erina.." Gavin menggenggam tangan Erina dan membawanya masuk.
Sampai diruang tv Karin dan Mila terkejut melihat lebam di wajah Erina..
"Kak Erina kenapa ?" Karin langsung berdiri,
"Kakak mukul kak Erin ?" Mila berasumsi.
Gavin hanya diam dan menatap kesal kepada Erina. ia bahkan tidak tau apa yang terjadi pada Erina.
Erina menatap layar tv,tepat adegan perselingkuhan yang sedang tayang, Erina mengambil remote dan mematikan tv,dengan emosi dia melemparkan remote tersebut hingga pecah terburai dilantai..
__ADS_1
"Kakak.." Mila dan Karin terkejut dengan yang Erina lakukan.
Erina melangkahkan kaki ke lift,lalu naik menuju kamarnya..
"Kenapa masih disini ? kejar kak Erina." Tegas Karin.
Akhirnya Gavin menuju kamar,dia langsung berlari ketika mendengar suara barang jatuh dari kamarnya.
"Erina ..!" Gavin terkejut melihat Erina mengamuk didalam kamar mereka.
Erina berteriak sambil menghamburkan meja riasnya, ia bahkan menangis sambil melempar benda yang ia temui.
"Kenapa..!!! kenapa kalian sejahat itu.." Erina menangis berlutut didepan meja riasnya.
Gavin berjalan ke arah Erina,ia menarik tangan Erina dan memeluk tubuh istrinya..
"Stop sayang.. cerita sama aku ada apa.. aku tidak akan mengerti jika kamu hanya diam dan menangis .,"
"Lepas !! mereka menghancurkan hidup ku,mereka pembunuh !! "Erina berteriak histeris,Gavin sampai kualahan menghadapi Erina..
Dengan satu tangan ia meraih ponsel dan menelpon Rey, selang beberapa menit Rey datang dengan beberapa perawat dan dokter kandungan Erina.
"Ada apa dengan kakak ipar ?" Rey tidak tega melihat Erina menangis histeris..
"Cepat tenangkan istri ku !"
"Sadar Erina !! ini aku suami mu !!" Hati Gavin sakit melihat kondisi Erina yang tiba-tiba seperti ini.
Dokter kandungan Erina dengan cepat menyuntikkan obat penenang,tanpa waktu lama Erina melemah dan tertidur di pelukan Gavin.
Gavin merebahkan tubuh Erina di ranjang,ia mengelus pipi cabi Erina,terdapat lebam dan luka diwajah Erina ,tanpa terasa air matanya jatuh membasahi pipi istrinya.
"Tuan.. saya akan mengecek tubuh nona, sekaligus membersihkan nya,jadi anda bisa menunggu diluar bersama dokter Rey."
"Baiklah.." Gavin dan Rey keluar dari ruangan.
"Apa yang terjadi ?"
"Aku pun tidak tau,tadi pagi masih baik.. kami berkencan tadi siang.. namun saat pulang tingkahnya sudah aneh,aku mendapat kabar dari Lia kalau Erina pergi dengan tergesa,saat Daniel melacak mobil Erina terparkir disebuah rumah tua.. sejak dari sana ia diam dan sampai rumah langsung mengamuk."
"Kita harus menunggunya pulih dan sadar,paling tidak tunggu ia tenang.. baru bertanya.. jika sekarang itu akan sia-sia,takutnya ia mengamuk lagi "
Gavin menghembuskan nafar berat,gimana rasanya melihat orang yang kita sayang menderita sendirian, sedangkan kita tidak tau harus berbuat bagaimana agar mengurangi penderitaan nya.
Setelah dokter memastikan Erina baik-baik aja,mereka semua pulang termasuk Rey, Gavin menyuruh kedua Adiknya mengambil kain panjang ...
__ADS_1
"Untuk apa kak ?"
"Potong menjadi tiga."
Mila memotong kain tersebut,setelah selesai Gavin langsung mengikatnya ke tangan dan kaki Erina..
"Kakak,kenapa Kak Erin di ikat ?" Karin terkejut.
"Akan sangat bahaya jika dia bangun dan mengamuk, aku tidak bisa membayangkan dia kenapa-kenapa."
Karin dan Mila mengerti perasaan kakaknya.. mereka hanya mengikuti instruksi dari Gavin.. setelah itu kembali ke kamar masing-masing..
Saat makan malam pun hanya Mila dan Karin yang turun,sedangkan Gavin makan diatas sambil menemani Erina yang masih terlelap..
Pukul sudah menunjukkan tengah malam,namun Gavin masih berkutik dengan laptopnya,banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan karna dia akan cuti untuk menjaga Erina.
"Mama .." gumam Erina .
Gavin yang mendengar itu langsung meletakkan laptop nya,ia segera mendekat ke tubuh istrinya.
"Sayang.. " Gavin memanggil Erina..
Erina hanya mengoceh tidak jelas sambil menutup mata,tampak air mata jatuh dari sudut matanya .. melihat itu Gavin tidak tega dan membuka tali ikatan Erina.. Ia meletakkan laptopnya dan mematikan lampu..
membaringkan tubuhnya dan memeluk erat Erina, sambil mengelus perut buncit Erina yang sudah membesar, Gavin semakin mengeratkan pelukannya..
"Jaga mama mu ya nak.. kalian harus kuat sayang ."
Setelah berpesan pada bayi diperut Erina,Gavin langsung tidur masuk ke alam mimpi,berharap ia menemukan sesuatu agar bisa meringankan beban Erina..
***
Pagi hari Erina merasakan sesuatu yang tidak tertahankan, dengan kepalanya yang berat ia melepaskan diri dari pelukan suaminya dan berjalan pelan menuju kamar mandi.
Gavin meraba Tubuh nya yang kosong,ia terperanjat melihat Erina tidak berada di ranjang,,
"Dimana istri ku.. Erina ! " Gavin berlari menuju kamar mandi. Hatinya lega melihat Erina keluar dari kamar mandi.
"Sayang.." sapa pelan Gavin.
"Hm.." sapa Erina dengan mata yang masih menyipit,,.
"Kamu udah baikan sayang ?" Gavin menuntun Erina sampai di atas ranjang.
"Aku kenapa ? masih malam sayang,ayo tidur.." Erina berbaring memejamkan matanya dan kembali tidur.
__ADS_1
Gavin kebingungan melihat Erina,ia menatap jendela yang sudah terlihat cerah,menandakan matahari sudah naik. Tidak mau ambil pusing Gavin memperbaiki selimut Erina dan ikut berbaring dan kembali tidur, ia merasakan kantuk yang sangat berat karna bekerja lembur tadi malam..
Bersambung...