
Seminggu kemudian waktunya jadwal Erina untuk check up kehamilan,Gavin yang awalnya menemani setiap jadwal check up menjadi tidak bisa untuk kali ini.
"Sayang aku minta maaf sekali,klien aku yang ini baru saja datang dari luar negri,dan harus aku yang bertemu langsung dengannya,Daniel pun tidak bisa menggantikan aku.. Tidak apa kalau kamu ditemani oleh Lia saja."
Erina yang sedang menyisir rambutnya terdiam,lalu tersenyum tulus melihat suaminya.
"Nggak apa juga kok sayang,kan masih ada bulan selanjutnya.."
"Tapi aku ingin melihat langsung kelamin anak kita nanti."
"Nanti aku beritahu sayang,pokoknya besok kalau aku sudah tau,akan aku kabari langsung didepan dokternya."
"Benar ya,jangan sampai lupa "
"Iya sayang ku.. yasudah ayo kita tidur,besok kamu harus pergi lebih pagi kan "
Erina berjalan dan berbaring di bantalnya. sedangkan Gavin sudah merentangkan kedua tangannya.
"Sini sayang.."
"Nggak."
"Kenapa sayang ?"
"Panas kalau pelukan,"
"Yaudah kalau nggak mau,tapi setidaknya pakai selimut kamu,nanti sakit gimana."
Erina hanya diam tidak mendengar kan suaminya,ia malah langsung menutup matanya,seharian dia lelah jalan-jalan sama Karin ,Mila dan Dean untuk menemaninya kulineran.
Tubuh Erina semakin berisi,setiap hari bermacam makanan ia makan yang dibuat oleh koki khususnya,kemarin adalah hari ia libur makan masakan koki khusus,Gavin memperbolehkan Erina menikmati makanan luar untuk satu hari saja.
"Sayang.."
Erina hanya terdiam tidak merespon,Gavin mengintip ternyata Erina sudah tertidur.
"Secepat ini,sudah dilarang jangan jauh-jauh,lihat sekarang kamu kelelahan kan."
Ujar Gavin didepan Erina yang sedang tertidur, dengan hati-hati ia membenarkan posisi Erina dan menutup tubuhnya dengan selimut . Gavin pun ikut ambruk disamping istrinya.
Keesokan harinya Erina bangun tanpa Gavin disampingnya,Gavin tidak ingin membangunkan Erina takut mengganggu waktu tidur istrinya.
Erina pun bersiap-siap mandi karna jadwal check up nya tidak begitu siang.Sebelum itu ia juga sempat sarapan bersama si kembar dan juga Dean.
Setelah mereka pergi semua hanya Karin yang tinggal,namun ia ada terapi pagi ini bersama dengan Rey kerumah sakit,untuk memastikan kesembuhan kaki Karin.
"Kak aku pergi dulu,aku ingin sekali ikut kakak.." ucap Karin cemberut...
"Kakak bisa pergi bersama Lia sayang, kesembuhan kaki kamu uang penting,biar nanti bisa bantu kakak gendong si kembar hehe."
"Haaa aku nggak sabar," mengelus perut buncit Erina.
"Byee kak," Karin memeluk Erina dan pergi.
Melihat Karin pergi Erina langsung naik ke kamar nya untuk mengambil tas dan juga buku jadwal check up kehamilan.
Erina terkejut melihat banyak panggilan tak terjawab dari Mala. Erina pun langsung menghubungi kembali Mala.
"Halo Mala ada apa ?"
"Mbaa !! " Mala terisak panik.
"Ada apa Mala ?!" Erina pun sama paniknya.
"Toko.. toko kebakaran,banyak sekali asap,salah satu karyawan kita ada terkena ledakan apinya mba, pemadam belum datang." Mala terdengar sangat panik.
"Apa ?!!". Mendengar itu jantung Erina berasa terhenti, "Mala halo ?!"
__ADS_1
Telfon terputus,Erina dengan tubuh gemetar mengambil tas dan kunci mobilnya.. tidak menunggu lama Erina langsung melajukan Mobilnya menuju toko milik nya..
"Kok bisa.. toko ku.." ucap Erina bergetar,ia berusaha menenangkan pikirannya. ia bahkan tidak sadar membawa mobil dalam keadaan cepat.
Sesampainya ditoko Erina langsung keluar dan berlari ke arah Mala berdiri,ia melihat karyawan nya yang tergeletak pingsan,sebagian tangan karyawan itu terbakar membuat Erina semakin syok.
"Mala ini kenapa,mana pemadam kebakaran?!"
"Lagi dijalan Mba,jalanan macet karna hari kerja, gas kita bocor mba.. dan dia tidak sadar lalu menghidupkan api.. hiks maafkan Mala."
Api yang menyambar toko Erina hanya dilantai bawah,itupun baru belakang toko,sedangkan depan dan lantai atas belum tersentuh api.
Melihat itu Erina langsung berlari masuk kedalam Toko,Mala yang melihat itu mengejar Erina namun hampir tersambar Api.
"Mba !!!!" Mala semakin panik melihat Erina naik ke atas tangga.
Diruang rapat Gavin sedang membahas perancangan produk baru pada investor asing,sedangkan Daniel menemani Gavin untuk menulis laporan.
Ponsel Daniel berdering,terlihat nama Lia,lalu Danie keluar ruangan untuk mengangkatnya.
"Ada apa Lia ?"
"Nona Erina tuan !"
"Ada apa dengan Nona Erina.,"
"Dia membawa mobil dengan tergesa,saat saja cek
mobilnya mengarah ke tokonya,saya takut terjadi apa-apa, Nona Erina tidak mungkin pergi tanpa saya."
"Baiklah saya akan menghubungi Mala saja,."
Daniel memutuskan panggilan dan berusaha menghubungi Mala.
"Halo Mala,ada nona Erina disana ?"
Mala dengan panik menyuruh Daniel ke toko, terdengar suara ambulans dari sebrang telfon.
Daniel langsung membisikkan semuanya pada Gavin, dengan perasaan yang amat terkejut Gavin dengan cepat pamit untuk menyusul Erina ke toko.
"Percepat mobil nya !!" teriak Gavin,untuk pertama kalinya ia sangat takut,takut kehilangan Erina dan juga bayi kembar mereka.
Harusnya aku tidak membiarkan mu sendiri,harusnya aku membawa mu.
"Kenapa gas bisa meledak,kau selidiki dan berikan perawatan terbaik untuk karyawan yang terkena api."
"Baik tuan."
Sesampainya Gavin disana ia langsung turun dan mencari Erina,pemadam kebakaran serta polisi sudah berjaga disekitar toko,tampak api sudah padam setengahnya.
"Maaf tuan,anda dilarang masuk."
"Minggir kalian !! Istri ku didalam,"
Gavin menerobos gumpalan asap dan berusaha melewati pecahan kaca dan panasnya kobaran api dilantai bawah.
Daniel kehilangan sosok Gavin,ia terkejut saat polisi mengatakan kalau Gavin menyusul Erina ke dalam toko.
"Erin ..!!" Teriak Gavin saat menaiki tangga..
ia langsung saja mendobrak pintu kantor milik Erina, ia mendapati Erina tersudut memeluk dua bingkai foto sambil menangis.
Gavin langsung menghampiri Erina,ia bisa merasakan tubuh Erina bergetar hebat,lalu dengan cepat ia melepas jas nya dan menyelimuti tubuh Erina,dan menggendong Erina keluar toko, Untungnya saat keluar api sudah dipadamkan hanya sisa asap yang masih menghembus keluar.
Melihat Gavin menggendong Erina keluar,Daniel langsung menghampiri keduanya .
"Anda baik-baik saja tuan ?" Daniel melihat Erina yang sudah tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Siapkan mobil !"
"Baik."
Mobil langsung meluncur ke rumah sakit Pratama,, didalam mobil Daniel tidak berani bertanya karna melihat aura muka Gavin yang cemas bercampur marah.
Gavin mengambil bingkai foto yang dipeluk Erina tadi, terpampang seorang anak kecil cantik berambut lurus dan berbulu mata lentik tersenyum ceria memeluk ibunya dari belakang,dan juga foto keluarga Saat mendiang ibu Erina masih hidup.
Menurut mu inilah yang terpenting tapi untuk ku,tidak ada yang jauh lebih penting dari pada kamu,apa yang akan aku lakukan jika aku tidak menyelamatkan kamu tadi.
Dirumah sakit Erina tengah diperiksa oleh Rey dan juga dokter kandungan Erina,Setelah selesai para dokter itu pun keluar mereka mengatakan Erina hanya syok dan kekurangan oksigen,untungnya keadaan bayi kembar mereka sangat baik.
"Biar aku yang menjaga Erina,kalian semua bisa keluar.. katakan pada Karin dan Mila,semuanya baik-baik saja. tidak perlu menyusul kesini."
"Baiklah,aku keluar.. tenanglah semuanya akan baik-baik saja."
Rey menepuk bahu Gavin,sedangkan Gavin hanya mengangguk pelan.
Flashback
"Erina..!!"
Gavin berlari kearah istrinya,dengan badan gemetar Erina menangis menatap Gavin.
"Kamu nggak apa-apa ? ada yang terluka ?" Gavin panik melihat Erina menangis histeris.
"Mamaaaa,harusnya aku menolongnya.." teriak Erina.
"Apa maksudmu sayang,ayo kita keluar!" Gavin menarik tangan Erina.
Namun Erina menolak,ia makin menangis seakan menyalahkan dirinya tentang sesuatu.
"Mama ku terbakar,mama ku terbakar.!! aku melihatnya,dan aku hanya diam " Erina menangis pilu ditengah-tengah gumpalan asap.
"Kamu bicara apa Erina,kita bisa mati jika disini,ayo keluar !!"
"Tidak !!! pergi,aku pembawa sial ! pergi !!"
"Mama.. maafin Erin ma,maafin Erin.. harusnya Erin yang mati.." ucap Erin gemetar.
Deru nafas Erina terdengar sesak karna sudah kehabisan oksigen,melihat itu Gavin langsung menggendong tubuh istrinya,ia memakai jas untuk melindungi muka Erina dari gumpalan asap kebakaran dilantai bawah.
Comeback On
Gavin menatap pilu pada Erina,ia mengerti maksud yang dikatakan Erina saat ditoko tadi. Gavin sudah tau dari awal kalau Erina tidak menahu tantang bagaimana sebenarnya cara ibunya meninggal.
"Daniel kau dimana?!"
"Saya di IGD mengurus karyawan nona Erina."
"Kemari sekarang."
"Baiklah,tunggu Sebentar ."
Daniel pun langsung menuju ruangan VVIP dimana Erina dirawat.
"Kau pernah mencari tau kalau Erina mengalami amnesia setelah kejadian kecelakaan mendiang ibunya kan."
"iya tuan.."
"Aku rasa saat kebakaran tadi,Erina mengingat tentang bagaimana sebenarnya kejadian kecelakaan mendiang ibunya "
"Maksud tuan, nona sudah mengingat semua detail kejadian tersebut ?"
"Iya.,kau tau dia menolak keluar karna menyalahkan dirinya,aku takut kembalinya ingatan Erina membuat dia frustasi."
Gavin mengusap kasar mukanya,Rey mengatakan bahwa bayi kembar mereka putra dan putri,Gavin sangat bahagia,namun ia masih takut jika Erina menjadi tertekan karna masalah ini.
__ADS_1
Gavin menatap istrinya sendu,ia memikirkan kondisi psikis Erina saat sadar nanti.
Bersambung....