Gadis Terbuang Milik Presdir

Gadis Terbuang Milik Presdir
Dari Balik Pohon


__ADS_3

"Kenapa ? kau ragu ?"


"Tidak,aku belum siap ketemu Bram. Ayo kita kembali." Sinta meremas bajunya.


Tampak dari luar Bramantyo berjalan menuju mobilnya didampingi oleh Rasty.. kemudian disusul Randy yang berjalan dibelakang.


"Aku dengar dia sempat sakit,tapi kelihatannya sudah sehat dan bugar.. dan Randy terlihat tampan sekali, walaupun aku ayahnya,tapi dia memiliki gaya Bram."


"Kau senang anak mu berada di tangan Bram?"


"Kenapa tidak ? aku senang Randy mendapat ayah seperti Bram,seumur hidup pun aku rela dia tidak mengetahui keberadaan ku,asal dia hidup sebahagia ini." Bima menatap lekat putra kandungnya.


"Kau gila,memberikan anak mu pada musuh mu sendiri."


"Siapa musuh ku ? aku tidak menganggap Bram adalah musuh ku Sinta.. dia adalah musuh mu, dan aku membantu mu karna aku mencintaimu."


"Oh sebab itu kau temui gadis sialan itu ?"


"Sinta,lepaskan dendam mu pada orang yang kau tuju,jangan libatkan orang lain lagi. Bagaimanapun dia itu anak indah, sahabat kita. kau tidak ingat ?"


"Cih,melihatnya seperti melihat indah,aku membencinya."


Bima menghembuskan nafas berat,ia tidak tau lagi bagaimana cara menyadarkan Sinta yang sudah terlalu jauh bertindak.


"Ayo kita kembali,belum saatnya kita muncul."


Bima melajukan mobilnya ketempat mereka tinggal sementara menjelang pernikahan Rasty bulan depan. Sebelum mobil berjalan Sinta menatap Rasty yang sedang tertawa,jauh didalam lubuk hatinya tersimpan perasaan sedih dan menyesal.


Rasty.. mama rindu. Kedepannya jangan maafkan mama nak,apapun yang terjadi jangan.


*


*


Dikamar utama Erina membuka matanya,dia merasakan nyeri disudut bibir dan juga pipi nya.. Seketika ia teringat kejadian kemarin sore yang ia alami,hatinya kembali sakit,dadanya kembali sesak dan air mata pun tak dapat lagi terbendung..


"Mama.. hiks.."


Erina ingat bagaimana mama nya bertengkar dengan mama tirinya dulu,selepas itu mereka mengalami kecelakaan yang selalu diingat oleh Erina seumur hidupnya.


Erina melirik Gavin yang tidur nyenyak disampingnya, dengan hati-hati Erina menggeser tubuhnya dan berjalan kearah kamar mandi. Erina menatap wajahnya dicermin, tamparan yang diberikan mama tirinya tidak sesakit perbuatan yang dilakukan mama tirinya pada keluarga Erina.


"Hiks.. apa cinta bisa membuat orang jadi sejahat itu, tidak ! itu bukan cinta,tapi obsesi.. tapi dari banyak cara kenapa harus membunuh,dan kenapa harus mama dan aku..". Erina menangis terduduk di toilet.


Setelah menghapus air matanya,Erina mencuci muka dan berjalan ke arah pintu,namun pintu terkunci. Erina berusaha membuka tapi tidak bisa dan mencari kunci disekitar pintu,ia mengira jika kuncinya jatuh di bawah karpet.


"Cari ini ?" tiba-tiba Gavin sudah terduduk di ranjang dengan memegang kunci.


"I..iya. kenapa kamu pegang ?"


"Mau kemana ?" tanya Gavin menatap intens istrinya.


"Keluar.." Kok aku ngerasa nggak enak ya.

__ADS_1


"Sini ." ucap Gavin datar.


Erina hanya diam mematung,ia ragu untuk berjalan menuju ranjang dimana sang suami tengah menatapnya.


"Kenapa masih disana ? kamu yang kesini atau aku yang kesana ?" ucap Gavin menaikkan suara nya.


Dengan langkah yang pelan Erina berjalan menuju ranjang,ia berdiri disamping Gavin. Dengan sekali tarik Erina sudah terduduk di hadapan Gavin.


Dengan hati-hati Gavin menyentuh pipi Erina,ia mengelusnya selembut mungkin..


"Masih sakit ?"


"Nggak kok."


"Jangan bohong !" Gavin menatap tajam.


"I..iya maksudnya masih sakit tapi tidak begitu sakit sayang."


Gavin langsung memeluk tubuh istrinya,ia tidak tahan melihat pipi istrinya yang memerah,, ditambah Erina sedang hamil membuat Gavin semakin terluka melihat kondisi Erina.


"Kita kerumah sakit ya.."


"Nggak mau.."


"Sayang.."


"Aku baik-baik aja.."


"Erin sayang... " Gavin memeluk lembut Erina..


Gavin tersenyum penuh kemenangan,ia menciumi bahu dan tangan Erina..


"Ayo mandi berdua,habis itu makan dan langsung kerumah sakit "


"Baiklah.."


Erina menuruti apa yang dikatakan Gavin,mereka berdua mandi bersama setelah itu memakai baju yang santai lalu turun ke bawah..


Setelah sarapan eh makan siang,Gavin dan Erina menuju rumah sakit menggunakan mobil milik Erina. Diperjalanan Erina hanya diam,ia hanya menatap jalanan yang ramai dengan lalu lalang orang-orang dengan tujuan berbeda.


Gavin yang melihat tingkah aneh Erina hanya bisa diam, ia tidak ingin terburu-buru menanyakan hal yang bisa membuat Erina sedih apa lagi sampai mengamuk.


"Toko kamu sudah selesai direnovasi sayang, kapan rencana mau buka lagi ?"


"Secepatnya sayang,aku sudah suruh Mala untuk atur, dialah yang sekarang memegang kendali toko,aku hanya mengawasi.."


"Tidak masalah,lagian kandungan kamu semakin membesar sayang,akan susah jika terlalu banyak aktivitas."


"Iya sayang.. nggak nyangka usia si kembar sudah masuk enam bulan aja.. saat pesta Rasty mereka genap tujuh bulan.." Erina mengelus perut nya.


"Apa kamu mau buat acara sayang ?"


"Mau dong.."

__ADS_1


"Kalau gitu aku akan suruh Daniel membuatkan acara yang mewah untuk tujuh bulanan si kembar."


"Eh bukan acara yang seperti itu.."


"Jadi ? mau kamu yang seperti apa ?"


"Ya aku cuma mau kita merayakannya dengan datang ke panti asuhan,dan membuat syukuran buat anak-anak disana,meminta doa mereka untuk kelancaran kelahiran si kembar nanti."


"Kenapa harus kita yang kesana ? undang aja mereka kerumah."


"Jangan sayang,kita niat kesana untuk meminta doa dari mereka,harusnya kita yang kesana.. kalau mereka yang ke sini terkesan seperti mereka yang meminta pada kita.."


"Baiklah kalau seperti itu yang istri ku minta,dengan senang hati suami mu ini melakukan nya."


Erina tersenyum senang.. "Terimakasih suamiku."


Setidaknya aku membuat dia tersenyum dulu,membuat hatinya membaik,baru bisa berbicara serius.


Erina dan Gavin sedang memeriksakan kandungan Erina,dan juga mengobati lebam di wajah Erina.. selesai dari sana mereka kembali ke mobil untuk pulang ke Mansion.


"Dengarkan yang dikatakan dokter,banyak istirahat sayang.."


"Iya sayang ku,, " Erina menatap taman yang biasa dulu ia kunjungi.


"Sayang aku mau ke taman.."


"Siang-siang ? panas sayang,kita pulang aja ya.."


"Sebentar kok,," Erina menatap suaminya dengan harap.


Melihat muka iba Erina akhirnya Gavin mengalah dan membelokkan mobilnya menuju taman yang ditunjuk Erina.


Tanpa kata-kata Erina turun dari mobil dan berjalan menjauh dari mobil menuju salah satu kursi taman. Mau tidak mau Gavin mengikuti Erina takut jika istrinya kenapa-kenapa.


Erina menatap kursi taman yang ia duduki,seketika teringat dulu ia selalu duduk disini sepulang sekolah berdua dengan teman dekatnya,yaitu Andre.


Andai dia tidak berulah dan tetap menjadi teman ku, pasti sampai saat ini kami masih berteman.


Erina menatap suaminya yang duduk disampingnya,ia menggenggam tangan suaminya dengan Erat.


"Ini adalah tempat dimana aku menghabiskan waktu sepulang sekolah.."


"Benarkah ? ngapain aja disini ?"


"Hm.. duduk aja,sambil nostalgia kenangan bersama mama dulu,disana.." Erina menunjuk bangku yang dekat dengan ayunan.


"Tempat dimana aku main ayunan dengan mama, waktu dimana hidupku rasanya bahagia sekali, sayangnya kebahagiaan itu tidak bertahan lama." Air mata Erina jatuh membasahi tangan Gavin..


Gavin memeluk tubuh Erina.. " Jangan menangis sayang, sekarang ada aku disini.. kelak si kembar lahir kita akan bawa mereka kesini..aku ingin mereka merasakan kebahagiaan yang sama dengan mu.."


Erina merasa bahagia dengan perkataan Gavin, pikirannya kini tertuju dimasa depan,membayangkan putra dan putrinya bermain persis seperti waktu Erina kecil dulu. Erina menenggelamkan kepalanya di pelukan Gavin,ia merasa bahagia sekarang..


Disudut taman,berdiri seorang wanita paruh baya memakai selendang.. ia menatap Erina dan Gavin dari balik pohon.. dengan mata yang memerah ia menatap lekat Erina.

__ADS_1


Kamu tumbuh dengan baik Erina..


Bersambung...


__ADS_2