
Selesai makan malam Erina membantu Luna untuk mencuci piring,sedangkan Gavin dan Sebastian mengobrol diruang tengah bersama dengan si kecil Chilla.
"Erin .. " ucap Luna.
"iya kak.?" tanya Erina yang sedang membasuh piring.
"Aku mendengar cerita tentang mu dari suamiku,aku yakin kamu orang baik Erin,tapi mungkin ini akan sangat berat karna menyangkut keluarga LUZIO.Ayah dan ibu ku pasti sangat sedih mendengar keadaan Karin,tapi kami semua disini tetap ingin merahasiakan nya dari mereka." ujar Luna.
"Apa kakak tidak percaya padaku,aku tau kak.. ini semua salah ku." ucap Erina sedih.
"Bukan itu Erin,aku percaya kamu,sangat percaya. tapi Ayah dan ibu ku pasti tidak akan percaya, Bagaimana perasaan nya jika anak yang dititipkan padanya berada antara hidup dan mati.Dia pasti akan sangat menyalahkan dirinya karna tidak bisa menjaga amanat kakak satu-satunya." ujar Luna panjang lebar.
"Aku harus bagaimana kak.?aku bahkan tidak tau bagaimana cara ku menjelaskan kepada Mila. Sungguh aku korban,mereka keluarga yang ku miliki saat ini, keluarga yang selalu aku impikan semenjak kepergian ibu ku,Mana mungkin aku menghancurkannya.." Ujar Erina menangis.
Luna memeluk Erina,ia mungkin tidak tau bagaimana beratnya posisi Erina saat ini,namun Luna dapat merasakan kesedihan Erina.
Diruang tengah Sebastian mengobrol dengan Gavin, sedangkan Daniel bermain dengan sikecil Chilla.
"Sepertinya hubungan mu dengan istri mu sudah membaik." ujar Sebastian.
"Ya seperti yang kau lihat,tapi aku belum bisa sepenuhnya..Disisi lain aku marah padanya untuk apa yang terjadi pada Karin,dan disisi lainya lagi aku sangat mencintai nya." ujar Gavin.
Sebastian menepuk-nepuk bahu Gavin,ia tau ini sulit untuk Gavin,bahkan sangat sulit.. melihat mereka berdua sama-sama Berharga dihidup Gavin.
"Aku yakin semua ini pasti akan berakhir,tidak perlu kau menyusahkan dirimu untuk mencari tau,orang itu akan keluar sendiri pada waktunya. Hal yang terpenting sekarang adalah penyembuhan Karin,bila perlu kirim dia keluar negri untuk mendapatkan perawatan yang lebih bagus lagi." ujar Sebastian.
"Kau benar.. saat ini Karin yang harus ku utamakan." ujar Gavin.
"Dan juga.. yakinkan Mila,dia mungkin salah paham dengan Erina.. Kau tau sendiri adik mu,Mila memang tidak secuek Karin,tapi pantang untuk dihancurkan kepercayaan nya,ia sangat mirip dengan ibu mu." ujar Sebastian.
Gavin tersenyum mendengar ucapan Sebastian tentang ibunya.adik kembarnya bagaikan Ayah dan ibu bagi Gavin. Mila persis seperti sang ibu, sedangkan Karin persis seperti sang Ayah.Mereka adalah harga berharga untuk Gavin.
Setelah berpamitan untuk berangkat ke bandara, Erina dan Gavin duduk berdampingan dikursi jet miliknya. sedangkan Daniel sudah tidur terkapar karna kelelahan bermain dengan si kecil Chilla.
Gavin dan Erina duduk saling berpelukan,namun pikiran keduanya saling berjauhan. Gavin memikirkan rencana yang diusulkan Sebastian untuk membawa Karin perawatan diluar Negri,itu akan sangat bagus untuk kesembuhan nya.
Sedangkan Erina memikirkan perkataan Luna yang membuatnya memiliki kekuatan.
"Erin,ini hidup mu.. kamu yang tau betul apa yang terbaik untuk hidupmu,Jangan pernah berkecil hati atas ujian yang Tuhan diberikan. Kamu jangan menjadi wanita yang lemah,jangan biarkan siapapun menindas mu apa lagi mengambil kebahagiaan yang menjadi milik mu,Jika kamu merasa tidak bersalah,buktikan.!. Jangan biarkan siapapun menyakiti mu,kamu harus kuat Erin atau kamu akan kehilangan semuanya."
Erina memandang keluar jendela.. "Kak Luna benar, kalau aku terus bersedih dan menyalahkan diriku, akan semakin mudah orang lain menghancurkan hidupku. Akan aku hadapi, semangat lah Erina,kuatkan hati mu. akan ada ombak yang menghantam mu,kuatlah seperti karang dilautan.
Erina berbalik memeluk suaminya, membenamkan kepalanya didada bidang Gavin.
"Sudah mengantuk.." ucap Gavin membelai lembut kepala Erina.
Erina hanya mengangguk kan kepalanya, Gavin yang mengerti langsung memeluk Erat tubuh mungil istrinya. "Tidurlah sayang,akan ku bangunkan kalau sudah sampai." ujar Gavin.
Dini hari mereka baru mendapat di bandara, Daniel sudah menelpon anak buahnya untuk menjemput Mereka.
"Tuan,mobil sudah siap." ujar Daniel.
"Baiklah," Gavin menyenderkan tubuh Erina yang masih tertidur dikursi,sedangkan ia merenggangkan otot-otot nya.
"Tuan tidak membangunkan nona Erin.?"
__ADS_1
"Tidak perlu,biarkan dia tidur. Kau ngapain masih disini.? "
"tuan yang akan menggendong nona Erin."
"Ya iyalah aku,memangnya kau.?" ucap Gavin melotot.
"Haha tidak tuan,saya hanya bertanya.. silahkan." ujar Daniel tegang.
Aku hanya bertanya tuan,ya ampun.
Mobil Gavin sudah tiba dihalaman Mansion,Pak Yan yang tau bahwa Gavin pulang malam ini sudah menunggu tuannya. Saat Gavin keluar dari mobil dengan menggendong Erina,pak yan menjadi lega. Ia bahagia nona mudanya telah kembali. Pak yan yakin semua masalah yang terjadi bukanlah salah nona mudanya.
"Kamar telah saya siapkan tuan," ucap Pak yan yang membantu membawakan barang-barang Gavin.
"Terimakasih pak,nanti ke kamar ku sebentar."
"Baik tuan."
Pak yan menunjukkan kamar yang sudah ia siapkan untuk Daniel,kamar yang memang untuknya jika menginap diMansion.Setelah itu ia pergi ke kamar Gavin membawa barang-barang Gavin.
"Obat yang ku suruh waktu itu,apa sudah diperiksa Rey." ucap Gavin.
"Sudah tuan,saya letak di meja tidur tuan."
"Bagaimana dengan Mila selama aku tidak ada."
"Nona Mila baik tuan,seperti biasa selepas kuliah dia menemani nona Karin dikamar,sesekali nona Salsa main kesini.. mereka lebih sering berdua tuan."
"Biarkan saja mereka, terimakasih pak yan."
Gavin menukar baju Erina dengan baju tidur,setelah ia memastikan Erina tidur dengan nyaman,Gavin pergi membersihkan dirinya,setelah mandi dia membaca hasil obat yang tempo lalu ia temukan di meja Erina.
Tangan Gavin bergetar,rahangnya mengeras. ia menggenggam surat itu sekuat tenaganya.
"Sekuat itukah cinta mu untuknya,kenapa semua mengarah pada mu," Gavin menyimpan surat itu dan berbaring disamping tubuh istrinya.
Gavin memandang wajah istrinya,marah,sedih,kecewa dan juga cinta bercampur jadi satu. ia akan menanyakan langsung besok pagi kepada Erina,ia harap Erina jujur padanya.
Keesokan paginya Erina terbangun,ia merenggangkan badannya berusaha mengumpulkan nyawanya untuk bangkit.
Hahh.. aku sudah dikamar ku,kenapa tidak membangunkan ku.
"Astaga.! sayang,kamu udah bangun," ucap Erina berusaha menjernihkan penglihatan nya.
"Cuci muka mu,ada yang ingin ku bicarakan." ujar Gavin datar.
"Ah baiklah,tunggu ya." Erina berjalan ke kamar mandi dan membasuh wajahnya.
Saat Erina keluar kamar mandi,Gavin sudah duduk disofa ,Kenapa perasaan ku tidak enak.
Tiba-tiba saja Gavin melemparkan botol obat yang diberikan salsa waktu itu. "Bisa kau jelaskan.?" ujar Gavin sedikit menaikkan intonasi nya.
"ah itu obat penyubur kandungan sayang,,Sal."
"BOHONG.!!" maki Gavin.
__ADS_1
Erina terkejut ketakutan saat Gavin meneriakinya.ia langsung mundur selangkah.
"Sayang.. kamu kenapa.." ucap Erina berkaca-kaca.
"Tak usah menangis.! jelaskan pada ku sejak kapan kau meminum obat kontrasepsi .!!"
"Hahh..??" Erina bingung.
"Oh aku tau,kau tidak ingin memiliki anak dengan ku kan,mangkanya kau meminum ini agar bisa kabur dengan cinta pertama mu kan.!!" teriak Gavin.
"Tidak sayang,tidak.!! apa yang kamu bicarakan, obat kontrasepsi apa,aku tidak meminum itu,sumpah sayang."
"Sumpah.? mudah sekali dirimu bilang sumpah pada ku. Ini apa.?!!" Gavin melemparkan kertas hasil lab pada Erina.
Erina memungut dan membacanya,alangkah terkejutnya ia melihat hasil yang mengatakan obat yang ia minum selama ini adalah obat kontrasepsi.
Pantas datang bulan ku tidak lancar,Salsa.. apa yang kamu lakukan.
"Sayang dengerin aku,ini bukan punya ku, maksud ku ini pemberian dari Salsa,ia bilang ini pil penyubur kandungan." Ucap Erina.
"Sekarang kau mau menyeret orang lain atas kesalahan mu.!"
"Tidak sayang,sumpah aku tidak tau jika itu pil kontrasepsi,," ujar Erina berlutut.
"Aku sering memberitahu mu jika memeriksa semua yang masuk ke tubuh mu,mau itu makanan atau apapun,kenapa tidak kau perisa dulu. Kau jangan bohong Erina."
"Sumpah aku tidak tau sayang,aku percaya pada Salsa.. sumpah aku tidak tau apapun." Erina memeluk kaki Gavin,ia menangis memohon Gavin agar percaya padanya.
Ceklekkk..
"Kak..!!" Teriak Mila. ia tak sengaja melihat Erina yang sedang bersimpuh memegang kaki Gavin sambil menangis.
"Ada apa."
"Kak Karin..!! Denyut jantung kak Karin melemah." ujar Mila dengan sangat cemas.
Gavin langsung saja menarik kakinya dari genggaman Erina,Erina yang mendengar itu pun terdiam,Gavin keluar dari kamar menuju kamar Karin.
Mila menatap Erin dengan tatapan benci. ia mengira Erina sedang diintrogasi karna kecelakaan Karin.
"Mila.." Ucap Erina .
"Jangan memanggil nama ku lagi." ucap Mila dan beranjak menyusul Gavin.
"Mila..!! " teriak Erina,namun Mila sama sekali tidak menghiraukan nya.
Erina menangis sejadi-jadinya dalam posisi bersimpuh,ia benar-benar hancur,seketika semuanya berubah..kini Mansion ini tak lagi sama.
**Bersambung...
...Jangan lupa LIKE, VOTE,dan KOMEN dari kalian yang selalu Author tunggu.....
...Terimakasih telah Membaca,Klik FAVORIT untuk mendapatkan Notifikasi selanjutnya....
...Love U Tomat ❤️❤️❤️**...
__ADS_1