Gadis Terbuang Milik Presdir

Gadis Terbuang Milik Presdir
Insiden dan Lamaran


__ADS_3

Erina langsung terduduk sangking terkejutnya,ia segera berlari ke arah suara dan syok melihat suaminya terduduk memeganginya tangannya yang penuh darah.


"Sayang..!" panik Erina.


"Jangan kesini.! banyak kaca . aku tidak apa-apa. panggil saja pak yan,bawakan aku obat dan perban."


"Baiklah ,tunggu sebentar."


Erina dengan cepat menelfon pak yan yang sedang memasak,pak yan yang mendengar itu langsung panik membawa beberapa pelayan untuk membawakan semua peralatan yang dibutuhkan.


Erina dengan cemas berdiri di pintu toilet melihat suaminya berdiri,tangannya sangat dingin.


"Hati-hati sayang,ayo kesini."


Saat Gavin sudah berjalan diambang pintu Erina langsung menarik tangan Gavin untuk duduk disofa. Dengan gemetar Erina menyentuh tangan suaminya.


Gavin yang melihat itu langsung menggenggam tangan Erina dengan sebelah tangannya.


"Jangan takut sayang,aku baik-baik saja,oke."


"Baik bagaimana,darah kamu banyak sekali keluarnya." ucap Erina bergetar.


Pak yan datang dan mengelap tangan Gavin,namun bukannya menghilang,Darah Gavin tidak berhenti keluar sama sekali.


"Tuan seperti nya harus menelpon dokter Rey."


"Cepat telpon dia,untuk sementara bisa aku tahan pakai kain ini,."


"Baik tuan, dokter Rey akan segera kemari,dia sedang menyiapkan alatnya."


"Pak bawakan sarapan dan juga air untuk mengelap tangan Gavin."


"Baik nona."


Erina dengan Erat menggenggam tangan suaminya, Gavin yang melihat itu menjadi terharu,namun ia sedikit khawatir melihat kecemasan dari mata istrinya.


"Sayang.. aku.. aku takut.," ucap Erina bergetar. air matanya terjatuh dipipinya.


Gavin langsung menutup kepala Erina dengan handuk kecil ,lalu memeluk tubuh Erina dengan sebelah tangannya.


"Jangan dilihat,percaya padaku semuanya akan baik-baik saja sayang,ini hanya luka ringan."


"Tidak masalah,asal kamu masih terjaga aku bisa melihatnya."


"Memangnya aku kenapa,ini hanya terkena pecahan kaca sayang."


"Hanya ? ini pasti sangat sakit." cemas Erina.


"Tidak sayang."


"Bohong."


Gavin tergelak melihat ekspresi Erina,ia menjatuhkan kepalanya dibahu Erina,melihat itu Erina pun langsung memeluk suaminya.


"Padahal hari ini kita mau kencan."


"Tangan mu sudah seperti itu masih memikirkan kencan."


"Aku ingin berdua dengan mu."


"Jadi ini apa ? Setiap hari kita selalu berdua,hampir setiap malam kamu meminta jatah mu."


"Hehe kalau itu wajib sayang,kan harus mengunjungi si kembar."


"Alasan."


"Nanti malam kan acara lamarannya,kamu istirahat aja seharian."


"Terus kamu?"


"Aku pergi jalan-jalan sama Karin Dean dan juga Mila."


"Eh kok gitu ?! ga bisa gitu dong."


Erina tertawa, "Bercanda sayang.."


"Pokoknya kamu temani aku seharian dikamar."


"Iya suami ku,"


Mendengar itu Gavin membenamkan kepalanya di pelukan Erina,selang waktu Rey datang membawa semua peralatan medis.

__ADS_1


Kini posisi Erina tertukar,ia yang awalnya memeluk Gavin malah sekarang dipeluk oleh suaminya,karna ia tidak sadar tertidur.


"Lama sekali kau datang " ucap Gavin tegas namun pelan.


"Hehehe aku terjebak macet bro,"


"pelankan suara mu,nanti Erina bangun,cepat obati tangan ku."


"Mau ku bantu membawa nona Erina ke tempat tidur?"


"Kau ? Mau menggendong Erin ku ? Cari mati kau ya!"


Rey tergelak melihat muka Gavin,ia langsung memberi cairan antiseptik untuk luka Gavin,setelah darahnya berhenti Rey langsung menjahit tangan Gavin ditempat.


"Sudah siap,jangan sampai basah ya,aku akan turun ke bawah bilang pada pak yan untuk rutin mengganti perban mu."


"Baiklah, terimakasih. Kau sekalian aja sarapan dibawah."


"Itu pasti hehe."


Rey keluar dari kamar utama.ia langsung turun kebawah dan menuju dapur dimana tempat pak yan masih bekerja .


Sedangkan Gavin menggendong tubuh Erina ke tempat tidur dan menyelimuti tubuh Erina. ia juga ikutan berbaring disamping istrinya.


Gavin memperhatikan raut wajah Erina,ia tersenyum melihat pipi Erina yang agak cabi,itu membuatnya semakin menggemaskan Dimata Gavin.


Gavin mencium pipi Erina,ia menciumi pipi istrinya berkali-kali,dan turun ke tempat favoritnya. Merasa ada yang menggerayangi tubuhnya Erina pun terbangun.


"Sayang ?"


"Eh udah bangun."


"Kamu ngapain buka baju aku ,pintu tidak terkunci. Kalau pak yan masuk bagaimana."


Erina ingin bangkit namun ditahan oleh Gavin ,ia malah semakin bermain didada Erina. Erina hanya pasrah melihat kelakuan suaminya,ia juga melihat tangan Gavin yang sudah diperban. hatinya lega melihat suaminya baik-baik saja.


"Sayang aku jadi ingin, Boleh ?" tanya Gavin yang mukanya sudah memerah menahan hasrat.


Melihat itu Erina pun mengiyakan permintaan suaminya. Gavin dengan cepat menanggalkan seluruh pakaian mereka berdua dan melakukan hal panas ditubuh Erina.


"Kamu cukup berbaring dan menikmati." kecup Gavin ditelinga Erina.


Saat Gavin puas membuat Erina jatuh ke lubang kenikmatan,ia pun langsung melakukan penyatuan ditubuh istrinya. Erina yang merasakan sensasi kenikmatan tidak berhentinya mendesah dengan apa yang dilakukan suaminya.Gavin melakukannya selembut mungkin.


Dibawah Karin terkejut melihat Rey sedang duduk dimeja dapur dengan pak yan.ia langsung turun dan bergabung.


"Pagi tuan putri ku."


"Pagi juga sayang " ucap Karin dengan santai.


Namun tidak dengan Rey yang bergetar mendengarnya.ia sangat senang mendengar ucapan Karin padanya. Pak yan yang melihat itu hanya tersenyum,ia ikut bahagia dengan kebahagiaan penghuni rumah ini.


"Kamu mau kemana ?"


Merapikan hantaran,tadi malam kami tinggal gitu aja."


"Sudah dibersihkan oleh pelayan nona.semuanya sudah lengkap tinggal dibawa aja nanti malam."


"Ah baiklah pak,makasih. Aku keatas dulu ya mau mandi,Nanti jangan lupa sore kesini ya kak.. acaranya Malam."


"Okeh,mandi sana.. aku juga mau kembali ke rumah sakit."


Karin melambaikan tangan pada Rey,begitu juga Rey yang membalas lambaian tangan Karin.


Menjelang malam mereka semua sudah bersiap untuk berangkat kerumah Rasty,kecuali Erina dan Gavin karna mereka pergi lebih dahulu.


Daniel,Rey,Mila dan juga Dean sudah bersiap,tinggal mengunggu kode dari Erina agar berangkat kesana.


"Dean,kamu gugup ?"


"Eh Mil,ya iyalah gugup hehe."


"Kan sudah pasti diterima sama kak Erin,"


"Iya tapi kan papa dan kakak laki-laki nya belum tau."


"Kau tenang aja, direstui kok. Papa kak Erin sama Randy itu orang yang baik."


"Syukurlah kalau memang begitu."


"Semuanya.. kak Erin bilang kita udah bisa otw,yuk." ujar Karin yang sedang membawa hantaran.

__ADS_1


Mereka semua menaiki mobil karin,Rey yang menyetir sedangkan Daniel dan Mila duduk dibelakang.


Saat sampai disana mereka disambut oleh beberapa pelayan,ada juga fotografer yang memotret momen saat Dean masuk kedalam rumah.


Terdapat dekorasi yang simple namun sangat mewah, Erina menyiapkan semuanya untuk Rasty adiknya, Hantaran sudah disusun ditengah-tengah kedua belah pihak,sebagai perwakilan Daniel lah yang meminta izin untuk melamar Rasty.


Bramantyo yang melihat Dean langsung tertarik,ternyata pria yang menerima Rasty apa adanya adalah lelaki yang sangat tampan dan baik hati.


"Bagaimana menurut mu." tanya nya pada Randy.


"Mendengar dari cerita kak Erina,aku yakin dia lelaki yang baik,aku ngikut papa aja."


Bramantyo menyatakan bahwa dia menerima lamaran Dean.Dia juga meminta Dean agar mencintai dan menyayangi Rasty sepenuh hatinya,jika Dean bisa berjanji akan hal itu, Bramantyo akan memberikan Rasty pada Dean.


"Saya berjanji paman,saya akan selalu menyayangi Rasty,mencintai Rasty setiap harinya.. menjaga dan membimbing nya setiap saat. Jika berkenan saya ingin menikahi Rasty akhir bulan ini."


Semua orang terkejut, Yang mereka tau Rasty mengatakan ingin menikah bulan depan,sedangkan Dean memajukan tanggal pernikahan nya.


"Rasty bagaimana dengan mu ?" Tanya Erin.


"Aku setuju aja kak.. jika memang itu yang kak Dean mau." senyum cerah Rasty menatap Dean.


Erina bahagia mendengar nya.


"Baiklah karna akhir bulan sisa dua Minggu lagi, harus dari sekarang menyiapkan semuanya. Kakak sudah menyewa wedding organizer terbaik di kota ini. Mereka akan mengatur segalanya."


Saat ini adalah sesi pemasangan cincin. Karin membawa sebuah cincin berlian yang ia beli kemarin, Dean sudah berdiri berhadapan dengan Rasty. Dengan perasaan yang gugup ia mengambil cincin itu dan menyematkannya dijari manis Rasty.


Fotografer mengambil momen romantis tersebut, Semua orang pun bertepuk tangan melihat Dean memasangkan cincin pada Rasty.


"Bersediakah menikah dengan ku."


"Aku bersedia kak.." senyum Rasty.


Cantik sekali,, Wanita yang selama ini membuat aku penasaran,akhirnya bisa memilikinya.


Acara berlangsung meriah,semua orang makan bersama diatas meja,itulah akhir dari acara lamaran. Bramantyo tak hentinya mengelus perut Erina,ia sangat bahagia saat ini.


Melihat Rasty yang akan menikah dengan Dean dan juga melihat Erina yang memiliki suami seperti Gavin yang sangat perhatian. Bramantyo melihat seperti apa putri sulungnya disayang oleh suaminya.


"Aku bisa sendiri sayang."


"Bisa diem nggak,biar aku yang suapin,tangan kamu itu masih sakit, sudahlah menurut saja " tegas Erina.


Akhirnya Gavin menerima suapan dari Erina,dengan telaten Erina menyuapi suaminya,Karin Mila dan juga Rey tampak menahan tawa melihat Presdir besar makan disuapin oleh istri.


Dean makan disebelah Rasty,mereka tampak serasi, Mila melihat itu terasa sedih dihatinya namun ia tepis jauh-jauh.


Sadar Mila,lihatlah mereka serasi.. mungkin dia memang bukan jodoh mu.


Makan malam berjalan lancar,Dean dan yang lain pamit untuk pulang sedangkan Erina dan Gavin menginap dirumah Bramantyo.


Bramantyo mengantar Erina naik menuju kamar tamu, diikuti oleh Gavin.


"Kamu istirahat ya sayang,cucu papa mungkin sudah lelah."


"Iya pa,papa juga ya.. jangan lupa minum obatnya."


Bramantyo berjalan menepuk bahu Gavin,dibalas senyuman oleh Gavin. Mereka pun masuk kedalam kamar, pakaian mereka sudah tersusun dilemari.


Gavin dan Erina mandi bersama karna membantu Gavin agar perbannya tidak basah,setelah mandi Erina mengeringkan rambut suami nya dengan handuk.


"Sayang,kenapa tidak ada foto kamu dikamar ini."


"Ah ini bukan kamar ku sayang."


"Terus kamar kamu dimana ?"


Erina berhenti, "Kamar ku dilantai bawah,di dekat dapur samping gudang."


"Apa ?" Gavin terduduk.


"Eh nggak apa sayang,itu kan masalalu,nggak penting juga, sekarang papa kan udah berubah."


Gavin memeluk tubuh Erina,ada yang menyayat hatinya.


"Se menderita apa kamu disini."


"Itu dulu sayang,"


Gavin mempererat pelukannya.

__ADS_1


Andai aku bertemu dengan mu lebih cepat..


Bersambung....


__ADS_2