
Saat menjelang makan malam Erina sedang menunggu Gavin bersiap-siap,sedangkan ia asik menonton tv. Saat Gavin keluar ia melihat istrinya duduk menatap layar tv,ia pun ikut duduk sambil membaringkan kepalanya ke pangkuan istrinya.
Erina yang melihat itu langsung mengelus kepala suaminya.
"Sayang.."
"Hm.."
"Tadi waktu aku tertidur dikantor kamu,aku bermimpi."
"Mimpi apa."
Gavin mengambil tangan Erina dan menciuminya.
"Aku mimpi kamu memanggil aku manis sekali kedengarannya."
"Memangnya seperti apa ?"
"Erin sayang.. Erin sayang.. gitu.. hanya itu yang aku dengar ."
Mendengar itu Gavin tergelak,ia malah mengigit kecil tangan istrinya.
"Kamu salah dengar mungkin."
"Kurang tau juga sih,namanya mimpi.. "
"kaya gini bukan, Erin sayang.. Erin sayang.." Gavin meniru suara dikantor tadi sore.
"Ha iya begitu sayang,eh.. kok tau.. " Erina mencubit pipi Gavin.
"Aww sakit,ampun yang mulia ratu."
"Pura-pura tidak tau padahal tau betul.. Dasar."
Gavin duduk dan memeluk istrinya.
"Yang penting kan tadi itu bukan mimpi.. Erin sayang.."
"Iya sih,hehehe.."
Saat makan malam mereka turun bergandengan, sedangkan dimeja semua orang sudah berkumpul termasuk Rey.
"Eh kau disini Rey,"
"Iyaa,ada yang ingin aku bicarakan pada mu nanti."
"Tentang apa."
Deg.. apa aku bilang sekarang,lah namanya pengumuman dong. kan belum dapat restu ni ceritanya.
"Sudahlah ,kan bisa nanti bicaranya,Rey kan bilang nanti ,malah kamu tanya tantang apa ,kan bikin lama.. aku udah lapar." rengek Erina.
"Iya sayang,maaf ya.. sini aku ambilkan,kamu mau apa hm?" ucap lembut Gavin.
"Kamu pilih mana aja aku makan kok sayang."
senyum Erina. Ia sengaja berbicara seperti itu untuk memperlihatkan kepada Rey bahwa Gavin takluk padanya.
Melihat Gavin mengambil makanan untuk Erina membuat Rey bertepuk tangan dalam hati.
Wahh gila ! cinta memang mengubah segalanya, Si arogan ini tunduk dihadapan Istrinya, kakak ipar ku memang hebat.
Kalau begini berarti akan mudah dong,semoga ya tuhan.. lancarkanlah.. Karin.
Akhirnya mereka semua makan dengan nikmat, Rey yang memperhatikan bagaimana Gavin memperlakukan Erina,sungguh tidak seperti melihat Gavin yang biasanya.
Setelah makan malam mereka berkumpul diruang tv, namun karna dari awal Rey ingin berbicara akhirnya Gavin menyuruh Rey ke ruang kerjanya. melihat suaminya naik Erina mengikuti Gavin.
"Mau kemana ?" tanya Gavin.
__ADS_1
"Ikut kamu," ucap Erina.
"Sudah duduk aja disana sama Mila dan Dean."
"Karin aja boleh ikut,masa aku nggak."
"Bukan nggak boleh sayang,tapi kan.."
"Yaudah kalau gak boleh." Erina berbalik, namun dengan cepat Gavin menahan tubuh istrinya.
"Kalau mau ikut ayo,jangan marah sayang.." bujuk Gavin.
"Kamu pun nggak konsisten,kalau boleh ikut ya boleh aja gitu,kalau nggak ya nggak,ini pake tapi-tapi." cemberut Erina.
"Boleh kok,yaudah Ayo.."
Karin dan Rey yang melihat perdebatan pasangan ini hanya tertawa dalam hati,melihat Gavin yang pantang dibantah dan diperintah menjadi tunduk kalau dihadapan Erina.
Sesampainya diruang kerja Gavin ,Erina langsung menduduki kursi kebesaran suaminya,sedangkan Gavin duduk disofa berhadapan dengan Rey dan Karin.
"Duduk aja,jangan putar-putar dan sebagainya,nanti jatuh." peringatan Gavin.
"Iya sayang.." Saut Erina.
"Sekarang katakan,ada apa mengajak mengobrol dengan ku seperti ini."
Rey meremas kuat tangannya,namun hatinya mulai lega melihat Erina mengode dari belakang,
Ayoo semangat Rey,masa depan mu !
Rey meyakinkan hatinya.
"Aku menyukai Karin,aku sudah menyatakan perasaanku dan ternyata Karin juga memiliki perasaan yang sama pada ku."
"Kalau masalah itu aku sudah tau kalau kau memang menyukai Karin dari dia masih anak-anak."
Rey terkejut, Apa sikap ku berlebihan sampai Gavin bisa tau.
"Maksud kami berbicara ini karna ingin meminta restu pada kakak,kami ingin menikah kak." ujar Karin takut.
"Menikah ?"
"Iya.." ucap mereka serentak.
"Apa yang bisa kau jadikan jaminan kalau kau serius dengan Karin."
"Aku rela lakuin apa pun untuk membuktikan kalau aku memang serius dan tulus pada Karin."
"Kalau begitu berani kau memotong nadi mu didepan ku ?"
"Sayang !!!" kejut Erina,ia langsung berdiri dan duduk disamping Gavin.
"Jangan keterlaluan ! bagaimana bisa kamu nyuruh Rey bunuh diri," ucap Erina marah.
"Kan dia bilang mau ngelakuin apa aja."
"Tapi nggak bunuh diri juga dong,kamu ini." Erina kesal.
"Sayang aku cuma ..."
"Usah menyentuh ku,kamu ingin aku melihat orang bunuh diri gitu ? gak kasihan sama si kembar ?." marah Erina,ia menepis tangan suaminya.
Gavin melihat sikap istrinya menjadi panik,
"Dengarkan dulu,aku hanya bercanda sayang, ga mungkinlah aku menyuruh Rey begitu."
"Kalau memang bercanda ya restui lah mereka."
Gemas sekali melihat dia marah.
__ADS_1
"Rey.. aku tau dari kecil kau menyukai adikku,dan kau selain orang kepercayaan ku,kau juga teman baik ku.. salah satu orang yang berharga dihidup aku. Jika kau ingin menikahi adikku,itu akan sangat membahagiakan untukku. Tapi kau tau Karin adalah adikku, orang yang berharga dihidup ku."
Gavin menatap lembut pada adiknya.
"Untuk mu ini adalah hal yang matang,tapi tidak untuk Karin,karna kau yang pemimpin,aku harap kau bisa menuntun adikku,sabar dalam menghadapinya. Jika suatu saat kau jenuh atau tidak menginginkan dia lagi, jangan pernah kau menyakitinya apa lagi menyentuhnya dengan kasar,cukup kau kebalikan Karin kepadaku."
"Kakak..." ucap Karin berkaca-kaca.
"Aku janji pada mu Gavin,aku akan menjaga Karin dengan segenap jiwa dan raga ku,jika aku siap menikahi Karin berarti aku juga siap untuk meletakkan beban dipundak ku. Wanita itu sama seperti tulang rusuk yang bengkok,jika kita paksa luruskan ia akan patah, begitu pun wanita.. jika ingin membimbing nya kejalan yang benar, bimbinglah dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang..."
"Kalau begitu kau cukup paham apa yang aku maksud,baiklah..aku merestui kalian."
"Apa perlu aku membawa kedua orang tua ku untuk melamar Karin secara resmi kemari ?"
"Tidak perlu,kalian langsung saja mencari waktu yang tepat untuk hari bahagia kalian. Segala urusan akan aku suruh Daniel yang menyiapkan nya."
"Tidak. Kak.. aku ingin mempersiapkan pernikahan ku sendiri,boleh kan."
"Boleh kok Karin,itu pasti sangat menyenangkan.. menata pernikahan impian,iya kan sayang." sela Erina.
"Iyaa.. kalau memang kamu mau seperti itu, lakukanlah semau kamu ."
Mendapat lampu hijau dari kakaknya membuat Karin berlari memeluk Gavin..
"Terimakasih kak.."
Gavin hanya membalas pelukan adiknya,terbesit dihati nya perasaan sedih melepas adik kesayangannya, salah satu harta peninggalan orang tuanya.
"Tapi kami berencana menikah nya tahun depan.. saat Karin sudah lulus kuliah,,"
"Itu terserah keputusan kalian ingin kapan menentukan waktunya,aku menghargai segala keputusan kau Rey."
Gavin benar-benar memantapkan hatinya,ia lega karna pria yang akan Karin nikahi adalah teman karib nya, orang yang selama ini berada disampingnya.
Setelah berbincang mereka berempat pun keluar.. Karin dan Rey turun kebawah bergabung dengan Mila dan Dean sedangkan Gavin dan Erina masuk ke kamar utama.
"Sayang aku mau nagih janji kamu."
"Janji apa?"
"Lupa atau pura-pura lupa."
Gavin berusaha mengingat janji apa yang dimaksud oleh Erina.
"Aishh.. baru siang tadi loh,katanya mau pijitin pinggang ku "
"Oh iya sayang,hehe .. aku bukan lupa,cuma tidak ingat aja "
"itu namanya sama saja." sewot Erina.
Gavin hanya cengengesan didepan Erina,sedangkan dibawah empat orang tersebut sedang membahas sesuatu yang menegangkan.
"Mil.. kamu marah ya.." ucap Karin sedih. " Kalau itu membuat kamu sedih aku akan menikah saat kamu ingin menikah,biar kita bisa sama-sama."
"Apa yang kakak katakan,aku diam karna aku bahagia.. aku nggak menyangka kak Rey melamar kakak secepat ini,aku memang sedih kakak menikah tapi aku sangat bahagia atas kebahagiaan kakak." Ucap Mila berkaca-kaca.
Dalam hatinya terbesit rasa yang amat sedih,ia akan kehilangan kakak kembarnya yang selalu bersamanya selama ini. Namun ia tidak ingin egois,jika Karin menikah berarti memang jodoh ya saat ini, Mila nggak mau menghalangi cuma karna keegoisan nya semata.
Karin memeluk Mila,ia memeluk erat adik kembarnya.. padahal baru rencana ingin menikah,masih ada waktu setahun lagi untuk sampai ke hari itu,namun Karin merasa sedih akan meninggalkan Mila sendiri.
"Terimakasih ya mil,masih ada setahun lagi kok.. mana tau kamu dapat jodohnya kita ngadain nikahan bareng.."
"Isshh kakak ini,batang hidungnya aja belum kelihatan,jodoh Mila belum lahir."
"Belum lahir apanya,tu di samping kamu kan dia." saut Rey yang menunjuk Dean.
Dean yang sedang ngemil jadi tersedak,ia merasa tidak enak terhadap Mila,mana mungkin ia bisa menyukai adik dari bosnya sendiri, sedangkan status mereka saat ini adalah Keluarga.
Mila dan Dean saling diam,lumayan lama sampai Rey memutuskan pamit untuk pulang,setelah pulang mereka pun masuk ke kamar masing-masing sambil membawa perasaan mereka didalam hati.
__ADS_1
Bersambung...