
"Jangan lupa kunjungi aku kalau kamu sudah siap menyendiri nya,untuk pekerjaan aku punya adik seumuran dengan mu,akan ku suruh dia membantu mu nanti."
"Aman kak,aku akan main kesana jika sudah ada waktunya. Kakak juga jangan pergi-pergi lagi sekarang sudah ada nyawa ditubuh kakak." ucap Dean menasehati Erina.
Gavin yang melihat itu agak tidak suka,tapi dia tau kalau Erina dan Dean hanya sebatas adik dan kakak, ditambah Erina sekarang lagi hamil dia tidak ingin menyinggung apapun.
"Baiklah kalau begitu aku pamit dulu,dah.." Erina melambai dan masuk kedalam mobil.
"Dahh kak.."
Yah sepi lagi,tak apalah yang penting aku masih bisa mengunjungi kak Erina lain waktu.
Gavin pun langsung masuk kedalam mobil, sedangkan Rey yang menyetir didepan,Mereka memutuskan untuk pulang karna ingin memeriksa kandungan Erina dan juga sudah waktunya Erina untuk kembali ke Mansion.
Perjalanan mereka agak tersendat karna Erina selalu merasa mual tiap waktu,jadi mereka terpaksa berhenti dalam beberapa waktu.
Sebelum pulang ke Mansion,mereka singgah dirumah sakit Pratama. Disana Erina melakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui perkembangan janinnya.
"Selamat ya tuan.. nona,ada dua janin yang berada dalam perut nona Erina,usia kandungan nya baru beranjak dua minggu,belum bisa melihat jenis kelamin si janin." ujar dokter wanita yang sekarang menjadi dokter kandungan Erina.
Mata Erina berkaca-kaca mendengar ucapan dokter, ia sangat terharu..
"Sayang.. ada dua." ucap Erina haru.
"Iya sayang ," Gavin mengelus perut Erina "Jaga mama kamu ya sayang,kalian jangan menyusahkan nya."
Mendengar itu Erina tersenyum hangat, dan mencubit pelan pinggang Gavin.
"Kamu ini,mereka belum lahir sudah diberi tugas aja." ucap Erina tertawa kecil.
Dokter yang melihat itu menahan senyum melihat calon orang tua didepannya.
Beruntung sekali anda Nona,semoga kalian selalu bahagia.
"Tapi harus dijaga ya nona,usia kandungan anda sangat rentan jadi harus perbanyak istirahat dan makan makanan bergizi.. Anda juga harus memperhatikan asupan gizi nona Erina,Jangan sampai stress apa lagi banyak pikiran,emosi nya juga harus dijaga."
"Baik dokter,akan saya pastikan itu semua berjalan sesuai perkataan anda,, Kalau begitu saya permisi."
"Silahkan tuan Gavin,nona Erina juga harus banyak beristirahat.. Ini buku jadwal cek up kehamilan nona Erina,"
"Baiklah dokter, terimakasih atas bantuannya.. kedepannya mohon bimbingannya." ujar Erina.
"Senang bisa membantu nona." Dokter itu menunduk saat mereka beranjak pergi. Lalu tersenyum tulus melihat punggung pasangan didepannya.
Serasi sekali.
Sesampainya mereka di Mansion Gavin langsung memberitahukan pak yan agar mengatur koki khusus untuk asupan gizi Erina,tak lupa Gavin memperketat penjagaan Mansion. Ia juga mempekerjakan seorang pengawal perempuan untuk berada disamping Erina ketika berada diluar rumah.
"Sayang.. kamu tidak perlu sampai memberikan aku seorang pengawal,aku masih bisa menjaga diri sendiri."
"Jangan membantah sayang,kini ada dua nyawa yang berada di perut mu,aku tidak ingin mengambil resiko ketika aku tidak bersama mu dan kamu sedang tidak baik-baik saja."
"Tapi sayang.."
"Ingin menurut atau selama kehamilan kamu berada diMansion tidak boleh kemana-mana."
"Mana mungkin sayang,ada toko yang harus aku urus."
"Kalau begitu menurut lah,kamu bisa menyuruh dia membantu mu disana."
"Baiklah sayang.. kalau memang untuk kebaikan aku dan si kembar,akan ku turuti."
__ADS_1
"Itu baru Istriku.. sehat-sehat ya anak papa." ucap Gavin mengelus perut Erina.
Saat makan malam mereka semua berkumpul setelah sekian lama,Makan malam saat ini agak berbeda dari biasanya,Gavin menyediakan makanan khusus untuk Erina,membuat Karin dan Mila bingung.
"Kak,kenapa kak Erin makan itu, dan kenapa tidak memakan makanan yang sama seperti kita.?" tanya Mila.
"Kak Erina lagi sakit yaa." ucap Karin khawatir.
Erina dan Gavin tersenyum,mereka sengaja tidak memberitahu saat kembali tadi untuk kejutan makan malam saat ini.
"Mencurigakan,kalian malah senyum." ujar Mila.
"Ada yang mau kakak beritahu,suatu kabar untuk kalian."
"Kabar apa kak,baik apa buruk.. jangan bikin kami makin penasaran Kak." ujar Karin.
"Iya nih kak Erin,kita nggak lagi main tebak-tebakan loh."
Erina menatap suaminya,dibalas anggukan oleh Gavin. Lalu Erina menyerahkan sepucuk surat dan foto USG pada kedua adik iparnya.
Terkejut bukan main Karin dan Mila sontak berteriak, Mila langsung berdiri menatap berbinar pada Erina, sedangkan Karin terharu menatap Erina.
"Benarkah ini kak ?" jawab mereka bersamaan.
"Benar.. kalian akan punya keponakan,bukan hanya satu tapi dua "
Karin mendorong kursi roda ya menuju Erina dan memeluk Erina,melihat itu Mila juga menghambur memeluk Erina dan Karin.
"Terimakasih kakak ipar kesayangan ku, sehat selalu buat kakak dan si kembar." ucap Karin berkaca-kaca.
"Aaa... kak Erin hebat..!" ujar Mila.
Makan malam berlangsung Haru, setelah makan malam mereka duduk diruang tv untuk bercengkrama.. itu adalah kebiasaan mereka dulu saat masih berkumpul. Kini rumah menjadi hangat dan akan ramai dengan kehadiran bayi kembar Erina.
Gavin bahkan membantu Erina mulai dari mandi hingga memijit kaki Erina. Erina yang belum terbiasa mendapat hal seperti itu agak kurang nyaman,namun ia tidak ingin melarang apa yang dilakukan oleh Gavin, walau gimana pun ini adalah anak pertama mereka.
Setelah Erina meminum vitamin khusus ibu hamil,mereka memutuskan untuk tidur. Gavin bahkan tidak sejengkal pun jauh dari Erina,ia bahkan terus menerus mengelus perut rata istrinya.
"Sayang besok aku ingin kerumah papa,ingin memberitahu kabar gembira ini."
"Iya,asal jaga diri mu dengan baik.. besok Lia yang akan mengantar dan menemanimu kemanapun kamu pergi." ujar Gavin yang masih mengelus perut Erina.
"Siapa itu Lia.?"
"Pengawal sekaligus asisten pribadi kamu,yang aku katakan tadi ."
"Ohh iya lupa,baiklah sayang.."
Erina menghadap Gavin,dan menyandarkan kepalanya dibahu bidang Gavin, Selang beberapa waktu Erina tertidur,dan Gavin membenarkan tidur istrinya, lalu ia mengecup kening Erina dan ikut berbaring menempel pada Erina.
Keesokan Harinya Gavin mulai bekerja dikantornya, Dengan asisten setianya Daniel.
"Beri kamera pengawas dan pelacak dimobil istri ku, jangan sampai hal buruk terulang kembali,"
"Baik tuan.. Soal Salsa.. saya dapat kabar jika dia kembali kerumah orang tuanya,apa perlu saya kesana menyuruh dia kemari."
"Tidak perlu,buat perjanjian dengan orang tuanya, jika Salsa menyentuh eh tidak.. muncul dihadapan aku dan Erina,kerja sama dengan perusahaan orang tuanya akan aku batalkan."
"Baik tuan."
"Jaga Rahasia kehamilan Erina,aku tidak mau begitu banyak orang yang tau,itu hanya akan menempatkan istriku dalam bahaya."
__ADS_1
"Baik Tuan,saya akan laksanakan sesuai perintah anda."
Mereka meluncur menuju Gedung pencakar langit milik LUZIO GROUP.
Sedangkan diMansion Erina bersiap ingin kerumah orang tuanya,Karin yang melihat itu merengek ingin ikut dengan Erina,Erina pun akhirnya membawa Karin kerumah papanya.
"Lia, tolong bantu Karin untuk naik ya,aku tidak bisa mengangkat berat untuk saat ini."
"Baik nona."
Diperjalanan Erina dengan hati bahagia membawa bukti kehamilan nya untuk ditunjukkan pada papa nya. Sedangkan Karin tak lepas menggandeng tangan Erina. Bagaikan menjaga Erina jika terjadi sesuatu.
Setelah sampai di rumah Erina,mereka disambut hangat oleh Rasty dan juga Bramantyo, sedangkan Randy sudah pergi ke kantor pagi tadi.
Mendengar kabar bahagia datang dari anak nya. mata Bramantyo basah,ia terharu melihat bukti kehamilan putri sulungnya.
"Selamat nak,kamu akan menjadi ibu yang baik untuk anak-anak mu."
"Terimakasih ya pa,papa cepatlah pulih agar bisa menggendong cucu papa kelak ". ujar Erina mengelus punggung tangan papa nya.
"Papa kini sadar,apa yang papa lakuin ke kamu selama ini adalah kesalahan yang fatal,papa tidak meminta kamu memaafkan atas kebodohan papa,tapi apa kita bisa memulai dari awal lagi ? " ujar Bramantyo yang menatap lekat mata putri sulungnya.
"Masa lalu biarlah berlalu,aku yang dulu memang terasingkan namun kini kan tidak,itu yang penting.. yang kita jalani adalah masa depan, kedepannya kita akan berjalan bersama menuju kebahagiaan,dan jangan sesekali melihat kebelakang lagi "
Bramantyo yang mendengar ucapan putrinya langsung menangis,begitu besar luka yang ia buat pada Erina, tak disangka begitu besar pula maaf dari putri sulungnya itu.
"Tugas papa adalah sehat,aku akan merawat papa biar sembuh,soal mama.. anggap dia tidak pernah ada lagi.". ujar Rasty dengan nada bergetar.
"Rasty jangan bicara seperti itu." ujar Erina yang terkejut mendengar ucapan adiknya.
"Aku tidak ingin membenci mama lebih dalam lagi kak, aku ingin hidup bahagia,walau akan sangat sulit kedepannya karna masa depanku hancur namun waktu terus berjalan kan kak.." senyum ketir Rasty.
"Jika kamu bertemu dengan seorang yang menerima kamu apa adanya,kakak yakin hal itu tidak masalah lagi buat nya. Cinta yang tulus itu cinta yang menerima baik buruknya dia,baik itu dari masa lalu nya atau masa sekarang."
"Iya Kak Erin, terimakasih sudah mau memaafkan aku. kakak juga menjadi salah satu orang yang tidak meninggalkan aku disaat seperti ini."
"Kita kan keluarga.. iya kan pah." ujar Erina bahagia.
"Iya sayang.." Bramantyo mengelus lembut kepala Erina.
Erina menahan tangis.. baru kali ini semenjak kematian ibunya dia merasakan papa nya mengelus kepalanya. Ntah kapan terakhir kali itu.
Erina dan Karin menghabiskan waktu seharian dirumah papanya ,mereka mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan kehamilan anak kembar Erina.. untungnya diakhir acara Randy pulang.. jadi mereka bisa merayakan lengkap bertiga.
Setelah selesai Erina pamit pulang pada penghuni rumah,ia melajukan mobilnya menuju Mansion.
"Lia, kamu tinggal dimana ?"
"Saya tinggal di Mansion nona,tuan menyuruh saya berjaga kalau saja nona mendadak ingin pergi, kebetulan saya disini merantau,dari pada ngekos tuan menyediakan saya tempat tinggal."
"Ohh begitu,terlalu berbahaya jika wanita muda seperti kamu tinggal sendirian."
"Saya sudah terbiasa nona,lagian siapa yang berani berbuat jahat pada saya,sebelum itu orang tersebut sudah saya hajar duluan."
"Wahh.. kamu sebagai sopir juga multitalenta ya, hebat."
"Untuk itu saya berada disamping nona."
"Ah benar juga. Kedepannya aku akan menyusahkan ."
"Itu sudah tugas saya nona."
__ADS_1
Lucu sekali nona Erina ini, kelihatan baik dari cara dia bersikap,tidak seperti para istri pria kaya yang lain, nyonya LUZIO loh ini,bukan apa-apa dibandingkan mereka,tapi malah jauh lebih rendah hati.
Bersambung...