
Keesokan paginya Gavin dan Dean bersama ke kantor. Gavin juga memberikan salah satu mobil yang ia punya kepada Dean,namun karna hari pertama,Dean memutuskan berangkat bersama Gavin,Jika ia langsung memakai mobil nya ,Dean takut terkesan agak serakah.
Melihat Dean yang berjalan disamping Gavin membuat karyawan yang lain bertanya-tanya, Melihat wajah tampan Dean membuat mereka yakin bahwa Dean adalah orang rekrutan Presdir.
Saat berkenalan dengan Daniel, Dean langsung mendapat kan jabatan wakil manager pemasaran, bukan karna Dean akrab dengan Gavin,tapi karna biodata dan juga riwayat pekerjaan nya amat bagus,ia juga ahli dalam bidang ini, itu semua membuat Daniel yakin bahwa posisi ini tepat untuk Dean.
Sedangkan di Mansion Rey sedang membantu Karin Terapi, Karin sudah mengalami banyak kemajuan,ia juga sudah bisa berjalan tanpa tongkat.
"Coba langkahkan kaki mu,jangan memegang apapun."
"Kalau aku jatuh nanti gimana."
"Kan ada aku dibelakang mu."
"Ayo Karin,kamu pasti bisa.. " semangat Erina.
Perlahan Karin mulai melangkahkan kakinya,ia merasa agak gamang namun saat berhasil betapa terkejutnya nya ia,ingin rasanya melompat tapi tidak mungkin.
Karin juga berjalan dari ujung pintu kamar sampai ujung jendela.. air matanya tampak jatuh,antara bahagia dan haru ia bisa berjalan normal lagi..
"Kak Erin aku bisa.." ucap Karin menangis.
"Kamu hebat sayang,kakak yakin kamu pasti sembuh. Sekarang benarkan, " Erina pun ikut menangis.
Tak lupa ia mengambil Vidio saat Karin berjalan untuk diperlihatkan pada Gavin dan juga Mila. Sontak mereka yang melihat itu langsung bahagia. Mila yang sedang praktek dibuat menangis karna melihat Karin yang sudah bisa berjalan.
Aku pengen pulang..! Huaaa kakakkk.. terimakasih ya tuhan...
"Karin kita bisa berjalan lagi, terimakasih sudah menemani adikku disaat perjuangan nya,semua berkat kamu istriku .. aku mencintaimu ."
Melihat pesan yang diucapkan suaminya hati Erina menjadi berbunga-bunga,ia terharu melihat Karin bisa jalan lagi.
"Sekarang kamu sudah bisa berjalan tanpa tongkat tapi ingat,tidak untuk lari.. kamu belom boleh. Hanya berjalan saja yang boleh .. karna ini masih baru jadi harus hati-hati ya."
"Iya kak Rey.. makasih banyak kak.." Karin berjalan memeluk Rey..
"Sama-sama.. kamu kan harus berjalan bersama ku di Altar nanti."
Mendengar itu Karin langsung terpaku ,begitu juga dengan Erina yang melotot mendengar ucapan Rey.
Dengan sigap Rey berlutut dengan satu kaki dan mengeluarkan sebuah kotak cincin.
"Will you marry me ?"
Mendengar itu Karin langsung menangis,ia menangis bukan karna sedih.. tapi karna tidak tau mau berekspresi seperti apa sangking bahagianya. Begitu juga dengan Erina yang menutup mulutnya karna terkejut,ia menyaksikan langsung ungkapan yang sangat bermakna bagi kedua pasangan yang ingin menikah.
Karin mengangguk kan kepalanya.
"Yes, I am willing to marry you."
Mendengar itu Rey dengan semangat empat lima memasangkan cincin berlian itu dijari manis Karin. Saat setelah dipasangkan,Rey berdiri dan memeluk Karin.. ia juga sangat bahagia karna cintanya terbalas,orang yang ia cintai juga mencintainya,apa lagi yang lebih indah dari pada itu di dunia percintaan.
Erina yang tidak ingin ketinggalan momen sudah berkali-kali memotret mulai dari Menyematkan cincin hingga berpelukan.
"Sekarang tinggal bagaimana izin dengan kakak mu kalau kita akan menikah."
"Itu semua serahkan pada kakak,"
"Kak Erin tau?" tanya Karin.
"Asal kalian berbicara padanya didepan ku,kalau Rey berbicara hanya empat mata takutnya persentase keberhasilan hanya 50%. Jika ada aku, akulah yang akan menambahkan 50% nya lagi."
"Maksud nona Erina apa? kok aku bingung ya."
"Hishhh kau dokter tapi masih bodoh, Sekarang pemegang kendali atas Gavin kan aku,apa yang tidak mau dilakukan Gavin kalau sudah aku yang menyuruh.."
Bumil satu ini,dari sekian anggota keluarga,kenapa anda memilih sikap arogan suami anda Nona Erina.
"Tapi apa itu mungkin nona,melihat watak suami anda saja aku udah ciut."
__ADS_1
"Kau tidak percaya kan,selama aku ngidam dia tidur disofa,sampai badan nya pegal-pegal,dia juga memijat kaki ku setiap malam,ah banyaklah.. kalian masih belum nikah nggak perlu tau detail nya."
"Kalau begitu pasti berhasil jika minta izin didepan kak Erin." ucap riang Karin.
"Yasudah makan malam kau kemari,selesai makan malam kita ngobrol berempat."
"Baiklah Nona Erina."
"Jangan panggil nona,kalau mau berhasil panggil aku kakak. kan aku calon kakak ipar mu."
"Ah iya ya.. baiklah kak Erin." hehe terdengar lucu.
Menjelang siang Erina sudah menyiapkan bekal makan siang untuk suaminya,ia menyuruh pak yan menyiapkan,setelah itu memanggil Lia untuk mengantarnya ke kantor Gavin.
Sebelum ke kantor Erina singgah dulu ke tokonya,ia membawakan pizza dan makanan cepat saji lainnya.
"Wahhh.. terimakasih mba Erin.. " ucap para pegawai.
"Sama-sama.. kalian sudah bekerja keras selama ini.. Maaf mba jarang datang kesini."
"Nggak apa-apa mba,yang penting mba dan si kembar sehat-sehat.. banyakin istirahat nya, biar toko kami yang urus."
"Kak Mala bener,mba fokus sama Dede kembar aja, kami disini para aunty akan menjalani tugas dengan baik."
Mereka senang dengan kedatangan Erina, karyawan yang berkerja disini sudah sangat lama mengabdi, ada yang sudah punya anak juga,itulah baiknya Erina ia tidak pernah membeda-bedakan karyawan,yang ia pikirkan hanya kesejahteraan mereka semua.
Setelah puas melihat karyawan nya,Erina langsung tancap gas ke kantor Gavin.
"Syukurlah masih belum makan siang,masih ada 15 menit lagi .. Lia nanti nunggu dimobil atau ikut ke atas."
"Saya ikut aja nona,takut kenapa-kenapa nanti saat ke atas."
"Baiklah kalau begitu ayo."
Erina berjalan dengan santai sambil memegang perutnya,sedangkan Lia memegang bekal makanan Gavin. Melihat Erina masuk sontak satpam dan karyawan lain langsung membungkuk hormat pada Erina karna sudah tau nyonya besar mereka.
Tidak sedikit dari mereka yang kagum dengan keramahan Erina,Erina juga tidak segan menyapa duluan dan tersenyum kepada mereka,padahal jika Erina sombong dan angkuh itu sudah wajar bagi mereka,tapi Erina tidak.
"Aura nyonya LUZIO luar biasa ya."
"Iya.. ditambah dia lagi hamil,huaa aku penggemar beliau."
"Semoga nular ya keberuntungan nya ke kita."
"Aamiin.."
Setelah sampai didepan ruang Gavin, Sekretaris yang berada diluar ruangan menyuruh Erina langsung masuk.
"Tuan Gavin didalam nyonya.. silahkan masuk." ramah sekretaris itu.
"Baiklah terimakasih.."
Erina mengambil kotak bekal yang ia bawa tadi dan masuk kedalam ruangan Gavin,sedangkan Lia menunggu diluar ruangan.
Melihat tidak ada Gavin Erina mengintip keruang rahasianya,namun saat mendengar suara kran air ia langsung paham.
Erina langsung saja menyajikan makanan dimeja tamu Gavin.ia juga menyajikan buah segar untuk suaminya dan dirinya,dia dilarang oleh Gavin mengemil apapun hanya boleh buah Dan makanan terpilih oleh koki khusus.
Saat keluar dari ruangan Gavin terkejut melihat istrinya berada dikantornya.
"Taraaa.." riang Erina lalu berlari kecil ingin memeluk suaminya.
Gavin yang gamang melihat Erina berlari langsung cepat menangkap pelukan istrinya.
"Hati-hati sayang.. jangan berlari."
"Hehe maaf sayang.. Oh iya sini,duduk disini.. aku sudah membawakan kamu bekal dan buah segar biar semangat kerjanya."
Melihat itu Gavin menjadi sangat bahagia,ia memandang sayang istri didepannya ini,
__ADS_1
"Kok ngeliatin aku.. ayo dimakan "
"Maunya disuapin kamu." manja Gavin.
"Baiklah demi suami tercinta ku " Erina mengambil nasi dan juga lauk untuk suaminya.
Sekarang mereka berhadapan,tampak seperti seorang ibu yang menyuapkan anaknya makan.
"Kamu juga makan.."
"Iya sayang..".
Erina menyuapi dirinya sendiri lalu Gavin dan begitu seterusnya hingga makanan yang Erina bawa ludes tak tersisa.
"Sayang aku mau nemenin kamu disini boleh ?"
"Boleh dong sayang.. tapi kalau kalau capek atau ngantuk langsung tidur didalam ya."
"Iya sayang.. aku akan suruh Lia bawa kotak bekal pulang sekalian dia pulang aja,kasian kalau harus nunggu lama."
Erina keluar ruangan untuk menyerahkan kotak bekal kepada Lia,lalu masuk kembali kedalam ruangan suaminya.
Dengan santai Erina selonjoran disofa Gavin, sambil bermain laptop milik ya,ia bermain Game dengan serius.
sesekali Gavin melirik istrinya saat Erina tertawa karna senang atau marah ngomel karna kalah.. melihat itu Gavin tersenyum gemas,ia menjadi bersemangat bekerja karna ada Erina.
Baginya suara tawa atau ocehan Erina sama sekali tidak menganggu nya ,namun sebaliknya.. menjadi moodbooster untuk Gavin.
Saat sore hari Gavin sudah selesai berkutik dengan pekerjaannya,ia melirik Erina yang tertidur sedangkan laptop tetap hidup menampilkan Drakor yang Erina tonton.
Dengan hati-hati Gavin mengambil laptop dan mematikannya,lalu perlahan membangunkan Erina.
"Erin sayang.. bangun,ayo kita pulang.. Erin sayang."
perlahan mata Erina terbuka,ia melihat suaminya sudah berada disampingnya,
"eh aku ketiduran ya,hehe"
"Pegel tidak punggung kamu sayang ?"
"Sedikit."
"Nanti malam aku pijat ya.."
"Boleh deh sayang.."
Mereka akhirnya turun dari gedung,Dean yang sudah menunggu dimobil Gavin terkejut melihat Erina berjalan bergandengan dengan Gavin.
"Wah kakak,kapan kesininya."
"Tadi siang lagi,mengantar bekal."
"Oohhh gitu.."
Mereka berempat masuk mobil dan meluncur ke Mansion dengan Daniel yang menyetir. Sesampainya di Mansion sebelum pulang Erina berkata pada Daniel.
"Semangat ya Daniel,aku doakan menyusul Rey." ucap Erina lalu berlari menyusul suaminya.
Daniel yang mendengar itu agak kebingungan dengan perkataan Erina,namun karna Mala menelpon ia jadi lupa apa yang dikatakan Erina,Daniel dan Mala janjian Dinner malam ini.
Gavin yang melihat Erina berlari ,langsung menarik pelan telinga Erina.
"sudah dibilang jangan berlari.. kemana telinganya ."
"Hahaha.. maaf sayang,ampun gak lagi.."
"Malah ketawa.."
"Geli soalnya,hahaha."
__ADS_1
Gavin hanya menggeleng melihat tingkah laku istrinya ini.
Bersambung...