
"Kak Erin.!! kakak mau kemana.? Hei siapa kalian, jangan menyentuh kakak ku !"
Langkah Karin terasa begitu berat saat ini mengejar Erina yang diseret paksa oleh dua lelaki berbadan besar.
"Jangan kejar kakak,pergi Karin pergi..!! kembalilah."
"Tidak.! aku tidak akan meninggalkan kakak sendirian,aku sudah berjanji pada kak Gavin,aku tidak bisa."
"Ku mohon kembalilah,jika ingin aku baik-baik saja ,tolong kembali.. kita akan segera bertemu.!"
"Tidak mungkin kak.!"
"Percayalah pada ku Karin,ku mohon kembalilah."
Karin menghentikan langkahnya,ia melihat Erina yang semakin menjauh,
"Kak Erinnn....!!"
"Hahh...!! Kak Erin.."
Karina membuka matanya,deru nafasnya begitu cepat, mimpi itu bagaikan nyata untuknya,,
"Dimana aku.. "
Karin berusaha untuk duduk, namun tubuhnya sangat berat,ia berusaha menopang pada pinggiran kasur,namun dia terjatuh ke lantai.
"Awwww..."
Alarm kamar Karin berbunyi,menandakan ada yang terjadi dikamar tersebut,Rey yang mendengarnya tersebut langsung berlari sekencang mungkin.
"Karin..!!!" Rey melihat Karin bersusah payah mendudukkan tubuhnya.
"Kak Rey,tolong aku kak.. tubuh ku terasa sangat berat."
Rey menggendong Karin, meletakkan nya diatas tempat tidurnya.
"Kamu tidak apa-apa.? apa yang sakit,Syukurlah kamu telah sadar,aku.. aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa mu."
Rey menangis memeluk erat Karin yang terlihat bingung atas sikap Rey padanya.
"Memangnya aku kenapa kak.?"
"Nanti akan aku jelaskan, sekarang biarkan dokter memeriksa kamu,oke." Rey mengelus kepala Karin.
Dokter langsung saja memeriksa kondisi Karin,dan juga menjalani beberapa ronsen untuk melihat perkembangan tubuh Karina.
"Bagaimana perkembangan tubuh Karin dok,"
"Ini sungguh keajaiban,Karin sadar dari komanya diluar prediksi kita semua,dan kelumpuhan Karina hanya bersifat sementara,akan segera sembuh jika Karina rutin mengikuti terapi jalan disini "
Mendengar itu Ray menangis bahagia,tak lupa ia berdoa pada Tuhan, berterimakasih untuk kesembuhan Karin.
"Terimakasih dokter,saya sangat bersyukur Karin bisa sadar dengan cepat,anda berhasil dokter, saya sangat bangga." Rey tak hentinya berterimakasih kepada dokter.
Dikamar nya,Karin merasa ada yang aneh pada tubuhnya,terutama kakinya,,
"Karin.. "
"Kak Rey,, kak kenapa tubuh ku ini terasa sangat berat, terutama kaki ku."
Rey menceritakan semuanya pada Karin,dari penculikan Erina hingga dirinya koma selama tiga bulan.
"Bagaimana mungkin kak,tapi apakah kakak yakin aku bisa berjalan kembali."
__ADS_1
"Percaya pada ku Karin,sekalipun kamu tidak bisa berjalan.. itu tidak merubah perasaan ku pada mu,aku menerima kamu dalam keadaan apapun."
"Terimakasih kak Rey " Karin memeluk erat Rey,ia sangat terharu atas ucapan Rey.
"Tapi bagaimana dengan Kak Erin,semua pasti salah paham padanya,dia tidak mencelakai ku kak,aku terluka karna berusaha menolongnya, Sungguh aku tidak berbohong."
"Aku juga percaya pada nona Erina,kalau begitu ayo kita telfon kakak mu,"
"Tunggu kak,jangan menelpon nya dulu, Apa bisa aku menjalani terapi dinegara kita saja. Jika bisa aku ingin pulang saat ini juga."
"Tapi Karin itu.."
"Plisss kak,kak Erina pasti sangat menderita,Mila bahkan membencinya sekarang,aku tidak bisa membiarkan itu terus terjadi,ku mohon.."
"Baiklah,akan aku usahakan,sepertinya bisa jika terapi mu dinegara kita saja,tapi aku akan bertanya terlebih dahulu."
"Baiklah kak Rey, terimakasih banyak."
"Sama-sama Karin,tidurlah.. kamu butuh istirahat."
Setelah Karin tertidur Rey mengadakan rapat kepada para dokter,ia juga tidak ingin berlama-lama disini.
Keesokan paginya dikantor Gavin baru saja terbangun setelah meminum habis semua botol bir tadi malam, kepalanya amat sakit,ia terhuyung ke kamar mandi untuk menyadarkan diri.
Setelah selesai mandi Gavin memakai pakaian lengkapnya,wajahnya sangat kusut karna kejadian tadi malam. Kita harus bicara Erina.
"Pagi tuan."
"Siapkan mobil,kita ke Mansion sekarang, aku harus bicara pada Istriku "
"Tapi tuan."
"Kau tidak dengar apa yang ku perintah kan.?!"
Daniel terlonjak, "Bukan begitu tuan,Nona Erina tidak ada diMansion,ia berada dirumah orang tuanya."
"Baik tuan "
Daniel melajukan mobil nya menuju kediaman Bramantyo.
Dihotel Erina telah bangun,ia sengaja bermalas-malasan karna ingin tidur lebih lama,namun ia harus segera mencari tempat tinggal sementara.
Setelah sarapan Erina berangkat menuju pinggir laut, disana terdapat apartemen yang bisa disewa jika ada turis yang singgah. Erina langsung saja menyewa Apartemen itu,ia memilih yang satu kamar dan memiliki balkon menghadap ke laut.
"Apartemen yang bagus,ditambah pemandangan yang menenangkan,aku tidak akan pernah bosan jika Disni, dengan harga ekonomis ini sudah luar biasa."
Erina meletakkan baju dilemari, menyusun stok makanan di kulkas yang akan dia masak jika ia lapar, cemilan dan juga minuman untuk menemani ia bersantai.
Erina juga membeli peralatan mandi dan juga mencuci,dari dulu ia sangat menginginkan kehidupan seperti ini,saat ia masih lajang,ingin sekali hidup mandiri.
"Lucu yaa,malah terwujud saat aku sudah menikah,hahaha itu pun karna pelarian, sudahlah.. aku butuh ketenangan,bisa gila aku kalau masih terus bersama nya,sampai Karin sadar.. Ntah sampai kapan itu tapi yang pasti sebelum itu terjadi aku bisa menikmati dihidup ku dengan tenang, sebentar saja.."
Setelah merapikan barang-barang nya,ia duduk bersantai di balkon kamar nya,sambil membaca beberapa novel yang ia beli saat mencari kebutuhan sehari-hari nya tadi.
Dikediaman Bramantyo,Gavin dibuat terkejut mendengar apa yang dikatakan Rasty,,
"Kau yakin Erin tidak kesini,?"
"Tidak kak,kak Erin belum pernah kesini lagi setelah kejadian waktu itu,"
"Baiklah."
Gavin langsung saja masuk kedalam mobilnya,,
__ADS_1
"Erina tidak ada disini, bagaimana pun caranya cari istri ku sampai dapat."
"Baik tuan."
Dirumah sakit Karin sedang bersiap untuk pulang ke negara A.ia sudah bisa duduk dikursi roda. Karin sengaja pulang dengan penerbangan umum,tidak memakai Jet pribadi,agar tidak diketahui siapapun.
"Aku tidak sabar untuk sampai,kita harus membersihkan nama kak Erin, tiga bulan ini pasti menjadi hari terberat untuk ya,ya tuhan.."
"kamu tenang saja,aku akan membantu mu membersihkan nama baik nona Erina."
"Terimakasih kak."
Karin duduk menyandar pada Rey,yang ia pikirkan sekarang adalah sang kakak ipar.
Aku berharap kak Erin masih bertahan,tunggu aku kak.
Keesokan harinya Gavin tengah sarapan berdua dengan Mila, namun dipertengahan makan Salsa datang membawa makanan. Ia dengan percaya diri menghampiri Gavin dan seakan bersikap seperti nyonya LUZIO.
"Gavin,aku bawakan bubur untuk mu,aku dengar kamu kemarin tidak makan dengan baik karna mencari Erina."
"Kak Salsa benar,kakak harus makan. Jangan biarkan tubuh kakak sakit karna mencari kakak ipar ,dia juga pasti akan kembali, mungkin dia hanya butuh waktu."
"Gavin bukannya aku mau ikut campur,tetapi yang dikatakan Mila benar,Erina akan kembali saat uang nya habis,dia sama seperti wanita diluar sana,yang mengharapkan kekayaan mu saja,Daniel mengatakan Erina mengambil uang dalam jumlah yang besar kan, tunai pula,apa kau tidak curiga."
"Sudah cukup.! makan makanan kalian."
"Baik kak."
Kak Salsa ini kenapa terkesan seperti menjelekkan kak Erin,ya aku juga tidak suka padanya,tapi bukannya yang ia katakan barusan itu terlalu berlebihan.
Setelah sarapan,Mila pamit ke kampus nya,sedangkan Salsa masih di Mansion menunggu Gavin.
"Kenapa kau masih disini."
"Aku ingin menemani mu."
"tidak perlu,pulanglah . atau pergi ke rumah sakit.Aku ingin sendiri."
Salsa dengan tidak tau malu memeluk Gavin dari belakang,,
"Apa yang kau lakukan ?! lepas.! banyak pelayan disini,tidak usah melampaui batas mu "
"Aku hanya ingin ada untuk mu,apa itu salah.. Erina meninggalkan mu,dan aku datang menemani mu, lihat lah aku walau hanya sekali."
"Apa maksudmu."
"Sedikit saja bukalah hati mu untuk ku Gavin, berilah satu kesempatan lagi,kenapa kau mengejar wanita yang jelas-jelas menyelakai Karin.Aku akan siap mengandung anak mu berapapun kau mau."
"Jangan bicara omong kosong Salsa."
"Tidak untuk kali ini Gavin,aku sangat serius untuk ini, lupakan istri mu dan lihatlah aku."
Salsa berbalik dan memeluk Gavin dari depan, Gavin yang tidak bisa berpikir jernih hanya terdiam mendengar itu,,ia membiarkan Salsa memeluknya.
Di pintu utama,telah berada seorang wanita yang mengamati mereka berdua,tangannya terkepal marah. Sangat marah sampai jari tangannya memerah.
"Lepaskan tubuh kotor mu dari nya.!!!"
Suara itu menggema, membuat Salsa dan Gavin terperanjat seperti maling yang ketangkap basah.
**Bersambung...
...Jangan lupa LIKE, VOTE,dan KOMEN nya yang selalu Author tunggu....
__ADS_1
...Terimakasih telah membaca,Klik FAVORIT untuk mendapatkan Notifikasi selanjutnya...
...Byee,Love U❤️❤️❤️**...