
Erina berjalan sendirian kembali ke meja makan.
"Loh kak Erin kok turun sendiri, Mila kemana ?"
"Dia lagi tidak sehat,."
"Apa ? aku akan melihatnya."
Erina menahan Karin dan menggeleng.
"Biarkan dia istirahat,dia butuh waktu sendiri."
"Tapi kak,Mila itu."
"Percaya pada kakak,dia baik-baik saja,biarkan dia sendiri ya." Erina mengelus kepala Karin.
"Baiklah kak."
"Habis dari kampus jangan lupa cek up ke rumah sakit ya Karin. Jadwal kamu hari ini."
""Iya kakak ku."
Erina kembali duduk di kursinya,ia meneguk segelas susu..
"Kenapa hanya susu yang kamu minum,habiskan makanan nya "
"aku tidak selera,bungkus saja.. akan aku makan nanti dikantor."
"Yasudah makan punya ku."
"Tidak." Erina menutup mulutnya.
"Terserah." ucap Gavin memakan kembali sarapan nya.
Karin dan Dean yang melihat itu hanya diam,mereka fokus pada makanan masing-masing. Setelah selesai sarapan, Karin dan Dean pamit. sedangkan Gavin sedang menunggu Erina mengambil tasnya.
Erina turun dengan memakai dres panjang,ia juga membawa blazer kasual untuk luarannya. Perut Erina tampak besar saat ia memakai blazer tersebut.
"Kemana suami ku pak?"
"Tuan sudah dimobil nona."
"baik kalau gitu saya pergi dulu,"
"Hati-hati dijalan nona."
Erina berjalan menuju mobil,tampak dari dalam mobil Gavin memperhatikan Erina yang perlahan turun dari tangga didepan pintu utama.
"Tuan,kenapa anda tidak membopong nona seperti biasanya.,"
"jangan banyak bicara,"
"Baik tuan."
lagi PMS kali ni orang,baru pagi loh ini...
Daniel yang melihat Erina kesusahan langsung turun dari mobil dan membantu Erina untuk menuruni tangga.
"Terimakasih,maaf merepotkan."
"Tidak apa nona,saya takut anda terjatuh,lantainya licin."
Erina berjalan dan duduk disamping Gavin,Daniel melajukan mobil menuju kantor. disepanjang perjalanan hanya ada suara deru kendaraan,tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibir ketiga manusia yang berada didalam mobil.
Setelah sampai Erina keluar membuka pintu,ia mengikuti langkah Gavin dari belakang. Erina agak tergesa mengikuti langkah suaminya yang terlalu cepat dengan ukuran langkah nya yang kecil,ditambah ia sedang membawa beban diperutnya.
"Tuan.." Daniel melihat muka Erina yang terengah.
"Laporan dari kantor cabang sudah sampai?" Gavin memotong perkataan Daniel.
"Sudah tuan," ucap Daniel yang masih cemas menatap Erina. Muka Erina yang memerah kini terlihat pucat.
Sesampainya didalam ruangan Gavin langsung duduk di kursinya,ia tidak berkata sepatah katapun. Erina yang merasa dicuekin Gavin menjadi bingung harus bagaimana.
Tau gitu aku tidak akan ikut,kenapa dia sampai segini nya. Perut ku keram.
Erina berjalan keluar ruangan. Meminta Daniel untuk membawakannya segelas penuh air hangat,karna ia mengikuti langkah Gavin,ia sampai lupa dan menggerakkan badannya melebihi yang dianjurkan.
__ADS_1
Erina menatap suaminya namun Gavin sama sekali tidak melihat ke arahnya.Semakin Erina ingin emosi, perutnya terasa semakin keram,akhirnya ia masuk kedalam kamar rahasia di ruangan Gavin.
Baru saja ia berbaring perutnya terasa sangat sakit, Erina memegang seprai tempat tidur ,keringat dinginnya mulai bercucuran.
"Tuan ini air hangat yang nona minta."
"Antar kedalam,dia didalam."
Saat Daniel membuka pintu ia terkejut melihat muka Erina yang pucat.
"Nona anda kenapa?!"
"Perut ku sepertinya keram,tolong panggilkan dokter ku kesini sekarang!" ucap Erina kesakitan.
"Baik nona."
Danie keluar menelfon dokter kandungan Erina,dokter yang mendengar pun langsung bergegas menuju kantor LUZIO GROUP. Gavin yang melihat Daniel keluar tergesa menjadi penasaran.
"Ada apa."
"Nona perut sakit,eh sakit perut nona,eh salah."
"Bicara yang benar !"
"perut nona Sakit tuan,katanya keram saya sudah panggil dokter kandungan nona Erina."
Mendengar biru Gavin langsung bangkit dari duduknya, Dia baik-baik saja tadi.
"Erinn.." ucap Gavin pelan melihat muka Erina yang pucat,keringat dingin memenuhi tubuhnya.
Erina mengacuhkan Gavin,ia hanya fokus pada perutnya,sesekali menggigit bibirnya menahan sakit pada perut buncitnya.
Gavin mengelap keringat di muka Erina,ia juga menyelimuti tubuh Erina dengan selimut.
"Aku bukan demam !" Erina menendang selimut itu.
"Kamu selalu membantah ! " ucap Gavin dengan tegas.
"Ini semua gara-gara kamu !"
"Aku ?! kamu yang tidak pernah mendengar kan, sekarang seperti ini menyalahkan ku ?"
"Tidak mau ."
Melihat dokter kandungan nya telah tiba.
"Dokter.." ucap Erina pelan.
Dokter yang melihat Erina langsung dengan cepat memompa tensi,ia mengecek kadar darah Erina. Dokter itu pun menyuntik kan cairan di lengan Erina.
Selang beberapa saat Erina mulai tenang,perutnya menjadi enteng kembali ,denyutan yang ia rasakan telah menghilang . Melihat kondisi Erina yang stabil, dokter itu pun bertanya.
"Nona,anda habis ngapain tadi ? atau anda memiliki masalah,ceritakan pada saya. memendam sesuatu itu tidak baik bagi kandungan Anda."
Erina menatap Gavin,dokter yang melihat itu paham maksud Erina,dokter pun menyuruh Gavin dan Daniel keluar.
"Kau lihatlah sikap dia barusan,sudah habis kesabaran ku menghadapi Erina,dia bahkan terang-terangan membela lelaki sialan itu."
"Lelaki sialan siapa ?"
"Si Andre,siapa lagi. Sebastian bilang Andre ingin bertemu Erina untuk meminta maaf,dengan mudahnya dia menerima maaf lelaki sialan itu."
"Anda kan tau kalau nona Erina memang baik hati,wajar ia memaafkan seseorang tuan."
"Tapi tidak membelanya juga kan,itu membuatku sangat kesal ditambah ia selalu membantah."
"Tapi tuan.. nona Erina kesakitan seperti tadi memang salah anda "
" Apa maksudmu."
Di dalam ruangan Erina cerita pada sang dokter.Erina sampai menangis,dokter yang melihat itu paham akan perasaan Erina,walau bagaimanapun ia pernah hamil dua kali,jadi paham betul yang dirasakan Erina saat ini.
Selang beberapa lama dokter itu pun keluar . ia meminta berbicara pada Gavin sebentar.
"Tuan saya paham,memang sangat susah untuk menjaga perasaan istri yang sedang hamil,sangat susah juga mengontrol emosi kita saat sang istri tersebut tidak ingin. mendengar kan. Semua itu umum dan biasa terjadi,seperti yang saya katakan dulu,Anda yang harus lebih berlapang hati dalam menyikapi nona Erina."
"Iya dokter saya tau,ini semua salah saya,Daniel mengatakan sayalah yang membuat Erina sampai seperti itu "
__ADS_1
"Saya mohon anda jangan mengulangi nya lagi, nona Erina senang mengandung dua bayi sekaligus tuan, hal seperti tadi jika didiamkan bisa mengakibatkan pendarahan,itu bisa mengancam nyawa bayi kalian dan bahkan nyawa ibunya juga."
Gavin tertegun mendengar ucapan sang dokter.
"Anda boleh kesal saat menghadapi sikap nona,tapi anda jangan melampiaskan dengan sikap seperti tadi,lebih baik anda pergi dan berdiam diri sendiri, Hormon ibu hamil sering kali berubah,hanya itu yang saya bisa sampaikan,sudah sangat jelas jika anda harus menahan diri untuk tidak terbawa Emosi kenapa nona Erina."
"Apa kondisi dia baik-baik saja dok."
"Untuk saat itu sangat baik. tapi jangan sampai terulang lagi seperti tadi ya tuan.beri nona pengertian agar ia menurut pada anda.Istri mana yang tidak bahagia saat diperlakukan lembut oleh suaminya."
"Baik dokter,saya minta maaf."
"Minta maaflah ke nona Erina tuan, sampaikan selembut mungkin,Saya permisi harus kembali ke rumah sakit. Nona Erina sedang tertidur,ia sudah mengeluarkan emosinya,kemungkinan akan membaik saat ia bangun. Saya permisi."
"Baiklah, terimakasih dokter."
Setelah dokter itu pergi,Gavin masuk kedalam kamar. ia melihat Erina yang tertidur pulas dibawah selimut tebal. Mukanya yang tenang membuat Gavin terhanyut.
"Maafkan aku.."
Gavin mengecup kening dan pipi Erina,lalu kembali mengerjakan tugas kerjaannya. Saat makan siang Gavin memesan makanan kesukaan Erina,lalu membawanya ke kamar. Ia tidak melihat Erina, terdengar suara kran air dari dalam, menandakan Erina berada didalam.
"Sayang ,ayo kesini makan. Kamu belum makan dari pagi."
"Aku nggak selera."
"Tapi kamu belum makan ,aku suapin mau ya."
"Aku mau pulang."
Gavin menghela nafas.
"Ayo aku antar,kalau kamu sendiri aku nggak mau lepas."
"Aku balik tidur lagi aja."
Gavin menggenggam tangan Erina,menarik Erina duduk dalam pangkuannya,dan menyendok kan nasi ke mulut Erina.
"Kunyah."
Erina hanya diam .
Gavin memeluk tubuh Erina,mengecup pipi Erina,ia juga mengelus perut buncit Istrinya.
"Maafkan aku ya sayang,jangan seperti ini." Gavin menunduk dan berbisik diperut Erina.
"Maafkan papa ya sayang,karna papa kaki mama kalian jadi capek. Maafin mama ya nak."
"Mereka tidak memaafkan mu." ucap Erina sambil mengunyah.
"Tau dari mana?" Gavin menyendok nasi ke mulut Erina.
Erina tanpa sadar melahap nasi yang disuapkan oleh Gavin.
"Ya tau lah,aku kan ibu mereka,aku merasakan batin lebih kuat dengan mereka " Erina mengunyah sambil membanggakan dirinya.
Gavin berusaha mengajak Erina mengobrol,tanpa sadar nasi di piring Erina sudah habis.
"Sekarang minum susunya dan istirahat ya,nanti besok kita kencan berdua."
"Kencan ?"
"Iyaa.. kita belum pernah jalan-jalan berdua kan,yaudah aku mau lanjutin kerjaan biar kita bisa kencan besok.Sedangkan kamu harus tidur."
"Iya sayang "
Melihat senyuman Erina membuat Gavin menjadi lega,ia membantu Erina untuk tidur,setelah itu melanjutkan pekerjaannya.
diMansion Mila sudah bersiap untuk pergi keluar.Ia memakai pakaian gelap dan juga kacamata hitam.
"Nona,bukannya anda sakit,lebih baik istirahat dikamar."
"Siapa yang bilang aku sakit pak,aku itu hanya sedang galau aja. Aku mau cari udara segar pak,nggak lama kok."
"Kalau begitu hati-hati nona,"
Pak yan melihat punggung Mila dari belakang.lalu kembali mengerjakan pekerjaan nya.
__ADS_1
Mila masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobil menuju tempat pemakaman elite. Ia menenteng se keranjang bunga untuk ditaburkan dimakan kedua orang tuanya.
Bersambung....