Gadis Terbuang Milik Presdir

Gadis Terbuang Milik Presdir
Kembali nya Ingatan Erina


__ADS_3

"Mama ! awas ma ada api !! "


"Mamaa..!!!!!!"


Mata Erina terbuka lebar,peluh mengalir diseluruh tubuhnya.. deru nafasnya pun terdengar berat,ia baru saja sadar setelah seharian pingsan.


Ari matanya tiba-tiba mengalir,ingatan tentang bagaimana ibunya terbakar didepan matanya sendiri terus terlintas dipikiran Erina..


Dada Erina sesak,ia kembali dilanda perasaan bersalah yang amat sangat besar. Tiba-tiba Erina menangis kencang, mendengar itu Gavin yang tertidur langsung terlonjak kaget,melihat Erina menangis menutup mukanya.


"Sayang.." Gavin naik keatas tempat tidur dan tidur memeluk tubuh Erina yang bergetar karna menangis.


"Aku disini sayang,jangan seperti ini.. aku tidak bisa melihat kamu seperti ini " Ujar Gavin lembut ditelinga Erina.


"Aku ingat semuanya.." Isak Erina. "Api.. bagaimana api membakar tubuh mama.." tangisannya bertambah pilu.


Gavin mempererat pelukannya,tangisan Erina begitu pilu terdengar ditelinga Gavin,melihat istrinya seperti ini membuat hati Gavin hancur.


"Sayang lihat aku.! lihat !"


"Aku suami kamu,aku akan melindungi kamu apapun yang terjadi,begitu juga aku akan menanggung penderitaan dan juga kesedihan kamu,ku mohon berbagi dengan ku.. aku tau ingatan itu membuat kamu sakit dan terluka,namun aku harap kamu membagi semua itu dengan ku,,"


Gavin menitikkan air mata,matanya menatap Erina tulus. Erina melihat itu menjadi sedikit lega.. ia mengusap pipi suaminya,,


"Kamu tidak membenci ku?"


"Mana mungkin,aku tidak membenci mu Erina,sebaliknya aku sangat mencintai kamu.. aku siap berbagi kesedihan dengan mu."


"Tapi aku penyebab kematian mama,harusnya aku ikut terbakar bersama mama.. tapi aku malah menuruti mama dan menyelamatkan diriku sendiri." Isak Erina.


"Sayang.. tidak ada ibu didunia ini ingin melihat anaknya terbakar hidup-hidup bersamanya,ibu mana pun akan mengorbankan nyawanya asal anaknya selamat ,itulah seorang ibu bagi anaknya. Ibu kamu adalah salah satu dari mereka."


"Itu semua bukan salah mu,harusnya kamu menghargai pengorbanan mama kamu yang telah mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan putri semata wayangnya."


"Kamu tau,saat melihat api tadi aku melihat diri ku sendiri di api itu, aku berusaha menaiki tangga dan kepala ku sakit sekali,saat itu aku mengingat semuanya.. teriakan kesakitan mama aku mendengar nya dengan jelas.. Seketika aku jadi takut.. takut dunia akan membenci ku."


"Masih ada aku yang akan terus mencintai mu sayang."


"Aku bahkan memikirkan bagaimana kamu membenciku dan menjauhi ku dari bayi kita kelak,aku takut.. sungguh takut.. aku berasa menjadi orang yang sangat berdosa."


"Tidak sayang,mana mungkin aku menjauhi kamu,apa lagi menjauhkan kamu dengan si kembar.. Erina sayang.. dengar kan aku baik-baik.. berhenti menanamkan pikiran yang mengatakan bahwa kamu lah penyebab mama meninggal,itu tidak benar. Mulai sekarang tanam dalam pikiran kamu,mama itu seorang pahlawan yang mengorbankan dirinya sendiri untuk anaknya,mama bidadari surga ."


"Lagian siapa yang berani menyalahkan diri kamu,aku akan memberi pelajaran orang yang mengatakan itu, dengar sayang ?"


Erina mengangguk dan membenamkan wajahnya ke dada bidang suaminya.


"Sekarang jangan menangis lagi,karna aku punya kabar gembira buat kamu."


"Apa ?"


"Si kembar kita.. pangeran dan tuan putri."


"Apa ? mereka perempuan dan laki-laki ?"


"Iya sayang." antusias Gavin.


"Sayangg..." Erina kembali menangis.. namun kali ini ia menangis bahagia.


"Jangan bersedih lagi ya,si kembar kita akan sedih melihat mamanya bersedih terus, tersenyum dan berbahagia lah demi aku dan si kembar.."


"Kamu benar sayang.. kalian dunia ku saat ini, aku akan kuat demi suami dan anak-anak ku."


"Terimakasih sayang.."


Gavin memeluk erat Erina,ia mengelus punggung Erina hingga Erina kembali tertidur.. setelah itu barulah ia menyusul Erina masuk ke dalam mimpi.


Keesokan harinya Erina sudah berada diMansion,ia kekeh tidak ingin dirumah sakit,itu hanya membuat di teringat dengan sang ibu.

__ADS_1


Gavin memerhatikan Erina yang diam saja ketika pulang dari rumah sakit,hanya berbicara saat Gavin mengajaknya berbicara. Nadanya seperti baik-baik saja tapi tidak dengan sikapnya,Gavin merasa kalau Erina masih memikirkan tragedi yang menimpa Erina dan ibunya dulu.


"Sayang.. Kenapa duduk diluar,angin kencang nanti kamu masuk angin."


Gavin membawa selimut tebal dari dalam kamar,Erina duduk di balkon kamar mereka yang menghadap ke taman belakang.


Erina hanya tersenyum saat Gavin memakaikan selimut untuk menghangatkan dirinya.Lalu ia kembali terdiam,dan melihat ke langit.. ntah apa yang Erina pikirkan,hanya dialah yang tau.


Gavin sedih melihat sikap Erina yang lebih pendiam dari biasanya,dia juga sempat melihat Erina menangis diam-diam diruang baju dan juga dikamar mandi,namun saat ditanya Erina selalu menjawab tidak apa-apa.


"Sayang.." sapa lembut Gavin.


"Hm.."


"Apa yang kamu pikirkan,kita sudah berjanji untuk saling berbagi,berbagilah pada ku tentang apa yang kamu pikirkan saat ini sayang."


Gavin duduk dihadapan Erina, Gavin ingin Erina melihat mata nya agar lebih bisa mengeluarkan semua yang ia pikirkan.


"Aku hanya merindukan mama.. terakhir aku bersamanya saat menemani dia menemui mama tiri ku, aku ingat waktu itu mereka bertengkar hebat,untuk pertama kalinya aku melihat mama menampar Tante Sinta,padahal aku tau mereka adalah teman baik."


"Setelah itu ?"


"Setelah itu mama pergi,dan mama sempat berbicara pada seorang laki-laki sebelum masuk kedalam mobil,aku tidak tau apa yang mereka bicarakan karna mama menyuruhku masuk kedalam mobil. Saat dijalan, mama mengatakan semua baik-baik saja,aku melihat raut wajahnya yang sedih hingga berubah panik,setelah itu kecelakaan itupun terjadi."


"Sudahlah jangan memikirkannya lagi sayang,itu hanya membuat kamu terpuruk semakin dalam,, pikirkan aku dan bayi kita, kembalilah seperti Erina yang ku kenal sayang."


Erina menatap mata suaminya,air matanya menetes.. lalu ia memeluk Erat suaminya,Gavin membalas pelukan Erina.. Erina menangis cukup lama di pelukan Gavin,setelah ia merasa lega langsung melepas pelukan tersebut,menghapus air matanya dengan baju Gavin.


"Aku mau berenang.." ucap Erina dengan nada manja.


"Apa ? ini sudah mau sore sayang."


"Kan biasanya orang berenang kalau nggak pagi ya sore, ayolah.." ucap Erina menarik baju suaminya.


"Kamu yakin ?"


Setelah perdebatan panjang tentang pakaian yang akan Erina kenakan akhirnya mereka berdua turun kelantai bawah.


Karna perut buncit Erina sudah lumayan besar,Gavin menyuruh Erina memakai kaos miliknya,sedangkan Gavin hanya memakai celana renang pendek.


"Jangan lari sayang,sini harus pegangan,kalo nggak kita nggak jadi."


"Iya iya.. "


Gavin yang dulu masuk kedalam kolam,baru Erina yang disambut oleh suaminya. Saat masuk Erina langsung saja berenang ke ujung ninggalin Gavin yang terlihat cemas,dan terus memperhatikan gerak gerik Erina hingga sampai ke ujung kolam.


"Hahh.. agak sesak nafas sih,tapi seruuuu ! hahaha"


Erina tergelak sendiri,ia sangat menyukai kolam renang.. bermain air adalah hobi Erina,ia bahkan menghabiskan libur sekolah hanya untuk berenang setiap hari.


"Sayang !! sini.." teriak Erina melambaikan tangan nya.


Gavin yang melihat itu langsung berenang ke arah Erina, saat sudah sampai ia langsung memeluk Erina dari belakang..


"Istri ku tersayang.." Gavin menciumi tengkuk belakang istrinya.


Erina langsung membalik badan,dan melingkarkan tangannya ke leher suaminya. Dengan tiba-tiba ia mencium bibir Gavin dengan lembut.. Gavin pun membalas ciuman Erina.


"Aku mencintaimu.." seru Erina.


"Aku juga mencintai mu." ucap Gavin mengecup bibir Erina.


Erina melepas pelukannya dan menjauh,,


"Kejar aku sampai dapat." Erina menjulurkan lidahnya.


"Kalau aku dapat gimana ?aku akan memakan mu disini ya." ucap Gavin tersenyum.

__ADS_1


"Coba aja kalo bisa.."


Erina dengan cepat menghindar dari kejaran Gavin, ia sangat pandai berenang karna salah satu dari hobinya. Gavin sampai kualahan mengejar Erina,membuat ia harus bersiasat untuk menangkap istrinya.


Melihat Gavin tidak mengejarnya lagi Erina berhenti, ia tidak melihat Gavin.


"Sayang !!!" Erina memanggil Gavin.


Erina menjadi cemas saat melihat Gavin tidak naik ke permukaan,dengan cepat Erina berenang ke arah suaminya,dengan hati yang cemas.


Hap..! Gavin menangkap tubuh Erina yang berenang ke arahnya.


"Aku mendapatkan mu "


"Kamu pura-pura?! kamu ini ! jantung ku hampir copot loh,gak lucu !"


"Hahaha maaf sayang,lagian aku nggak bisa loh ngejar kamu,aku kan jadi frustasi."


"Kan permainan,kamu nggak boleh gitu dong." sewot Erina.


Gavin dengan cepat menciumi bibir Erina,lalu memeluk posesif pinggang Erina,,


"sayang jangan disini,nanti orang lihat,malu."


"Malu apanya,tidak ada mereka yang berani kesini saat kamu berenang,dan aku sengaja membawa kamu ke kolam ini karna lebih tertutup,"


"Kamu mesum."


"Aku tidak ingin berbagi dengan yang lain,enak saja mereka melihat lekuk tubuh mu,aku tidak ingin.. lagi pula mesum pada istri sendiri bukannya tak masalah ?"


"Isshhh kamu ini.. ". Erina mencubit pelan lengan Gavin.


"Ayo kita berfoto,letakkan disini.. kita akan buat beberapa pose yang romantis."


Mendengar itu Erina menjadi bersemu.


Romantis ya,hihi berfoto didepan dada bidangnya..


"Sayang kamu lepas baju."


"Apa ?! "


"Kan nggak ada orang sayang,biar serasi sama aku yang telanjang dada,"


"Itu namanya foto fulgar bukan romantis," cemberut Erina.


"Ayolah..."


Gavin membuka Baju kaos Erina yang menampakkan bra hitam yang Erina kenakan,membuat kesan Sexy ditubuh Erina.


Erina hanya menurut dengan apa yang dilakukan suaminya.


Kenapa jadi dia yang bersenang-senang,harusnya kan aku.


Gavin memasang timer lalu bergaya intim dengan Erina, kolam renang yang setinggi dada Gavin membuat tubuh mereka hanya terlihat setengah.


Banyak sekali foto yang Gavin ambil,ia juga sempat mengedit foto Mereka berdua saat sudah berada dikamar.


Erina masih berada dikamar mandi untuk membersihkan diri,ia kembali duduk termenung seperti ada yang ia pikirkan,,


Bagaimana aku bisa bertemu dengan mama Sinta , kenapa aku terus memikirkan pertikaian mereka dahulu ,siapa laki-laki yang tersenyum pada mama dan kenapa juga mama Sinta menikah dengan papa."


"Sayanggg lama kali, cepatlah.."


"Sebentar sayang,ini sudah selesai kok.. tunggu." teriak Erina.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2