Gadis Terbuang Milik Presdir

Gadis Terbuang Milik Presdir
Hamil


__ADS_3

Erina berlari ke dapur menuju kamar mandi, namun saat ia sampai mual yang ia rasakan hilang.


Loh bukannya tadi Mual ,kok sampe sini nggak ingin muntah ya.


"Sayang.." Gavin sudah tegak di pintu kamar mandi. "Kamu gapapa ? "


"Memang nya aku kenapa ?"


"Ah tadi kamu lari kesini jadi aku pikir kamu sakit atau apa gitu.." ucap Gavin menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Iya memang sakit,sakit hati sama kamu. Minggir "


Erina berjalan menuju meja makan,ia langsung memakan makanan yang ia masak tadi. Gavin pun ikut duduk disamping Erina namun Erina menyuruh nya makan di depan Erina. Gavin tidak ingin mengambil pusing,karna ia sudah membuat Erina menangis tadi jadi dia menurut apa yang Erina katakan.


Setelah makan malam mereka berdua bersantai dikamar, Erina duduk di atas tempat tidur begitu juga Gavin berada disampingnya,ketika Erina tengah asik menonton televisi Gavin mendekap tubuh istrinya.


Erina berusaha melepaskan namun Gavin tidak ingin melepasnya,malah makin dipererat pelukannya.


"Sebentar sayang aku Rindu.."


"Aku juga "


"Benarkah ?" menatap mata istrinya.


"Hm.."


"Sayang maafkan aku,"


"Untuk apa ?"


"Atas kebodohan ku yang tidak mempercayai mu, harusnya aku yang melindungi mu,dan juga atas tamparan ku tempo hari.. Sungguh aku menyesal, Andai aku tidak butuh sudah ku potong tangan ku ini, lihatlah.. aku sudah menghajarnya."


"Ya ampun.. tidak perlu sampai seperti ini,kenapa melukai dirimu sih,Lagian aku tidak membenci mu. Ya aku memang bersalah pada ku,tapi aku tidak ingin kamu melukai diri kamu sendiri seperti ini.."


Air mata Erina menetes mengenai telapak tangan Gavin.


"Sayang kenapa kamu menangis ?"


"Aku tidak ingin melihat orang terluka karna aku, itu hanya terkesan seperti aku pembawa sial atas semuanya."


"Tidak ada yang mengatakan seperti itu sayang.."


"Tapi itu yang aku rasakan.." Erina mengelus lembut tangan kekar Gavin yang terlihat lebam,ia tidak menyadari karna tidak ingin memandang lama suaminya.


"Aku sudah tidak apa-apa ,yang penting kamu maafkan aku dan beri aku kesempatan memperbaiki semuanya."


"Baiklah.. aku memang sudah memaafkan mu walau kamu tidak memintanya." Erina tersenyum manis mendongak menatap wajah suaminya.


Cup.. Gavin mencium bibir mungil Erina,ia memeluk tubuh Erina,membelai lembut pipi Erina..


"Sayang.."


"Ya sayang.."


"Aku rindu.." Gavin menciumi leher Erina.


"Kamu mau malam ini ?"

__ADS_1


"memangnya kamu tidak mau ya,tapi tadi sudah dimaafkan."


"Bukan gitu.. Aku "


Belum Erina melanjutkan perkataannya Gavin langsung menutup mulut Erina dengan menciumi bibir Erina. Jujur saja ia sudah lama tidak melepaskan hasrat yang terpendam selama ini.


Saat Gavin memperdalam ciumannya Erina merasa aneh dengan perutnya,Gavin mulai berusaha menanggalkan baju Erina namun tiba-tiba Erina menutup mulut dan lari ke dalam kamar mandi.


Gavin yang cemas melihat istrinya seperti itu langsung mengejar Erina,ia semakin panik melihat Erina memuntahkan makanannya,wajahnya pucat dan keningnya berkeringat dingin.


"Sayang kamu kenapa ? kenapa wajah mu pucat,kamu sakit ayo kita kerumah sakit "


Gavin menarik tangan Erina,namun Erina menolak,ia tidak ingin masuk ke dalam rumah sakit,tidak akan sama sekali setelah kepergian mendiang ibunya.


"Tidak,aku baik-baik saja. Jangan kerumah sakit aku tidak mau,aku baik-baik saja."


"Baik-baik gimana,kamu itu sudah pucat sekali,jangan membantah kali ini,"


"Tidak !! aku mohon,aku tidak ingin kerumah sakit, aku tidak bisa,atau panggilkan saja dokter kesini.. asal jangan kerumah sakit,aku tidak bisa.." Isak Erina.


Melihat Erina yang memohon membuat hati Gavin sakit,ia tidak tega memaksa istri nya.


"Baiklah jika kamu tidak mau,apa kamu bisa menunggu hingga Rey datang kemari,mungkin akan sampai besok pagi."


"Bisa.. aku hanya masuk angin biasa kok,, Sayang aku tidak kuat berjalan,bantu aku ke kamar.."


Gavin menggendong tubuh Erina dan membaringkan nya diatas tempat tidur,ia memasang kembali kancing yang sempat ia buka,Gavin sama sekali tidak berhasrat,yang ia rasakan adalah ke khawatiran terhadap Erina.


"Pakai ini sayang.. ini akan menghangatkan mu."


Gavin memakai kan sweater tebal pada istrinya,dan juga membuatkan minuman hangat jika mual istrinya kembali terjadi.


"Iya sayang,Kamu disini aja ya,jangan tinggalin aku."


"Tidak sayang,tenanglah. Kamu tidur lah aku akan berjaga."


Gavin mendekap Erina dalam pelukannya,mengelus lembut pucuk kepala Erina,Gavin mendengar hembusan nafas pelan Erina,menandakan Erina sudah Tertidur namun Gavin tetap terjaga untuk mengelus punggung istrinya agar tidur lebih nyaman.


Waktu menunjukkan jam lima pagi,Namun Gavin masih setia terjaga untuk Erina,sesekali Erina terbangun karna mengigau, Gavin lah yang siaga menenangkan kembali.


Tring.. ponsel Gavin berbunyi.


"Aku sudah didepan pintu mu," ucap Rey yang sudah tiba.


"Baiklah tunggu sebentar."


Gavin meletakkan pelan kepala Erina dibantah empuk, lalu membenarkan kepala istrinya dengan hati-hati. Ia berjalan keluar untuk membuka pintu.


"Masuklah.."


"Dimana Nona Erina ? eh tunggu ada apa dengan mata mu,kau tidak tidur ?"


"Berisik ! nanti istri ku bangun,tunggu sampai dia bangun dari tidurnya baru kau boleh memeriksa nya."


"Baiklah aku ingin tidur sebentar ya,semalaman aku menyetir sendirian."


"Terserah.." Gavin masuk ke kamar Erina.

__ADS_1


Sedangkan Rey memilih tidur dikursi ruang tengah,setidaknya ia bisa istirahat walau sejenak.


Pagi hari di Apartemen Erina terjaga,ia melihat Gavin tertidur pulas disamping nya,,


Apa dia semalaman menjaga ku ? Terimakasih Sayang.


Erina mengelus lembut pipi suaminya,lalu turun dari tempat tidur menuju dapur,diruang tengah ia melihat Rey terkapar tidur disofa,lalu Erina mengambil selimut dan menyelimuti Rey.


Erina telah menyiapkan sarapan pagi untuk tiga orang, namun ntah kenapa ia merasakan lemas diseluruh tubuhnya,tidak seperti biasanya dia terasa lebih cepat lelah padahal memasak bukan pekerjaan yang berat bagi Erina.


"Sayang kamu kenapa memasak,tubuh kamu masih lemah sayang." Gavin terbangun karna mendapati Erina tidak ada disampingnya.


"Tidak apa-apa sayang,memang sedikit lelah tapi baik-baik aja kok,kemarilah bersihkan wajah mu, kita sarapan."


""Pagi nona Erina.." sapa Rey


"Eh dokter sudah bangun,silahkan dimakan sarapannya."


"Baiklah aku ke kamar mandi dulu." Rey berpapasan dengan Gavin yang baru siap membersihkan mukanya.


Gavin langsung duduk disamping Erina, disusul dengan Rey yang duduk diseberang Gavin. Saat sedang fokus sarapan Erina merasa ingin muntah,ia lari dan memuntahkan apa yang dia makan.


Melihat itu Gavin dengan cepat mengejar Erina,begitu juga dengan Rey dengan cepat menyambar tas kesehatan nya.


Gavin membantu menepuk punggung istrinya,dirasa Erina sudah puas mengeluarkan isi perutnya dia hampir terjatuh karna lemas, untung saja dengan sigap Gavin menangkap tubuh Erina dan membawanya kedalam kamar.


Didalam Rey memeriksa detak jantung dan nadi Erina. Seketika matanya berbinar melihat hasilnya,lalu tersenyum. Membuat Gavin dan Erina bingung.


"Kau kenapa senyum-senyum sendiri.? Bagaimana istriku, sakit apa dia ? apakah parah ?"


"Tidak. Istri mu tidak sakit sama sekali."


"Tidak sakit apanya,dia tidak bisa menelan makanan dan lemas seperti ini,"


"Tapi saat ini istri mu baik-baik saja."


"Jelaskan maksud mu apa bodoh, seperti ini kau bilang baik-baik saja ?!"


"Sayang !! apa-apaan kamu ini ,dengerin dulu dokter Rey."


"Tidak masalah nona Erina maklum calon ayah memang protektif kan " Rey tersenyum kembali.


"Oh.. eh Apa ?!" Erina terkejut.


"Aku yang kau maksud calon ayah ?!"


"Siapa lagi ? Selamat ya Gavin ,sebentar lagi kau akan jadi ayah dari dua jabang bayi "


"Maksud dokter aku hamil anak kembar ?" Mata Erina mulai memanas.


"Sejauh yang saya rasakan seperti itu,untuk memastikan nya kita harus kerumah sakit nona. Tapi untuk kehamilan anda sudah dipastikan positif Hamil."


Gavin langsung memeluk tubuh Erina,air matanya meleleh membasahi pipinya,tidak disangka ia akan mempunyai buah hati dengan istrinya. Erina pun memeluk tubuh suaminya, penantian anak dalam rumah tangga nya kini terwujud,ia mengucapkan beribu terimakasih pada Tuhan..


"Terimakasih sayang, terimakasih sudah memberiku buah hati,,"


"Ini buah cinta kita sayang.." ucap Erina menangis.

__ADS_1


Erina dan Gavin saling berpelukan dengan derai tangis bahagia,kini kebahagiaan mereka lengkap dengan adanya buah cinta ditengah-tengah mereka. Ikatan cinta yang semakin kuat kini terjalin,tidak akan ada yang memisahkan Mereka sampai kapan pun.


Bersambung..


__ADS_2