
Tiga hari kemudian Erina minta izin pada Gavin untuk pergi kerumah orang tuanya.awalnya Gavin tidak memperbolehkan karna melihat Erina masih suka diam dan melamun sendiri,ia juga sering mengalami mimpi buruk akhir-akhir ini, membuat Gavin tidak tenang membiarkan Erina pergi keluar dari Mansion.
Akhirnya Erina bisa pergi walau harus membawa Karin, setidaknya ada Lia dan Karin yang menjaga Erina. Setelah sampai dirumah Bramantyo,Erina meminta bicara empat mata dengan sang ayah. Sedangkan Rasty menemani Karin dan Lia sambil bercerita.
"Bagaimana keadaan kamu ? papa harap kamu dan cucu papa selalu sehat "
"Erin dan si kembar sehat-sehat aja kok pa,papa jangan khawatir. Papa juga jaga kesehatan.. jangan pikirkan apapun kecuali kesehatan papa."
"Iya nak, papa akan sehat demi kalian."
"Pa.. Erin sudah mengingat bagaimana kecelakaan itu, bagaimana mama terbakar langsung didepan mata Erin." ucap Erina bergetar.
"Jadi kamu selama ini tidak tau ?"
"Nggak pa,yang erin ingat mobil mama hanya menabrak batu setelah itu mama meninggal,Erin nggak ingat bagian kita berusaha keluar dari mobil namun mama terjepit lalu api menyambar tubuh mama."
Jadi selama ini aku menyalahkan seorang anak kecil yang tidak tau apapun,ya tuhan.. apa yang telah ku perbuat pada anak perempuan ku.
"Papa kenapa menangis."
"Papa sedih,selama ini menyalahkan kamu atas kematian mama mu,padahal kamu sendiri tidak mengingat apapun,Maafkan papa " Isak Bramantyo.
"Papa jangan bicara seperti itu,Erina tidak pernah membenci papa,masalalu biarlah berlalu pa. jangan pernah ungkit lagi. Erin sudah bertekad untuk menutup dan mengubur dalam-dalam masalalu itu."
"Walau sebenarnya banyak yang janggal pada kematian mama,hanya mama Sinta yang tau,namun ia menghilang begitu saja."
"maksud mu,Sinta yang membunuh mama mu?"
"Eh bukan pa,Erin hanya melihat mereka bertengkar sebelum mama kecelakaan,Erina hanya penasaran apa yang mereka permasalahkan. Tapi sudahlah pa, Erin juga ingin fokus pada Suami dan anak Erin. Sekarang kita bisa melupakan semuanya dan memulai lembaran baru."
"Papa ikut senang jika kamu bahagia,kamu jangan pikirkan papa disini,papa disini sangat baik,ada Randy dan Rasty yang setia menemani papa,oh iya ngomong-ngomong tentang Rasty,ada yang mau papa beritahu."
"Apa pa ?"
"Bulan depan Rasty akan menikah."
"Apa ? serius pah ?"
"Iya sayang,papa juga sama terkejutnya saat dia mengatakan itu semua,tapi papa bahagia akhirnya dia menemukan lelaki yang menerima kekurangannya."
"Kalau begitu Erina akan mengurus seluruh nya, mama Sinta tidak disini,jadi sebagai kakak Erin akan menggantikan mama Sinta untuk mempersiapkan pernikahan Rasty."
"Kamu lagi hamil nak nanti kecapean."
"Nggak kok pa,kan kita bayar orang. Erin hanya mengatur itu aja "
"Baiklah kalau memang begitu "
Erin dan papanya keluar dari ruangan dan bergabung bersama Karin dan Lia. Mereka juga membicarakan usual pesta pernikahan untuk Rasty ,Karin yang mendengar itu pun juga ikut-ikutan ingin menjadi panitia persiapan pernikahan Rasty.
"Eh ngomong-ngomong calon kamu siapa namanya."
"Namanya Dean kak."
Erina yang sedang mengunyah langsung tersedak, Karin langsung memberi minum pada Erina,Erina tersedak sampai mengeluarkan air mata.
"Pelan-pelan kak.." ucap Karin.
"kamu punya fotonya ? "
"Punya lah kak,selama ini kami hanya berhubungan secara virtual,namun akhir-akhir ini kami sering bertemu,dan dia bilang dia ingin segera menikahi aku kak,ya kira-kira dia seumuran kak Randy lah."
"Boleh kakak lihat?"
"Ini kak,aku memasang nya menjadi wallpaper ponsel."
Erina terkejut,dugaan nya benar. Dean yang dimaksud Rasty adalah lelaki yang kini tinggal dengan nya,yang sudah ia anggap sebagai adiknya juga. Karin juga sama terkejutnya melihat foto mereka berdua.
"Ini kan Dean, sekarang dia tinggal dirumah kami." ujar Karin.
"Apa ?! berarti kakak sudah kenal Dean dong, ya aku tidak pernah bertanya dia tinggal dimana."
"Aku sangat mengenal nya, dia sudah kakak anggap sebagai adik,kini ia bekerja di perusahaan kakak ipar mu."
__ADS_1
"Kalau soal dia bekerja di perusahaan kak Gavin aku tau."
"Baiklah,kalau begitu suruh dia melamar mu secepatnya."
"Dia akan datang untuk melamar tiga hari lagi kak."
"Dasar anak itu,pantas dia selalu keluar masuk. kiranya mau menikah tapi tidak cerita apapun,awas kamu." ujar Erina geram.
Tamat lah sudah dirimu Dean. Lihatlah bumil ini sudah memasang wajah ingin menyerang. ujar Karin dalam hati.
Setelah lama berbincang Erina pamit untuk pulang dari rumah orang tuanya,diperjalanan Erina menyuruh Lia mengubah haluan,mereka langsung pergi menuju kantor Gavin.
"Kak sudah rindu pada kak Gavin ya."
"Siapa yang ingin bertemu kakak mu, aku ingin menghajar anak tengil itu."
"Maksud kakak Dean ?"
"Siapa lagi ?, merahasiakan seperti ini,memangnya dia tidak menganggap kakak ini kakaknya apa."
Karin hanya menurut saja dengan Erina,ia tidak ingin terkena ledakan ibu hamil disampingnya.
Diam dan menurut aja Karin ,dengan begitu kamu akan selamat.
Setelah tiba dikantor Erina dan Karin bertanya pada resepsionis dimana ruangan Dean berada,saat sudah tau Erina dan Karin langsung menuju kesana.
Melihat nyonya LUZIO tergesa-gesa,membuat karyawan yang lain keheranan,ada pula diantara mereka yang melapor ke Daniel tentang kedatangan Erina.
"Tuan.."
"Hm.. "
"Apa tuan sibuk."
"Kau tidak bisa lihat," sewot Gavin.
"Nona Erina berada dikantor."
"Apa ?! dimana dia? kenapa tidak masuk kesini ?"
"Sudah ku bilang jangan keluyuran,besok jangan harap bisa keluar lagi. Ayo kita kesana."
"Tapi anda sedang sibuk tuan."
"Apa ada yang lebih penting dari istri ku ?"
"Tidak ada tuan."
"Yasudah kalau begitu ikuti saja aku "
"Baik tuan."
Mereka berdua menaiki lift dan menuju ruangan Dean berada,saat sudah didepan pintu Gavin mendengar suara Dean yang melengking. Saat pintu terbuka, Gavin terlihat Erina yang sedang menjewer telinga Dean.
Erina melepaskan jeweran nya,
"Kau tidak menganggap aku sebagai kakak mu lagi ? bisa-bisanya ingin menikah tidak bilang pada ku lagi "
"Hah.. dari mana kakak tau."
"Dari calon istri mu." ketus Erina.
"Dia menemui kakak ? "
"Aku yang menemui nya,"
Dean bingung maksud dari Erina.
"Maksud kak Erin itu,calon istri kamu itu adalah Adik kandung dari kak Erin,wajar saja dia tau."
"Apa ?! kenapa.. kok bisa..," Dean langsung memegang kedua tangan Erina.
"Kak jadi kak Erin adalah kakak ya Rasty ? Maafkan aku kak.. aku tidak tau. Mohon doa restu untuk ku dan Rasty,Aku akan membuat dia bahagia selamanya." ujar Dean menggenggam erat tangan Erina.
__ADS_1
"Lepaskan tangan mu itu !" suara berat dari arah pintu.
Mereka bertiga tidak menyadari kehadiran Gavin,dan terkejut melihat kedatangan Gavin,terutama Erina.
"Sayang.."
"Maafkan saya tuan,saya syok takut nona Erina tidak merestui saya."
"Kamu panggil aku apa? nona Erina ? kamu ini ." geram Erina.
Gavin langsung menggenggam tangan istrinya,
"Nanti dirumah kita bicarakan,saat ini biarkan Dean bekerja."
Akhirnya Gavin membawa Erina keruangan nya,dan juga Karin yang mengekor dari belakang.
"Kamu segeralah ke rumah sakit,Rey mencari mu tadi katanya."
ujar Daniel pada Karin.
"Ah aku lupa kak, yasudah aku titip kak Erin ya,aku langsung kerumah sakit aja,bye kak."
Sesampainya di ruangan Gavin mendudukkan Erina.
"Loh Karin kemana ?"
"Ada jadwal periksa kesehatan bersama Rey di rumah sakit,jadi dia sudah pergi nona. Kalau begitu saja pamit keluar."
Erina melepas sepatunya dan berbaring di sofa Gavin.
"Sudah puas keluyuran nya." ujar Gavin menatap istrinya.
"Keluyuran apa,aku hanya menemui Dean."
"Kamu menemui Dean dan tidak menemui ku dulu."
"Sayang.. aku berencana kesini sekalian pulang bersama kamu,tapi karna ada perlu sama Dean ya aku menemui nya dulu."
"Cuci tangan mu,tadi disentuh lelaki lain kan. Jangan menyentuh ku sebelum mencuci tangan."
"iya sayang.. iya.." Erina berjalan menuju kamar rahasia.
Gavin mengambil sepatu Erina lalu mengikuti Erina kedalam.
"Lihatlah,kamu berjalan tanpa alas kaki,kamu tau sedingin apa lantai ini." gerutu Gavin.
Erina langsung mencuci tangannya,setelah itu naik ketempat tidur dimana Gavin duduk.
"Berbaringlah."
" Mau ngapain?"
Gavin membaringkan Erina perlahan,ia juga menata bantal untuk menyangga punggung Erina. Lalu dengan handuk ia mengelap kaki Erina yang basah,setelah itu menggosok nya hingga hangat.
"Makasih sayang." ujar Erina tersenyum.
"Ini kenapa kaki mu agak bengkak."
"Ah itu memang bawaan hamil kata dokter sayang."
"Sakit tidak ?"
"tidak sayang ku." Erina melihat wajah suaminya yang khawatir.
"Sini sayang,tidur disamping ku. kamu kurang tidur akhir-akhir ini kan.. "
Gavin menurut pada Erina dan berbaring disamping tubuh istrinya,ia memeluk Erina dan membenamkan wajahnya didada Erina,ia juga mengelus perut buncit Istrinya.
"Tidur lah sayang.. kamu pasti lelah."
Erina mengelus pucuk kepala suaminya,hingga membuat Gavin tertidur pulas disampingnya,Gavin memang kurang tidur karna mimpi buruk yang selalu Erina Alami. Membuat dia terbangun dan menenangkan Erina.
Melihat hembusan pelan suaminya,Erina pun ikut tertidur sambil mendekap Gavin. Mereka berdua masuk ke alam mimpi masing-masing.
__ADS_1
Bersambung...