
"Sayang,aku mau itu.." Erina menunjuk tukang eskrim didekat permainan anak-anak.
"Yaudah ayo kita kesana.."
"Kamu aja sendiri,aku tunggu disini."
"Lah kok gitu ?"
"Masa tega liat istrinya ikut ngantri,kamu aja sesekali.."
Gavin mencubit pipi cabi Erina,,
"Baiklah tuan putri ku,tunggu sebentar.. jangan kemana-mana oke."
"Iya sayang,sana gih.." Erina tersenyum senang melihat suaminya mengantri untuk membelikannya eskrim.
"Sesekali liat bos besar ngantri nggak masalah kan,hihihi lucu nya..". Erina memperhatikan suaminya yang sedang tegak mengantri diantara anak-anak.
Sangking asik memperhatikan suaminya,Erina tidak menyadari ada seorang lelaki berada tepat dibelakangnya mencoba untuk meraih tas yang berada disamping Erina.
Erina terkejut saat tas nya tiba-tiba ditarik.
"Hei kau mengambil tas ku ! pencuri !" Erina tegak sambil menunjuk copet itu,ia pun berusaha menarik tasnya.
Erina berusaha sekuat tenaga menarik tas miliknya, sedangkan pencopet itu mendorong Erina untuk melepaskan tasnya,namun datang seorang wanita paruh baya membawa tongkat nya memukul pencopet itu.
"Kurang ajar ! beraninya sama wanita hamil !" ibu-ibu itu memukul tanpa ampun dan akhirnya membuat pencopet itu melepaskan tas nya dan kabur sebelum orang-orang berkerumun.
Erina tampak syok dan mengumpulkan barang yang tercecer di tas miliknya,,
"Ibu tidak apa-apa ? terimakasih ibu sudah menolong saya."
"Saya baik-baik aja,apa perut mu baik-baik aja ?"
"Syukur ibu menolong saya tepat waktu jadi pencuri itu belum sempat menyakiti saya,sekali lagi terimakasih bu.." Erina menetap lekat wajah sang ibu.
Ibu ini sebelumnya pasti cantik,,
Melihat Erina memperhatikan nya,ia langsung menutupi wajahnya kembali dengan selendang,,
"Maafkan saya,anda merasa kurang nyaman,kalau begitu sayang permisi."
"Tunggu,duduklah sebentar disini Bu,menjelang suami saya datang."
Ibu itu akhirnya nurut dan ikut duduk disamping Erina..
"Ibu cantik,kenapa malah ditutup.."
"Hanya anda yang bilang saya cantik, sedangkan orang lain mengatai saya monster." ibu itu memaksakan tersenyum.
"Anda cantik Dimata orang yang tepat bu, bagaimana pun kondisi ibu semua tetap sama Dimata Tuhan."
Sang ibu itu terharu,ia menggenggam tangan Erina..
"Selain cantik,hati mu baik sekali.. semoga kamu selalu hidup bahagia. Ibu juga memiliki anak perempuan secantik kamu,dan dia sekarang sudah bahagia bersama suaminya.."
__ADS_1
"Benarkah ? kenapa dia membiarkan ibu sendiri ?"
"Melihatnya bahagia sudah cukup bagi ibu,biarlah ibu hanya bisa melihat dari jauh."
"Andai mama saya masih hidup,dia pasti akan melakukan hal yang sama seperti ibu lakukan.."
Sang ibu itu menangis,ia tak dapat lagi membendung air matanya.. tampak sebuah kesedihan dan rasa rindu pada seseorang.
"Mama kamu pasti bangga melihat anaknya tumbuh secantik ini,kalau boleh tau berapa usia kandungan mu?"
"Sudah masuk enam bulan Bu.."
"Tapi sudah besar ya." sang ibu itu mengelus perut Erina.
"karna ada dua Bu,mereka kembar."
"Benarkah ? kamu sangat beruntung.." ibu itu tersenyum bahagia..
Melihat Gavin berjalan kearahnya,sang ibu itu langsung pamit pada Erina..
"Saya terlalu lama diluar,saya permisi dulu."
"Ah kalau begitu silahkan Bu, hati-hati dijalan.. terimakasih atas Budi baik ibu.
"Sama-sama.. sampai jumpa lagi,nona Erina."
Sang ibu itu langsung berbalik dan berjalan menjauh dari Erina,sedangkan Gavin datang dengan membawa satu cup eskrim.
Dari mana dia tau nama ku,aku tidak ada menyebutkan nama tadi..
"Eh sudah kembali,itu aku melihat ibu-ibu yang menolong ku tadi.." Erina masih menatap punggung sang ibu yang sudah semakin jauh.
"Nolong ? dari apa ?"
Erina langsung mengambil eskrim ditangan Sang suami ,lalu duduk dan memakannya.
"Tadi itu tas aku hampir dijambret,untung ada ibu-ibu yang nolongin aku,dan aku berterimakasih padanya."
"Apa ? jambret ? terus gimana,ada terluka ? " Gavin memeriksa tubuh istrinya.
"Apa sih sayang,aku baik-baik aja.. kan udah aku bilang tadi di tolongin ibu-ibu.. "
Gavin bernafas lega,, "Terus ibu-ibu itu kemana ?"
"Pulang.." Erina menyuap eskrim dengan lahap. "Tapi ada yang aneh lo,dia tau nama aku sayang,padahal kami tidak saling berkenalan.. hanya bercerita singkat."
"Lain kali hati-hati dengan orang asing mau dia baik atau jahat.. jangan terlalu dekat,mengerti ?"
"Iya sayang.. tapi aku kasian liat ibunya.. dia sepertinya pernah mengalami luka bakar yang parah, tangan dan mukanya terbakar sebagian,tapi masih terlihat cantik.. dia pasti melalui hari-hari yang berat kan.."
"Ini nih.. kelemahan kamu,dan juga kelebihan kamu. Udah yuk pulang,sudah mau sore.."
Gavin dan Erina memasuki mobil untuk kembali pulang, sesampainya dihalaman ia melihat mobil Mila dan Karin sudah terparkir menandakan mereka berdua sudah pulang.
"Kakak.." sapa Mila yang sedang duduk di ruang tv.
__ADS_1
Erina tersenyum dan ikut duduk disamping Mila sambil memegang cup eskrim nya, sedangkan Gavin naik keatas.
"Karin mana Mil ?"
"Di dapur kak,katanya mau buat salad buah,dari tadi nggak datang-datang, kak boleh minta ? hehe."
"Boleh dong,ni sendoknya.. kita gantian.."
"Kak Erinnn!!" teriak Karin yang sedang membawa semangkuk salad buah ditangannya.
Karin meletakan salad buah itu lalu duduk disamping Erina,,
"Kebetulan ada kak Erin,aku buatnya banyak nih.. bisa kita makan bertiga hehe.."
Erina mengambil sendok dan melahap salad buah itu dengan lahap..
"Enak banget,kamu pinter buat nya.."
Karin dan Mila tersenyum geli melihat Erina memakan sendiri salad buahnya..
"Sayang jangan makan banyak-banyak,nanti kamu harus makan malam dan minum susu, sudah jangan diteruskan.."
Gavin datang mengambil mangkuk tersebut dan menyerahkan nya pada Mila dan Karin. Gavin duduk disamping Erina sedangkan Karin pindah duduk disamping Mila.
Mila dan Karin langsung menghabiskan salad buahnya, Erina hanya cemberut karna harus berhenti makan padahal ia merasa kalau perutnya masih belum terisi.
Saat ingin berdiri Erina merasa ada yang aneh dengan tubuhnya,ia merasa panas dan tertekan bagian dada..
"Kamu kenapa ?" Gavin melihat gelagat aneh Erina.
"Nggak,mungkin karna kebanyakan makan,agak begah.."
Erina berdiri dan berjalan menuju meja makan,namun diperjalanan dadanya terasa sesak,seperti ada yang menekan kuat-kuat di bagian dadanya.
Belum sampai duduk di meja makan ,Erina memegang kursi hingga kursi meja makan itu terjatuh dan hampir mengenai dirinya.
"Sayang..!"
"Kakak.." Karin dan Mila langsung berlari kearah Erina.
Erina setengah sadar,ia memegang dadanya erat,dan mukanya memerah..
"Panggil Rey cepat !!"
dengan garcep Karin menghubungi Rey yang masih berada dirumah sakit.
"Sadar Erina.. kamu kenapa ?" Gavin cemas setengah mati melihat Erina kesusahan bernafas.
Gavin langsung membawa Erina ke kamar utama diikuti oleh Mila,dengan garcep Mila langsung membawa oksigen untuk dihirup oleh Erina..
"Kak Rey sebentar lagi sampai kak.." Karin sudah masuk ke kamar utama.
"Erin.." Gavin terus memanggil Erina,melihat Erina seperti ini langsung membuat ia ketakutan,,
"Ku mohon bertahanlah.. jangan tinggalin aku.." Gavin menggenggam tangan Erina dengan Erat.
__ADS_1
Bersambung..