
Salsa sangat terkejut melihat siapa yang baru saja berteriak didepan pintu,
Tidak mungkin,ini mustahil.! bagaimana bisa dia sadar.
"Karin.!!"
Gavin melepas paksa pelukan Salsa dan berlari menuju kursi roda Karin. Ia berlutut dan memeluk tubuh adik kembarnya, menggenggam erat tangan salah satu wanita yang berharga dihidupnya.
"Kau telah sadar.? bagaimana keadaan mu,apa sangat sakit "
Karin melepas genggaman kakak laki-laki nya.Ia bahkan mengacuhkan Gavin.
"Aku baik-baik saja,bahkan sangat baik. Dimana kak Erina."
Karin melirik sekitar tetapi tidak menemukan sosok Erina,
"Kak Rey,bantu aku cari kak Erin."
Ketika Rey ingin mendorong kursi roda Karin,Gavin langsung menahan kursi roda itu.
"Aku disini sangat menghawatirkan mu,tetapi kau sama sekali tidak melihat ku,kau malah lebih memperhatikan Erina,aku kakak kandung mu.!"
"Loh kok kakak yang marah,harusnya aku yang marah,kakak berpelukan dengan wanita ular itu disini.? bagaimana kalau kak Erin liat.? kakak sungguh keterlaluan.!"
"Kakak ipar mu itu pergi meninggalkan ku,dia bahkan bilang ingin bercerai dengan ku,dan kau membela orang yang sudah membuat kamu lumpuh seperti ini.?!"
Rey yang mendengar itu langsung maju dan berbisik ditelinga Gavin
"Jangan pernah bilang lumpuh dihadapan nya,ingat dia baru saja bangun dari koma,kau pikirkan kesehatan nya jika kau berkata seperti tadi."
Gavin tersadar mendengar ucapan Rey, bagaimana pun ia kesal dengan kepergian Erina dan juga sikap dingin Karin,ia tidak boleh berkata diluar batas apa lagi membahas kelumpuhan Karin.
"Karin maafkan kakak,bukan maksud kakak berkata seperti itu,ayo kita masuk ke kamar mu,akan ku suruh pak yan membuat makanan kesukaan mu "
"Jawab pertanyaan aku kak,aku tidak ingin makan. Aku ingin bertemu kak Erina."
"Erina pergi meninggalkan kita semua." ucap lantang Salsa,mereka semua menatap Salsa.
"Aku tidak bicara dengan mu,Kak jawab aku." Karin menatap mata kakak nya.
"Yang Salsa katakan benar,Erin pergi meninggalkan ku, aku tidak tau dia ada dimana sekarang."
"Apa.?!!kamu ini suaminya kak,bagaimana bisa tidak tau kemana istrimu pergi.?! ini pasti karna kau kan.!! Kau menggoda kak Gavin dan membuat kak Erin pergi,dasar wanita Ular.!!".
Karin berusaha berdiri,rasanya ingin sekali ia menghajar Salsa, namun dengan kondisinya ia hampir terjatuh jika Rey tidak cepat menangkap tubuh Karin.
"Karin,jangan terbawa emosi,pikirkan kaki mu,kamu baru saja bangun dari koma,nanti kondisi kamu memburuk kembali," Rey menahan bahu Karin, berusaha menenangkan nya.
"Kak Rey,tolong bawa aku ke kamar. Dan untuk kakak, dengarkan aku baik-baik,salah besar jika kakak menganggap kak Erina penyebab kelumpuhan ku."
"Apa kau bilang.?" Gavin sangat terkejut. "Berarti dia tidak terlibat dalam kecelakaan mu.?"
"Kak,sejak kapan kau bodoh seperti ini,kemana kakak ku yang cerdas dan tegas. Kau memiliki banyak sekali uang dan pemegang kekuasaan tertinggi dinegara ini,siapa yang tidak mengenal mu,tapi tidak ku sangka kau hanya melihat masalah dari sudut pandang mu saja,"
"Karin hentikan.! kamu tidak boleh berbicara seperti itu pada kakak mu," bela Salsa.
"Kenapa ? bukannya kau berhasil menipu kakak ku, mengambil kesempatan disaat istrinya tidak ada, sekarang aku tanya pada kau Salsa,dimana harga diri mu.?!"
Mendengar ucapan Karin yang sangat menyakitinya Salsa menangis,ia berusaha menahan emosi dan sebaik mungkin menutupinya.
"Karin berhenti,jangan seret Salsa,dia tidak ada hubungannya dengan masalah ini."
"Hahaha kakak bahkan masih membelanya,wajar saja kak Erin pergi,kakak memang pantas ditinggalkan." ujar Karin emosi.
"Stop Karin.! jangan memancing emosi ku." Gavin mengepalkan tangannya.
"Kak aku memang orang lumpuh sekarang,tapi aku tidak buta seperti mu. Jangan berbicara padaku sebelum kak Erina ketemu,jika dalam seminggu ini kakak tidak membawa kak Erin,aku sendiri yang akan mencarinya walaupun harus menyeret kaki ku."
"Aku akan membantu mu." Rey berada di pihak Karin.
"Tidak perlu,biar aku yang akan menebus kesalahan kakak ku."
__ADS_1
Kepala Karin terasa berat,denyutan dikepalanya kembali muncul.
"Kak,ku mohon antar aku ke kamar,kepala ku sakit."
Gavin langsung bertanya seberapa sakitnya,namun Karin menolak nya mentah-mentah. Gavin tidak bisa memaksa Karin,ia mengingat kata Rey yang bilang kalau kondisi Karin belum sepenuhnya pulih.
"Aku ke atas dulu,nanti kita bicara." Rey menepuk bahu Gavin dan membawa Karin menuju kamarnya .
Diapartemen Erina sedang bersiap untuk berjalan santai dipinggir pantai,tak lupa ia membawa buku novel nya dan duduk disalah satu restoran yang memang disediakan bagi pengunjung pantai.
Angin pantai membuat rambut lurus cantiknya berterbangan, Erina tengah fokus membaca bukunya, tiba-tiba seorang anak laki-laki duduk di meja Erina.
Anak kecil berkulit putih,pipi cabi dan bermata coklat. Anak itu menatap Erina dengan lekat,ia tersenyum manis kepada Erina, sepertinya anak itu menyukai Erina.
"Hei sayang,siapa nama mu.? kenapa kamu sendiri disini, dimana ibu mu ?". tanya beruntun Erina pada anak itu.
"Kakak cantik sekali,persis seperti ibu ku, sangat cantik."
Erina tersipu malu mendengar nya. "Benarkah itu.? kalau begitu dimana ibu mu.?"
Anak lelaki itu menunjuk ke atas langit,ia memandang langit dengan mata coklat nya.
"Ibu ku disana kak,dia sedang bersama Tuhan."
Mendengar itu ada yang bergetar dihari Erina,ia mengingat masa kecilnya saat ia kehilangan sang ibu.
"Kamu pintar sekali,kalau begitu kamu pasti kemari bersama ayah mu kan "
"Tidak juga,aku kemari bersama nenek ku,itu dia. Nenek..!"
Anak lelaki itu turun dari kursi dan menghampiri seorang wanita tua,ia menarik tangan neneknya menuju meja Erina.
"Nek,lihatlah.. bukankah kakak ini cantik seperti ibu." Wanita itu melihat Erina dengan mata berbinar.
"Maafkan cucu saya,setelah ibunya meninggal ia selalu memperhatikan semua gadis cantik,ia merasa seperti melihat ibunya. "
"Tidak apa Bu,silahkan duduk. Kalau boleh tau nama ibu dan cucu ibu siapa.?"
"Nama ku Kasih,orang bisanya memanggilku Asih, Dan cucu ku satu-satunya bernama Hans.."
Hans langsung berjalan dan duduk dipangkuan Erina.
"Hei Hans,tidak sopan seperti itu,duduk disini."
"Tidak apa Bu,kebetulan saya sangat menyukai anak kecil,cucu ibu sangat tampan.. kelak aku ingin punya satu atau dua seperti Hans."
"Memangnya kamu sudah menikah.? Maaf ibu tidak tau,ibu pikir kamu masih Gadis."
"Haha ibu bisa saja,iya saya sudah menikah."
Erina bercerita panjang lebar dengan Bu Asih, selang berapa waktu bu Asih pamit pulang kerumahnya, Erina juga menawarkan untuk bermain ke apartemen nya yang tidak jauh dari rumah Bu Asih.
Erina memutuskan kembali ke apartemen nya,ia merasa tidak enak badan,walaupun Erina tampak tenang dari luar,tetapi pikirannya selalu tertuju pada suaminya.
Dikamar Karin sesudah tertidur,Rey menyuntikkan obat penenang dan juga pereda sakit untuk Karin. Emosi Karin yang meluap tadi bisa membuat pembuluh darah Karin pecah kembali,itu kemungkinan saja bisa terjadi.
"Gavin,untuk sementara tolong jangan pertemukan Salsa dengan Karin,dan jangan sampai membuat hal yang bisa bikin darahnya naik,itu sangat tidak baik untuk kesehatan nya, dia baru saja sembuh."
"Baiklah kalau memang begitu, Aku akan berusaha menjaga emosi Karin "
"Bagaimana pencarian nona Erina,apakah sudah ketemu.?"
"Daniel sedang mencarinya. Aku menyerahkan semua masalah ini padanya."
"Baiklah kalau begitu aku percaya pada mu "
Tingg.! Rey mendapat pesan,matanya membulat saat ia melihat isi pesan tersebut.
"Gavin,kau bisa jaga Karin.? aku ada keperluan ke rumah sakit,.?"
"Ada apa.? apa ada perkembangan tentang pencarian mu ?"
__ADS_1
"Untuk itu aku kesana,kita akan menuntaskan kesalahpahaman ini semua,"
Rey bergegas menuju rumah sakit,ia merasa sangat takut,takut apa yang ia pikirkan itu adalah benar.
Aku tidak tau harus bagaimana,jika memang kamulah orangnya.kenapa kamu sampai bertindak sejauh ini. Apa yang kamu cari Sa.
Setelah makan malam, Mila berpikir keras bagaimana cara ia bertemu dengan Karin,ia sangat senang kakak kembarnya sudah sadar namun juga ragu untuk bertemu,ditambah kata Gavin jangan membuat dia emosi.
Akhirnya Mila memberanikan diri untuk menemui Karin, Saat ia melangkah masuk,Karin sedang termenung diatas tempat tidur nya,sontak saja wajah nya menoleh ke arah pintu.
"Eh Kak.. Kakak baru bangun,apa kakak mau aku bawakan makan.?"
"Tidak,,"
Mila berjalan dan naik ke atas tempat tidur,ia ikut duduk disamping Karin.
"Kamila.."
Kenapa kakak memanggil namaku selengkap itu.
"Iya kak.?"
"Sejak dari kandungan kita selalu bersama kan,kamu menyukai apa yang aku suka,dan juga sebaliknya. Walau watak kita jelas berbeda tatapi jika tentang hati kita selalu sama,Namun kenapa kali ini berbeda."
"Maksud kakak.?"
"Kenapa saat aku tidak ada hati kamu bisa berubah pada kak Erin,aku tidak tau apa yang kamu pikirkan Mil, sekalipun kak Erin terlibat atas semua yang terjadi pada ku,tidak seharusnya kamu menuduhnya,kamu lupa.? kamu sendiri bilang kalau kak Erin membawa kehangatan rumah ini. Tapi kamu sendiri yang bersikap seperti ini. Aku kecewa.. sama seperti Kak Gavin, bagaimana bisa mencurigai orang yang kita sayang."
"Tapi saat itu semua bukti tertuju pada kak Erin, hanya dia. Wajar aku menuduhnya."
"Kamu bahkan sekarang memanggil diri kmu itu aku,bukan Mila. Sejauh apa wanita ular itu mengubah mu Mila."
"Kak Karin sama saja seperti dulu,tidak berubah.Aku tau kakak membenci kak Salsa,tetapi tidak harus menyeret nya. Dia tidak salah "
Dasar Bodoh,sikap mu sekarang akan segera kamu sesali nanti.
"Terserah,aku hanya ingin memberi kebenaran pada mu,Yang menabrak ku tidak ada hubungannya dengan kak Erin,Aku bisa seperti ini karna ingin menolong nya, aku sendiri yang menabrakkan diri ku ke mobil itu."
"Apa.?!"
"Aku tidak berbohong Mila,aku tau mana sengaja mana paksaan,para lelaki itu menyeret tubuh kak Erin untuk masuk,mangkanya aku langsung menolongnya."
"Tapi kata kak Salsa kak Erin kabur bersama mantan pacarnya.Aku juga melihat foto mereka bersama waktu sekolah dan juga ketika kak Erin berada ditokonya."
"Itulah perbedaan Aku dan Kamu Mil.Kamu melihat dan mencerna sesuatu itu mentah-mentah,tidak dilihat dulu.. tidak diselidiki dulu "
Tubuh Mila kaku,ia bagaikan dihempas oleh perkataan Karin,ia merasa sangat bodoh jika dibandingkan dengan saudari kembarnya. Omongan Karin benar adanya.
"Kak.. jika itu benar,berarti aku melakukan kesalahan yang besar."
"Bukan besar lagi,tetapi sangat besar ."
"Kak aku.."
"Sudahlah,aku tidak ingin mendengar penyesalan mu, simpan itu semua untuk kamu katakan langsung pada Kak Erin."
Mila merasa sangat menyesal,ia bahkan buta akan kebenaran,ia terlalu polos untuk memahami situasi, lebih mengutamakan prasaan dibanding logika.
"Bagaimana kita bisa tau kemana kak Erin pergi."
"Besok kamu temui Randy,bawa dia kemari,dia pasti tau kak Erin pergi kemana "
*
*Bersambung...
Maaf untuk para Pembaca,aku belum bisa update banyak. aku sangat sibuk akhir-akhir ini,aku sempatkan menulis ini untuk stok BAB dua hari kedepan.
Karna dua hari kedepan aku di luar kota,akan melelahkan dijalan, takutnya tidak bisa menulis,Mangkanya aku menulis sekarang untuk dua hari kedepan.Setidaknya ada yang aku berikan pada kalian untuk dibaca.
Semoga aku bisa kembali menulis ya Gess..**
__ADS_1
Thor akan kasih bocoran,Bentar lagi akan ada yang hamil,kalian pasti tau,tebak sendiri ya. 😂
Byeee see you 😘😘😘**