
Keesokan paginya Erina terjaga,ia mendapati dirinya terbaring dikamar rumah sakit.Dia mengingat saat lelaki penuh nafsu itu memukul kepalanya dan membanting tubuhnya ke atas meja.
Lelaki itu tidak menyentuh ku kan,perut ku sakit sekali,kepala ku juga. Aku sedang dalam penyuburan kan, bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu pada rahim ku.
Ceklekkk..
"Kamu sudah bangun sayang," Gavin meraih tangan Erina. "Syukurlah..kau selamat." ujar Gavin membelai pipi istrinya.
Kenapa susah sekali untuk menjawab Gavin, rasanya mulut ku terkunci.
Gavin memanggil dokter saat melihat istrinya sudah siuman. Dokter memeriksa tubuh Erina. Ia mengatakan kalau kondisi Erina semakin membaik,tapi memang Erina belum boleh banyak bergerak karna jahitan oprasi nya masih belum sepenuhnya kering.
"Jika nona Erina sudah bisa pulang,tolong anda suaminya membantu ia untuk mandi,hingga satu bulan luka itu dilarang terkena air,jadi tolong anda perhatikan itu tuan Gavin."
"Baiklah dok, terimakasih banyak atas kerja kerasnya, saya akan memberikan bonus untuk kalian yang membantu oprasi istri saya, Sekretaris saya yang akan mengaturnya."
"Anda tidak perlu seperti itu tuan,itu memang tugas saya."
"Tidak masalah,anggap saja uang itu sebagai tanda terimakasih ku karna kalian menyelamatkan nyawa istri ku "
"Baiklah tuan Gavin, terimakasih atas kemurahan hati anda,saya undur diri.. permisi "
Setelah Dokter keluar Gavin kembali duduk disamping Erina.
"Apa kamu baik-baik aja Sayang,apa yang sakit."
Erina mengangguk.. "Aku baik-baik aja,kepala dan perut ku terasa sakit,mungkin efek obat biusnya sudah menghilang."
Gavin menjaga Erina dengan hati-hati,ia mengerahkan pengobatan Erina agar cepat sembuh.
Tiga hari kemudian Erina sudah bisa keluar dari rumah sakit,namun Gavin melarang Erina untuk berjalan,ia menyuruh Erina memakai kursi roda.
Erina hanya menurut pada suaminya,sebelum kembali ke Mansion ia singgah kerumah orang tuanya. Gavin mendorong Erina masuk,mereka melihat Bramantyo sudah duduk dikursi roda,keadaanya semakin membaik.. Rasty yang sedang menyuapi papanya langsung antusias melihat Erina datang.
"Kakak.." Rasty meletakkan makanan dan berlari kearah Erin, "Kakak baik-baik saja,maafkan aku kak. Aku membuat kakak jadi seperti ini " Rasty menangis.
"Ini bukan salah kamu sayang,ini semua ide kakak dan kemauan kakak sendiri,tidak ada hubungannya dengan kamu."
"Erina benar,itu bukan salah kamu. Istri ku saja yang sok hebat melabrak orang." ujar Gavin menyambung.
Erina hanya tertawa mendengar ucapan Gavin,
"Kenapa tertawa,aku sedang tidak memuji mu,"
Setelah berpamitan dengan Papa dan Rasty,Erina dan Gavin pamit pulang ke Mansion.
"Saat aku sembuh nanti,aku akan sering mengunjungi papa "
Diperjalanan Erina dikejutkan dengan kecelakaan lalu lintas,ia berteriak saat mobil yang baru saja menyalip mobil mereka terbalik menghantam trotoar.
Tiba-tiba kepala nya sakit,terlintas dibenaknya api berkobar dibalik mobil.
"Sayang kamu kenapa.?!" Gavin panik melihat istrinya menjerit dan memegang kepalanya.
"Api..! api.!."
"Tidak ada api sayang,mereka hanya menabrak trotoar saja,korbannya juga hanya luka-luka,lihatlah."
Erina melihat mobil yang baru saja menabrakkan diri ke trotoar jalan,tak ada api.. ntah kenapa saat dibenaknya ada kobaran Api.
"Tenang lah.. mungkin ini efek luka dikepala mu,nanti sampai rumah kita minum obatnya."
Gavin memeluk tubuh Erina yang gemetaran,keringat meluncur dari dahi istrinya,padahal mobil dalam keadaan dingin.
Setelah sampai di Mansion Gavin meminta pak yan untuk mengantar makan siang di kamar utama, Gavin membopong tubuh istrinya untuk duduk ditempat tidur.
"Aku akan menjaga mu sampai sembuh,aku tidak bisa meninggalkan mu sendirian."
"Tapi kan ada pak yan,dan juga.."
__ADS_1
"Apa.? Mila maksud kamu.? Sayang.. dia masih marah pada mu,sampai saat ini juga dia masih tinggal di apartemen Salsa karna tidak ingin menemui mu."
"Aku tau itu sayang. Baiklah kalau begitu."
"Semarah apapun aku,aku tetap tidak bisa membiarkan mu dalam keadaan seperti ini,Yasudah sebentar aku akan mengerjakan kerjaan ku di ruang kerja,makanlah dan minum obat mu,aku akan segera kembali."
Selang Gavin pergi,Pak Yan mengantar makanan berdua dengan Daniel.
"Gavin ada di ruang kerjanya."
"Iya saya tau Nona, saya ingin berbicara pada Anda."
Setelah pak yan mengantar makanan dan obat,ia kembali kebawah untuk membuatkan cemilan untuk Gavin.
"Apa yang ingin kamu bicarakan Daniel."
"Saya hanya ingin memberi ini,ponsel dan juga tas nona yang tertinggal ditempat kerjadian,Saya sudah menyelidiki mereka.. lelaki itu adalah partner kerja nyonya Sisil,dia juga teman ibu tiri anda."
"Iya aku tau tentang itu,Rasty yang menceritakan nya."
"Nyonya Sisil sangat murka saat ditangkap,dia mengatakan akan mengirim anda untuk menyusul mendiang ibu anda,Maaf saya lancang. Tapi itu yang dia bilang pada saya. Apa mendiang ibu anda berteman dengan nyonya Sisil.?"
"Aku tidak begitu mengingatnya Daniel,aku hanya mengetahui mama ku hanya punya satu sahabat, yaitu mama tiri ku yang sekarang."
Apa aku harus mengatakan ini,tadi nona Erina teriak api saat dimobil,dia mengingat potongan kecelakaan nya dulu,kalau aku mengatakan ini apa dia akan mengingat atau sebaliknya. Sudahlah,Aku akan katakan saat ia sudah sembuh saja,terlalu beresiko jika sekarang.
" Ahh begitu,mungkin karna emosi dia jadi berbicara ngelantur nona,anda tidak perlu mencemaskan mereka lagi,saya sudah pastikan mereka mendekam di penjara."
"Baiklah kalau begitu Daniel, terimakasih banyak sudah membantu ku."
"Itu sudah tugas saya,Kalau begitu saya permisi Nona."
Daniel keluar dari kamar Utama menuju ruang kerja Gavin untuk membahas pekerjaan.
sedangkan Erina memakan makan siangnya dan meminum obat yang sudah diresepkan oleh dokter. Setelah itu Erina beristirahat.
Gavin melihat Erina sedang tertidur,ia ragu untuk membangun kan,namun hari sudah mulai sore,waktunya ia memandikan istrinya.
"Sayang.. " Gavin membangunkan Erina pelan.
Mata Erina perlahan terbuka, "Sudah berapa lama aku tidur,maaf sayang."
"Tidak apa-apa,ayo waktunya mandi." Gavin menggendong tubuh Erina.
Gavin membuka baju Erina dan mulai membersihkan bagian tubuh Erina.Gavin juga mencuci rambut panjang istrinya.
"Sepertinya kamu sudah selesai datang bulan,tidak berdarah lagi."
"belum selesai,cuma memang tinggal sedikit saja, lusa baru selesai sayang."
"Oh begitu.."
Gavin dengan telaten mengelap tubuh istrinya,dia juga memakai kan baju Erina,memang benar-benar tidak boleh berjalan,Erina hanya duduk mengikuti perkataan suaminya.
"Sayang aku ingin makan yang berkuah,sepertinya enak jika aku memakan Mie instan rasa kari,dicampur telur setengah matang." Erina antusias.
"Kamu lupa tidak boleh makan telur,biar jahitannya cepat sembuh,dan juga apa itu Mie Instan.. aku belum pernah memakan mie seperti itu."
"Hah..? kamu belum pernah makan mie instan, apa-apaan ini,,"
"Sesuatu yang masuk ke tubuh ku ini tidak pernah makanan yang Instan sayang."
Ya..ya . kau tuan raja,mau mie tinggal suruh pelayan buat, aku juga bisa kalau menjadi orang kaya seperti mu.
"Yasudah kalau gitu aku mau sup ayam yah."
"Sup iga jauh lebih bergizi,atau sup tulang sum-sum, atau sup daging sekalian "
"Aku tidak makan daging,"
__ADS_1
"Kenapa."
"Gak kenapa sih,ya gak suka aja,aku pengennya makan sup ayam."
"Yasudah,aku mau mandi dulu,tinggal telpon saja pak yan apa yang kamu mau tadi."
"Baiklah."
Selesai mandi mereka makan malam dikamar, Gavin juga tidak lupa mengabari Salsa untuk menanyai Mila,Erina sempat melihat nama pengirim pesan diponsel Gavin.
"Kenapa kamu menelpon Salsa."
"Aku menanyakan kabar Mila, kenapa.?kau cemburu"
"Tidak. aku hanya bertanya."
"Benarkah.?"
"Benar sayang,sudahlah lanjut makan."
Aku harus menemui Salsa secepat nya,aku jadi lupa ingin menemui dia karna masalah tidak berhenti datang,ya tuhan..
Selesai makan malam Gavin sedang sibuk dengan laptopnya ditempat tidur,Erina hanya bisa memainkan ponselnya.
Tingg..! pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
"Hay Erin,save nomor kakak ya,Luna "
Erina menjadi senang mendapat pesan dari Luna,ia sangat merindukan sosok kakak walau pertemuan mereka sangat singkat.
"Apa kabar Kak.. dari mana kakak tau nomor ku,"
"Kabar ku baik,aku mendapat nomor mu dari Gavin, Bagaimana obat yang ku kasih sudah diminum.?"
"Obatnya sudah ku minum kak,rutin. Tapi parfumnya belum sama sekali,aku sedang tidak sehat jadi tunggu aku sehat dulu baru beraksi."
"memangnya kamu sakit apa ?"
"Cerita nya panjang kak,yang pasti aku baru selesai oprasi,"
"Ya ampun, aku jadi penasaran,yasudah lain waktu kamu wajib bercerita ya."
"Baiklah kakak ku* "
Gavin melihat tingkah Erina yang fokus sekali dengan ponselnya,sesekali tersenyum membuat Gavin menjadi Risih.
"Kamu ngapain sih,chatan dengan selingkuhan kamu ya."
"Eh bukan sayang,dengan kak Luna,katanya dia dapat nomor aku dari mu."
"Oh tadi dia memang meminta nomor mu,apa yang kalian bicarakan.?"
"Tidak penting sayang,urusan perempuan. Yuk tidur." Erina ingin mengalihkan Gavin,namun ia lupa bahwa dia bergerak terlalu berlebihan.
"Awww.. "
"Ya ampun, hati-hati ku bilang,biar aku yang membaringkan mu,"
"Hehe lupa sayang."
Gavin membantu Erina membaringkan tubuhnya,lalu menutup laptopnya dan mematikan Lampu. Gavin tidak terlalu mendekap Erina karna takut membuat jahitan Erina terbuka,ia hanya mendempetkan tubuh mereka berdua.
**Bersambung...
...Jangan lupa LIKE,VOTE,dan KOMEN nya yang selalu Author tunggu....
...Terimakasih telah membaca,Klik FAVORIT untuk mendapatkan Notifikasi selanjutnya....
...Love U Tomat ❤️❤️❤️**...
__ADS_1