
Kini kandungan Erina sudah berjalan dari tiga ke empat bulan,karna mengandung bayi kembar perut Erina dua kali lebih besar 20% dari perut ibu hamil yang normal walaupun usia kandungan mereka sama.
Gavin membelikan berbagai model baju hamil,ia juga membelikan bantal untuk khusus ibu hamil,agar Erina tidur lebih nyaman,karna sering kali Erina mengambil semua bantal termasuk bantal milik Gavin untuk dipakai menyangga punggung belakang nya.
Gavin juga dibuat serba salah oleh Erina, selama menginjak tiga bulan Erina sering kali berubah sikapnya, kadang manis sekali kadang emosian. Ia juga menyuruh Gavin tidur di sofa karna dia tidak suka aroma tubuh Gavin,karna mengerti ngidamnya ibu hamil Gavin tetap sabar menghadapi sang istri.
"Sayang, kenapa tidur disana ?"
"Kan kamu kemarin yang menyuruh ku tidur disini karna bau tubuh ku."
"Eh iyaa ya,yaudah sekarang aku tidak merasa kamu bau lagi,yuk tidur disini " Erina menepuk samping tempat tidur nya.
"Nggak usah sayang,aku disini saja,dari pada tengah malam kamu suruh aku tidur di sofa,mending dari sekarang." Gavin merapikan bantalnya.
Erina mendengar itu langsung bersedih,melihat suaminya sudah berbaring di sofa Erina memutuskan keluar kamar untuk menghirup udara segar.
Melihat Erina membuka Pintu Gavin langsung terduduk.
"Mau kemana ?"
"Keluar." ucap Erina Datar.
"Sudah malam sayang,udara diluar juga dingin."
Gavin langsung berdiri dan menuju pintu,takut istrinya keluar diam-diam Gavin memasang kunci atas agar Erina tidak bisa membukanya. Ia terkejut melihat mata istrinya berair.
"Kamu menangis sayang,ada apa ?"
Erina menepis tangan Gavin,ia berjalan menuju tempat tidur dan berbaring,Gavin yang paham maksud sikap Erina merasa bersalah. Saat ia mendekati Erina lampu kamar langsung dimatikan oleh Erina.
Selang beberapa waktu Erina masih terjaga, perasaannya masih sedih,ia juga tidak tau kenapa dia bersikap seperti ini, perasaan nya menjadi sensitif ketika hamil.
Tiba-tiba Gavin memeluk Erina dari belakang.
"Sayang,kenapa belum tidur."
Melihat Erina diam saja Gavin memiringkan tubuh Erina kehadapan nya dengan hati-hati,mengusap pipi dan juga perut buncit Erina,ia semakin gemas melihat tubuh Erina kini.
"Maafkan aku sayang,maaf atas kata-kata aku yang membuat mu sedih."
"Aku juga tidak ingin seperti ini " Isak Erina.
"Tidak sayang,kamu tidak salah.. ini bawaan bayi kita,akulah yang kurang peka sama kamu,maafin kekurangan suami kamu."
"Tidak masalah sayang,aku juga banyak kekurangan.. selama hamil aku belum melayani kamu secara batin."
Mendengar itu Gavin mengingat bahwa dokter memberitahu kalau ia boleh melakukan hubungan suami istri saat kandungan Erina tiga bulanan karna sudah kuat.
"Untuk sekarang mari kita tidur,aku akan memintanya jika aku ingin nanti ,kan sudah boleh. "
Gavin memeluk tubuh Erina namun tidak begitu erat,takut perut Erina tertekan. Mereka tertidur perlahan.. Semenjak malam itu kondisi Erina membaik, ia jarang berubah sikap,sudah kembali seperti Erina yang dulu Namun memang masih agak sedikit sensitif.
"Sayang bulan besok sudah bisa melihat jenis kelamin si kembar.." ujar Erina.
"Benarkah ? aku akan menemanimu memeriksanya."
"Kami juga mau ikut kak."
Ujar Karin yang tertatih berjalan,ia sudah tidak menggunakan kursi roda lagi namun masih memakai tongkat untuk membantunya berdiri.
"Hati-hati Karin," Erina memapah Karin duduk disampingnya.
"Tidak masalah apa jenis kelamin si kembar nanti yang penting mereka berdua lahir sehat dan lengkap."
"Kak Gavin benar,kak Erin sudah mengandung anak kembar aja itu sudah sangat membahagiakan, tidak masalah jenis kelaminnya."
Mereka bertiga mengobrol bertiga diruang tengah, Gavin sering mengambil cuti dan lebih sering bersama dengan Erina,mengingat ada dua bayi yang Erina kandung,ia takut terjadi apa-apa pada istri dan juga bayinya.
Menjelang sore Erina dan Karin bersantai dipinggiran kolam renang, sedangkan Gavin diruang kerjanya mengurus pekerjaan hari ini,walaupun ia mengambil cuti namun tetap saja Gavin mengerjakan pekerjaannya.
__ADS_1
Dari pintu Utama Mila masuk dalam keadaan muka yang kusut, sambil membawa cake pesanan Erina.
"Pak yan,kak Erin dimana?"
"Duduk dikolam renang bersama nona Karin, tapi nona muka anda kenapa.?"
"Panjang ceritanya pak yan, yasudah aku ke tempat kak Erina dulu."
Mila berlari kecil menuju kolam renang, melihat Erina dan Karin sedang duduk mengobrol sambil melihat-lihat katalog berisi pakaian bayi.
"Kak.." ujar Mila.
Mereke berdua menoleh pada Mila, Erina tercengang melihat muka Mila sedangkan Karin terbahak-bahak menertawai penampilan Mila.
"Ya ampun kamu kenapa Mila."
"Habis nolongin korban kebakaran ya hahahaha."
Mila melihat Karin tertawa membuat mukanya makin masam.
"Karin jangan begitu, " Tegur Erina.
"Maaf kak,maaf ya Mila.. hehe " masih dengan muka yang menahan tawa.
"Ini cake pesanan kakak, Untung cake kakak selamat walau agak rusak,maaf ya kak."
"Iya tidak masalah sayang,cepat bersihkan dulu tubuh mu nanti ceritakan pada kakak dan kita makan cake ini bersama." ujar Erina lembut.
Mila berjalan menuju kamarnya dengan hati dongkol,ia belum bisa memaafkan pria yang menyenggol nya tadi.
Kesel ! Awas aja aku ketemu dia lagi. Karna dia cake pesanan kak Erin hampir rusak dan tidak bisa dimakan.
Mila masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Pak yan berjalan menuju kolam Renang,
"Nona,ada tamu.. katanya ingin ketemu dengan anda."
"Namanya Dean nona."
"Ah Dean ?! suruh saja dia kemari pak,Gavin sudah mengenal dia juga kok,dia adik saya."
"Baiklah nona."
"Kak.. adik yang mana,selain Randy dan Rasty ?"
"Adik kenal diluar." Ujar Erina tersenyum.
Karin semakin bingung maksud dari kakak iparnya,ia hanya pura-pura mengerti.
"Kak !!" Sapa lelaki itu sambil membawa banyak oleh-oleh ditangannya.
"Dean ! ya ampun.. kamu ngapain bawa makanan sebanyak ini,dan apa ini.. kamu jauh lebih tampan dari sebelumnya."
"Kak Erin bisa aja,aku kan memang tampan." Dean duduk sebelah Erina.
"Oh kenalkan dia Adik ipar kakak,namanya Karin."
"Dean." Dean mengulurkan tangannya, dan disambut oleh Karin. "Karin."
"Wahh.. perut kakak sudah lumayan besar ya,nampak kalau lagi hamil ya, hehe.."
"Ya iyalah kan ada dua didalam."
"Apa ?!" kejut Dean. "Anak kembar kak ?? Kaka hebat sekali." antusias Dean.
"Terimakasih.. oh iya kamu sudah dapat kerjaan ?"
"Sudah kak,baru saja diterima,besok aku sudah bisa bekerja."
__ADS_1
"Benarkah ?! dimana."
"Di perusahaan pusat LUZIO GROUP kak ,sumpah aku beruntung banget keterima disana." ucap Dean semangat.
Karin dan Erina sangat terkejut mendengar nya,Erina baru ingat kalau Dean tidak begitu mengenal suaminya wajar saja tidak tau.
"Itukan perusahaan kakak ku,"
"Apa ?,gimana maksudnya.?" ujar Dean.
"Perusahaan yang kamu masuki itu milik suami ku Dean "
Dean membatu,ia tidak menyangka Erina yang ia kenal selama ini adalah nyonya besar LUZIO.
Berarti yang kemarin ketus itu tuan Muda LUZIO ? mampus aku.. kalau dia tidak suka dengan ku bagaimana.
"Maaf kak.. eh nona Erina." ujar Dean gugup.
Erina mendengar itu jadi tidak suka.
"Jangan memanggil ku nona,panggil aku seperti sebelumnya,Kamu ini adikku.. aku kakak mu.. bukan bos kamu." tegur Erina.
"Tapi suami kakak adalah bos aku,kalau aku sok akrab dengan kakak nanti aku bisa mendapatkan masalah bukan."
"Tidak masalah jika kau tidak bersikap melewati batas terhadap istri ku." ujar Gavin yang muncul dari balik pintu.
"Sayang.." Erina berjalan menghampiri Gavin.
"Biar aku yang kesana sayang tidak perlu kemari nanti kamu lelah." sambil mengusap perut Erina.
"Iya sayang.."
Dean menjadi gugup saat melihat Gavin, berbeda saat mereka pertama kali bertemu.
"Jika kamu lulus dikantor pusat ku,berarti kamu memang terbaik,jangan mengecewakan istriku yang sudah menganggap kamu sebagai adiknya."
Mendengar itu hati Dean menjadi lega,ia menjadi antusias saat ini,karna sudah mendapatkan lampu hijau dari Gavin.
"Terimakasih banyak tuan,saya akan bekerja dengan seluruh kemampuan terbaik saya untuk LUZIO GROUP."
"Untuk tempat tinggal kau bisa tinggal disini,sekalian kamu memiliki keluarga mulai sekarang."
Mendengar itu Dean menjadi haru,,
Bagaimana mungkin tuan Gavin tau,atau kak Erina sudah menceritakan semuanya.
"Terimakasih banyak tuan,kak Erina.. dan juga Karin.. terimakasih mau menerima saya disini."
"Jangan sungkan Kak Dean." ujar Karin.
"Kamu memang pantas mendapatkan ini semua, jangan merasa sendiri lagi. Sekarang akulah kakak mu." ujar Erina menepuk bahu Dean.
Begitu juga dengan Gavin,ia sudah mengetahui siapa Dean,dia menjadi simpati dengan Dean.. ia bagaikan melihat Daniel waktu dulu saat seluruh keluarganya meninggal.
Mereka berpindah kedalam ruang tv,pak yan juga menyediakan makanan yang dibawa oleh Dean dan juga Cake yang Erina pesan tadi.
Dalam sekejap Dean sudah akrab dengan Karin, mereka banyak mengobrol sedangkan Erina dan Gavin asik memilih baju yang cocok untuk anak kembarnya.
Mila yang sudah selesai membersihkan tubuh langsung turun dari tangga,ia terkejut melihat siapa yang sedang berkumpul dengan keluarganya.
"Mila.. kenalkan dia ini.."
"Kamu.?!!" ucap Mila terkejut.
Bagaimana mungkin dia ada disini !
**Bersambung....
...Jangan lupa LIKE,KOMEN dan VOTE yang selalu Author tunggu dari kalian.....
__ADS_1
...Terimakasih telah membaca,klik FAVORIT untuk mendapatkan Notifikasi selanjutnya....
...Byee,Love U Tomat ❤️❤️❤️**...