
Keesokan paginya Erina sudah bersiap ingin lari pagi dipinggiran pantai,sekalian dia mencari sarapan pagi. Saat keluar pintu kamar,Erina berpapasan dengan Dean yang kebetulan ingin berolahraga pagi.
"Eh kak.." sapa Dean.
"Mau olahraga juga ya."
"Nggak kak,mau camping." lalu Dean tertawa meledek.
"Dasar," Erina berbalik ingin turun.
"Eh kak,ikut dong.. kalo lari paginya berdua kan enak,Oh iya disini sedia sepeda loh kalau ingin keliling pantai."
"Seriusan ? Mau lah kalau gitu,lari ya capek juga,haha."
"Yaudah yuk."
Erina dan Dean turun kebawah untuk mengambil sepeda,mereka bersepeda dipinggir pantai,kebetulan hanya mereka berdua yang berada disana.
"Kak keadaan sepi kaya gini cocok untuk bersepeda sekencangnya dan berteriak "
"Idih ngapain teriak,nanti dikira ada maling gimana."
"Maksud ku itu,teriak mengeluarkan isi hati.. Aku sering melakukan nya,setiap punya masalah aku pasti bersepeda dan berteriak.. nggak akan denger kok,suara ombak melebihi suara kita."
"Sok dewasa,memang seberat apa masalah kamu."
"Ya beratlah pokoknya kak,memangnya kakak nggak punya masalah ?"
"Ya punya lah,semua manusia di dunia ini punya masalah,ya hanya saja tidak terlihat.. manusia memang sangat pandai menyembunyikan perasaan nya."
"Ayo kak, bersemangat untuk hidup.. mari kita melepas beban.." Dean mengayuh sepedanya dengan kencang.
"Dean ! tunggu aku !!" Erina pun menyusul Dean.
Mereka malah seperti balapan sepeda,Erina yang tidak ingin kalah melajukan sepedanya melewati Dean, dan Dean yang merasa tersaingi oleh Erina berusaha mengejar Erina.
Sampai diujung pantai mereka berhenti.
"Aku menang,hahahah" teriak Erina girang,ia tidak pernah merasa sesenang ini sebelumnya.
"Kok kita kayak balapan sih,mana aku kalah lagi dari kakak." gerutu Dean.
"Hahaha.. ya ampun maaf,terlalu semangat ingin mengalahkan mu," Erina tergelak senang.
Andai kakak ku masih hidup,akan ku buat dia sebahagia kak Erina saat ini.
"Kak kita cari makan yuk,aku haus banget.. mana belom sarapan lagi."
"Yaudah ayo," Erina hendak menaiki sepeda nya.
"Jangan main sepeda kak,jalan aja.. Deket kok, tu disana."
"Oh iya,yaudah ayo"
Mereka duduk disalah satu Restoran pinggir pantai,mereka memesan makanan dan juga air mineral.
Sedangkan di mobil Randy,Mila sesak nafas karna mengendap keluar Mansion. Mila izin kepada pak yan untuk membawa Karin ke taman. Setelah sampai ditaman ia juga membuka Pagar samping untuk mengeluarkan Karin,setelah itu baru dirinya.
"Sumpah aku capek banget, udah kaya maling dirumah sendiri." ucap Mila ya g ngos-ngosan.
"Baru segini doang." cuek Karin.
__ADS_1
"Kak,besok udah sembuh kaki mu,tolong gendong aku.. dan rasakan sensasinya." ucap Mila berapi-api.
"Hahaha iya-iya,"
"Kita ke pantai Utara aja dulu ya,kalau tidak ada disana baru ke selatan."
"Terserah aja Ren,kami ngikut aja.."
Mereka bertiga langsung berangkat menuju pantai Utara untuk mencari Erina.
Di restoran Erina dan Dean baru selesai makan,, mereka duduk santai sebelum kembali ke Apartemen.
"Dean,kalau aku boleh tau,memang kamu ada masalah apa.. dan kenapa kamu bisa tinggal disini.?"
"Aku juga baru tinggal disini kak,tiga tahun lalu kakak perempuan ku meninggal." ucap Dean ketir.
"Maafkan aku kalau membuat mu ingat itu,jangan cerita kalau itu membuat kamu sedih."
"Tidak kok kak,santai aja.. Aku dan kakak ku tumbuh berdua dari kecil,sewaktu aku SMP,kakak ku masih SMA. Dari situ kami harus membiayai diri kami berdua karna kedua orang tua kami meninggal waktu itu. Selang berjalannya waktu kakak ku mendapatkan pekerjaan impian nya,namun sebelum itu terjadi kakak ku kecelakaan lalu lintas."
"Apa dia karna itu.."
"Bukan.. saat itu kakak masih bisa disematkan,namun kakinya lumpuh,dan kata dokter itu lumpuh permanen. Aku sangat terpukul,apalagi kakak ku.. dia tidak ingin bertemu siapapun,termasuk aku adiknya. setiap aku datang dia menangis,dia berteriak dia bilang kalau dirinya tidak berguna, saat itu aku baru masuk kuliah.Sampai suatu saat."
Melihat mata Dean yang mulai berkaca-kaca Erina langsung pindah tempat duduk dan menepuk bahu menenangkan Dean.
"Kakak ku bunuh diri.. dia menyayat nadi nya dengan pisau buah,sebelum itu dia meninggalkan surat untuk ku,disurat itu berisi permintaan maafnya atas semua keputusan yang dia buat,termasuk bunuh diri. Aku sampai sekarang tidak ikhlas,aku sangat hancur saat mengingat aku tidak memiliki siapapun lagi, kenapa kakak Setega ini meninggalkan aku sendiri. Jangankan kaki lumpuh,lumpuh seluruh tubuh pun,aku akan tetap bersama dengannya."
Dean menitikkan air mata,ia kembali merasakan ngilu dihatinya.
"Dean, aku rasa keputusan yang kakak kamu pilih bukanlah keputusan yang sebenarnya datang dari hati nya,mengambil keputusan itu bukanlah hal yang mudah untuknya,mungkin inilah yang terbaik menurutnya."
"Mungkin kamu akan bahagia jika kakak mu tetap hidup dan berada disamping mu saat ini,tapi apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan nya jika terus bersama mu, dia akan merasa tak berguna dan merasa membebani mu,itu membuat hatinya sakit,seorang kakak yang seharusnya melindungi malah menjadi beban bagi adiknya."
Dean terdiam mendengar perkataan Erina,ia kini mengerti,yang dia harus lakukan adalah mencoba mengerti posisi kakak nya dan berusaha mengikhlaskan kepergian kakaknya.
"Terimakasih ya kak.. kakak benar,aku yang seharusnya mengalah dan mengerti posisi kakak ku, aku akan mencoba untuk menerima keputusan itu,semoga kakak ku Bahagia diatas sana."
"Aamiin."
Mereka memutuskan kembali ke apartemen, Suasana haru berubah menjadi cerah kembali.
"Eh ngomong-ngomong nama kakak kamu siapa "
"Namanya Larasati.kami semua memanggil nya Laras "
"Nama yang indah,pasti dia sangat cantik."
"Tentu lah,lihat saja adiknya, tampan." Senyum jenaka Dean pada Erina.
"Dasar..!"
Mereka tertawa bersama sambil mengayuh sepeda menuju apartemen.
Didepan Apartemen mobil Randy terparkir,sedangkan Karin dan Mila masih didalam mobil,hanya Randy yang pergi mengecek ke dalam Apartemen.
Didalam mobil Karina masih terjaga,sedangkan Mila tertidur lelap disampingnya,saat ia mengamati laut dari kejauhan Karin melihat Erina menaiki sepeda bersama seorang pria,raut bahagia terpancar dari wajah Erina.
"Kak Erin..! Mila,bangun. lihat itu ada kak Erin."
Mila terkejut dan membuka matanya yang masih buram.
__ADS_1
"Mana kak.. aku gak nampak."
"Astaga,kamu sih tidur aja kerjanya. Itu mereka sudah masuk kedalam,ayo kita keluar. bantu aku duduk dikursi roda."
"Baiklah kak,tinggu."
Mila mengeluarkan kursi roda Karin dan mendudukkan Karin,lalu mendorongnya memasuki Apartemen. didalam mereka berpapasan dengan Randy.
"Loh kalian ? oh iya diapartemen ini ada tercantum nama kak Erin,kak Erin benar-benar berada disini."
"Aku sudah tau Ran,tadi aku melihat kak Erin masuk sini,aku kira ketemu sama kamu."
"Tidak,yaudah ayo kita langsung ke kamarnya aja. aku sudah tau lantai dan nomor berapa."
Mereka bertiga menaiki lift menuju kamar Erina,ketika telah sampai depan pintu mereka mengetuk pelan. Mendengar ada yang mengetuk pintu,Erina yang Baru saja masuk kembali ke pintu,dia mengira yang mengetuk adalah Dean.
"Apa lagi..". Belum sempat lanjut bicara,matanya terbelalak melihat siapa yang berada didepan pintu nya.
"K..kalian.. " mata Erina tertuju pada Karin. "Kamu sudah sadar Karin.." mata Erina langsung memerah.
Erina berlutut memeluk Karin, " Kamu sudah sadar.. Maafkan kakak.." Erina menangis memeluk Karin.
Karin membalas pelukan Erina. "Harusnya aku yang minta maaf kak,aku nggak bisa menjaga kakak dan selama koma aku menyusahkan kakak,pasti berat sekali saat tidak ada yang mempercayai kita kan kak."
Erina melepaskan pelukannya,lalu menyuruh mereka masuk.
"Dari kecil aku tidak dipercayai siapapun Karin,jadi jika itu terulang lagi aku tidak begitu menderita karna sudah pernah merasakannya.. Eh Mil,kok tegak disana,ayo duduk disini."
Erina menepuk tempat disebelahnya,Mila perlahan duduk dan diam seribu bahasa,ia sangat takut.
Kalo kak Erin memukul ku atau membentak ku,aku akan terima.. bagaimana juga ini salah aku.
Deg.. jantung Mila berdegup saat Erina malah memeluk tubuhnya dengan Erat,diluar dugaannya yang menganggap Erina akan marah padanya.
"Adik kecil ku ini sudah sadar ?" Erina tersenyum manis menatap Mila.
Mila mengangguk mengiyakan perkataan Erina,dia menangis meminta maaf.
"Kakak tidak pernah membenci kamu sayang,kakak paham atas sikap kamu,sudahlah jangan memikirkan itu lagi,yang penting sekarang kita sudah berkumpul."
"Berarti kakak akan pulang bersama kami ?"
Mendengar ucapan Mila,Erina hanya terdiam tidak menjawab, dia belum ingin pulang bertemu suaminya.
"Aku paham kak,jika kakak belum siap untuk pulang, tinggal lah disini sampai kakak tenang dan ingin pulang, telpon aku jika terjadi apapun,aku akan datang kesini untuk kak Erin." Ucap Randy.
"Terimakasih dek," Erina mengusap pucuk rambut Randy.
"Aku ingin disini bersama kak Erin."
"Eh gak bisa kak,kakak sudah terlalu lama diluar, sore nanti kakak sudah harus terapi kan."
"Mila benar,kamu harus pulang dan terapi. Kakak baik-baik saja Disini,jika sudah tenang kakak akan kembali secepatnya."
"Baiklah kak.."
Mereka bertiga bersantai hingga siang diapartemen Erina, sekaligus makan siang bersama.. setelah itu berpamitan pulang kembali ke kota.
Erina menatap sendu mobil yang semakin lama semakin jauh tidak terlihat.Lalu ia masuk kembali kedalam apartemen nya.
Bersambung...
__ADS_1