
Seminggu sudah berlalu,tidak terasa hari H acara pernikahan Rasty akan terselenggara besok, mulai dari dekorasi,makanan serta gedung Erina lah yang mengaturnya,walau dibantu oleh WO tetapi dia tetap kelihatan sibuk.
Mila sibuk menemani Rasty untuk perawatan kecantikan,sedangkan Karin dan Rey sibuk mempersiapkan hantaran pernikahan, karna nanti merekalah yang menjadi pihak laki-laki mengingat Dean tidak memiliki keluarga.
"Nona,tuan mengatakan anda tidak boleh beraktivitas berlebihan,, saya rasa sudah cukup nona." Lia yang dari pagi buta sudah menemani Erina melihat gedung yang akan dipakai besok.
"Iyaa Li,saya hanya melihat nya saja baru bisa beristirahat dengan tenang,," Berbicara sambil melihat dekorasi yang sangat indah dan elegan.
Seperti ini rasanya punya kakak perempuan ya, beruntungnya Rasty..
Erina dan Lia akhirnya menyudahi pengecekan sekalian berbincang dengan penanggung jawab acara, setelah dirasa sudah lengkap,Erina memutuskan untuk pulang sebelum sore . Saat diperjalanan Erina merasa lapar dan menyuruh mobil menepi di tempat makan pinggir jalan.
"Nona yakin mau makan disini ? nanti tuan marah nona."
"Sudah tidak apa Lia,aku sudah lama sekali tidak makan disini,dijamin enak,yang jual juga bersih kok."
Lia merasa ragu namun karna Erina yang terus mendesaknya,mau tidak mau Lia menuruti kemauan bos nya itu,mereka berdua memesan pecel lele dan segelas teh es.
"Li,gimana ? enak kan ?" tanya Erina yang melihat Lia makan dengan lahap.
"Iya nona,ini enak sekali."
Erina tertawa , " Yaudah sekalian pesan gih untuk orang rumah,,"
"Rumah saya ?"
"Iyaa.. " Ucap Erina sambil meminum teh es nya.
"Hm.. boleh deh,tapi pesan satu aja nona,untuk ibu.."
"Memangnya dirumah ada siapa aja ?"
"Hanya ibu.. "
"Ayah ?"
Lia terdiam sesaat lalu memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Saya sebenarnya sudah yatim piatu, ayah saya meninggal saat saya umur 6 tahun,sedangkan bunda meninggal saat saya duduk di bangku SMA. sekarang saya tinggal dengan wanita yang sudah dari dulu tinggal dengan keluarga kami,saya menganggap nya seperti ibu saya sendiri."
"Maaf Lia,aku membuat mu mengingat hal sedih."
"Ya ampun nona,nggak masalah kok.. saya senang bercerita seperti ini,nona sangat rendah hati. Saya merasa anda itu kakak saya bukan bos."
"Saat kamu memutuskan untuk mengabdi bekerja disini dengan baik,, kamu sudah menjadi keluarga kami."
"Nona.." Mata Lia berkaca-kaca.
"Sudah,janga nangis.. cepetan makan keburu sore, "
Sore itu mereka berdua semakin dekat,Lia merasa beruntung bisa bekerja dengan Erina,begitu juga Erina senang bisa mendapatkan pengawal yang sudah seperti teman,mengingat dia tidak pernah berteman sebelumnya.
Setelah sampai, Lia langsung pamit pulang sedangkan Erina mengemas pakaian yang akan dikenakan untuk besok,mereka semua berencana menginap di kediaman Bramantyo termasuk Karin dan Mila. Agar berbarengan berangkat ke gedungnya.
"Ya ampun,baru seperti ini saja aku sudah ngos-ngosan,semakin membesar semakin mudah capek..". Erina duduk bersandar di sofa setelah menyiapkan keperluan nya dan Gavin.
Tak lama setelah itu mobil Gavin sampai di halaman Mansion dan segera melangkah masuk, sedangkan Daniel langsung kembali pulang menggunakan mobil kantor yang selalu ia pakai menjemput Gavin.
"Kalian habis dari hutan ya.."
Rey yang melihat Gavin tertawa renyah hanya menunjukkan mimik muka jengkel,sedangkan Karin melemparkan sisa kardus hantaran ke hadapan sang kakak.
"Kak,dari pada menertawakan kami lebih baik bantu istri mu sana ! aku melihat kak Erin lesu seperti mau pingsan loh,, " Ucap Karin berbohong..
"Aku masih mending membantu Karin, setidaknya dia tidak kelelahan sendiri,lihat diri mu.. mana kak Erina lagi hamil lagi.. kasian nya.." Rey menambah minyak ke kobaran api.
Gavin yang awalnya menertawakan mereka berubah menjadi pias,, dia baru sadar beberapa hari ini Erina sibuk tanpa bantuan darinya sedikit pun.
Tanpa tunggu lama Gavin langsung berlalu menaiki tangga menyusul Erina yang berada dikamar. Sedangkan Rey dan Karin tertawa terbahak melihat Gavin yang termakan sama omongan mereka.
"Sayang!!" Teriak Gavin sembari membuka pintu kamar mereka.
Erina yang tengah bersantai langsung menoleh cepat melihat tingkah aneh suaminya.
"Ada apa ?"
__ADS_1
Gavin yang merasa bersalah berjalan dan duduk disamping Erina,,
"Maafkan aku.."
"Ha ?"
Sambil memeluk tubuh Erina ia meminta maaf,sedangkan Erina berusaha melepaskan pelukan erat Gavin.
"Kamu ini apa-apaan sih ! minta maaf soal apa ? "
"Kamu kelelahan mengurus nya sendiri dan aku tidak membantu mu sama sekali,maafkan aku sayang.. maafkan aku.."
"Ihh lepas dulu,," Erina berusaha keluar dari dada bidang Gavin dan menatap tajam kearah suaminya.
"Kenapa baru sekarang ?"
Degg..!
"Maafkan aku sayang.." Gavin benar-benar merasa bersalah,ditambah lagi melihat Erina hamil besar.
Mata yang awalnya tajam perlahan menjadi lembut menatap lelaki dihadapannya,dengan lembut Erina membelai pipi Gavin dan mencium bibirnya.
"Kamu ini bodoh,setiap kegiatan aku kamu tau, berarti tau juga capek apa nggak nya,, aku bukan pekerja sayang,aku bos.. tinggal tunjuk ini itu kan orang lain yang kerja."
Mendengar itu Gavin baru sadar jika omongan Karin dan Rey hanya untuk menyemeehnya saja.
Melihat Gavin terdiam Erina membuka dasi dan jas nya, lalu kembali duduk dihadapan suaminya yang masih terdiam.
"Yuk mandi,nanti kita harus sudah sampai dirumah papa sebelum makan malam."
"Maunya sama kamu." ucap Gavin manja sambil memeluk tubuh Erina dari belakang.
Erina merasa nyaman berada didalam pelukan lelaki yang kini menjadi suaminya itu,, ntah apa yang pernah ia bayangkan sampai seperti ini,padahal dia menganggap percintaan sudah berhenti ketika Andre meninggalkan nya.
Tanpa basa-basi Erina menarik tangan Gavin menuju kamar mandi dan mereka melakukan hal yaa paham sendiri lah ya,hehe..
Bersambung...
__ADS_1