
Keesokan pagi Erina terbangun lebih dulu,Ia merasa ada sesuatu yang menimpanya,terasa berat dan hangat. Saat perlahan membuka mata ia terlonjak kaget melihat sebuah tangan yang kekar melingkar di pinggang nya.
Erina segera melepas tangan tersebut dan terduduk, Matanya membulat melihat siapa yang berbaring disampingnya semalaman ini.
"Kok bisa dia berada disini,apa aku bermimpi." Erina mencubit lengannya,terasa sakit,berarti ini bukanlah mimpi.
Menatap lekat wajah suaminya yang masih terlelap, Erina kembali duduk dan menyentuh pelan wajah suaminya, tiba-tiba sepasang tangan kekar manarik tubuh Erina hingga terjatuh diatas dada bidang suaminya. ya tangan itu tak lain tangan Gavin,ia sudah bangun dari tadi,namu pura-pura masih tidur karna ingin melihat reaksi istrinya.
"Morning.." Gavin tersenyum menatap Erina, jarak muka mereka sangat dekat,hingga nafas keduanya saling menerpa wajah masing-masing.
Erina memalingkan wajahnya dan hendak berdiri,namun Gavin semakin mempererat pelukannya.
"Lepaskan aku," ucap Erina datar.
"Terlalu pagi,tidurlah sebentar lagi. Sudah sangat lama aku tidak memeluk mu."
Tampan sekali,eh jangan goyah Erin,jual mahal sedikit.
"Aku ingin olahraga."
"Hm.? sejak kapan kamu berolahraga ?"
"Bukan urusan mu." ketus Erina.
"Yasudah ayo kita olahraga bersama," Gavin melepas pelukannya dan menuju kamar mandi.
"Hei siapa yang mengajak mu."
teriak Erina tidak terima,namun Gavin tidak mendengar nya karna sudah memasuki kamar mandi.
Siapa yang mengajaknya ,Huaaa kalau begini terus pertahanan ku bisa runtuh,aku kan sedang merajuk. Tidak. tidak boleh kalah.
Gavin dan Erina sudah bersiap turun kebawah untuk berolahraga,mereka bergandengan menuju lift,namun Erina melepas tangannya. Gavin hanya pasrah dan mengikuti Erina dari belakang.
Erina tersenyum melihat wajah Gavin yang masam.
Kamu mau marah kan,tapi nggak bisa hahaha . Eh ada Dean..
"Dean !!" teriak Erina memanggil Dean yang sedang berjalan keluar.
"Eh kak Erin,loh mau olahraga ya.. Maaf ya aku tidak bisa menemani,tubuh ku kurang sehat.. ini saja mau keluar beli sarapan."
"Kamu sakit dek." Erina menempelkan tangannya ke kening Dean.
Melihat Erina menyentuh tubuh pria lain membuat Darah Gavin mendidih,namun demi kebaikan hubungan mereka Gavin berusaha meredam amarahnya.
"Aku baik-baik aja kok kak,hanya butuh istirahat.." Dean melirik Gavin yang berdiri dibelakang Erina. "Kak ini.."
"Oh dia ini.."
"Aku suaminya Erina." Gavin dengan posesif merangkul pinggang ramping Erina.
Oh ini suaminya kak Erin,apa mereka sudah baikan.
"Ah iya kak,kenalkan aku Dean,aku dan kak Erina sudah seperti adik kakak."
__ADS_1
"Iya." Gavin menjawab Dean acuh.
"Maaf ya dia memang seperti ini,yaudah cepatlah kembali dan istirahat,byee.." Erina mengedip kan katanya pada Dean.
Dean yang melihat kedipan itu mengerti,ia tersenyum lalu beranjak pergi membeli sarapan. Sedangkan Gavin yang melihat kedipan itu langsung menutup muka Erina dengan topinya.
"Jangan tersenyum pada laki-laki lain." ucap Gavin.
Erina hanya menatap Gavin lalu beranjak mengambil sepeda,Gavin hanya menghembuskan nafas kasar. Erina mengayuh sepedanya diikuti oleh Gavin dibelakangnya.
"Jangan kencang-kencang Erin,nanti kamu jatuh." teriak Gavin.
Mendengar itu Erina bukannya nurut malah sebaliknya,ia semakin mempercepat mengayuh sepedanya hingga ujung. Gavin yang kelabakan mengejar Erina ngos-ngosan sampai diujung.
"Kamu Gila ya,kalau kamu jatuh gimana ." panik Gavin setengah sesak nafas karna menyeimbangi laju sepeda Erina.
"Tapi tidak jatuh kan,hahaha." Tawa renyah Erina,
Gavin melihat takjub senyuman Erina,rambut panjang cantiknya yang bergoyang karna angin laut ditambah tawa yang menghiasi wajah cantik Erina. Ia semakin jatuh cinta pada istrinya,semakin tidak ingin kehilangan,bahkan tidak ingin siapapun menikmati kecantikan Istrinya.
"Pakai topi mu,jangan tersenyum pada siapapun kecuali aku."
Erina yang merasa risih melepas topi tersebut,, Ia mengurai rambut cantiknya kebelakang,itu membuat pesona pada Erna.
Gavin yang tidak tahan langsung memeluk istrinya, menenggelamkan kepala Erina di dada bidangnya.
"Jangan membantah,aku tidak suka membagi kecantikan mu dengan orang lain,"
"Baiklah," Erina memakai topi itu kembali.
Gavin dengan hati gembira mengelus kepala istrinya yang penurut.
Ditoko Erina,Mila sedang membantu Mala ditoko. Sejak ia sadar akan salahnya,ia membantu memperbaiki kesalahan itu dengan membantu menggantikan Erina, ia melakukan yang ia bisa.Karna sudah akrab sebelumnya membuat karyawan yang lain betah dengan keberadaan Mila.
Sedangkan Karin tengah sibuk melanjutkan studi kampusnya yang tertinggal.ia sudah bisa melakukan aktivitas dengan leluasa,namun Rey akan selalu datang setiap sore untuk menangani langsung terapi Karin.
Disalah satu kamar hotel bintang lima berada seorang wanita yang hampir tidak dikenali penampilan nya,ia menghabiskan waktunya untuk minum dan berfoya-foya. Salsa merasa tujuannya sudah hancur.. kesempatan nya mendapatkan Gavin sudah tak ada,,
Tringgg..
"Halo.." racau Salsa.
"Salsa,kenapa ponsel kamu baru aktif sekarang,kamu dimana sekarang nak,pulang lah.."
"Mami ? Mamiiiiii." Salsa terisak memanggil ibunya.
"Kamu kenapa nak,Mami sudah dengar semua dari Rey.. kenapa kamu melakukan hal ini sayang."
"Aku cinta sama Gavin mi,dari kecil aku selalu berada disisinya hingga saat ini aku berusaha memantaskan diri disamping Gavin tapi.. tapi aku kalah cepat dari wanita itu.. aku nggak terima mi." Salsa tersendu.
"Salsa dengar mami,jika kamu memberitahu mami dari awal, mami akan menikahkan kalian dari dulu,tapi kamu tidak pernah terbuka dengan mami, sekarang lihat.."
"Mami kenapa nyalahin asa sih,harusnya mami dukung asa buat dapetin Gavin."
"Dukung kamu jadi pelakor ? Asa kamu lupa kenapa mami dan papi hampir bercerai dulu,itu semua karna orang ketiga,dan kamu ingin menjadi orang ketiga itu. No Salsa !!"
__ADS_1
"Tapi mi.. Asa cuma ingin Gavin,," Salsa terisak.
"Gavin itu sudah beristri sayang,Salsa dengarin mami, kamu itu cantik, berpendidikan, semua yang kamu mau kamu bisa dapatkan,kenapa kamu harus merebut suami orang nak,Banyak laki-laki yang jauh lebih baik dari pada Gavin."
"Tapi Asa cinta ma.."
"Cinta itu bisa timbul saat kita menjalaninya,jika kamu berusaha move on dari Gavin,mama yakin kamu tidak akan menginginkan Gavin lagi ketika sudah bersama yang lain."
"Asa nggak bisa mi.."
"Apa yang tidak bisa,mami punya banyak kenalan laki-laki yang cocok untuk kamu,besok kamu pulang. Dengar mami.. Jangan buat kekacauan menjadi lebih parah,atau perusahaan papi akan mendapat masalah karna kamu."
"Asa nggak mau pulang."
"Pulang atau semua akses keuangan kamu mami hentikan,besok mami tunggu kedatangan kamu, Jaga diri kamu nak.Mami sayang Asa."
Salsa melempar ponsel tersebut hingga retak,ia sangat tidak terima,namun tidak bisa melakukan banyak hal lagi.Dia begitu membenci Erina.. karna Erina sudah merebut semua kebahagiaan dia,merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya.
Diapartemen Erina sedang memasak sup untuk makan malam,ia juga menyajikan ke mangkok satunya lagi.
"Ini untuk siapa.?" tanya Gavin
"Untuk Dean,dia sedang sakit saat ini.. kasihan jika harus berjalan kaki membeli makanan.. Sebentar ya aku mau antar dulu."
"Eh biar aku,kamu jangan bertemu dia lagi."
"Kamu ni apa-apaan,jangan egois.. dia itu sudah seperti adikku,jadi tidak perlu cemburu.. Lagian aku belum memaafkan kamu ya,jadi jangan mengaturku."
Erina mengacuhkan Gavin dan menyiapkan sup lalu membawanya kekamar Dean.
Gavin yang mondar-mandir karna Munggu Erina mengantarkan sup merasa gelisah,
"Kenapa lama sekali dia.."
Ceklek.. Erina baru saja melangkah masuk.
"Kenapa lama sekali,kamu sama dia ngapain didalam."
"Emng apa yang bisa dilakukan orang sakit,aku mengambilkan makannya,setelah sudah siap dia tinggal makan."
"Bagus ya kamu menyiapkan makanan pria lain sedangkan makanan suami ku sendiri tidak disiapkan."
Erina geram dengan tingkah Gavin.
"Sini..!" Erina menarik tangan suaminya. "Ini apa ? batu ?kamu ini kapan sih berubah,setidaknya lihat dahulu baru marah.. aku sudah menyiapkan punya kita lebih dahulu,tidak mungkin aku mementingkan orang lain dari pada kamu !" Emosi Erina jadi tidak terkendali.
"Maafkan aku sayang.. aku terlalu cemburu jadi tidak berpikir dengan benar.." Gavin memeluk Erina.
"Kapan kamu akan percaya pada ku.." Mata Erina berkaca-kaca.
"Sayang maaf.." Gavin memeluk Erina dengan Erat.
"Aku capek.. setidaknya ada yang mempercayai ku, tidak perlu banyak. Satu saja.. satu orang yang benar-benar mempercayai aku walaupun seluruh dunia mencurigai aku." Ucap Erina terisak.
"Sayang.." Gavin mengusap air mata istrinya.
__ADS_1
Erina melepas pelukan Gavin dan pergi ke dapur,ia merasa mual diperutnya..
Bersambung...