
"Buuu.. oh ibu,ayo makan malam.."
Teriak Lia dari arah dapur,, mereka hanya tinggal berdua ketika bunda nya Lia meninggal dunia saat Lia berada dibangku SMA.
"Iya Li.. kamu ga usah teriak juga ibu denger.."
"Hehe.. ayo kita makan,, Lia udah masakin masakan spesial malam ini.."
Kebetulan Lia sudah menganggap seorang wanita didepannya sebagai ibunya sendiri,selesai makan seperti biasa mereka berdua duduk didepan tv sambil bercerita.
"Ibu,Lia mau nanya "
"Nanya apa ?"
"Hmm.. apa ibu masih belum mengingat masalalu ibu ? ya misalnya ingat suami atau anak ibu gitu."
Sang ibu hanya menggeleng pelan,dan tersenyum namun didalam hatinya ia begitu tidak karuan memikirkan ucapan Lia anak angkatnya itu.
"Gapapa kok kalo ibu belum ingat,kan ada Lia.. Lia juga kan anak ibu,Lia janji akan jaga ibu seperti bunda jaga ibu dulu."
Lia menggenggam tangan sang ibu..
"Ibu berhutang banyak pada kamu dan bunda mu,, kalau bunda kamu tidak cepat menyelamatkan ibu mungkin sekarang ibu sudah jadi tulang belulang."
"Benarkah ?apa ibu ingat bagaimana kejadiannya?"
"Tidak,yang ibu tau sewaktu ibu sadar bunda kamu sudah berada disamping ibu sambil menggendong kamu yang berumur dua tahun."
"Terus.."
"Kata bunda kamu ibu hampir dinyatakan meninggal namun bunda kamu tidak yakin,setelah dia periksa masih ada denyutan nadi jadi dia berusaha membuat ibu sadar,namun yang lain tetap menyatakan ibu meninggal."
"Kenapa begitu ? apa jangan-jangan ada yang sengaja ingin mencelakai ibu ?" Lia begitu penasaran apa yang terjadi dengan sang ibu di masalalu.
"Ya sepertinya,tapi ibu tidak ingat.."
"Terus bagaimana bunda bisa bawa ibu ?"
"Kebetulan sehari sebelumnya ada korban yang tidak ada identitas jadi dialah yang dibawa oleh keluarga ibu dulu sedangkan ibu di alihkan kerumah sakit teman bunda kamu."
__ADS_1
Lia tak sanggup menahan air matanya,, dia memeluk tubuh kurus ibu itu..
"Ibu tidak perlu mengingat keluarga ibu itu lagi, sudah ada Lia sebagai anak ibu. Sekarang nama ibu adalah Ratna Sari,ibu dari Lia Apriliana."
Dengan senyum cantiknya,Lia memeluk ibu yang dari dulu ia kenal sebagai ibu keduanya itu,dia tidak pernah membedakan mana bunda dan ibu nya,, karna dari kecil Lia tumbuh diantara kedua wanita hebat itu.
"Ibu juga beruntung punya putri secantik dan sehebat kamu Lia,kamu harus jaga diri baik-baik,oke."
"Oke Bu,, yaudah Lia masuk kamar ya,besok harus masuk pagi."
"Iya nak,, "
Lia meninggalkan ibu sari di depan tv,tak lama kemudian ibu sari mematikan tv dan kembali ke kamar nya untuk beristirahat.
***
Pukul dua pagi Gavin dibangunkan oleh suara Erina, ia melihat tangan Erina yang seperti ingin mengejar sesuatu dalam keadaan tertidur.
"Sayang.."
Gavin kembali meletakkan tangan Erina dan memperbaiki selimut untuk menutupi tubuh istrinya dari dinginnya ruangan.
Saat Gavin ingin kembali merebahkan tubuhnya,Erina tiba-tiba saja memanggil namanya,membuat Gavin kembali terduduk dan menyaut panggilan Erina.
Namun Erina tidak menjawab pertanyaan Gavin, melihat itu Gavin menghidupkan lampu kamar namun ia sedikit terdiam saat melihat mata Erina masih tertutup rapat.
"Sayang ??" sekali lagi Gavin kembali memanggil dan menggoyangkan tubuh Erina pelan,namun seperti orang pingsan,Erina sama sekali tidak bergerak.
Gavin kembali mematikan lampu dan berbaring disamping istrinya,, tidak seperti tadi Gavin yang sudah hampir menutup matanya kembali terbuka bahkan agak sedikit melebar saat ia kembali mendengar suara Erina memanggil namanya.
"Erina ? " Gavin menyauti panggilan itu.
Tanpa berkata-kata ia langsung menghidupkan lampu kamar dan menatap Erina yang masih tetap dalam keadaan yang sama.
Dengan hati yang tidak karuan Gavin memberanikan diri teriak,,
"Siapa disana ?!! ". Antara takut dan kesal Gavin memperhatikan setiap sudut kamarnya,,
"Astaga !" Gavin terkejut saat matanya menatap Erina yang tengah menatapnya tanpa ekspresi.
__ADS_1
"S.. sayang?" Antara takut dan berani ia berusaha memegang tangan Erina.
Namun tanpa terduga Erina langsung menangkap tangan Gavin dengan cepat,itu membuat Gavin terlonjak ketakutan.
Dengan suara yang besar Erina tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Gavin yang terlihat takut saat mendekati dirinya.
Gavin masih menatap tidak percaya melihat Erina tertawa menatap dirinya,ia masih terpaku dan ragu jika itu benar-benar istrinya.
"K..kamu Erina ?"
Pertanyaan bodoh yang dilontarkan Gavin membuat Erina terdiam dan dengan cepat duduk lalu memukul kepala suaminya dengan bantal.
"Apa kamu bilang ?! kamu mau bilang kalo aku ini kuntilanak ?!"
Gavin yang awalnya takut menjadi lebih takut karna ia sadar kalau di depannya ini betulan Erina.
"B..bukan gitu sayang,tadi ada yang manggil aku dua kali,itu kamu kan ?"
"Memangnya siapa lagi ? hantu ?"
Gavin menjadi senang melihat Erina kembali seperti semula,ia yang awalnya ketakutan melihat kondisi Erina kini bernafas lega.
Ia langsung memeluk tubuh Erina dan menciumi pipi Erina bertubi-tubi lalu mengucapkan terimakasih tiada henti karna sudah sembuh.
"Aku hampir mati melihat kondisi kamu sayang,sumpah aku tidak bermaksud mencelakai kamu,maafkan aku."
"Sayang ini,aku gak masalah kok.. kamu nggak salah,kan kamu nggak tau."
"Tapi ya sama aja,maafkan aku Erina.. maafkan aku.."
"Sayang.. udah ah,aku sekarang baik-baik saja kok,cuma masih lemes aja.."
"Hm.. lemes tapi masih bisa ngerjain suami kamu yah ."
Gavin mencubit lembut pipi cabi Erina,dan kembali menciumi wajah istrinya yang masih sedikit kemerahan.
"Aku hanya mengetes Indra pendengaran kamu aja hehe."
"Ya gak gitu juga sayang,, Yaudah ah bobok lagi."
__ADS_1
Gavin kembali membaringkan tubuh Erina dan mematikan lampu,kini ia tidur sambil memeluk tubuh istrinya,tanpa lama mereka berdua kembali tidur dan memasuki mimpi indah.
Bersambung..