
"Sayang.." Gavin menepuk bahu Erina.
"i..iya " jawab Erina kelabakan.
"Kamu kenapa sih dari tadi diam,terus tadi minta buru-buru pulang,udah pulang malah diam lagi.. kalau ada sesuatu cerita sama aku sayang.."
"Ah nggak kok hehe.. aku cuma ingin pulang aja, Daniel tadi nelpon kan,lanjut aja kerja sayang.. aku mau ke kamar dulu."
Gavin menahan tangan Erina, " Kamu nggak lagi menyembunyikan sesuatu kan."
"Kamu nggak percaya sama aku ?"
"Percaya.."
"yaudah kalau percaya aku mau ke atas dulu.. mau mandi mau rebahan.. kasian si kembar butuh istirahat."
"Yaudah kalau begitu naiklah.. selamat beristirahat sayang.." Gavin mengecup kening Erina lalu beranjak pergi.. sedangkan Erina langsung naik ke kamarnya.
***
"Halo.."
"Hallo Erina.."
"Siapa kau ." Erina berusaha tenang.
"Ayah kandung adik mu.."
"Tidak mungkin !"
"Kenapa tidak mungkin ? memangnya kau melihat apa yang dilakukan mama tiri mu itu Erina ?"
"Aku pernah.. a..aku pernah melihat papa ku.." Erina ragu untuk menyebutkan.
"Asal kau tau,saat mereka melakukan hubungan terlarang.. dia sudah mengandung anak ku.."
Tangan Erina bergetar memegang ponsel,ia tidak menyangka kalau ada orang asing yang tiba-tiba mengaku kalau Randy adalah anak kandung nya.
"Maaf aku tidak akan percaya,jadi berhenti omong kosong dan jangan ganggu keluarga ku."
"Aku menunggu mu di kafe X,kemari jika ingin tau kebenaran nya.. Jangan bawa siapapun,dan jangan sampai tau siapapun."
"Jangan membuang waktu ku,"
"Aku yakin kau kemari,karna semua ini berkaitan dengan kematian ibu mu."
"Apa..? apa yang kau maksud."
"Datang atau kau tidak akan tau selamanya."
__ADS_1
Pria itu mematikan ponselnya,Erina berusaha menelpon balik tapi nomor yang dituju sudah tidak aktif. Erina langsung mengambil tas dan ponselnya, lalu menuju garasi..
"Nona mau kemana ? biar saya antar."
"Aku hanya sebentar Lia,tidak perlu repot-repot."
Lia berusaha menahan namun Erina langsung menancapkan gas nya menuju kafe yang dimaksud pria tadi.
Sesampainya Erina di halaman kafe,pria itu menyuruh Erina mengikuti mobil hitam,tanpa pikir panjang Erina mengikuti mobil yang berada didepannya.
Mobil mereka sampai dirumah tua namun masih terawat,Erina merasa tak asing dengan rumah ini.. saat pria itu turun dari mobil,Erina terkejut.. ia mengingat semuanya.. pria yang dihadapannya adalah pria yang ditemui mamanya saat sebelum kecelakaan..
"Rumah ini.."
"Iya.. kau pernah datang kemari,tapi itu saat kau masih sangat kecil Erina.."
"Kau siapa mama ku ?"
"Masuk lah.. kita bicara didalam."
Erina mengikuti pria paruh baya itu masuk kedalam rumah tersebut,Erina duduk disalah satu kursi.. Ia tertegun saat melihat begitu banyak foto mama kandung Erina dengan mama tiri Erina yaitu Sinta..
"Kalian.."
"Ya.. kami bertiga bersahabat."
"Apa ? terus kenapa kau bisa memiliki anak dengan mama Sinta,ada apa ini ? "
"Sampai saat dimana aku mengetahui kalau Sinta jatuh cinta pada Bramantyo,ia berusaha mengambil perhatian papa mu saat indah tidak ada,bisa dibilang kalau Sinta tergila-gila dengan papa mu. Aku sudah berusaha menyadarkan nya tapi dia tidak ingin mendengarkan ku. Saat indah dan papa mu hendak menikah,Sinta melampiaskan kemarahannya dengan menikahi pria lain,namun pernikahan itu tidak bertahan lama.."
"Saat kamu lahir Sinta masih mengejar papa mu, saat ini itu papa mu tau kalau Sinta menyukainya,Papa mu terus pura-pura tidak tau sampai saat umur mu beranjak 5 tahun,akhirnya papa mu menolak cinta Sinta mentah-mentah,ia juga mengatai Sinta wanita murahan dan tidak tau diri menyukai suami sahabat karibnya.. Disitu Sinta merasa hancur dan sakit hati.. ia mendatangi ku dan menangis sejadi-jadinya."
"Melihat Sinta hancur hatiku juga hancur,aku langsung menyatakan perasaanku padanya dan berjanji akan membuatnya bahagia asal menikah dan hidup dengan ku,saat itu Sinta menerima cinta ku.. ia siap menikah dengan ku asal bisa melupakan papa mu. Tentu saja aku bahagia dan menuruti semua perkataan Sinta.."
"Sebulan kemudian Sinta hamil,ntah setan apa yang merasukinya ia menyuruh ku membunuh mama mu dan juga kamu Erina. Tentu aku menolak karna bagaimanapun Indah adalah sahabatku dari kecil, tapi Sinta mengancam akan membunuh anak kita kalau aku tidak membantunya. Dengan bodohnya aku menuruti semuanya.."
Erina menutup mulutnya,dadanya terasa sesak mendengar kisah memilukan yang dialami mama nya.
"Setelah kepergian Indah,Sinta mengatakan dia ingin balas dendam dengan masuk ke dalam hidup papa mu, dia berusaha menggoda papa mu,dan akhirnya indah berhasil dan menjadikan kehamilan nya alasan agar papa mu mau menikahi nya,disitu sekali lagi Sinta berhasil dengan rencananya. Sampai sekarang aku hanya orang bodoh yang menunggunya kembali pada ku.."
"Jadi mama Sinta selama ini bersama mu ?"
"Iya.. dia bersama ku.. dia kembali ke pelukan ku setelah dia menjual putri kandungnya.."
"Mama Sinta jahat.." Erina menangis..
"Akulah yang bodoh,aku bersalah pada Indah.. tapi aku tidak menyesal dengan yang ku lakukan Erina.. karna inilah Sinta datang kepada ku.."
"Kalian menipu dan menyakiti mama ku.."
__ADS_1
"Harusnya kau ikut mati Erina !" ucap seorang perempuan dengan lantang..
"Mama.." Erina berdiri melihat siapa yang datang.
"Sinta,kenapa kamu kemari.." tanya pria itu.
Sinta berjalan kearah Erina dan menampar pipi Erina dengan keras.. lalu menjambak rambut Erina..
"Cukup Sinta,dia sedang hamil !"
"Kenapa ? aku sudah pernah membunuh ibunya, aku bisa membunuhnya dan juga bayi nya saat ini."
"Kau sudah gila Sinta ! kita tidak ada urusan lagi kita dengan nya,dendam mu pada Bram,bukan Erina."
Sinta menatap benci pada Erina..
"Lihatlah.. muka ya sangat mirip dengan indah, semuanya!! aku membencinya.!"
"Kau yang merebut suami mama ku,kau juga yang merasa disakiti,manusia macam apa kau !" Erina menatap tajam ke arah Sinta.
"Berani sekali kau ,wanita ******! " Sinta menampar muka Erina berkali-kali hingga mengeluarkan darah disudut bibirnya.
Erina tersenyum.. " Kau mengatai siapa ? kau lah ****** itu,tidur dengan pria yang bukan suami mu,tubuh mu hati mu semuanya membuat ku jijik !"
"Kau !!" Sinta ingin memukul Erina dengan vas bunga namun ditahan oleh Bima kekasih Sinta, sahabat indah Mama kandung Erina.
"Stop !! kau datang kesini ingin bertemu Bramantyo kan,bukan ingin membunuh Erina,jangan bodoh Sinta !!"
"Lepas !! akan ku kirim anak ini pada ibunya ! "
Bima menyeret Sinta keluar dan mengurungnya dimobil lalu kembali ketempat Erina..
"Kamu tidak apa-apa ?"
"Jangan menyentuh ku,pergi !!" Erina berteriak dengan tubuh yang gemetaran.
Bima menatap sedih pada Erina,namun ia tidak bisa berbuat banyak, lalu keluar dan membawa Sinta pergi.. Tinggal lah Erina sendirian dirumah itu..
Erina berdiri dan mengambil seluruh bingkai foto dan memecahkannya ke lantai.. ia berteriak dan menangis sejadi-jadinya..
***
"Bisa kau mengemudi dengan cepat ?! istri ku sedang hamil !!"
"Jika kita mengebut lagi akan membahayakan tuan dan juga orang lain,ini sudah paling kencang untuk keselamatan tuan."
Gavin memukul kursi didepannya, pikiran nya penuh dengan bayangan negatif tentang istrinya..
"Haruskah aku mengurung mu !" emosi Gavin meluap-luap.
__ADS_1
Bersambung...