Gatotkaca 2050

Gatotkaca 2050
Teror Tak Dikenal


__ADS_3

Jakarta, 2050.


Elang menghela nafas lega, hampir saja ia tidak boleh masuk mata kuliah etika jurnalistik. Karena Pak Umar, dosen yang mengajar mata kuliah tersebut mempunyai prinsip tepat waktu dan hanya memberi toleransi lima menit bagi mahasiswanya yang terlambat setelah beliau masuk.


Jakarta sedang dilanda anomali cuaca belakangan ini. Terkadang hujan sangat deras, lalu tiba-tiba panas yang sangat menyengat. Belum lagi angin kencang ditambah badai petir. Belum ada satu pihak pun yang berani berkomentar soal masalah ini, tapi yang pasti teknologi belum sanggup memprediksi kapan datangnya hujan dan badai petir yang terjadi sangat tiba-tiba.


Lelaki bertubuh gemuk dengan rambut acak-acakan bermata elang, seperti namanya itu dengan serius memperhatikan kuliah yang diberikan oleh Pak Umar. Ia bertekad untuk mengikuti jejak ayahnya, menjadi seorang jurnalis.


Masih teringat dalam ingatannya, di suatu sore yang cerah ketika sedang disuapi makan oleh ibunya. Seorang lelaki berkumis tebal dan brewok di wajahnya datang dengan senyuman paling indah. Tubuhnya yang kecil kemudian berlari ke arah pria itu, disambutnya tubuh Elang sembari dipeluk lalu diangkat tinggi-tinggi sambil merangkul istrinya yang juga ikut menyambut di belakang Elang.


Lalu beberapa tahun kemudian, Elang menjadi terbiasa dengan pekerjaan kedua orang tuanya sebagai jurnalis yang tugasnya lebih sering meliput ke daerah-daerah pedalaman.


Hingga suatu ketika Elang sedang menghadapi ujian akhir sekolah tingkat pertama, sebuah berita duka membuat dunianya runtuh saat itu juga.


“Pesawat dengan penerbangan GS-560 dengan tujuan Papua-Jakarta hilang kontak di atas laut Maluku. Seluruh penumpang dan kru pesawat dinyatakan hil…”


TV dimatikan oleh Elang, dilihatnya lagi pesan terakhir yang diberikan oleh ayahnya. Pesan berisi swafoto ayah dan ibunya yang sedang akan menaiki pesawat. Jelas terlihat di sana nomor penerbangan yang sama seperti yang barusan diberitakan.


Seketika air matanya menetes, tangisannya pecah saat itu juga. Untungnya di rumah itu ia tidak tinggal sendirian, ada Mang Ujo dan Istrinya yang mengurus Elang sejak masih kecil terlebih ketika ditinggal oleh orang tuanya jika ada liputan ke luar daerah.


Semenjak hari itu, cita-cita Elang untuk menjadi jurnalis mengikuti jejak kedua orang tuanya semakin besar. Dengan uang santunan dari kantor tempat kedua orang tuanya bekerja, ditambah warisan yang ditinggalkan untuknya, Elang membiayai sekolahnya hingga masuk perguruan tinggi.


“Baiklah, ini poin terakhir dari kuliah kita hari ini.” Sambil membetulkan kacamata, Pak Umar menjelaskan apa yang menjadi topik bahasan kuliahnya yang dipaparkan melalui visualisasi 4 dimensi dari mejanya.


Sebuah pesan masuk di e-mail Elang. Dari redaktur surat kabar elektronik yang memberi kabar bahwa tulisannya dimuat di terbitan terbaru, pembayarannya sudah dikirim ke rekeningnya.


Elang membaca pesan itu sambil tersenyum. Semenjak masuk sekolah menengah atas, ia semakin giat menulis artikel tentang apapun dan mengirimnya ke surat kabar atau majalah. Semua itu dilakukannya untuk menopang hidupnya sekaligus mengasah kemampuan menulisnya.

__ADS_1


Tak terasa, mata kuliah etika jurnalistik telah selesai. Elang sedang dalam perjalanan menuju kantin ketika tiba-tiba…


DUAAAAAAR!!!!! Sebuah ledakan terdengar sangat keras, seketika sekitar kampus diselimuti oleh asap tebal penuh debu. Banyak mahasiswa yang terjatuh setelah ledakan itu. Suara alarm mobil pun berbunyi bersahut-sahutan.


Sambil melihat di sekitarnya, Elang berusaha bangun. Ia kemudian berlari menghampiri asal suara ledakan itu. Semakin ia berlari ke depan kampus, kengerian semakin terasa. Ada beberapa mahasiswa yang berusaha masuk ke dalam kampus sambil memegangi bagian tubuhnya yang terluka, bahkan ketika di pelataran parkir dekat pintu masuk kampus ia melihat keamanan kampus sudah tidak bernyawa. Sebuah besi menghujam dadanya, sepertinya melayang langsung menusuk tubuhnya dari tempat ia duduk.


Suara erangan kesakitan semakin ngeri, terlebih ketika ia sampai di lokasi ledakan yang ada di jalan dekat jalanan depan kampusnya. Banyak tubuh bergelimpangan, kendaraan hancur, belum lagi tubuh-tubuh yang berserakan dengan kondisi mengenaskan.


“Dara!” Tiba-tiba ia teringat pada teman sekelasnya yang sedang ia dekati. Elang pun setengah berlari kembali masuk ke dalam kampus.


Sambil menolong beberapa mahasiswa dan dosen yang dilewatinya, Elang berusaha mencari Dara.


“Kamu gak apa-apa?” Kata Elang sesaat ketika ia berhasil menemukan Dara yang sedang terduduk lemas di dekat teras taman. Sudah ada banyak mahasiswa di sana yang terlihat dari tubuhnya penuh dengan debu.


Gadis itu hanya menggeleng pelan. Terlihat dengan jelas ada trauma dalam dirinya.


“Ada teror bom lagi, Lang?” Tanya Dara dengan lirih. Air matanya menetes.


“Entahlah, Ra. Aku belum dapat berita.” Elang mengusap kepala dara yang tertutup jilbab hitam.


Bom yang dulu meneror Indonesia sudah tidak pernah terdengar lagi sejak tahun 2040. Ketika ada deklarasi persatuan dari masyarakat. Toleransi yang dulu hampir tergerus juga kini semakin kuat. Masyarakat percaya bahwa persatuan bangsa ini dimulai dari toleransi.


Jam tangan Elang yang terhubung dengan tabletnya bergetar, memberi tanda bahwa ada berita masuk. Segera saja ia membukanya.


Video yang dilihat dari berita itu sangatlah menyayat hati. Karena ternyata ledakan bukan hanya terjadi di depan kampusnya. Tapi hampir di semua wilayah Jakarta ada ledakan yang sama secara serentak.


“Jakarta diserang oleh sesuatu yang belum diketahui keberadaannya. Namun dari beberapa video amatir yang kami dapatkan, sepertinya ada ‘sesuatu’ yang berusaha menghancurkan kota!” Suara pembawa berita terdengar sangat panik, kemudian tayangan video amatir yang berhasil merekam kejadian saat terjadi ledakan disiarkan.

__ADS_1


Sebuah sinar berwarna biru terlihat jatuh dari langit, sesaat kemudian terjadi ledakan dahsyat. Bukan cuma satu tempat, namun beberapa video yang lain juga menayangkan hal yang sama. Beberapa rekaman CCTV dari berbagai tempat pun ditayangkan, isinya semua sama.


“Sampai saat ini belum diketahui ada berapa korban jiwa dari total keseluruhan wilayah di Jakarta. Warga diminta waspada dan melaporkan jika ada keluarga atau teman atau kerabatnya yang menjadi korban kepada pihak berwajib!”


Dara memeluk Elang, tangisnya pecah lagi.


“Aku harus tanya Profesor, Ra!” Elang bergumam pelan.


“Profesor? Profesor siapa?” Wajah Dara terlihat kebingungan, berusaha untuk menghentikan tangisannya.


“Ah, aku belum cerita sama kamu. Aku kenal sama seorang Profesor, namanya Tejo. Aku kenal waktu tugas wawancara feature semester kemarin!” Elang menjelaskan semuanya sambil bangun dari duduknya dan mengambil kunci motor di sakunya.


“Terus?”


“Kita kesana, semoga Profesor Tejo punya jawaban dari kejadian ini!” Kali ini Elang memakai jaketnya.


“Kita?”


“Iya, aku dan kamu!” Ditariknya tangan Dara lalu keduanya menuju parkiran. Seolah tidak ada kejadian apa-apa beberapa saat yang lalu.


“Se-Sekarang, Lang?” 


“Iya, Ra. Nanti di depan kamu merem yah, jangan lihat apa-apa. Ingat, jangan lihat apa-apa!”


Setelah menyalakan mesin motornya, keduanya meninggalkan parkiran motor kampus. Di depan kampus yang tadinya sepi, kini sudah mulai ramai para mahasiswa yang berusaha menolong para korban. Tanpa sengaja, Dara melihat keamanan kampus yang masih ada di tempatnya. Masih dengan besi yang menusuk tubuhnya. Ia terkejut. Sedikit tercengang, kemudian memeluk Elang.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2