
Suara desingan mesin jet dari baju prajurit besi yang dikendalikan oleh seorang pilot pesawat tempur berpengalaman itu terdengar kencang. Sejak dibeli oleh Departemen Pertahanan dan Keamanan beberapa tahun lalu, baru kali ini unit prajurit besi dipakai untuk berperang.
Sebelumnya alat ini hanya dipergunakan dalam latihan tertutup, karena menjadi senjata rahasia yang keberadaannya sengaja ditutupi. Bahkan setiap acara ulang tahun Tentara Nasional Indonesia, prajurit besi tidak pernah dikeluarkan untuk publik.
Sayangnya saat ini dari dua unit yang dibeli, hanya tersisa satu unit karena terkena serangan makhluk angkasa luar yang sangat tidak diduga.
Sementara itu dari dalam bawah tanah tempat persembunyian profesor Tejo. Sepasang kakak beradik yang akhirnya bertemu itu benar-benar tak mengerti apa yang sedang diperdebatkan oleh Elang dan profesor sendiri.
“Prof, ini semua demi kemanusiaan. Supaya gak ada korban berjatuhan lagi,” Elang mencoba meyakinkan sahabatnya yang eksentrik itu.
Lelaki bertubuh kurus dengan rambut panjang seperti bintang musik rock itu terdiam. Ia membetulkan kacamatanya seraya membenarkan letak topi yang dipakainya.
“Ka--Kalian ngomongin apa sih?” denga rasa penasaran, Dara mencoba masuk dalam obrolan mereka.
Tanpa menunggu persetujuan profesor Tejo sebagai pemilik tempat, Elang berjalan ke sebuah alat yang ditutupi dengan kain putih. Lalu ia membukanya, tampaklah di sana sebuah benda berupa papan elektrik dengan beberapa tombol berwarna-warni dan juga sebuah layar dengan tampilan penunjuk angka digital. Tertera di sana ada tanggal, bulan, tahun, jam, menit, dan detik.
Kapten Firman bangkit dari duduknya, ia takjub akan benda yang belum pernah dilihatnya itu.
“Mesin waktu?” katanya nyaris seperti bergumam.
“Maaf, Lang. Bukannya saya tidak mau memakainya. Tapi, mesin ini masih belum sempurna,” tukas profesor Tejo.
“Belum sempurna gimana, Prof? Kan Prof sering pergi ke masa lalu cuma buat beli benda-benda antik?”
Profesor Tejo menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya. “Kalau yang rencana yang kamu bilang tadi, saya tidak setuju.”
“Bukan prof, kita ke masa lalu buat ambil superhero.”
“Superhero itu gak ada, Lang. Lagian mau ngambil dari mana?”
Lelaki bertubuh gemuk dengan rambut acak-acakan itu mengambil tablet dari tasnya. Lalu ia membuka sebuah buku elektronik berjudul Mahabharata. Ia melihat halaman demi halaman, lalu berhenti pada sebuah nama dalam cerita itu, sebuah nama dengan kekuatan dan kedigdayaan yang ditakuti oleh kisah pewayangan, Gatotkaca.
“Hahaha… Kamu terlalu sering membaca kisah epos, Lang. Gatotkaca itu tidak pernah ada,” sanggah Profesor Tejo.
__ADS_1
“Setidaknya kita mencoba untuk buktikan prof. Kalau ada, aku yang akan membujuknya untuk kemari.” Dengan penuh semangat menggebu-gebu, Elang mencoba untuk meyakinkan profesor. Sementara Dara tersenyum melihat lelaki yang disayanginya itu.
“Ada benarnya juga.” Kapten Firman angkat bicara setelah beberapa saat sebelumnya takjub dengan alat-alat penemuan profesor Tejo.
Ketiga pasang mata milik Dara, Elang, dan profesor Tejo yang sedari tadi terlibat dalam perdebatan mengalihkan pandangan mereka ke arah kapten Firman. Mereka seperti lupa kalau ada kakaknya Dara di sana.
“Kisah Mahabharata ini terjadi 5000 tahun yang lalu. Perang yang sangat epik dan juga sangat terkenal. Gatotkaca menjadi pahlawan bagi Pandawa karena ia yang menjadi martir supaya Arjuna tidak tewas terkena panah.”
Merasa tersudut, akhirnya profesor Tejo mengalah pada usul Elang yang terdengar gila.
“Baiklah, baiklah. Terus, rencana kamu apa, Lang?”
Elang mengambil alih pembicaraan, lalu menyalakan proyektor ruangan milik profesor Tejo. “Jadi begini. Aku masuk ke dalam mesin waktu ke 5000 tahun yang lalu. Menemui Gatotkaca untuk mengajak ke masa ini. Begitu sampai kemari, kita hajar makhluk itu. Setelah semua beres, kita kembalikan ke masa itu. Selesai!”
Wajah profesor Tejo terlihat seperti sedang berpikir, sangat dalam.
“Kamu yakin, Lang?” dengan penuh kecemasan, Dara berusaha untuk tidak menunjukkannya pada Elang.
“Tapi masalahnya mesin ini belum pernah dipakai untuk perjalanan waktu sejauh itu, Lang. Belum lagi saya belum pernah memakainya untuk membawa makhluk hidup waktu kembali…” Kata-kata profesor Tejo tercekat.
“Resikonya apa, Prof?”
“Ledakan kosmik antar waktu, dan mungkin kamu akan terlempar di waktu antah berantah yang tidak diketahui.” Sambil memberikan gambaran tentang ledakan kosmik dari proyektornya.
Elang terdiam.
“Selain itu, kalau kamu berhasil membawa Gatotkaca ke masa sekarang. Realitas waktu akan terjadi pergeseran. Semua linimasa akan berubah.” Kali ini lelaki berambut panjang itu menarik sebuah titik pada garis berwarna hijau ke warna jingga.
Dara dan kakaknya terdiam. Mereka tidak mengerti apa yang sedang dibahas oleh kedua orang di hadapannya itu.
“Tapi semua akan kembali, kalau kita berhasil mengembalikan Gatotkaca ke asalnya, Prof,” sambar Elang sambil membetulkan kembali titik pada garis merah.
“Ya, semoga saja, Lang.”
__ADS_1
“Jadi, bagaimana, Prof?”
Profesor Tejo menggeleng pelan. Sebenarnya ia belum sepenuhnya setuju dengan rencana Elang. Tapi mau tidak mau ia harus melakukan hal ini.
Sebenarnya alasan mengapa profesor Tejo memilih tinggal di ruang bawah tanah adalah mesin waktu yang ditemukannya itu. Dirinya tidak mau pemerintah tahu kalau ia menemukan alat yang bisa mengubah dunia. Karena bisa saja alatnya itu dipakai untuk tujuan yang tidak terpuji.
“Oke, saya kalah. Tapi sebelumnya, kamu yakin mau melakukan ini, Lang?”
Elang mengangguk dengan pasti.
Ada senyuman dari bibir mungil Dara, ia merasa bangga pada Elang, lalu ia mendekati Elang untuk menggenggam tangannya.
Melihat pemandangan di hadapannya, Kapten Firman ikutan tersenyum. Ia melihat adiknya yang manis sudah beranjak dewasa dan tidak salah memilih laki-laki yang akan disayanginya.
“Se--Sebentar, saya siapkan dulu semuanya,” potong profesor Tejo memotong kemesraan di antara kedua insan itu.
Setelah semua persiapan selesai, profesor Tejo kembali pada Elang, lalu diberikannya dua buah gelang yang terbuat dari baja ringan yang sudah dimodifikasi dengan beberapa tombol dan juga penunjuk waktu.
“Ini adalah alat untuk membuatmu pergi dan kembali untuk menerobos ruang dan waktu. Satu untukmu, dan satu lagi untuk Gatotkaca, atau siapapun yang akan kamu bawa kembali…” Profesor Tejo terdiam. Raut wajahnya terlihat sedikit cemas. “Ingat, Lang. Tombol ini yang harus kamu tekan. Kalau untuk dua orang, harus kamu tekan dua-duanya.”
Lelaki bertubuh gemuk itu memakaikan gelang di tangannya, lalu memasukannya yang satu lagi ke dalam tas ransel miliknya. Kamera, tablet dan beberapa peralatan lain dimasukkan ke dalam tas. Ia berharap bisa mengambil dokumentasi dari perjalanannya.
“Lang, hati-hati yah.” Dara tersenyum, lalu memeluk Elang.
“Tenang, Ra. Tidak sampai lima menit juga aku akan kembali lagi,” kata Elang mencoba untuk menenangkan hati Dara.
“Cepat kembali, Lang.” Kali ini kapten Firman yang ikut bicara sambil menepuk bahu lelaki yang sedang dekat dengan adiknya itu.
Elang sudah siap untuk berangkat ke masa lalu. Waktu sudah diatur ke 5000 tahun yang lalu, lampu-lampu untuk mengantarkan kepergian Elang sudah menyala.
“Prof, kalau aku tidak kembali. Tolong bilang ke Dara kalau aku sayang sama dia,” bisik Elang.
“Enggak, saya enggak mau bilang itu. Cepat kembali dan bilang itu sendiri,” gerutu profesor Tejo, diikuti dengan cahaya berwarna biru keperakan. yang menyelimuti tubuh Elang. Sedetik berikutnya seperti terjadi ledakan cahaya, lalu tubuh Elang sudah tidak ada di ruangan itu.
__ADS_1