Gatotkaca 2050

Gatotkaca 2050
Masa Lalu Srikandi


__ADS_3

Perjalanan ke Kerajaan Panchala memakan waktu selama empat hari jika dilakukan dengan berkuda dari Kerajaan Astina, sedangkan waktu sayembara hanya tinggal dua hari lagi.


Arjuna tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mengikuti sayembara demi memenangkan sang putri dari kerajaan Panchala yang kecantikannya terdengar hampir ke seluruh kerajaan. 


Dengan ditemani Elang, Nakula serta Sadewa. Putra ketiga dari Pandawa itu melakukan perjalanan dengan melakukan teleportasi, namun tidak langsung ke ibukota kerajaan Panchala. Mereka hanya sampai jalan setapak yang menghubungkan antara hutan Alasjiwo dengan sebuah desa terdekat ke Ibukota.


Srikandi sendiri sejak kecil dilatih sebagai laki-laki oleh panglima perang kerajaan Panchala. Kepiawannya dalam memanah dan bertarung, membuat dirinya sulit menemukan lelaki yang pas untuk dijadikan suaminya.


Konon gadis yang memiliki paras cantik dengan rambutnya yang hitam panjang itu adalah titisan Putri Amba, yang tewas dipanah oleh Bisma. Ksatria dari kerajaan Kuru, sekaligus paman Arjuna.


Kemahirannya dalam memanah ditunjukkan olehnya sejak ia berusia lima tahun. Waktu itu Srikandi kecil ikut berburu dengan ayahnya, namun saat sedang mengejar buruannya, pemimpin kerajaan Panchala itu terjatuh karena terkaman harimau.


Mata Drupada dan harimau saling beradu, seolah tak mau kehilangan kesigapan mereka. Darah mengucur dari bahu lelaki yang tadi sedang mengejar buruannya, harimau bertubuh besar yang sedang kelaparan itu pun langsung melompat untuk menerkamnya.


BUG… Tiba-tiba sang harimau terjatuh ke samping, ia sudah tidak bernyawa lagi. Sebuah anak panah panjang menancap dan menembus tengkorak kepalanya. Drupada yang tadinya memejamkan matanya karena tidak berani melihat dirinya diterkam harimau pun membuka matanya, apa yang dilihatnya kemudian sangat menggugah hatinya. Dilihatnya Srikandi kecil sedang memegang busur panah besar miliknya yang terjatuh saat pertama kali diterkam harimau, sedangkan hewan buas yang menerkamnya tadi sudah tewas tidak berdaya.


Sejak saat itu juga, Drupada menitipkan putri semata wayangnya untuk dilatih oleh panglima perang kerajaannya. Kekuatan dan kemampuan bertempur yang dimiliki oleh Srikandi meningkat pesat seiring berjalannya waktu.


Tak sedikit pangeran dari berbagai kerajaan mencoba meminangnya ketika Srikandi beranjak remaja, dari semua pangeran yang datang, tak satupun yang berhasil mendapatkan cintanya.


Mengingat usia Drupada yang sudah menua, dan dirinya tidak mempunyai anak lelaki untuk meneruskan tahtanya. Akhirnya ia memutuskan membuat sayembara demi mencari calon suami untuk putri semata wayangnya, Srikandi.


Ibukota kerajaan Panchala terlihat sangat ramai, berbeda dengan hari-hari biasanya yang tampak lengang dan sepi. Sayembara mendapatkan Srikandi ini seperti sebuah karnaval yang akan mengadakan pertunjukan, para pangeran dari berbagai belahan negeri datang untuk mengikuti sayembara. Meskipun nanti yang akan turun bertanding adalah jagoan mereka.


Dengan sedikit penyamaran, Arjuna masuk ke dalam ibukota. Diikuti oleh Nakula, Sadewa dan Elang. Ia sengaja tak mau menunjukkan dirinya di hadapan orang banyak, terlalu banyak resiko yang akan dihadapi jika mereka terlihat di keramaian.

__ADS_1


Semua ini karena pihak Kurawa yang tidak puas telah menendang mereka dari istana dan menginginkan kematian dari pihak Pandawa, tapi untungnya para dewa lebih berpihak pada mereka. Meskipun hanya menyamar menjadi penggembala miskin, tak ada satupun dari para peserta yang sadar kalau itu adalah Arjuna dan kedua adik kembarnya.


Elang mengambil nomor undian sekaligus mendaftarkan nama Arjuna untuk mengikuti sayembara, sengaja dirinya menawarkan diri agar penyamaran mereka tidak terbuka.


“Sumantri? Siapa? Ini bukan punyaku!” protes Arjuna pada Elang ketika melihat nama di nomor undian yang diterima bukan tertera atas namanya.


“Punyamu, Kang Mas. Sengaja kupilih nama itu, rencana penyamaran kita akan gagal kalau pakai nama Arjuna.” Elang menjawab protes Arjuna tanpa melihat ke arahnya. Matanya seperti sedang menyelidiki tiap orang yang lewat dan menjadi lawan Arjuna saat sayembara berlangsung nanti.


Samar-samar Elang melihat wajah orang yang pernah dilihatnya beberapa kali, orang yang pernah hampir membunuhnya di hutan Bajubarat. Itu adalah Karna, dengan busur besarnya yang pernah patah oleh panah Arjuna.


“Kang Mas, ini akan menjadi sebuah sayembara yang sengit. Karna ada di sana, tapi dia belum mengetahui keberadaan kita. Kulihat dia bersama seseorang…”


“Sengkuni!” potong Arjuna sebelum Elang meneruskan kata-katanya. “Orang itu adalah Sengkuni…”


Arjuna melihat ke arah Elang, penasaran bagaimana lelaki yang datang jauh dari masa depan itu bisa mengenal orang yang baru kali itu dilihatnya, meskipun tak pernah mengenalnya. Tetapi pikiran itu ditepisnya langsung, dirinya baru ingat kalau apa yang dikatakan Elang tak pernah salah.


Keempatnya langsung mencari tempat untuk bermalam. Berbeda dengan para peserta lain yang mencari tempat penginapan, bahkan ada juga yang membuat tenda mewah di tengah kota untuk menunjukkan kebangsawanan mereka. Arjuna dan rombongannya lebih memilih untuk bermalam di dalam hutan Alasjiwo.


Sebuah bivak darurat kecil yang mereka buat di dekat aliran sungai dan sebuah api unggun menjadi tempat beristirahat rombongan kecil kerajaan Astina malam itu, ikan bakar tangkapan Elang hasil menombaknya menjadi makan malamnya.


“Aku penasaran, bagaimana kau bisa tau apa yang akan terjadi?” bisik Arjuna ketika mereka selesai makan malam.


Elang melemparkan tulang ikan ke dalam kobaran bara api yang merah menyala, lalu membetulkan posisi duduknya dengan menyilangkan kedua kaki, dan tangannya memeluk dua lututnya.


“Kalau boleh jujur, sebenarnya aku tak tau apa yang akan terjadi. Aku bukan peramal, cuma aku suka membaca kisah tentang kalian.”

__ADS_1


“Tentang kami?” sahut Nakula dan Sadewa berbarengan.


“Di tempat asalku, masa depan, nama kalian adalah sebuah legenda. Siapa yang tidak kenal Pandawa dan perlawanannya pada saudara jauh yang jahat bernama Kurawa? Bahkan stadion olahraga mewah di tempatku punya patung dirimu, sebagai Arjuna Wiwaha yang sedang memanah.”


“Kenapa aku?” 


“Karena Kang Mas memang jagonya dalam memanah. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kukira itu hanya kisah dongeng saja. Ternyata aku sendiri berjalan, berkelana bahkan bertempur bersama Kang Mas, dan Pandawa yang lain.”


“Lalu, kenapa kau jauh-jauh datang kemari?” selidik Arjuna lagi.


“Waktu itu sebenarnya aku putus asa. Kota kelahiranku digempur oleh makhluk asing, hampir hancur. Aku bilang sama profesor Tejo kalau aku mau ke zaman ini untuk meminta Gatotkaca menolong kami melawan mereka.”


“Kenapa Gatotkaca?”


“Karena di masa depan, dia bagai pahlawan super. Punya kekuatan dan kemampuan super.” Elang melempar batu ke sungai yang berair jernih. “Padahal aku sendiri tidak yakin, kalian ada atau tidak,” pungkasnya.


Nakula dan Sadewa tertawa berbarengan. 


“Lalu, sekarang kamu yakin kalau kami ada?” Dengan nada sedikit mengejek, Nakula melontarkan pertanyaan.


“Setelah dipukul guru Gareng, melawan raksasa bareng kalian, bahkan ditolong oleh Kang Mas Arjuna, baru aku yakin. Hehehe.”


Tawa pun pecah di antara mereka berempat.


Malam semakin larut, suara jangkrik dan makhluk malam mulai berbunyi nyaring. Tak ada satupun yang berani mendekati bivak, karena Arjuna sudah memasang pagar gaib untuk melindungi bivak yang mereka tempati. Malam itu, mereka berempat tidur dengan lelap, bersiap untuk sayembara besok pagi.

__ADS_1


__ADS_2