
Bagi penduduk kerajaan Dasarbumi tak ada bedanya antara siang dan malam, karena cahaya matahari tidak bisa menembus gerbang menuju kerajaan para reptil yang sangat jauh di bawah tanah. Sehingga pergantian waktu dari siang ke malam atau sebaliknya tak akan terasa.
Sudah seharian juga Elang dan Petruk belum sadarkan diri, keduanya masih terbaring di tempat tidur yang disediakan oleh Antareja.
Suara jari tangan gemeretak terdengar mendekat, menandakan kedatangan Antanaga. Meskipun ia mempunyai kaki yang mampu menopangnya untuk berdiri dan melangkah, tetapi ia tetap menggunakan otot perutnya untuk berjalan. Persis seperti ular.
“Mereka masih belum sadarkan diri, Ngger?” Sosok Antanaga muncul dari belakang Antareja yang sedang bertapa di samping kedua tamunya.
“Belum, Paman. Tapi aku sudah merasakan kalau sebentar lagi mereka akan sadar.” Tanpa membuka mata, Antareja menjawab pertanyaan Antanaga.
“Aku merasakan ada banyak langkah kaki yang menuju kemari, Ngger. Datangnya dari arah barat, kerajaan Dumirah.”
Salah satu keunikan dan kelebihan dari penduduk kerajaan Dasarbumi adalah kemampuan untuk merasakan pergerakan atau getaran di atas tanah meskipun jaraknya jauh dari tempat mereka berada. Belum lagi kemampuan mereka merasakan niat baik atau buruk dari seseorang, membuat kerajaan Dasarbumi masih terjaga hingga saat ini.
“Uhuk… Uhuk!” Elang terbatuk, perlahan matanya terbuka. Ia menutup mata dengan telapak tangannya, berusaha untuk beradaptasi dengan cahaya yang ada di sekitar istana Sapittu.
Petruk juga mulai sadarkan diri. Berbeda dengan Elang, Punakawan yang satu ini malah menguap sambil menggaruk-garuk lengan kirinya. Kepalanya sedikit mengangkat melihat sekitar, lalu ia berganti posisi dengan memiringkan tubuhnya dan kembali tidur.
Antareja tersenyum melihat tingkah Petruk. “Paman Petruk, tidak pernah berubah sedari dulu,” gumamnya.
Empat tahun lamanya Antareja tinggal bersama Petruk dan para Punakawan sebelum akhirnya dirinya dipanggil ke Dasarbumi untuk menggantikan kedudukan eyangnya, Hyang Antaboga yang memilih moksa –Jalan kematian untuk melepaskan perutaran kehidupan kembali– dengan cara bertapa.
Pria tampan yang mempunyai kulit dengan sisik seperti ular itu memalingkan pandangannya ke arah Elang yang belum sepenuhnya sadar. Ia langsung menghampiri tamunya yang datang dari abad yang berbeda itu.
“Tenang, tenang. Kau aman di sini.” Antareja memegang bahu Elang untuk membantunya duduk.
__ADS_1
Elang tercengang kaget melihat Antanaga yang aneh menurut pandangannya.
“Jangan takut, beliau Pamanku. Paman Antanaga.”
Mendengar penjelasan dari Antareja, Elang kembali tenang. Ia memandang di suasana di sekelilingnya yang hanya diterangi oleh cahaya dari obor yang temaram. Di sisi kanan kirinya, ia melihat dinding istana yang terbuat dari tumpukan batu kerikil sehingga membentuk ruangan yang ditempatinya saat ini.
“Selamat datang di Sapittu, Paman. Istana kerajaan Dasarbumi!” kata Antareja sambil tersenyum pada Elang.
Elang menggaruk kepalanya, rambutnya yang acak-acakan sudah mulai memanjang. “Ah, syukurlah. Kukira aku sudah tewas dimakan ular besar. Terakhir kali kulihat ular itu di belakangku.”
Antareja tersenyum lagi. “Ah, itu adalah ular penjaga yang bertugas menjaga sumur tempat Paman berdua turun kemari,” kata Antareja sambil memberikan minuman di gelas yang terbuat dari batu alam. “Ia tahu mana yang mempunyai niat baik atau tidak.”
“Syukurlah, kukira aku sudah menjadi santapannya.” Elang menghela nafas panjang, lalu meminum air yang diberikan oleh Antareja.
Setelah kedua tamunya kembali segar, Antareja mengajak Elang dan Petruk untuk duduk di halaman luar kerajaannya. Dasarbumi punya beberapa pintu masuk, salah satunya adalah sumur tua dekat hutan Amarta yang dilewati oleh Elang dan Petruk. Jalan masuk yang sangat sulit bagi siapapun, termasuk bangsa raksasa. Karena di dalam sumur raksasa ini dijaga oleh ular sanca berukuran raksasa yang sangat patuh dengan perintah Antareja.
Pintu lainnya adalah berupa seperti lubang besar di tanah yang jalan masuknya tidak terlalu sulit, namun banyak ular berbisa yang siap membunuh siapapun yang mencoba masuk semakin dalam.
“Inilah tempat tinggalku, Paman. Semenjak kepergianku dari Karang Kedempel untuk menggantikan posisi Eyang Antaboga, di sinilah rumahku selama ini,” kata Antareja pada Petruk.
“Kau tidak tertarik untuk tingal bersama Bima dan para Pandawa lainnya?” Elang bertanya sambil mengunyah buah apel segar.
“Tidak, Paman. Aku lebih suka tinggal di sini bersama mereka. Bangsa reptil adalah keluarga juga bagiku.”
“Apel ini segar sekali, Ngger!” cetus Petruk dengan sangat lahap memakan buah apel yang disediakan oleh Antareja.
__ADS_1
“Alam memberikan kita segalanya, Paman. Kalau kita bisa memahami alam, maka alam akan memberikan kita yang terbaik.”
Baru saja selesai Antareja berbicara, wajahnya langsung menegang. Ia merasakan langkah kaki dari para pasukan yang berbondong-bondong menuju tempatnya berada dengan persenjataan lengkap.
“Sepertinya kita kedatangan tamu. Paman, cepat sembunyi. Akan ada pertumpahan darah di sini.”
Bukannya bersembunyi, Elang malah mengeluarkan pedangnya. “Tidak, aku tak mau bersembunyi.”
Rombongan tentara Dumirah semakin mendekat, dipimpin langsung oleh raja mereka, Yasatra. Tekad mereka sudah bulat untuk menaklukan kerajaan Dasarbumi agar bisa mereka gunakan untuk memperkuat perlawanan Kurawa terhadap Pandawa.
“Siapa mereka?” tukas Elang lagi sambil memasang kuda-kuda. Dalam hatinya sebenarnya gentar melihat sepasukan tentara yang berpakaian perang lengkap.
“Pasukan kerajaan Dumirah, Paman. Aku sendiri tak tahu apa mau mereka. Tapi yang aku tau, mereka ada di barisan Kurawa.
Melihat banyaknya pasukan yang datang, Petruk menguap sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Begitu selesai menguap, iya meraup udara yang keluar dari mulutnya lalu melemparkannya seperti melempar bom ke arah para prajurit perang Dumirah.
Ada asap mengepul tebal yang muncul tiba-tiba di tengah-tengah para pasukan itu, ternyata tadi Petruk melemparkan bom asap yang terbuat dari nafasnya sendiri. Ini adalah salah satu ilmu yang dimiliki oleh Petruk.
Tidak berapa lama setelah asap tebal yang menyelimuti para pasukan itu menghilang, prajurit yang ada di sana terlihat kebingungan. Mereka seperti kehilangan arah dan tujuan, malah terlihat seperti kebingungan dengan apa yang akan mereka lakukan.
Petruk tertawa terpingkal melihat puluhan prajurit musuh yang ada di depan mereka kebingungan, ilmu pengalih jiwa kuno miliknya ternyata masih ampuh untuk mengacaukan pasukan musuh.
Dulu ketika masih hidup sebagai bangsa jin, Petruk sering sekali menggunakan ilmu ini untuk mengecohkan manusia yang masuk ke wilayah kekuasaannya tanpa permisi dan berniat untuk merusak. Namun setelah menjalani hukuman menjadi manusia karena perselisihannya dengan Gareng, ilmu yang dikiranya sudah hilang ternyata masih ada.
Elang tersenyum melihat tingkah calon lawannya, Antareja juga ikut tertawa melihat mereka. Baru sekarang wajah pemimpin kerajaan Dasarbumi terlihat tertawa lepas oleh tingkah polah paman gurunya, Petruk.
__ADS_1