
Elang terbangun dari tidurnya ketika matahari semakin meninggi, di sebelahnya Sri Gita masih tertidur lelap dengan tubuh yang terbuka tanpa sehelai benang di yang menutupinya. Posisinya meyamping dan memeluk Elang, entah berapa kali mereka bercinta semalam. Yang pasti wajah ayu Sri Gita terlihat semakin jelita saat ia tertidur.
Diselimutinya tubuh perempuan yang semalam bercinta dengannya itu memakai selimut dari bulu domba yang dipintal menjadi selimut, lalu Elang memakai baju yang biasa dipakai untuk latihan kemudian keluar dari kamarnya menuju tempat berlatih.
Karena sudah terlambat untuk berlatih bareng pasukan yang lain, akhirnya ia memilih untuk berlatih sendiri. Petruk dan Gareng pun sedang pulang ke Karang Kedempel, jadi Elang melatih dirinya dengan latihan fisik.
“Wuiiih, kamu lagi ngapain, Lang?” ujar Sadewa yang sedang lewat, ia kebingungan melihat Elang yang sedang melakukan gerakan push up.
“Latihan fisik, Wa.” Elang menjawab pertanyaan Sadewa sambil meneruskan gerakannya.
“Kok aneh sih? Baru lihat gerakan kaya gitu.” Kali ini Sadewa mencoba mengikuti apa yang dilakukan oleh Elang.
“Gimana? Enak gak?”
Sadewa mencoba menyeimbangkan tubuhnya, meskipun otot di tubuhnya lebih berisi dari Elang, namun ia belum terbiasa dengan gerakan push up yang baru dicobanya.
“Hah… hah… hah…!” Sadewa mencoba mengatur nafasnya yang tersengal. “Gila, dapet darimana gerakan kaya gini, Lang?”
“Masa depan. Kan aku anak masa depan,” kelakar Elang sambil tertawa dan menghentikan gerakannya.
Selain pernah berlatih bela diri, Elang juga pernah berlatih parkour. Sebuah olahraga yang diadaptasi dari gerakan militer dan pemadam kebakaran di Perancis yang biasa dipakai untuk melewati halang rintang dengan cepat dan juga efisien.
Sadewa dan Elang kini sudah berada di atas kuda, mereka bertaruh siapa yang kalah akan membelikan minuman untuk pemenangnya.
Dihentakkannya kuda berwarna cokelat yang diberi oleh Petruk ketika melawan bangsa raksasa, dengan percaya diri Elang melewati jalan-jalan pinggiran kota Astina yang berbatasan langsung dengan hutan. Namun ketika sampai di sungai, kuda yang ditungganginya berdiri seperti ketakutan lalu menjatuhkan si penunggang.
Sementara Sadewa yang baru saja sampai langsung menghentikan kudanya. Ia merasa ada yang janggal di tempat itu.
“Keluarkan pedangmu, Lang!” pekik Sadewa sambil mengeluarkan pedang api miliknya, matanya tak lepas memandang sekeliling.
“Ada apa?” Elang menghunus pedang berkarat yang diberikan oleh Petruk.
“Waspada, ada banaspati di sini.” Punggung Sadewa dan Elang saling menempel, keduanya berjaga dari sisi masing-masing.
Banaspati adalah sosok bangsa jin yang lebih ganas, ia mampu merubah dirinya menjadi api dan membakar siapapun yang diinginkannya.
“Ada berapa, Sadewa?”
__ADS_1
“Entahlah, dari energinya aku merasa cuma ada satu. Dan itu ada di sebelah kirimu, awas!”
Dengan cepat, Elang menghindar. Ia menggulingkan tubuhnya ke air sungai yang jernih dan sejuk. Banaspati yang menampakkan dirinya dalam bentuk bola api itu melesat turun, lalu naik lagi sebelum menyentuh air.
“Sadewa, di belakangmu!” ujar Elang, ketika ia sudah berhasil mengendalikan tubuhnya untuk bangkit lagi.
Sadewa tidak mengindar, ia menyabetkan pedangnya mengenai bola api yang menyerang. Tapi serangannya sia-sia, seperti memberi energi pada musuhnya yang kini semakin membesar.
Kali ini jin yang berwujud bola api itu kembali menyerang Elang, lagi-lagi dengan sigap dihindarinya dengan menjatuhkan tubuhnya ke sungai. Banaspati tidak mampu menyentuh Elang.
“Sepertinya aku tau cara melawan makhluk ini,” bisik Elang pada Sadewa.
“Bagaimana? Pake pedangku aja tidak mempan!”
“Api bukan dilawan pake api, pake air.” Elang memperhatikan sekitar.
“Caranya?”
“Pancing dia, aku akan menyemburkan air ke arahnya.”
Makhluk itu menyerang lagi, kali ini dari arah belakang Sadewa.
“Mmmhh… mmmh…” Elang berusaha memberi isyarat pada Sadewa agar menunduk.
“Hah? Apa?”
“Mmmh… mmmh…” Kali ini Elang memberi isyarat diikuti dengan gerakan tangannya.
“Ada apaan sih?” kata Sadewa kebingungan.
“Tu…tu…” Elang mencoba menunjuk pada sesuatu di bawah kaki Sadewa karena tanpa disengaja anak bungsu dari keluarga Pandawa itu seperti menginjak sesuatu yang berkilau di dasar sungai.
Sadewa menunduk, mengambil benda berkilau yang diinjaknya. Banaspati semakin dekat, begitu tinggal hanya beberapa sentimeter dari wajah, Elang langsung menyemburkan air yang tadi dikumpulkan di mulutnya.
Begitu makhluk yang menyamar menjadi bola api itu terkena semburan air dari mulut Elang, wujudnya pun berubah menjadi sosok jin berwarna hitam. Ia bersiap menyerang Elang karena telah menyakitinya. Tapi ternyata, Elang lebih sigap. Pedang yang ada di tangannya, diangkat tinggi-tinggi hingga melebihi kepala. Ketika jin itu merangsek maju, langsung ditebasnya dari atas kepala.
Tak butuh waktu lama, jin yang menyerang mereka pun terbelah dua menjadi dua sisi kiri dan kanan.
__ADS_1
“Lumayan, dapet kepeng emas.” Sadewa kegirangan ketika tau yang diinjaknya itu adalah kepingan koin emas.
Elang masih terengah-engah, ia mengatur nafasnya. Banaspati yang menyergap mereka telah takluk di tangannya, tapi yang membuat kesal adalah Sadewa yang merasa bersukur menemukan koin emas.
“Lho, kamu kenapa, Lang?” ujar Sadewa seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
“Gak apa-apa.” Lelaki itu cuma menggelengkan kepala.
“Banaspatinya mana?” Sadewa melompat kaget, baru menyadari kalau tadi mereka sedang menghadapi jin api.
“Tuh!” Elang menunjuk pada sosok jin hitam yang terbelah dua.
Ada senyuman mengembang di wajah Sadewa. “Waaah, kamu yang membunuhnya?”
“Ya, sementara kamu malah mengambil koin emas,” jawab Elang sambil memasukkan pedang ke dalam sarungnya.
“Hebat, hebat. Gak nyangka anak dari masa depan bisa melawan banaspati. Hahaha!”
“Yeah. Keberuntungan mungkin?” Elang melihat bajunya yang basah. “Jadi kita ke pasar buat minum?” sambungnya.
“Oooh jadi dong! Untungnya kita nemu koin emas ini. Dengan koin ini kita bisa membeli apapun di pasar!” celoteh Sadewa sambil kembali ke kudanya. Sementara Elang hanya berdiri, kudanya telah pergi.
“Aku naik apa?”
“Hahaha! Pasti kamu belum belajar cara memanggil kuda,” ejek Sadewa dari atas kuda. Kemudian ia bersiul dengan nada tinggi. Tak lama, kuda coklat yang tadi ditunggangi oleh Elang kembali.
Kedua ksatria itu pun kembali melanjutkan perjalanan, kali ini mereka tidak balapan seperti sebelumnya, sebab tidak usah bertaruh juga takkan ada yang keluar uang untuk mentraktir. Karena keping koin emas yang ditemukan Sadewa di sungai sudah bisa membelikan mereka makanan enak sekalipun.
Dua gelas besar minuman yang terbuat dari akar tanaman sudah tersaji di depan Elang dan Sadewa, beberapa piring singkong rebus dan ubi rebus juga kacang-kacangan juga ada di sana. Kedai yang sama ketika pertama kali Elang diajak oleh Nakula dan Sadewa ke pasar yang juga merupakan alun-alun negara Astina.
“Lang, gimana Sri Gita? Mantap kan?”
Elang terlihat canggung dengan pertanyaan Sadewa.
“Pasti mantap doong! Semalam gak sengaja aku lewat kamarmu, sepertinya ada pertempuran hebat. Hahahaa!”
Lelaki berambut acak-acakan yang datang dari masa depan itu wajahnya memerah. Tapi untungnya Elang berhasil mengalihkan pembicaraan. Tawa pun pecah dari mereka.
__ADS_1