Gatotkaca 2050

Gatotkaca 2050
Sengkuni Berulah Lagi


__ADS_3

Kenyataan bahwa dukungan terhadap Kurawa yang semakin menurun akibat perpindahan kepercayaan dari para raja-raja ke Pandawa membuat Duryudana murka, raja Hastinapura itu segera membuat perhelatan akbar kembali untuk mengumpulkan para raja yang masih loyal mendukung Kurawa.


Alhasil dari yang awalnya Kurawa mempunyai kuasa di empat puluh kerajaan, dalam perhelatan akbar yang digelar kedua kalinya ini menurun jadi hanya setengahnya. Sisanya lebih memilih bergabung bersama Pandawa yang terbukti memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bagi wilayah kerajaan mereka.


BRAK!... Dhuryudana menggebrak meja di hadapannya dengan amarah yang tinggi. “Kurang ajar. Beraninya mereka berpaling dari kekuasaanku!”


Seluruh raja yang mengikuti perhelatan itu menunduk terdiam, tak ada satupun dari mereka yang berani menyela Duryudana.


Duryudana bangkit dari duduknya, ia berjalan mengelilingi para raja yang hadir di istananya sambil memandangi mereka satu per satu. “Katakan padaku, apa yang membuat mereka memindahkan kepercayaannya pada Pandawa keparat itu?”


Tak ada satupun jawaban yang keluar dari para tamu undangan, mereka memilih bungkam.


Setelah lima kali berputar sambil memandangi wajah para raja yang menjadi undangannya, Duryudana kembali ke tempatnya duduk. Tapi ia tidak duduk di sana, hanya mengambil senjatanya lalu masuk ke sebuah pintu yang menuju lorong penghubung antara ruang tengah istana tempat berkumpul dengan ruangan para selir yang ada di kamar sebelah pojok.


“Duryudana, aku punya sebuah rencana,” sapa Sengkuni ketika Duryudana baru saja melintasi pintu.


“Rencana apalagi Paman? Tidakkah paman sadar kalau rencana Paman selama ini selalu gagal?” bentak duryudana


Sengkuni menghampiri keponakannya dengan langkah yang sedikit diseret, bekas gigitan ular di kakinya ketika sayembara kerajaan Panchala dihelat membuatnya tak bisa berjalan dengan normal kembali.


“Percayalah pada Pamanmu ini Duryudana, kali ini rencanaku akan berjalan dengan sempurna.” Sambil tersenyum licik, Sengkuni mendesis mencoba agar keponakananya itu percaya padanya.


“Tidak usah membual, Paman. Sudah berapa rencana Paman buat, tapi semuanya gagal.” Duryudana berbalik ke arah Sengkuni, kemudian mencengkeram lehernya dengan emosi. “Paman ingat waktu menyuruh salah satu prajurit terbaikku untuk memfitnah Antareja? Dia kembali dengan kondisi tubuh membatu dan hancur, Paman. Lalu paman ingat waktu paman menyuruh orang untuk membakar desa di bagian terluar kerajaan Pamujan? Sekarang Ramadwipa malah memindahkan kepercayaan kerajaan Pamujan pada Pandawa. Paman ingat itu, hah?” Suara Duryudana terdengar berapi-api dan penuh amarah, meskipun yang ada di hadapannya adalah Sengkuni, pamannya sendiri.

__ADS_1


Senyuman di wajah Sengkuni perlahan menghilang, berubah menjadi wajah menyeringai ketakutan. “Ba—Baiklah Duryudana. Ta—Tapi tidakkah kau mau mendengar sedikit rencana pamanmu ini?”


“Tidak, Paman. Aku tak mau lagi mendengar rencana Paman!” jawab Duryudana lagi setengah membentak, kemudian raja Hastinapura itu melanjutkan langkahnya menuju ruangan para selir yang tadi sempat terhenti oleh Sengkuni.


Di balik rasa takutnya pada Duryudana, diam-diam Sengkuni mempunyai sebuah rencana yang akan dieksekusinya tanpa harus menunggu persetujuan keponakannya. Rencana yang tersirat dendam pada penguasa kerajaan Dasarbumi, Antareja.


Tamu undangan perhelatan di Hastinapura tampak ricuh seiring sepeninggal Duryudana yang memilih untuk bermanja dengan para selirnya, kosongnya kepemimpinan perhelatan membuat para raja yang hadir saling menuding satu sama lain atas masalah yang dihadapi. Kesempatan ini dipakai oleh Sengkuni untuk melancarkan rencananya yang tidak akan terealisasi jika harus menunggu persetujuan keponakannya, Duryudana.


“Para undangan harap tenang!” kata Sengkuni sesaat setelah duduk di kursi Duryudana.


Tak ada yang mendengarkan dirinya, seluruh peserta perhelatan masih sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


“HARAP TENANG!” Sekali lagi Sengkuni memerintahkan para undangan dengan sedikit berteriak.


“Ada apa ini? Mengapa kau duduk di sana? Bukankah seharusnya yang ada di sana raja Hastinapura sendiri?” protes salah satu peserta yang tidak terima Sengkuni duduk di sana.


“Duryudana memerintahkanku untuk memimpin acara ini sementara, keponakanku sedang tidak enak badan.” Dengan tenang Sengkuni menjawab pertanyaan yang diajukan.


Mendengar jawaban Sengkuni, mau tidak mau para raja itu pun kembali tenang. Meskipun dengan perasaan yang tidak ikhlas karena dipimpin oleh orang yang sebenarnya jabatannya hanyalah penasehat kerajaan.


“Ada sebuah rencana bagus untuk memperkuat pasukan Kurawa, kuharap para peserta di sini ada yang mau melakukan rencana ini.” Sengkuni mendesis, senyuman di wajahnya kembali menyeringai.


“Apa itu?” Para raja yang hadir di sana bertanya dengan bersahut-sahutan.

__ADS_1


“Serang kerajaan Dasarbumi, kuasai mereka. Aku yakin kekuatan mereka akan memperkuat pasukan koalisi kita dalam memenangkan pertarungan melawan pasukan Pandawa.” Sengkuni menjelaskan rencananya sambil memandangi dan memegang kaki yang pernah terluka karena gigitan ular Antareja.


“Apa?” Pekik mereka kaget.


“Tak perlu semua dari kalian turun memerangi Dasarbumi, aku hanya ingin kerajaan yang terdekat saja yang menjalankan rencana ini.”


“Tapi kenapa hanya yang terdekat saja?” protes Yasatra, Raja dari kerajaan Dumirah yang secara letak geografis lokasinya dekat dengan kerajaan Dasarbumi.


Senyum di bibir Sengkuni kembali menyeringai, ia memainkan jemarinya dengan mempertemukan ujung jari-jari di sebelah kiri tangannya dengan jari-jari di sebelah kanannya. “Kita tak mau membuat kericuhan, sekaligus agar tak mencolok saat ingin melakukan serangan. Karena, jika terlihat oleh para pasukan yang loyal pada Pandawa, maka rencana kita untuk menguasai kerajaan Dasarbumi akan berantakan.”


Yasatra menatap wajah Sengkuni, ia merasa tidak percaya pada apa yang dikatakan oleh penasehat Duryudana itu.


“Apalagi yang kau tunggu? Lakukan serangan saat ini juga atau kita akan kehilangan kesempatan mendapatkan kekuatan dari makhluk dasar bumi itu.”


“Apa kau yakin? Musuh yang akan dihadapi olehku dan para pasukanku bukan manusia. Mereka kebanyakan makhluk melata yang sangat berbahaya, Tuan,” ujar Yasatra dengan gemetar.


Sengkuni berdiri dari duduknya kemudian berjalan menuju tempat Yasatra berada. “Aku sangat yakin sekali, karena pasukanmu bukanlah pasukan yang lemah. Berapa kali mereka melawan musuh dengan gagah berani? Masa hanya melawan makhluk melata saja kau tak berani, hah?”


Deru nafas raja dari Dumirah semakin cepat, ia merasa tersulut oleh kata-kata Sengkuni. 


“Bagaimana? Kau mau menjalankan misi suci ini? Mudah kok. Kau cukup melakukan serangan dan membuat pemimpin mereka lemah. Lalu suruh dia mengabdi pada Kurawa.” Tangan kanan Sengkuni menepuk bahu Yasatra sebagai tanda penyemangat.


Lelaki di depan Sengkuni terdiam, ia masih bimbang antara mengikuti apa yang diperintahkan olehnya atau tidak. Lalu sedikit menghela nafas. “Baiklah, aku akan mengikuti perintahmu. Saat ini juga aku akan kembali ke kerajaanku dan menyerang mereka.” Yasatra keluar dari pertemuan tanpa menunggu waktu lama, diikuti dengan senyum kemenangan Sengkuni.

__ADS_1


__ADS_2